Pekerjaan Rumah untuk Membenahi Permainan Timnas U-23

Final ISG 2013: Indonesia 1-2 Maroko

Pekerjaan Rumah untuk Membenahi Permainan Timnas U-23

Pandit Football Indonesia - Sepakbola
Senin, 30 Sep 2013 17:58 WIB
Pekerjaan Rumah untuk Membenahi Permainan Timnas U-23
ANTARA/Ismar Patrizki
Jakarta - Bertanding melawan Maroko, Timnas Indonesia U-23 kalah 1-2 dan gagal meraih medali emas di final cabang sepakbola di ajang Islamic Solidarity Games di Palembang, Minggu (29/9/2013) kemarin.

Sempat unggul lebih dulu melalui gol penalti Alfin Tuasalamony di menit kesembilan, Indonesia berbalik kalah setelah dua kali dijebol Maroko, masing-masing oleh El Hassouni Aymane dan El Karti Walid.

Pada pertandingan ini Indonesia tidak mampu berbuat banyak guna mengancam barisan pertahanan Maroko. Sebaliknya, Maroko bahkan seolah tidak memberikan kesempatan bagi Indonesia dalam melakukan inisiasi serangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sisi Kanan Indonesia yang Rentan

Bermain dengan formasi 4-3-3 sisi kanan Indonesia yang dihuni oleh Alfin dan Andik Vermansyah terlihat begitu rentan dalam menerima serangan. Alfin yang pada laga ini acap naik guna membantu serangan kerap meninggalkan lubang yang gagal ditutup oleh rekan-rekan gelandangnya.

Tugas yang seharusnya diemban oleh Rasyid Bakri dalam menutup lubang yang ditinggalkan pada pos bek kanan gagal dijalankan dengan baik karena gelandang PSM Makassar itu sering langsung mem-pressing pergerakan pemain Maroko yang sedang menguasai bola.

Terlebih, Maroko acapkali menumpuk pemainnya di sisi kiri guna membantu mendukung pergerakan pemain sayapnya. Tak ayal, 45% serangan yang dibangun oleh Maroko cenderung selalu berawal dari sisi kiri penyerangannya.



Chalkboard di atas menunjukkan bagaimana arah tembakan yang dilesakkan oleh para pemain Maroko yang cenderung muncul dari area pos bek kanan dan tengah. Selain itu, pada chalkboard tersebut menunjukkan sebanyak 16 shot attempt muncul dari area luar kotak penalti. Artinya, Indonesia mampu sedikit menahan gempuran serangan Maroko.

Rendahnya Defense Line Indonesia

Menyadari kemampuan pemain Maroko yang memiliki kecepatan cukup baik, pelatih Rahmad Darmawan menginstruksikan barisan pertahanannya untuk bermain pada garis pertahanan yang sangat rendah.

Statistik menunjukkan Indonesia mampu mencatatkan total 18 clearance dan 24 intercept di area sepertiga pertahanannya. Dengan strategi ini setidaknya Indonesia mampu menahan laju serangan Maroko dengan memaksa para pemain Maroko untuk menembak dari luar area kotak penalti -- dilihat dari chalkboard shot attempt di atas.


[Chalkboard pertahanan Indonesia di babak pertama]


[Chalkboard pertahanan Indonesia di babak kedua]


Namun, sayangnya garis pertahanan yang rendah ini diiringi juga pressing ketat menjurus kasar. Hal tersebut diperparah dengan tidak adanya dua gelandang Indonesia yang bertugas untuk menjaga kedalaman yaitu Dedi Kusnandar dan Rasyid Bakri guna meredam serangan Maroko. Maka tidak salah bahwa back-four Indonesia banyak mencatatkan pelanggaran di area final third.

Akhirnya, timnas pun seolah dihukum atas perbuataannya melaui gol yang dicetak oleh El Hassouni Aymane. Gol tersebut muncul akibat pelanggaran yang dilakukan di area final third, tepatnya di sisi kiri pertahanan Indonesia. Bola free kick yang dilesakkan oleh pemain Maroko berhasil dialirkan ke mulut gawang Indonesia yang dijaga oleh Kurnia Meiga, sebelum akhirnya Aymane mampu memanfaatkan bola liar yang lalu diceploskan gawang.

Zonal Marking yang Gagal

Selain pressing ketat dan menjurus kasar di area final third, Indonesia pun kesulitan dalam membangun inisiasi serangan. Hal tersebut dikarenakan dengan sporadisnya serangan yang digencarkan oleh Maroko, otomatis memaksa pergerakan para gelandang Indonesia untuk turun lebih ke dalam guna membantu lini pertahanan.

Namun, apa boleh buat pola penjagaan zonal marking yang diterapkan tidak mampu dijalankan dengan baik karena para gelandang Indonesia acap terpancing dalam menutup pergerakan pemain Maroko. Sehingga Maroko pun mampu menguasai pertandingan akibat ulah dari pola permainan Indonesia sendiri yang tidak disiplin dalam melakukan penjagaan zonal marking.

Jarak Antara Gelandang dan Penyerang yang Jauh

Dengan turunnya para gelandang guna membantu lini pertahanan, otomatis Indonesia hanya menyisakan seorang penyerang tunggal di lini depan, yang tugasnya dijalankan oleh Sunarto. Namun, ia sendiri kesulitan untuk menerima bola karena jarak antara gelandang dan penyerang yang terlalu jauh. Pada akhirnya Sunarto pun lebih memilih untuk banyak terlibat turun bertahan dan bergerak dalam mencari bola dibandingkan dengan berdiam diri di lini depan dalam mengantisipasi serangan balik.

Imbasnya, bola yang dialirkan langsung dari lini belakang menuju lini penyerangan tidak tersalurkan dengan baik dan gagal dikonversi menjadi serangan balik, karena bola tidak dialirkan secara jelas arahnya. Build-up play yang kurang baik dan passing panjang yang terburu-buru membuat bola yang dialirkan acap kandas dan dengan mudah mampu direbut oleh barisan pertahanan Maroko.

Apalagi bola yang dialirkan langsung ke depan merupakan bola udara yang secara fisik, pemain Indonesia umumnya sudah kalah postur apabila dibandingkan dengan fisik dari para pemain Maroko.

Motor Serangan pada Andik dan Alfin

Selain rentan oleh serangan, sisi kanan Indonesia pada laga ini pun menjadi sisi yang paling aktif bagi Indonesia dalam melakukan inisiasi serangan. Kerjas ama yang sering dibangun Andik dan Alfin acap merepotkan barisan pertahanan Maroko. Bahkan, tercatat dua kartu kuning yang diterima oleh pemain Maroko muncul karena pelanggaran yang dilakukan terhadap Andik.

Kecepatan pemain asal Persebaya 1927 ini memang diandalkan oleh Rahmad Darmawan guna membantu Indonesia dalam membangun serangan balik. Terlebih pada babak kedua, kondisi di mana Sunarto ditarik untuk bermain lebih kebelakang dan Andik berada posisi yang paling depan, bola yang berhasil dikuasai oleh para pemain Indonesia langsung diberikan kepada Andik.

Statistik menunjukkan 43% serang yang dibangun oleh Indonesia muncul dari area sisi kanan penyerangannya. Namun, sayangnya gaya bermain kutak-katik Andik pada laga ini masih terlalu dominan sehingga usaha pemain Maroko dalam merebut penguasaan bola darinya kerap berhasil.

Substitusi Pemain

Masuknya Fandi Eko, Agung Suprianto dan Okto Maniani menggantikan Sunarto, Ramdani Lestaluhu dan Rasyid Bakri secara berturut-turut tidak begitu berdampak signifikan pada perubahan skema permainan. Pergantian yang memperlihatkan bahwa Indonesia berusaha untuk menaikkan intensitas serangannya hanya ada ketika Okto Maniani menggantikan Rasyid Bakri yang notabene merupakan seorang gelandang.

Namun, tetap saja secara skema permainan Indonesia tetap mempertahankan ciri khasnya dalam memperagakan gaya kutak-kutik yang terbuktif tidak efektif dan mudah dikandaskan oleh barisan pertahanan lawan.

Kesimpulan

Dari hasil laga kali ini, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi oleh Coach RD dalam persiapannya menghadapi SEA Games Desember mendatang. Timnas Indonesia dirasa masih cukup kerepotan ketika berhadapan dengan level lawan yang memiliki tingkat kecepatan dan kolektivitas permainan yang cukup baik.

Catatan mengenai pressing pemain yang menjurus kasar, gaya permainan yang tidak mementingkan kolektivitas pemain, sisi kanan yang mudah diserang perlahan harus mulai dibenahi guna meraih hasil maksimal pada kompetisi selanjutnya. Adanya model variasi serangan yang berbeda-beda pun perlu untuk diperagakan agar serangan yang dibangun tidak mudah diantisipasi oleh lawan.


===

* Ditulis oleh Pandit Football Indonesia. Lihat profilnya di sini atau @panditfootball



(a2s/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads