Bertandang ke Olimpico untuk kedua kalinya dalam seminggu terakhir membuat Juventus sedikit merotasi starting line up. Pada lini belakang, Juve juga tak bisa menurunkan Giorgio Chiellini karena absen akibat akumulasi kartu kuning.
Sementara itu, di lini tengah, Antonio Conte membangkucadangkan Andrea Pirlo. Ia takut pemain tengah andalannya ini mengalami cedera. Apalagi jika mengingat kelelahan yang didapat pasca dikalahkan AS Roma.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suksesnya Eksperimen Reja
Melawan Juventus, Reja kembali bereksperimen memakai tiga bek. Dengan pola ini, Lazio yang bermain hanya dengan 10 orang mampu membalikkan keadaan dan menang atas Udinese 2-3, minggu lalu. Melawan "Si Nyonya Tua", keberuntungan itu diharapkan kembali datang.

Sekilas, Lazio terlihat memainkan pola 3-4-2-1 sebagai formasi awal. Berbeda dengan Juventus yang bermain melebar, Lazio malah bermain merapat mengerucut dan bertumpu pada Miroslav Klose sebagai ujung tombak.
Jika Juventus tak memakai gelandang bertipikal bertahan, Lazio malah memasang dua DM sekaligus lewat, yaitu duet Lucas Biglia-Christian Ledesma di tengah. Penggunaan poros ganda ini karena lazio belum bisa lepas benar dari pola 4-2-3-1 yang dibentuk oleh pelatih sebelumnya yaitu Vladimir Petkovic. Sebagai pelatih baru, Reja coba memodifikasi pola yang ditinggalkan pelatih lama, ketimbang langsung drastis merubah permainan Lazio.
Penggunaan poros ganda di tengah membuat Juve kesulitan menembus barisan pertahanan Lazio. Taktik penggunaan Reja yang memakai poros ganda ini patut diapresiasi. Saat Juve mulai menyerang dan menguasai bola di tengah, dua pemain ini langsung merapat dengan tiga bek di belakang.
Biasanya, intruksi bertahan untuk seorang DM adalah dengan melakukan zonal marking. Tapi pada laga dinihari tadi, Reja malah meminta Biglia dan Ledesma untuk melakukan man to man marking terhadap para pemain Juventus ketika diserang. Biglia kepada Pogba, dan Ledesma kepada Vidal, ataupun sebaliknya.

Taktik ini amat berisiko karena selalu meninggalkan celah di depan kotak penalti. Terlebih lagi, kerapatan Biglia-Ledesma dengan tiga bek terkadang tak mampu digantikan oleh lini depan yang selalu telat mundur. Alhasil setelah bola direbut Lazio, Juve dengan mudah kembali memulai serangan. Tercatat ada 6 serangan yang dibuat Juve dibuat berdasarkan kelengahan dari sektor ini.
Mematikan Wingback Juventus
Seperti dijelaskan pada awal tulisan, absennya winger kanan Lazio, Senad Lulic, berefek pada perubahan pola permainan Lazio. Padahal, selama diasuh Vladimir Petkovic, sudah menjadi tipikal Lazio untuk menyerang dari sisi sayap. Edi Reja mengubah itu dalam pertandingan semalam.
Tak ada yang menyangkal bahwa salah satu kekuatan 3-5-2 Juve adalah pada kekuatan bek sayap Stephan Lichteiner dan Kwadwo Asamoah. Lewat mereka berdua jugalah, Lazio diacak-acak pada putaran pertama Serie-A di Juventus Stadium. Kala itu Lazio juga dipaksa menelan kekalahan memalukan 4-1.

[Posisi Kecenderungan Pemain Lazio Saat bertahan]
Reja belajar dari pengalaman itu. Lantas bagaimana cara Reja mematikan kreativitas Conte? Mari perhatikan grafis di atas.
Reja meminta Cavanda-Konko, kedua fullback, untuk disiplin bertahan di lini belakang. Lantas untuk menutup aliran bola sayap Juve, Hernanes dan Candreva diminta untuk melebar ke arah sayap. Inilah pola 3-4-2-1 Reja. Dengan strategi ini, Lazio menerapkan dua lapis pertahanan untuk membendung serangan lini sayap Juve.
Antisipasi Absennya Pirlo
Menarik untuk mencermati pergerakan dua pemain ini: Candreva-Hernanes. Ketika bertahan, mereka melebar ke sayap, namun saat menyerang akan mengerucut ke tengah. Saat menyerang, tugas keduanya hanya sebagai pemberi umpan silang ke dalam kotak penalti, atau memantulkan bola kepada bek sayap Konko-Cavanda yang mencoba menerebos berlari ke depan.
Pada lima belas menit awal babak pertama, kedua tim bermain sabar silih menunggu celah untuk melakukan serangan balik. Keduanya juga menghindari permainan bola-bola panjang. Tapi, berbeda dengan Juventus yang menaikan garis pertahanan setinggi mungkin, Lazio malah menurunkannya sedalam mungkin. Lazio memilih untuk bermain menunggu.
Ketidakhadiran Andrea Pirlo amat berpengaruh terhadap permainan Juve tadi malam. Aliran bola-bola panjang dari lini belakang yang mestinya memanjakan barisan sayap atau lini depan Juve, pada laga tadi hal itu urang terjadi. [lihat grafis passing gagal Juve di bawah]

[Passing Gagal Juventus. Sumber: squawka.com]
Kehilangan Pirlo otomatis membuat Juventus membangun serangan secara bertahap, dari lini ke lini lewat umpan-umpan pendek. Tapi, ketidakhadiran Pirlo dan efeknya seperti sudah diprediksi oleh Reja. Salah satu upaya yang dilakukan Lazio untuk membuat Juve ketar-ketir adalah lewat cara intersepsi (lihat grafis di bawah)

[Intersepsi Juventus. Sumber: squawka.com]
Dari 20 kali percobaan intersep sukses yang dilakukan Lazio, 15 di antaranya dilakukan di area tengah lapang. Selain itu, dari 11 percobaan tembakan yang dilakukan Lazio ke gawang Juventus, 8 di antaranya diawali serangan balik lewat bola yang direbut dari intersepsi.
Lantas bagaimana bisa Lazio melakukan intersep di tengah lapang sebanyak itu? Ternyata, dari ke-20 intersepsi itu, 13 di antaranya dilakukan oleh 3 bek tengah yang merangsek naik ke depan.
Saat Juve hanya bermain dengan 10 pemain, Reja memang bermain lebih berani. Ia menempatkan Lucas Biglia, yang semula sejajar dengan Ledesma, untuk bergerak agak lebih depan. Tugasnya satu, menganggu Marchisio. Tetapi semua itu berubah setelah Conte merespons taktik Reja dengan taktik yang baru.
Taktik Conte memaksimalkan 10 pemain
Kelebihan dari seorang Conte adalah kecerdikannya mengubah taktik dalam kondisi apapun. Termasuk saat Juve tertinggal satu gol dan bermain hanya dengan 10 orang. Setelah kehilangan Buffon akibat kartu merah, Conte pun lalu mengorbankan Asamoah untuk digantikan kiper pengganti, Marco Storari.
Ditariknya Asamoah otamatis membuat pola Juve yang semula tiga bek berubah menjadi empat bek. Conte menggeser lalu Ogbonna sebagai fullback kiri dan mengubah peran Lichsteiner dari wingback menjadi right-fullback. Conte memakai 4-4-1, Ia menarik gelandang Juve bermain melebar sementara Tevez dan Vidal digeser sebagai pemain sayap.
Dengan taktik ini Conte menyiapkan satu strategi terselubung, yaitu memanfaatkan area kiri pertahanan Lazio. Conte paham betul bahwa titik rapuh Lazio berada di zona ini.
Alasannya cukup mudah diterka. Mari kita bedah satu per satu pemain Lazio yang beroperasi di sana. Pertama, Hernanes bukanlah pemain tipe bertahan. Setelah Lazio unggul, dia lebih cenderung statis di depan saat Lazio diserang.
Kedua adalah Ledesma. Sebenarnya dia adalah pemain bertipikal DM murni, tapi pada pertandingan ini ia diplot sebagai deep-lying playmaker. Karena itu, wajar saja jika aksinya melakukan defense action cenderung minim: hanya satu tekel sepanjang pertandingan.
Sejatinya, seorang deep-lying sendiri tak beraksi sendirian. Harus ada rekan-rekan yang berada di dekatnya. Pada babak pertama, sebenarnya ada Biglia yang menemani Ledesma. Tapi dengan taktik Juve yang membuat para gelandang bermain melebar, Biglia terfokus di sayap kanan guna menghadang Pogba.
Sosok ketiga inilah yang paling vital. Inti dari takti Conte ada pada sosok Lichsteiner. Pola 4-4-1 Juve sebenarnya hanya pancingan, dengan kailnya Lichsteiner. Conte sengaja menarik gelandang bermain melebar ke kanan dari pertahanan Lazio, lantas kemudian mengintruksikan Lichsteiner diam di belakang. Kondisi ini otomatis membuat Konko bergeser ke tengah mengingat intensitas serangan pada area kiri yang mereda.
Conte memang membuat perjudian. Ia menggeser garis serangan menjadi ke tengah mungkin. Termasuk menggeser Marchisio. Alhasil Reja terpancing dan Konko pun bergeser ke tengah. Kelengahan ini yang membuat Lazio dieksploitasi Juve, karena secara mengejutkan Lichsteiner sering merangsek ke depan. Alhasil gol penyama kedudukan pun tercipta. (Lihat grafis Juventus menyerang babak II)

Kesimpulan
Dengan hasil ini, Juventus memperlebar jarak klasemen dari Roma yang masih belum bertanding. Juventus kini unggul sembilan poin dari tetangga sekaligus musuh bebuyutan Lazio itu.
Hasil seri ini tidak sekadar memberikan tambahan satu poin untuk Juventus, tapi jadi dorongan mental yang baik. Conte dan anak-anak asuhnya mampu membuktikan bahwa mereka memang kandidat juara paling kuat. Karena, dengan bermain 10 orang selama 65 menit pun, mereka mampu melewati rintangan dan mengejar ketertinggalan.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball
(a2s/din)











































