Analisis Taktik dan Strategi Timnas China

Preview Indonesia vs China

Analisis Taktik dan Strategi Timnas China

Pandit Football Indonesia - Sepakbola
Selasa, 15 Okt 2013 15:21 WIB
Analisis Taktik dan Strategi Timnas China
AFP
Jakarta -

Malam ini, timnas Indonesia akan menghadapi timnas China. Jelas bukan misi yang mudah bagi Indonesia mengingat China datang ke Jakarta dengan optimisme tinggi.

Di atas kertas Indonesia jadi underdog, terlebih laga nanti Indonesia dipastikan tidak akan mendapatkan dukungan dari suporter menyusul sanksi AFC. Tapi Jacksen Tiago sebagai pelatih berkali-kali tetap menyatakan optimisme yang tinggi.

Peluang jelas masih terbuka. China bukannya tim tanpa kelemahan. Mengetahui dan mengenali kekuatan dan kelemahan lawan akan jadi elemen penting bagi Boaz Solossa, dkk., untuk menghadapi tim Negeri Tirai Bambu ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut beberapa catatan kami mengenai aspek taktik dan strategi timnas China.

4-2-3-1 dan Rotasi Posisi Bermain

Dalam 3 pertandingan (melawan Korea Selatan, Australia, dan Singapura) China menggunakan formasi 4-2-3-1, namun dengan susunan pemain yang berbeda. Hanya ada 5 pemain yang selalu turun di ketiga pertandingan itu, yaitu Yu Dabao (Striker/No. Punggung 22), Sun Ke (Sayap Kanan/No.14), Zhan Linpeng (full-back kanan/No. 17), Yang Hao (defensive midfielder/No.19), dan Zheng Zhi (center-back/no.10).

Salah satu keunggulan timnas China adalah beberapa pemainnya yang fasih memerankan beberapa posisi. Yu Dabao pada pertandingan melawan Korea Selatan diposisikan sebagai sayap kiri, sementara di pertandingan melawan Australia sebagai ujung tombak.

Demikian pula dengan Yang Hao. Dalam pertandingan melawan Korea Selatan,di babak pertama ia berperan sebagai gelandang bertahan, sementara di babak kedua ia dinaikkan ke posisi gelandang serang. Masih di pertandingan melawan Korea juga, Wang Yangpo di babak kedua turun jadi center-back, meski di babak pertama bermain sebagai attacking midfielder.

Back-Three dan Defensive Line yang Rapat

Bermain dengan empat pemain bertahan, China sering menempatkan 3 pemain di belakang dengan cara memainkan full-back secara tidak simetris. Saat pemain lawan memindahkan bola ke arah kiri, maka full-back kiri akan naik dan menutup ruang gerak sayap kanan lawan. Full-back kanan kemudian akan turun dan membentuk 3 sejajar dengan kedua center-back.

Saat lawan menekan dari kedua sayap, maka kedua full-back China akan naik untuk menutup ruang gerak. Salah seorang defensive midfielder, biasanya Huang Bowen (no. punggung 16) akan turun dan berada di antara kedua center-back. Hal ini terutama terlihat saat pertandingan melawan Korea Selatan. Selalu ada tiga bek yang berdiri sejajar dengan jarak kurang lebih 2-3 meter.

Ini berbeda dengan saat melawan Australia. Formasi tiga bek memang tetap ada, namun dengan kerapatan antarbek yang lebih renggang. Saat bola dibawa naik untuk menyerang, ketiga pemain belakang menyebar untuk meng-cover daerah yang ditinggalkan.

Zhan Lin Peng sebagai Poros Serangan

Satu catatan lainnya mengenai pemain bertahan China adalah tentang Zhan Lin Peng (no. 17/full-back kanan). Saat pertandingan melawan Korsel, ia dimainkan sebagai full-back kanan. Tapi saat melawan Australia, ia bermain sebagai center-back kanan, dengan Wu Xi sebagai full-back kanan.

Dengan kehadiran Zhan Lin Peng dan Wu Xi, China memiliki 2 pemain yang fasih memainkan peran sebagai bek kanan. Akibatnya, Wu Xi bisa maju untuk membantu Sun Ke menyerang lewat sayap kanan, karena ada Zhan Lin Peng yang meng-covernya di belakang. Chalkboard passing melawan Australia juga memperlihatkan bagaimana sisi kanan China jauh lebih aktif dibandingkan sisi kirinya. Ini karena China menempatkan Wu Xi, Zhan Lin Peng dan Sun Ke secara bersamaan.

Satu catatan mengenani Zhan Lin Peng sendiri adalah umpan panjangnya. Ia acap mengarahkan umpan panjang vertikal ke arah Sun Ke dekat garis pinggir lapangan, dan bukan ke arah tengah lapangan, atau melakukan umpan panjang diagonal. Akibatnya umpan panjangnya mudah diintersepsi, atau keluar lapangan. Dari 7 kali umpan panjang yang dilakukannya ke depan, hanya 1 yang berhasil.

Catatan lainnya adalah peran Zhan Lin Peng saat ada tendangan penjuru. Bersama dengan dua pemain belakang lainnya Zhen Zhi dan Du Wei, ia naik ke kotak penalti lawan untuk menyambut bola corner. Biasanya Zhan Lin Peng malah ditempatkan di sisi kiri kotak penalti.

Rotasi Posisi dan Peran Yu Dabao

Selain Zhan Lin Peng, Yu Dabao juga jadi pemain yang fasih memainkan dua posisi. Saat melawan Korea Selatan ia bisa berperan sebagai sayap kiri, sementara saat melawan Australia ia bermain sebagai ujung tombak.

Saat melawan Australia, dengan pergerakannya, Yu Dabao juga berperan penting dalam skema penyerangan China. Misalnya di gol pertama. Saat bola dibawa oleh Sun Xiang (bek kiri), Yu Dabao justru bergerak turun untuk menarik keluar center-back Australia. Saat bola sudah mendekati kotak penalti, barulah Yu Dabao bergerak naik untuk menyambut umpan silang.

Satu catatan mengenai gol China saat melawan Australia ini adalah China mampu mengakali perbedaan tinggi badan dengan cara melakukan umpan silang mendatar. China jarang sekali mengirimkan bola dengan umpan lambung untuk menghindari aerial duel dengan para pemain Australia.

Pasif Alirkan Bola Lewat Tengah

Satu ciri khas permaian China baik saat melawan Korea Selatan maupun Australia adalah arah serangan yang dilakukan melalui sayap. Terutama sayap kanan.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dengan menggunakan kombinasi Sun Ke dan Zhan Lin Peng, atau Sun Ke – Wu Xi – Zhan Lin Peng. China kerap merangsek naik ke area pertahanan lawan. Ada 3 hingga 4 pemain China yang membentuk trapesium dan memantulkan umpan-umpan pendek sembari perlahan naik melalui sayap kanan.

Ini berbeda dengan sayap kiri, yang hanya dimotori oleh full-back kiri. Saat bertemu Korea Selatan, Yu Dabao sebagai sayap kiri lebih sering bergerak ke tengah. Sementara saat melawan Australia, baik Yu Dabao, Wu Lei (no. 20), atau Zhan Xizhe (No. 21) lebih sering beroperasi di poros tengah lapangan. Ini menyebabkan ruang di sayap kiri hanya digunakan oleh full-back kiri.





[Grafik Passing China Saat Melawan Australia dan Korea Selatan– Serangan Bertumpu di Area Kanan]

Saat bertemu dengan Korea Selatan, skema ini tidak berjalan karena Rong Hao (full-back kiri) kurang bisa memainkan perannya dengan baik sehingga serangan bertumpu di kanan. Namun, saat melawan Australia, kecepatan Sun Xiang (full-back kiri/No.3) jadi penting dalam memanfaatkan ruang kosong di kiri untukmenembus lini pertahanan Australia. Bahkan gol pertama pun tercipta karena pergerakan Sun Xiang.

Meski demikian, tetap saja sayap kanan yang menjadi andalan China.

Hal ini terjadi karena kedua double-pivot China (Huang Bowen – Yang Hao saat melawan Korsel, Cui Peng – Yang Hao saat melawan Australia) bermain terlampau dalam, atau dekat sekali dengan center-back. Sementara itu, ketiga pemain depan terisolasi di area pertahanan lawan.

Akibatnya banyak passing-passing pendek yang tercipta di area pertahanan sendiri, namun banyak passing yang lebih mengarah ke belakang atau ke samping. Passing vertikal dari kedua double-pivot ke arah pemain depan pun lebih sering dipotong oleh Korsel atau Australia, karena jarak yang terlampau jauh antara pemain tengah dan pemain depan.

Saat melawan Korea Selatan, Wang Yongpo yang seharusnya menjadi penghubung lini tengah dan lini depan pun gagal menjalankan fungsinya. Ia lebih sering menunggu bola di area kanan pertahanan Korsel untuk membentuk segitiga dengan Sun Ke dan Zhan Lin Peng. Karena itu tak heran jika Zheng Zhi (No. 10/center-back) dan Du Wei (no.5/center-back/ saat melawan Korsel) jadi pemain yang memiliki jumlah passing terbanyak.

===

* Ditulis oleh Pandit Football Indonesia. Profil lihat di sini.


(mfi/mfi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads