Menambah Kreativitas
Dua perubahan dilakukan oleh pelatih Indra Sjafri dari starting line-up saat melawan Laos adalah mengganti Maldini dengan Dinan, dan menggeser Putu Gede untuk menempatkan Fahri sebagai bek kanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dinan sendiri mampu memberikan ancaman bagi Filipina baik dengan tendangan jarak jauhnya dengan cutting inside, ataupun dengan pergerakannya di kotak penalti. Ini jadi hal-hal yang kurang terlihat saat Maldini dimainkan. Terlebih lagi memainkan Maldini dan Fahri secara bersamaan boleh dikatakan kurang efektif, karena keduanya memiliki tipe permainan yang sama, yaitu bergerak melebar di sisi lapangan.
Memaksimalkan Peran Lini Tengah
Menghadapi Filipina yang menumpuk 11 orang di area pertahanan sendiri, Indonesia menggunakan peran para gelandangnya untuk menembus area pertahanan lawan. Caranya adalah dengan melakukan transisi yang cepat ke aksi menyerang saat Filipina kehilangan bola. Ini dilakukan terutama dengan menggunakan intersepsi.
Ini terlihat di lima belas menit pertama di babak kedua, sebagaimana ditunjukkan oleh grafik di bawah ini. Di periode waktu ini, dari 14 aksi (bertahan) yang dilakukan Indonesia di area Filipina, 12-nya berupa intersepsi dan hanya ada 1 tekel.
Aksi yang dilakukan oleh barisan tengah ini terutama untuk memudahkan perpindahan penguasaan bola. Ini karena mengendalikan bola setelah intersepsi lebih mudah ketimbang setelah tekel.

[Grafik aksi bertahan Indonesia di area pertahanan Filipina, menit 46-60]
Di menit ke-7, Evan Dimas menunjukkan bagaimana pentingnya merebut bola dan menyerang dengan cepat. Ia mengambil bola muntahan dari kiper Filipina untuk kemudian melakukan satu attempt dari luar kotak penalti.
Dengan rapatnya pertahanan Filipina, perbedaan beberapa detik saja saat proses transisi bertahan ke menyerang bisa berarti Filipina mampu kembali mengorganisir pertahanan, dan tidak memberikan ruang untuk bergerak atau melakukan tembakan.
Karena itu, hingga menit ke-80 tempo permainan tetap tinggi, dan ketiga gelandang Indonesia tetap bergerak mendobrak area pertahanan Filipina.
Ini yang membedakan cara bermain Indonesia saat menghadapi Brunei di Piala AFF U-19 bulan lalu, yang kala itu juga bermain bertahan. Saat itu Indonesia cenderung membangun serangan dari dalam, dan membiarkan para gelandang dan pemain sayap untuk menembus pertahanan lawan dengan dribble. Sementara di pertandingan ini, mereka memaksa Brunei untuk menyerahkan penguasaan bola di area sendiri.

[Grafik aksi bertahan Indonesia di babak 1 & 2. Terlihat bagaimana Indonesia meningkatkan intensitas merebut bola di babak 2]
Hal ini juga terbantu dengan lemahnya lini serang Filipina. Hingga menit ke-15 saja Filipina hanya mampu dua kali masuk ke area pertahanan Indonesia. Itupun keduanya melalui tendangan bebas dari tengah lapangan.
Selama 90 menit pun Filipina hanya mampu melakukan 32 passing di area final third, bandingkan dengan Indonesia yang bisa melakukan 213 passing di area pertahanan Filipina.
Attempt dari para Gelandang
Selain untuk merebut penguasaan bola, satu hal yang patut diacungi jempol dari ketiga gelandang Indonesia adalah bagaimana tiga-tiganya terlibat dalam upaya mencetak gol, dan tidak diserahkan pada Evan Dimas saja.
Misalnya saja tendangan bebas yang terjadi di babak pertama. Secara bergantian ketiganya mengambil free kick. Hasilnya: satu kena tiang gawang (Evan), satu gol (Hargiyanto), dan satu on target (Zul).
Kuatnya lini tengah Indonesia tersebut yang tampaknya dimanfaatkan oleh Coach Indra di babak kedua. Caranya dengan mengganti pola permainan. Di babak pertama Indonesia coba menyerang lewat sayap, sementara di babak kedua beralih ke poros tengah.
Dari Sayap ke Poros Tengah
Di 15 menit awal babak pertama, Filipina masih bermain dengan energi tinggi dan melakukan pressing ke pemain Indonesia. Di periode ini Indonesia memainkan poros ganda Zul-Hargiyanto sementara Evan berada di belakang Muchlis.
Ini berubah ketika keempat pemain tengah Filipina mulai bertahan di area sendiri, untuk menutup ruang passing pemain tengah Indonesia. Zul lalu naik mendampingi Evan Dimas, sementara Hargiyanto melindungi kedua bek tengah.
Dengan formasi ini, cara yang dilakukan Indonesia untuk mengalirkan serangan adalah melalui sayap (lihat grafik di bawah). Berulangkali baik Zul maupun Hargiyanto mengirimkan bola ke arah Ilham atau Dinan. Di babak pertama, Dinan pun masih lebih sering berada di area sayap. Baru di babak dua Dinan mulai bergerak ke tengah lapangan, dan terkadang berada di belakang Muchlis.

[Grafik umpan-umpan Indonesia di area pertahanan Filipina. Terlihat bagaimana bola lebih sering dikirimkan ke area lateral.]
Namun hal ini belum membuahkan hasil. Ini dikarenakan gelandang bertahan Filipina sering turun sehingga ada 5 pemain bertahan yang berposisi sejajar. Akibatnya selalu ada dua pemain Filipina yang menutup gerak baik Maldini maupun Ilham.

[Grafik aksi bertahan Filipina di babak pertama: lemah di tengah]
Selain itu, aksi bertahan Filipina di area sayap sendiri memang baik. Terlihat dari grafik di atas bagaimana aksi bertahan Filipina di area tengah kerap gagal (warna merah), sementara di zona sayap banyak yang sukses. Ini jadi salah satu penyebab sulitnya Indonesia menembus kotak penalti Filipina.
Tak heran, dari 15 attempt Indonesia di babak pertama, hanya ada 5 yang berasal dari dalam kotak penalti. Itupun hanya membuahkan 1 on target.

[Grafik attempts Indonesia di babak pertama: minim di kotak penalti.]
Sebagaimana telah disebutkan di atas, cara menyerang ini diubah di babak kedua, yaitu dengan mengandalkan lini tengah untuk merebut penguasaan bola. Hal ini juga ditopang dengan pergantian pemain, yaitu Paulo Sitanggang yang menggantikan Zulfiandi.
Pada tulisan sebelumya kami sempat menyebutkan bahwa dengan energinya, Paulo mampu memberikan pressing dan aktif merebut bola di area pertahanan lawan. Pemain ini pun mampu melakukan pergantian dari posisi bertahan ke menyerang secara cepat, serta memiliki umpan terobosan yang baik. Terbukti saat melawan Laos ia pun sempat memberikan 2 assist melalui through-ball. Hal ini lah yang diinginkan dari Indra Sjafri di babak kedua.

[Grafik umpan-umpan di area sepertiga lapangan akhir: mulai menggunakan poros tengah.]
Mengubah Lagi Permainan di Menit-80
Di sepuluh menit terakhir Indonesia pun coba mengubah lagi cara menyerang, yaitu dengan memperkuat sayap kanan dan melonggarkan permainan. Garis pertahanan Indonesia perlahan ditarik mundur, serta tempo diturunkan, untuk memancing para pemain Filipina keluar. Semakin renggangnya kerapatan antarlini Filipina tentu berguna bagi Evan Dimas dan Paulo Sitanggang untuk memberikan umpan terobosan.
Hal ini diperkuat dengan masuknya Yabes Roni, yang memiliki kemampuan menggiring bola yang bagus, di sayap kanan. Apalagi Filipina sebenarnya sempat kebobolan dari kanan saat melawan Korsel. Kala itu, pemain sayap kanan Korsel mampu menerobos hingga ujung lapangan dan memberikan umpan silang pendek mendatar ke depan mulut gawang.
Masuknya Yabes dan Paulo yang bergerak di area kanan, jadi trik efektif untuk mengulangi hal yang dilakukan Korea Selatan. Terbukti satu gol Indonesia lahir dari kombinasi keduanya.
Gol kedua ini pun memperlihatkan bahwa menyerang lewat sayap seperti di babak pertama sebenarnya tidak salah. Hanya saja, ketika umpan diberikan pada pemain sayap melalui long-ball dari dalam, maka ada ruang dan pemain lawan yang harus dilewati oleh sang pemain sayap. Ini akan sulit dilakukan saat pemain lawan menumpuk pemain di area bertahan.
Kesimpulan
Dengan hasil ini peluang Indonesia untuk lolos sebenarnya masih terbuka. Masih ada kesempatan untuk mengalahkan pimpinan klasemen sementara, Korea Selatan.
Satu hal yang penting diingat adalah tim ini sudah menghadapi beberapa tipe lawan, dan memiliki performa yang apik semenjak Piala AFF U-19 lalu. Indonesia pun memiliki beberapa pemain yang bisa digunakan di situasi tertentu: Zul bagus dalam mempertahankan possession seperti saat melawan Vietnam, Paulo bisa menjadi box-to-box midfielder dan baik dalam memberikan throughball; Maldini memiliki kecepatan bagus dalam serangan balik; Dinan baik dalam cutting-inside, sementara Yabes mampu men-dribble melewati lawan.
Tinggal bagaimana pelatih Indra Sjafri mampu mensintesiskan berbagai pengalaman dan kekuatan tersebut jadi taktik yang ampuh untuk melawan Korea Selatan.
Good luck, coach!
===
* Ditulis oleh Pandit Football Indonesia. Profil lihat di sini.
(a2s/roz)











































