Pertarungan di Sayap dan Peran Baru Kaka

Liga Champions: Milan 1-1 Barcelona

Pertarungan di Sayap dan Peran Baru Kaka

- Sepakbola
Rabu, 23 Okt 2013 16:32 WIB
Pertarungan di Sayap dan Peran Baru Kaka
Getty Images/Claudio Villa
Milan - Laga AC Milan kontra Barcelona berakhir sama kuat 1-1. Yang menarik dari pertemuan ke-14 kedua tim adalah pertarungan seru di sisi sayap masing-masing serta Kaka yang muncul dengan peran baru.

Kedua tim merupakan tim besar di Eropa dengan deretan tropi-tropi domestik dan tropi level benua biru. Ini merupakan musim keempat mereka bertemu secara berturut di kompetisi Liga Champion.

Ya, semenjak musim 2010/2011, AC Milan dan FC Barcelona telah bertemu sebanyak enam kali, dengan tiga diantaranya dimenangkan oleh Barca. Musim lalu, Milan sebenarnya berhasil menang di leg pertama babak pendelapan final, sebelum akhirnya kembali takluk dan kalah agregat. Di musim ini, mereka kembali bertemu di babak grup, seperti halnya terjadi di musim 2011/2012.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mesti diakui, kedua tim kini sedang mengalami level permainan sedikit berbeda. Milan adalah jagoan masa lalu yang kini sedang merajut asa kembali menjadi tim terbaik. Sebuah tim yang pernah merajai sepakbola Eropa di pergantian milenium ketiga, dan selalu berada di bawah bayang-bayang kebesaran The Dream Team yang pernah mereka punyai.

Jika Milan berjuang untuk kembali ke masa jayanya, Barcelona adalah tim dengan kemampuan taktik masa kini dan masih berada sebagai tim papan atas Eropa. Tugas mereka saat ini adalah berjuang untuk mempertahankan level permainan mereka.

Hasil seri 0-0 saat melawan Osasuna dalam pertandingan sebelumnya memberi bukti bahwa Barcelona masih harus terus berjuang mempertahankan ritme permainan, terutama saat tidak memainkan Lionel Messi sebagai starter.

Barcelona ganti setengah skuatnya, Milan masukan pemain berpengalaman

Mimpi buruk saat ditahan imbang Osasuna dan pulihnya beberapa pemain nampaknya mempengaruhi starting eleven Barca dalam pertandingan ini. Tercatat hanya 6 pemain yang menjadi starter di pertandingan terakhir yang kembali menjadi pemain inti di pertandingan cukup bergengsi ini.

Sementara trio gelandang dipertahankan, tiga pemain belakang mengalami perubahan. Untuk lini depan, Messi dan Alexis Sanchez dimasukan pelatih Barca untuk mendampingi Neymar.


Sementara itu, Milan mengganti empat pemainnya dibanding starting eleven saat berhadapan dengan Udinese. Pelatih Milan, Massimiliano Allegri, memasukan empat pemain yang mempunyai jam terbang lebih baik untuk mencoba mengamankan game ini.

Penjaga gawang Gabriel digantikan oleh Marco Amelia, Phillipe Mexes masuk mengantikan Matias Silvestre, Nigel De Jong menggantikan Andrea Poli, dan Kaka mengganti Alessandro Matri di depan.

Satu hal yang menarik dari formasi pada pertandingan ini adalah kedua tim sama-sama tidak menggunakan satu striker statis di depan. Robinho lebih sering bergerak melebar, sementara Messi bergerak ke bawah untuk menjemput bola. Tak heran jika pusat permainan kedua tim pun berada di sayap lapangan.

Β 


Bertumpu pada Pergerakan Kaka-Robinho

Sadar bahwa lini tengah Barcelona sangat sulit untuk dilawan, Allegri menghindari daerah yang dikuasai oleh Sergio Busquets, Xavi, dan Andres Iniesta tersebut. Milan membuka permainan lewat tusukan-tusukan Kaka dan Robinho dari sayap kiri.

Daerah ini memang potensial untuk dieksploitasi kubu tuan rumah. Tingginya naluri menyerang seorang Dani Alves yang sering meninggalkan posnya mengakibatkan adanya lubang di daerah ini.

Allegri pun menunjuk Ricardo Kaka untuk beroperasi dan menjadi playmaker di area tersebut, dibantu oleh Robinho yang kerap bergerak ke sisi kiri permainan. Apalagi, permainan Alves sudah sangat dikenal oleh Kaka dan Robinho karena sama-sama orang Brasil.

Skema ini terbukti sangat berhasil terutama sampai gol AC Milan tercipta. Bukan saja merepotkan pertahanan Barcelona, kerjasama apik Kaka dan Robinho di sektor ini mampu membuat AC Milan terlebih dahulu unggul. Mereka melakukan serangan balik setelah memanfaatkan kesalahan Javier Macherano. Robinho akhirnya berhasil membobol gawang Victor Valdes melalui assist rekan senegaranya itu.






Grafik Passing di Final Third AC Milan Menit 0-45) – Bertumpu Kombinasi Kaka – Robinho di Kiri (credit: fourfourtwo.com)

Barcelona Beralih ke Kanan

Tersadar setelah tuan rumah mampu mencuri gol di awal babak pertama, kubu tamu mulai berbenah dan mencoba menguasai pertandingan. Permainan Barcelona ini memaksa pemain Milan menumpuk para gelandangnya untuk melindungi pemain belakang mereka.

Kaka dan Valter Birsa bahkan turun ke belakang untuk melindungi bek mereka. Milan pun menumpuk gelandangnya dengan memainkan formasi 4-5-1 saat bertahan dengan menyisakan Robinho di depan.

Terlihat dari chalkboard di bawah ini bagaimana Kaka coba menahan gempuran serangan Barcelona di area pertahanan Milan. Bahkan, tercatat delapan tekel bisa dilakukan oleh pemain yang baru sembuh dari cedera ini. Selama 70 menit, pemain ini pun tak berhenti turun-naik dari kotak ke kotak, seolah menemukan peran baru di bawah Allegri.

Β 




Β Grafik Aksi Menyerang dan Bertahan yang Dilakukan Kaka (credit: fourfourtwo.com)

Formasi dan strategi Milan untuk menumpuk pemainnya di lini tengah sempat membuat Barca tidak bisa dengan leluasa menguasai lapangan tengah. Messi pun harus turun untuk menjemput dan mengalirkan serangan terutama ke sayap kanan.

Sisi kanan diincar Barca karena adanya sosok Kaka sendiri yang semula diyakini tidak akan membantu pertahanan Milan. Faktor kurang pengalamannya Kevin Constant juga nampaknya menjadi alasan lain. Sejak terjadinya gol Milan sampai babak pertama usai, Barcelona berhasil membuat tiga umpan silang dari daerah yang dijaga Constant tersebut.






Grafik Passing di Final Third Barcelona Menit 1-45 (credit: fourfourtwo.com)

Pada area sayap kanan, Barca kemudian menumpuk Dani Alves, Busquets, Xavi, Alexis Sanchez, dan Messi. Strategi ini membuat Barcelona mampu menekan Milan sejak daerah pertahanan sendiri. Tekanan ini mampu membuat tuan rumah kesulitan untuk membangun serangan dan memaksa mereka melakukan kesalahan sendiri. Hal ini terlihat dari gol balasan yang dicetak Messi.

Kesalahan pemain belakang Milan saat menguasai bola berhasil dimanfaatkan tim tamu untuk mencetak gol. Kedudukan imbang 1-1 bertahan sampai peluit babak pertama dibunyikan.

Milan Coba mengulang Momentum

Unggul di awal babak pertama membuat Milan sempat menerapkan taktik yang sedikit berbeda di babak kedua. Mereka sedikit keluar menyerang dengan tujuan untuk mengulang momentum seperti babak pertama. Kali ini, para pemain Barcelona lebih waspada sehingga mereka berhasil meminimalisir ancaman yang datang dari tuan rumah.

Namun, strategi Milan Β ini tidak berjalan lama karena terbukti malah menjadi bumerang bagi mereka. Longgarnya koordinasi lini tengah saat bertahan membuat gelandang-gelandang Barcelona mampu memanfaatkan celah yang tercipta di depan pertahanan Milan.

Pergantian posisi Messi dan Sanchez dalam menggempur posisi Contant menggoyahkan strategi Β Milan di awal babak kedua tersebut.

Pada akhirnya, Milan pun kembali menggunakan strategi serangan balik, namun dengan penekanan pada pressing ketat saat Barca kehilangan bola. Akibatnya dengan cepat Milan mampu mengirimkan bola ke depan. Sayangnya Robinho sendiri tidak jadi pemain yang tepat untuk strategi ini. Akibatnya, bola yang dikirimkan melalui long-pass tidak berbuah pada serangan.

Β 




Grafik Passing di Final Third AC Milan Menit 46-90) – (credit: fourfourtwo.com)

Pergantian yang tidak mengubah apapun

Terus mendapat serangan, pelatih Allegri mengganti Robinho dengan Mario Balotelli. Di pertandingan ini, Robinho memang jarang turun untuk membantu pertahanan timnya. Berbeda dengan Robinho, Balotelli bermain lebih rendah dan tidak sempat membidik gawang yang dijaga Valdes.

Pelatih berkebangsaan Italia itu kembali melakukan pergantian di menit 71, Urby Emanuelson masuk mengganti Mexes. Memotong dominasi Barcelona di lini tengah dengan menganggu Busquets coba dilakukan oleh pemain berkebangsaan Belanda ini. Pergantian terakhir datang di menit 80, saat Poli menggantikan Valter Birsa.

Pergantian-pergantian ini tidak mengubah pola Milan yang menumpuk semua pemainnya di area sendiri dan sesekali melakukan serangan balik. Tercatat sejak masuknya Ballotelli, Milan hanya mendapatkan 2 attempts dan 1 diantaranya sukses.

Di kubu tamu, Fabregas masuk di menit 74 meneruskan peran Alexis yang bersama Messi dan Alves terus mencecar sisi kiri pertahanan Milan. Di menit 81, Pedro menggantikan peran Neymar di kiri.

Bermain bersih

Salah satu poin yang harus dicatat dalam pertandingan tersebut adalah bersihnya pemain Milan, terutama para pemain belakangnya, dalam menghalau serangan-serangan pemain Barcelona.

Dilindungi oleh pemain tengah, para pemain belakang Milan tidak melakukan tindakan gegabah. Sadar bahwa garis pertahanan mereka rendah dan tim lawan mempunyai algojo-algojo bola mati yang mumpuni, empat bek yang menjadi starter hanya melakukan total 2 kali foul sepanjang pertandingan.

Foul terbanyak justru dilakukan Muntari yang melindungi sektor kiri permainan Milan. Kesabaran ini membuahkan poin untuk mereka.

Kesimpulan

Pada awalnya, pertarungan ini terlihat seperti pertarungan antara duo Brazil, Alves dan Ricardo Kaka. Kedua tim saling mengintip peluang di tempat kedua pemain tersebut berada. Aktifnya Alves dalam membantu penyerangan menjadi celah yang berusaha terus dieksploitasi oleh Kaka dan teman-temannya.

Sebaliknya, Alves dan rekan-rekannya pun berusaha mengekploitasi lemahnya kemampuan bertahan Kevin Constant. Selain Alves, Messi dan Sanchez kerap melakukan perpindahan di daerah tersebut. Tercatat 12 dari 17 crossing Barcelona dalam pertandingan tersebut berasal dari daerah ini.

Seperti saat mengalahkan Udinese, lagi-lagi Milan menumpuk gelandangnya di tengah. Allegri nampaknya tahu, bagi Barcelona, penumpukan pemain lawan dari lini tengah sampai belakang akan selalu sulit untuk mereka tembus. Dan lagi, permainan bersih tim Milan menghindarkan tim itu dari berondongan algojo bola mati tim tamu.


(mrp/krs)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads