Cara Menundukkan Biancoceleste: Mengisolir Hernanes dan Candreva

Liga Italia: Lazio 2-4 Napoli

Cara Menundukkan Biancoceleste: Mengisolir Hernanes dan Candreva

- Sepakbola
Selasa, 03 Des 2013 15:39 WIB
Cara Menundukkan Biancoceleste: Mengisolir Hernanes dan Candreva
REUTERS/Tony Gentile
Jakarta - Buruk di penyelesaian akhir dan blunder di lini pertahanan terakhir membuat Lazio merana. Mereka ditaklukkan Napoli di kandang sendiri, Stadion Olimpico, dengan skor telak 2-4.

Sementara itu, kemenangan ini seakan mengobati duka Napoli yang kalah pada dua laga beruntun sebelumnya dari Juventus dan Parma. Apalagi, tambahan 3 poin juga menjaga asa Napoli untuk meraih gelar scudetto.



SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Petkovic yang Linglung Melawan Napoli yang Sempurna

Sebelum pertandingan ini Lazio tak pernah menang dalam empat laga terakhirnya. Berulang kali gagal membawa 3 poin dalam laga-laga itu membuat pelatih Vladimir Petkovic sering mengutak-atik pemain inti dan formasi yang pakai. Kadang memakai 4-4-2, 3-4-3, 4-2-3-1, atau 4-3-3. Tadi malam, Petkovic memakai 4-1-4-1 dengan susunan pemain yang berbeda-beda pula.

Ketika melawan Legia Warsawa, Petkovic menurunkan pemain primavera Keita Balde Diao sebagai ujung tombak. Namun, dalam laga ini, Petkovic memilih jasa Brayan Perea. Ketumpulan di lini depan memang jadi persoalan serius di kubu Lazio. Tak adanya pemain pengganti sekelas Miroslav Klose membuat pundi-pundi gol hanya bergantung pada pemain-pemain tengah. Top skorer saat ini adalah Antonio Candreva dengan empat gol.

Di laga Selasa (3/12/2013) dinihari WIB, kolektivitas lini tengah Lazio patut diacungi jempol. Di babak pertama mereka mampu bermain melebar sementara di babak kedua mampu mengganti strategi. Peluang pun banyak diciptakan oleh para gelandang Lazio.

Sayangnya penyelesaian mereka amat buruk. Peluang berhadapan satu dengan satu dengan kiper cukup banyak, tapi bola selalu gagal mendarat di jala gawang Pepe Reina.

Berbeda dengan Lazio yang linglung, Napoli datang ke Olimpico dengan kekuatan yang komplit. Miguel Britos, Gokhan Inler, dan Lorenzo Insigne kembali jadi pemain inti, setelah sebelumnya tak dibawa saat bertandang ke Signal Iduna Park melawan Dortmund di Liga Champion.

Kehati-hatian Kedua Tim

Di babak pertama, pertandingan nyaris membosankan. Kedua tim memainkan garis pertahanan yang amat dalam dengan jarak antara lini belakang dan tengah dibuat serapat mungkin.

Napoli, misalnya. Poros ganda mereka, Valon Behrami dan Gokhan Inler, jarang memberi tekanan ke depan. Mereka lebih fokus melakukan penjagaan zonal marking di area tengah guna mencegah Lazio menyerang dari area itu.

Lazio pun sama. Biglia yang mestinya berperan sebagai deep lying midfielder malah diplot sebagai gelandang bertahan murni. Ia bertugas untuk menutup pergerakan Goran Pandev. Namun akibatnya ia tak bebas bergerak. Alhasil ada aliran bola yang terhambat dari lini belakang ke depan, saat Lazio memulai serangan.

Napoli Serangan Balik – Lazio Lewat Kanan


[Chalkboard posisi pemain di babak I]


Dari gambar di atas sebenarnya sudah dapat dibaca arah jalannya pertandingan. Melawan Lazio, Benitez memilih bersabar. Ditaruhnya Higuain sendirian di depan, serta ditahannya Behrami dan Inler di belakang, menegaskan kalau Benitez memang ingin mencetak gol dari proses serangan balik.

Taktik yang Benitez terbukti tepat. Di musim ini mayoritas gol yang berjaring di gawang Lazio diawali proses serangan balik lewat longpass atau troughpass. Saat menghadapi masalah ini, bek-bek Lazio amat rajin melakukan blunder. Kejadian gawang Marchetti yang dijebol tiga kali tak akan terjadi tanpa blunder yang dilakukan duet bek tengah Ciani dan Lorik Cana.

Lini pertahanan Napoli sendiri kurang direpotkan, karena serangan Lazio hanya bertumpu di sayap kanan lewat Candreva. Pengalir bola kepada Candreva mestinya diemban oleh Hernanes sebagai sosok playmaker. Namun nyatanya Hernanes tampil di bawah form.

Akhirnya, fullback kanan Lazio, Konko, mengambil peran memberi bantuan pada Candreva dengan maju ke depan. Sifat Konko adalah sebagai pemantul untuk membantu Candreva melewati bek-bek Napoli. Dan cara ini tergolong efektif. Ada empat attempt Lazio yang diawali dari proses ini.

Motor Lini Tengah yang Tak Seimbang

Pada laga semalam, skema 4-1-4-1 yang dimainkan Petkovic kadang terihat menyerupai 4-3-3, dengan trio Gonzales-Biglia-Hernanes sebagai motor lini tengah. Fungsi ketiga pemain ini berbeda. Gonzales sebagai penghancur serangan lawan, Hernanes sebagai pengatur passing, dan Biglia sebagai kreator. Namun ini tak efektif. Ada kesenjangan yang cukup jauh di antara tiga pemain tengah ini.

Oleh Petkovic mereka dipecah-pecah ke berbagai lini. Gonzales lebih condong ke sayap kanan untuk membantu Candreva membongkar segitiga Napoli: Inler-Britos-Armero. Sementara itu posisi Biglia selalu lebih merapat dengan dua bek ketimbang di tengah. Ini karena ia diberi dua tanggung jawab sekaligus, yaitu sebagai seorang gelandang bertahan murni dan sebagai pengawal Pandev. Karenanya Biglia pun harus bekerja ekstra keras untuk menahan laju Insigne dan Callejon.

Sementara itu, posisi Hernanes amat jauh di lini depan. Ia lebih sering berada tepat di belakang striker Lazio, Brayan Perea, yang tak pernah dapat suplai bola.

Perubahan Posisi Insigne yang Menguntungkan

Benitez memang cerdik. Ia tahu kelemahan Lazio yang hanya menyerang mengandalkan Candreva. Maka Benitez pun tak menginstruksikan penjagaan ketat pada Perea. Untuk meminimalisir pengaruh Perea, ia cukup menaikan full back kanan Chistian Maggio setinggi mungkin, dan menukar posisi Insigne dan Callejon.

Insigne, yang semula bermain di kiri, digeser ke kanan dengan tugas mengacak-ngacak sayap kiri Lazio. Lain halnya dengan Callejon. Ia dipindah ke kanan untuk bermain lebih defensif, menahan suplai bola untuk Candreva. Lihat gambar di bawah.


[Grafik area aksi Callejon. Sumber: squawka.com)


Dengan taktik ini, alhasil barisan sayap kiri Lazio, yaitu Lulic dan Radu, tak pernah berani menerobos sepertiga area pertahanan Napoli saat menyerang. Imbasnya, bola-bola crossing dari sayap kiri yang digemari Perea tak pernah terjadi.

Saat mendapat bola, Lulic selalu memberikannya kepada Hernanes di tengah. Sementara itu, Hernanes terlihat bingung harus memberikannya kepada siapa. Tak mungkin untuk mengoper pada Candreva, karena ia ditutup lebih dari tiga orang.

Oleh Benitez, Hernanes memang sengaja dibuat statis, dengan dipancing menjaga kerapatan dengan Perea. Saat itulah biasanya Inler-Behrami dan salah satu bek tengah Napoli membentuk segitiga untuk mengurung Hernanes. Tak heran Hernanes pun sering kebingungan. Akibatnya ia lebih memilih shooting jarak jauh ketimbang memberikan umpan pada Perea.


[Grafik passing Hernanes di babak I dan II]


Kesimpulan

Kemenangan Napoli atas Lazio jadi buah dari kesabaran dan pressing ketat yang diintruksikan Benitez pada anak asuhnya. Gol-gol yang terjadi semuanya berdasarkan skema yang memang betul-betul telah direncanakan. Kecerdikan Benitez memanfaatkan segala kelemahan lawan menjadi nilai plus tersendiri di laga ini.

Sementara itu, "Si Elang Biru" harus segera berbenah. Di saat tim-tim lain mulai bermain-main dengan taktik baru, skema taktik Petkovic mudah terbaca dan terkesan template seperti di musim sebelumnya.

Tak hanya itu, dengan kedalaman skuat yang sama seperti musim lalu, para penggawa lama Lazio malah menunjukan performa yang angin-anginan. Bobroknya lini belakang dan tumpulnya lini depan mau tak mau harus membuat Lazio menambah pemain-pemain baru.

Jika Claudio Lotitto sang bos menghendaki, Lazio memang sudah selayaknya untuk cuci gudang serta memberikan kesempatan kepada pemain-pemain muda. Apalagi tim primavera mereka mampu meraih scudetto di musim lalu. Lantas kenapa tidak?


====

* Analisis oleh @panditfootball . Profil lihat di sini




(a2s/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads