Madrid melapangkan jalan untuk lolos ke fase berikutnya dengan kemenangan 2-1 atas Juve (kini punya 9 poin dari 3 laganya). Dengan kemenangan tersebut, Los Blancos menyeimbangkan rekor menjadi lima kali menang dari 10 pertemuan antara keduanya. Sementara bagi Juventus, kekalahan ini semakin membuat jalan mereka untuk lolos semakin terjal karena hanya mengumpulkan dua poin dari tiga laga
Tuan rumah menangguk untung dari menjulangnya penampilan Cristiano Ronaldo. Pada laga tersebut, dua gol Madrid disumbangkan Ronaldo. Ini menjadi gol pemain Portugal itu ke-28 dari 22 laga terakhirnya di ajang Liga Champions.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Madrid dengan pelatih baru Carlo Ancelotti belum menemukan pakem permainan yang cocok. Tertahannya mereka di posisi ketiga klasemen sementara La Liga Spanyol menunjukkan belum tercapainya ritme permainan yang diinginkan.
Sedangkan untuk Juventus, taktik dan formasi yang buat mereka dua kali juara Serie A mulai terbaca lawan-lawannya. Terutama di ajang Liga Champions di mana mereka gagal menang di empat laga terakhirnya, sebelum laga melawan Madrid.
Ancelotti dan Conte Rombak Tim
Menilik laga terakhir masing-masing klub di ajang liga domestik, terlihat ada perubahan formasi dan skuat dari kedua tim.
Hasil kalah menyesakkan 2-4, setelah unggul 2-0 di babak pertama, atas Fiorentina, membuat Antonio Conte tak lagi menerapkan formasi yang biasa dimainkan. Ia mempercepat perubahan formasi dari 3-5-2 menjadi 4-3-3. Hal ini membuat beberapa nama baru muncul sebagai pengisi formasi baru ini.
Nama baru itu yakni Angelo Ogbonna mengisi posisi bek kiri, sedangkan Martin Caceres bertugas di bek kanan. Nama lain yang regular bermain namun mengalami perubahan posisi adalah Claudio Marchisio, yang kali ini bergabung dengan Carlos Tevez dan Fernando Llorente di barisan penyerang.
Hal sama juga dilakukan oleh entrenador Real Madrid, Carlo Ancelotti yang juga menerapkan formasi berbeda dari laga terakhirnya melawan Malaga. Kebalikan dari Conte, Don Carletto justru tidak lagi memakai formasi 4-3-3 yang membawa mereka menang 2-0 dari Malaga. Ancelotti justru menggunakan formasi 4-2-3-1 dengan memasukkan banyak nama berbeda.
Iker Casillas mengisi kembali pos penjaga gawang, sementara Alvaro Arbeloa menjadi pengganti Daniel Carvajal di bek kanan, Luka Modric menggantikan Isco di tengah, dan Karim Benzema kembali sebagai starter menggantikan Alvaro Morata di depan.
Dengan formasi yang diterapkan oleh kedua pelatih yang sama-sama berkebangsaan Italia itu, terdapat delapan pemain yang berjibaku di lini tengah. Belum lagi ditambah Tevez dan Claudio Marchisio yang kerap turun membantu rekan-rekannya merebut penguasaan bola di lini tengah.
Untung Rugi Formasi Baru
Meski kedua tim memberlakukan formasi baru namun ada perbedaan dalam kefasihan menerapkannya di lapangan. Skuat Madrid begitu fasih menjalankan formasi yang biasa mereka jalankan pada era Jose Mourinho. Sedangkan Andrea Pirlo cs relatif gamang memainkan 4-3-3. Beberapa pemain baru sebagai starter seperti Angelo Ogbonna membuat pemahaman antar pemain tidak terlalu mulus.
Gol pertama yang terjadi pada menit ke-4 menunjukkan hal tersebut. Paul Pogba dan Ogbonna yang belum padu βdigoyangβ oleh Sami Khedira dan Angel Di Maria yang berperan sebagai inverted winger. Setelah Pogba gagal mencegah Khedira memberi umpan ke Di Maria, Ogbonna juga tidak mengantisipasi gerakan memotong ke dalam (cut in) dari Di Maria.
Perlu diketahui bahwa pada laga ini adalah penampilan keempat dan peran pertama Ogbonna sebagai bek kiri dalam formasi baru Conte. Niat Conte mengubah taktik agar tidak terbaca ternyata memiliki efek samping pada belum fasihnya para pemain dalam menjalankannya.
Jenuh di Tengah, Variasi dari Sayap
Formasi 4-3-3 yang diterapkan oleh Conte sebenarnya memungkinkan kepada kedua bek sayapnya untuk naik membantu penyerangan. Namun keterbatasan pilihan membuat hal tersebut tidak berjalan.
Ogbonna yang seorang bek tengah alami cenderung statis di posisinya. Pada grafis yang ditunjukkan oleh whoscored.com terlihat bahwa arah serangan dari Juventus asimetris. Lebih banyak dari sisi kanan tempat di mana Caceres, Marchisio dan Arturo Vidal beroperasi.

Di babak pertama, Paul Pogba sendiri lebih sering bergerak horisontal saat membawa bola hingga ke depan kotak penalti. Carlos Tevez kemudian bergerak ke arah sayap untuk menggantikan Pogba. Meski tak membuat banyak umpan silang, kombinasi perpindahan Pogba-Tevez ini mampu menarik pemain-pemain Madrid, sehingga ada ruang bergerak di sayap kanan.
Peluang pertama Juventus datang dari Marchisio melalui shooting yang membuat Casillas terbang untuk menepisnya. Gol balasan Juventus juga berawal dari kiriman umpan silang Caceres ke Pogba.
Serangan-serangan dari sayap baik yang dilakukan oleh Juventus dan Madrid merupakan varian serangan setelah terjadi kebuntuan serangan dari lini tengah. Para gelandang di lini tengah dari kedua tim sama-sama menutup serangan dari tengah. Meminjam istilah yang digunakan almarhum Gus Dur, terjadi penjenuhan di lini tengah.
Dalam upayanya menyamakan kedudukan, Juventus membuat 14 umpan silang di babak pertama dengan 10 di antaranya dari sisi kanan. Pilihan Juventus menyerang dari sisi kanan juga dipengaruhi oleh aktifnya bek kiri Madrid, Marcelo, dalam membantu serangan. Ada lubang di daerah tersebut yang kemudian coba dimanfaatkan oleh Juventus.

Grafik Umpan Silang Juventus di Babak Pertama (credit: fourfourtwo.com)
Namun jumlah crossing Juventus ini menurun di babak kedua. Minimnya keberhasilan umpan-umpan silang tersebut (hanya 2 yang sukses menemui sasaran dari 14 crossing) dan keluarnya Giorgio Chiellini menjadi penyebab perubahan taktik.
Ini berbeda dengan Madrid yang justru semakin banyak membuat crossing. Dengan hanya empat crossing di babak pertama, terjadi peningkatan sebanyak 12 umpan silang di babak kedua.
Berebut Tempo
Sempat ketinggalan dua kali tak membuat mental para punggawa Si Nyonya Tua turun. Mereka bereaksi dengan menaikkan tempo dan merebut penguasaan bola. Bermain dalam tempo tinggi dan mengalirkan bola dengan cara passing-passing pendek cepat, Juventus mampu merangsek ke area pertahanan Madrid.
Dalam skema ini, Llorente berperan penting. Dengan punggung menghadap gawang, ia kerap memaksa centerback Real Madrid mundur dan memantulkan bola pada gelandang. Akibatnya banyak attempts Juventus yang tercipta dari luar kotak penalti.
Melihat hal ini, Real kemudian menurunkan tempo permainan, menurunkan garis pertahanan, dan menarik gelandangnya di sepertiga lapangan bagian tengah. Karena itu, banyak umpan Madrid yang terjadi di area ini. Ketika Chiellini terkena kartu merah, baru lah El Real berani maju dan melakukan passing-passing di sepertiga lapangan akhir. Β

Passing Juventus di Babak 1 (atas)
Β

Passing Juventus di Babak 2 (bawah)Β
Β
Conte Menutup Kebocoran di Sektor Kiri
Diusinya Chiellini membuat Conte melakukan serangkaian pergantian pemain dan perubahan taktik untuk membendung serangan Madrid. Masuknya Leonardo Bonucci secara langsung untuk mengisi bek tengah, namun digantinya Pirlo dengan Kwadwo Asamoah bertujuan untuk memperkuat sisi kiri pertahanan.
Pada grafis pendukung terlihat bahwa sisi kiri Juventus cukup sering dieksploitasi oleh pemain-pemain Madrid. Pergantian Pirlo ini tidak membantu Juventus untuk menyamakan kedudukan namun sangat penting untuk menghindarkan dari kebobolan yang lebih banyak lagi.
Β
Grafik Umpan Real Madrid di Sepertiga Lapangan Akhir Sebelum Asamoah Masuk
Terbukti intensitas serangan Madrid meningkat drastis. Salah satu parameternya adalah jumlah attempt yang tercipta. Saat mencetak dua gol di babak pertama, Madrid hanya mencatatkan attempts sebanyak empat. Di babak kedua, statistik ini naik dengan pesat menjadi 13 attempt secara keseluruhan.
Kesimpulan
Laga yang menjadi ajang penerapan taktik baru. Madrid selain lebih nyaman memainkan formasi yang dulu kerap dimainkan juga diuntungkan kegagapan tim lawan dalam memainkan formasi baru.
Aksi permainan yang dominan di lini tengah membuat kedua tim melakukan variasi serangan lewat sisi kanan dan kiri. Hasilnya gol-gol justru datang dari kecerdikan memanfaatkan celah di posisi para bek sayap itu.
Conte menghindarkan Juventus dari kekalahan yang lebih telak lagi dengan beberapa pergantian pemainnya. Perubahan ini menambal lubang yang kerap dieksploitasi pemain-pemain Madrid.
(mrp/krs)











































