Meski tampil tanpa Steven Gerrard, Liverpool mampu tampil atraktif dengan fluid-nya pergerakan barisan gelandang dan penyerang. Selain karena buruknya skema yang diterapkan oleh Andre Villas-Boas, kecermatan Brendan Rodgers yang mampu memanfaatkan kelemahan Spurs menjadi kunci bagi kemenangan The Reds.
Pressing Ketat di Garis Pertahanan yang Tinggi
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika penguasaan bola Liverpool hilang, The Lilywhites langsung mengkonversinya dengan serangan cepat yang menusuk ke sisi kiri pertahanan Liverpool. Kombinasi antara Kyle Walker, Aaron Lennon, dan Paulinho memaksa Liverpool untuk bermain bertahan pada rentang waktu 10 menit awal laga tersebut.

[Pertahanan Liverpool di 10 Menit awal pertandingan: sisi kiri sebagai sektor yang diekspoitasi. Sumber: FourFourTwo]
Namun, Liverpool tampaknya dapat berbangga atas solidnya kinerja barisan pertahanan. Rodgers mampu mematikan serangan Spurs dengan cara bermain pada garis pertahanan yang dalam dan merapatkan barisan antara 4 bek sejajar dengan gelandang. Hasilnya, Spurs pun terlihat gagal dalam memanfaatkan serangan-serangan yang dibangun.
Gelandang dan Penyerang Liverpool yang Fluid
Kecermatan Rodgers dalam memanfaatkan kelemahan lawan terlihat pada laga ini. Fluid-nya barisan gelandang dan penyerangan Liverpool berhasil mengakali pressing ketat dan tingginya garis pertahanan Spurs.
Suarez yang kerap turun ke tengah mampu memancing Michael Dawson atau Etienne Capoue untuk bergerak maju. Di sinilah peran Jordan Henderson dalam masuk ke ruang yang ditinggalkan oleh bek Spurs menjadi faktor penting serangan Liverpool.
Ketika berada di garis terdepan serangan dan sedang menguasai bola, Henderson sering menjadi penghubung antara Coutinho, Sterling ataupun Suarez. Bahkan, statistik menunjukkan Henderson mampu mencatatkan 58 complete passing hasil dari 63 kali percobaan.
Ketiga pemain tersebut kerap bergerak dan menusuk di antara bek. Henderson yang berperan sebagai pemantul mampu menjalankan tugasnya dengan baik lewat umpan through pass. Apalagi, Spurs bermain pada garis pertahanan yang tinggi. Ini lah yang akhirnya menyebabkan para pemain Liverpool sering berhadapan satu lawan satu dengan Lloris.
Gol pertama Liverpool yang dicetak oleh Suarez pun tak lepas dari skema yang diterapkan. Suarez yang meninggalkan posnya dan menggiring bola dari tengah mampu memancing Etienne Capoue untuk maju. Henderson, yang memanfaatkan ruang yang ditinggalkan Capoue, mampu menjadi pemantul untuk mengembalikkan bola yang berasal dari passing Suarez.
Liverpool dengan Metronom Ganda
Apiknya permainan Liverpool pada pertandingan ini tak lepas dari adanya distribusi bola yang seimbang antara lini penyerangan dan lini pertahanan. Henderson berfungsi sebagai metronom/pengatur di barisan penyerangan, sementara Joe Allen berfungsi sebagai metronom di barisan pertahanan.

[Kombinasi Passing Liverpool]
Dengan adanya dua pengatur serangan tersebut praktis Liverpool juga mendapatkan dua manfaat. Pertama, Liverpool dapat dengan mudah membangun serangan. Kedua, dengan baik Liverpool juga dapat menahan gempuran serangan.
Serangan dapat dilakukan dan dibangun dengan cepat karena Henderson tidak perlu turun untuk mencari dan membagi bola. Henderson dapat bergerak dengan bebas di depan. Menahan gempuran serangan pun dapat dilakukan, karena Joe Allen cukup fokus pada pertahanan, tidak perlu maju untuk mengatur serangan. Cukup untuk menjaga bola dan menjadi penghubung antara gelandang dan penyerang.
Selain itu, dengan situasi tersebut 6 pemain di lini belakang siap untuk menahan pergerakan 4 pemain di barisan penyerangan Spurs. Sedangkan di lini depan, meski hanya meninggalkan 4 pemain, area gerak pemain yang tidak hanya terpaku pada posnya saja mampu membuat barisan pertahanan Spurs kelimpungan.
Faktor itu pulalah yang menyebabkan Liverpool mampu unggul baik di lini penyerangan maupun lini pertahanan.
Membangun Serangan Melalui Through Pass
Selain adanya metronom ganda, Liverpool juga mampu tampil apik dengan bermain melalui umpan-umpan throughpass. Menariknya, bola yang dialirkan ke depan tidak datang dari samping ataupun berasal dari sepertiga area akhir. Umumnya, bola didistribusikan dari area tengah melalui umpan panjang.

Distribusi bola melalui umpan panjang ke depan ini juga dapat berjalan dengan baik karena kecerdikan pemain Liverpool yang bergerak di sela-sela celah bek Tottenham. Pola Spurs yang bermain pada garis pertahanan tinggi pun seolah memudahkan para pemain Liverpool untuk menjalankan skema tersebut.
Kondisi itu pula sebenarnya yang juga mampu membawa dampak positif bagi pertahanan Liverpool. Dengan mengirimkan umpan through pass dari tengah, Liverpool juga dapat menjaga kedalaman garis pertahanannya.
Para pemain belakang juga tidak perlu untuk membantu serangan, karena pemain pada barisan penyerangan acap langsung berhadapan satu lawan satu dengan kiper ketika menerima bola through pass.
Akibatnya, meski umpan terobosan berhasil diintersep oleh barisan pertahanan Spurs, Liverpool tidak perlu khawatir. Dengan mudah The Reds pun dapat memutus serangan Spurs karena para pemain bertahan tetap berada di posisinya.
Pertahanan yang Tidak Padu
Dapat dikatakan, performa positif Liverpool dalam mengirimkan through pass tak lepas dari tidak padunya barisan pertahanan Spurs. Menempatkan Walker, Capoue, Dawson dan Kyle Naughton, keempat bek tersebut seolah keteteran ketika menerima umpan panjang dari tengah.
Gencarnya serangan Liverpool gagal diantisipasi dengan baik karena keempat bek cenderung mengikuti pergerakan barisan penyerangan Liverpool. Tidak ada pemain Spurs lain yang menutup pos yang ditinggalkan, ketika salah satu bek melakukan pressing. Ini menyebabkan pemain Liverpool dapat memanfaatkan celah-celah kosong di lini belakang.
Apalagi, baik Capoue ataupun Dawson kerap kalah dalam beradu lari dengan barisan serangan Liverpool. Ini lah pada akhirnya yang menyebabkan Lloris harus berjibaku sendirian dan memungut bola 5 kali dari dari jalanya.
Kesimpulan
Liverpool mampu tampil baik dengan mengembangkan permainan melalui umpan throughpass cepat dan langsung menusuk ke jantung pertahanan Spurs. Liverpool tampak tampil baik meski harus bertanding tanpa Steven Gerrard. Bahkan, dapat dikatakan, Liverpool mampu bermain lebih fluid ketika Gerrard harus absen karena cedera.
Suarez menjadi lebih berani untuk bermain lebih dalam karena tidak ada Gerrard yang kerap berada di belakangnya. Sisi positif yang dapat dipetik untuk pendukung Liverpool adalah mereka tidak perlu khawatir ketika salah satu pemain bintangnya absen. Itu karena Brendan Rodgers memiliki skema yang berbeda ketika dihadapkan pada permasalahan tersebut.
Bagi Spurs, kekalahan ini setidaknya kembali mengingatkan bagaimana tim asuhan Andre Villas-Boas digasak oleh Manchester City dengan skor 6-0. Dapat dikatakan, Andre Villas-Boas melakukan kesalahan yang sama dengan menerapkan high pressing pada garis pertahanan yang tinggi. Hal ini semestinya harus cepat dibenahi jika ia ingin posisinya sebagai pelatih Roberto Soldado dkk masih aman.
Ketika menahan imbang Manchester United, sebenarnya metode garis pertahanan yang dalam, dengan mengandalkan serangan balik, jadi metode yang cukup jitu. Namun, tampaknya AVB masih kurang puas ketika menerima hasil seri. Tampaknya, ia lebih memilih untuk mengambil risiko dengan bermain pada garis pertahanan yang tinggi, meski sebelumnya pernah mengalami kekalahan dengan skema tersebut.
===
* Akun twitter penulis: @panditfootball . Profil lihat di sini
(a2s/cas)











































