Liverpool memang gagal memecahkan rekor kemenangan terbesar atas Arsenal yang tercipta pada 1964. Tapi, menang 5-1 atas pimpinan klasemen tentu jadi bukti betapa seriusnya The Reds dalam merebut jatah tiket Liga Champion musim ini.
Dua gol Martin Skrtel, dua gol Raheem Sterling, dan satu gol Daniel Sturridge jadi penyemarak pesta anak-anak Merseyside ini. Sementara Arsenal sendiri hanya mampu membalas satu gol melalui tendangan penalti Mikel Arteta pada babak kedua.
Topskor Liga Inggris sementara saat ini, Luis Suarez, memang kembali gagal mencetak gol. Pertanyaan soal tidak mampunya Suarez mencetak gol ke gawang klub-klub besar memang masih belum bisa dijawab striker asal Uruguay ini. Namun tendangan voli dari luar kotak penalti yang menghantam mistar gawang, serta satu assist-nya kepada Sterling tetap menunjukan bahwa dirinya adalah striker berbahaya bagi gawang lawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gol Cepat pada Awal Laga
Tanpa basa-basi, Liverpool langsung menghajar Arsenal pada awal laga. Dalam 20 menit, Wojciech Szczesny sudah harus memungut bola empat kali. Gol pertama bahkan terjadi pada saat bertandingan belum berjalan satu menit. Kala itu Skrtel berhasil meneruskan tendangan bebas Steven Gerrard menjadi gol. Meski berbau offside, gol cepat Skrtel ini menjadi pelecut para pemain Liverpool.
Strategi zonal marking Arsenal dalam menghadapi tendangan sudut kembali membawa petaka pada menit ke-10. Skrtel yang tidak terkawal berlari menuju ruang kosong untuk menyundul bola hasil tendangan Steven Gerrard. Bola yang mengarah ke pokok kanan atas gawang sama sekali tidak terjangkau Szczesny. Terlihat pada gambar bagaimana Skrtel berdiri bebas ketika Gerrard melepaskan tendangan sudut.

* Gambar Posisi sebelum terjadinya gol kedua Liverpool
Penguasaan Bola Tanpa Menembus Lini Pertahanan Liverpool
Tertinggal dua gol, Arsenal mau tidak mau harus mulai menekan. Sama dengan Liverpool, Arsenal juga memiliki tipe permainan yang mengandalkan operan-operan pendek dari kaki ke kaki.
Mikel Arteta, Jack Wilshere, Santi Cazorla, dan Mesut Ozil merupakan empat gelandang yang diturunkan Arsene Wenger untuk mengeksploitasi lapangan tengah. Ditambah satu pemain sayap yang memiliki daya ledak yang luar biasa, Alex Oxlade-Chamberlain, Arsenal seharusnya memiliki tim yang sangat cukup untuk melawan Liverpool.
Selama babak pertama, Arsenal sebenarnya lebih dominan dalam penguasaan bola, dengan 58% bagi Arsenal berbanding 42% bagi Liverpool. Jumlah259 operan Arsenal dengan tingkat keberhasilan 81% juga bukan angka yang buruk dalam duel menghadapi tim peringkat 4 klasemen.
Namun angka-angka tersebut jadi tidak berarti ketika Arsenal sama sekali tidak berhasil melepaskan tendangan ke gawang Liverpool selama babak pertama. Arsenal hanya melepaskan satu tendangan yang arahnya lebih dekat ke hakim garis ketimbang Simon Mignolet.
Banyaknya operan yang dilakukan para pemain Arsenal pun ternyata hanya terjadi di daerah tengah lapangan. Serangan Arsenal langsung kandas ketika mulai memasuki area pertahanan Liverpool. Chalkboard umpan-umpan Arsenal pada babak pertama menunjukan bagaimana Arsenal sama sekali tidak berhasil memasukkan bola ke area pertahanan Liverpool.
* Chalkboard Passing Arsenal pada babak pertama. Sumber: Fourfourtwo.com
Mengulangi Taktik Saat Lawan Everton
Setelah unggul dua gol, Liverpool memang langsung menurunkan garis pertahanannya. Taktik yang sama digunakan pada pertandingan melawan Everton. Garis pertahanan Liverpool dibuat rapat tanpa mencipatakan ruang antara bek dengan kiper.
Steven Gerrard berdiri di depan kedua bek tengah sebagai gelandang bertahan yang menutup aliran bola dari tengah. Sementara itu, Coutinho dan Henderson yang berdiri di depan Gerrard, berfungsi untuk mengganggu pemain tengah lawan dalam mengatur serangan.
Kedua penyerang Liverpool, Raheem Sterling dan Daniel Sturridge ditarik ke belakang untuk menjadi lapisan pertama pertahanan Liverpool di sisi kanan dan kiri lapangan. Liverpool kembali hanya mengandalkan serangan balik cepat untuk dapat memperbesar keunggulan.
Satu pujian mesti diberikan pada Phillipe Coutinho. Selain sukses menciptakan 4 peluang yang salah satunya berbuah jadi assist, Coutinho pun berperan dalam memperkuat lini pertahanan. Ini terutama dilakukan di sisi kiri pertahanan Liverpool. Bersama dengan Sterling, Coutinho mampu melindungi Aly Cissokho dari gempuran The Gunners.

* Chalkboard Aksi Bertahan Coutinho. Sumber: Fourfourtwo.com
Dalam melakukan serangan balik, Liverpool sendiri lebih sering mengarahkan umpan pada area yang dikawal oleh Sagna. Ini karena Cazorla yang ditempatkan di kiri lebih sering bergerak ke poros tengah, dan tidak memberikan proteksi pada Sagna.

Β
Blunder Taktik Wenger
Mengetahui rapatnya pertahanan Liverpool ini, Arsenal sebenarnya sudah mengevaluasi kesalahan yang dilakukan Everton. Saat itu, The Royal Blues sendiri membuka ruang yang lebar antara bek dengan kiper (baca: postmatch Liverpool vs Everton). Ruang ini yang membuat bola-bola panjang Liverpool langsung disambut Daniel Sturridge dan Luis Suarez.
Namun taktik yang dipilih Wenger untuk mengatasi ini justru membuka masalah baru yang jadi sumber penyebab terjadinya 2 gol tambahan Liverpool selanjutnya. Arsenal memang lebih menarik garis pertahanannya lebih ke belakang sehingga ruang antara bek dengan kiper tidak terlalu lebar. Namun hal ini menyebabkan terbuka lebarnya jarak antara bek dengan gelandang di tengah lapangan.
Kejelian Rodgers melihat hal ini langsung diaplikasikan pada permainan Liverpool. Serangan balik Liverpool kali ini tidak menggunakan bola-bola panjang yang langsung menuju jantung pertahanan Arsenal, namun Rodgers menginstruksikan Suarez untuk berdiri pada ruang antara bek-gelandang Arsenal tersebut untuk bersiap menerima bola saat serangan balik dimulai.
Dua gol pun tercipta sebelum jeda pertandingan akibat hal ini. Gambar di bawah ini memperlihatkan bagaimana jauhnya jarak antara pemain tengah dan bek Arsenal.

Jarak Antara Pemain Tengah dan Bek Arsenal
Β
Performa Buruk Tiap Pemain Arsenal
Sebagai tim yang sedang berada di puncak klasemen, kalah dengan 5 gol bersarang tentu merupakan aib yang seharusnya tidak boleh terjadi. Tapi tidak ada pemain yang dapat dijadikan kambing hitam dalam kekalahan ini. Secara keseluruhan, permainan semua pemain Arsenal di lapangan memang tidak dalam performa maksimalnya.
Namun terdapat beberapa pemain yang menarik untuk dibahas lebih lanjut.
Pemain pertama adalah Mesut Ozil. Pemain Jerman, yang langsung membangkitkan Arsenal pada awal musim,ini semalam terlihat seperti pemain medioker. Pemain yang dijuluki raja assist ini bahkan hanya sekali menciptakan keypass sepanjang pertandingan.
Sebelum ditarik keluar pada menit ke-60, Ozil hanya melepaskan 33 operan berhasil dan hanya 1 yang berada di area kotak penalti Liverpool. Sisanya, Ozil hanya melepaskan operan-operan pendek yang sama sekali tidak mengancam gawang Liverpool.
Performa buruk ini dilengkapi dengan dua kali gagal mempertahankan bola, sehingga tercipta gol ke-3 dan ke-4 Liverpool. Chalkboard passing Ozil menggambarkan bagaimana minimnya kontribusi Ozil bagi Arsenal pada pertandingan semalam.
Chalkboard passing Mesut Ozil
Tumpang tindih peran antara Ozil dan Santi Cazorla mungkin jadi salah satu penyebab buruknya performa kedua pemain ini. Santi Cazorla yang awalnya diplot pada posisi sayap kiri memang diberikan kebebasan oleh Wenger untuk melakukan roaming ke tengah lapangan, bahkan hingga ke sisi sayap kanan. Hal ini membuat Santi dan Ozil sering berada di posisi yang sama, sehingga serangan Arsenal menjadi tidak bervariasi.
Β
Tidak Melakukan Prinsip Dasar
Pemain berikutnya yang penting disorot adalah kiper Arsenal, Wojciech Szczesny. Gol ke-4 dan ke-5 Liverpool tercipta setelah Daniel Sturridge dan Raheem Sterling berhadapan satu lawan satu dengan Szczesny.
Pada dasarnya, pertarungan satu lawan satu memang jarang menguntungkan kiper. Tidak banyak yang dapat dilakukan kiper ketika sudah berhadapan satu lawan satu dengan penyerang lawan. Namun Sczczesny justru sama sekali tidak melakukan hal paling dasar saat menghadapi kondisi ini.
Secara teori, kiper akan maju beberapa langkah untuk mempersempit ruang tembak striker ke gawang. Sczczesny sebenarnya sudah mengaplikasikan teori ini dengan benar saat menggagalkan peluang Sturridge pada menit 12. Setelah Sturridge terlepas dari penjagaan bek, Sczczesny maju untuk menutup ruang tembak Sturridge, hasilnya tendangan sturridge pun melebar.
Namun hal ini tidak diterapkan saat terjadinya gol keempat dan kelima Liverpool. Setelah Sturridge dan Sterling lolos dari bek Arsenal, Szczesny justru tetap berada di depan gawang menyebabkan terbuka lebarnya ruang tembak ke gawang. Alhasil Sturridge dan Sterling pun menjadi sangat mudah untuk melepaskan tendangan dan mencetak gol.


Β
Posisi Szczesny saat menggagalkan peluang Sturridge (atas) dan saat gol keempat Liverpool
Lagi-lagi, kedua hal ini memang bukan penyebab utama dibantainya Arsenal oleh Liverpool semalam. Penyebab kekalahan Arsenal semalam lebih disebabkan oleh cemerlangnya strategi Brendan Rodgers dan performa keseluruhan tim Arsenal yang sedang menurun.
Namun, kesalahan-kesalahan kecil seperti ini juga perlu diperhatikan Arsene Wenger jika memang ingin mengakhiri paceklik gelar pada musim ini.
Jarak poin yang tidak jauh diantara empat tim teratas Liga Inggris membuat hasil akhir Liga Inggris sama sekali tidak dapat ditebak. Kelengahan seperti ini sudah cukup untuk mendepak Arsenal dari puncak klasemen oleh Chelsea. Konsistensi menjadi hal yang harus terus dijaga oleh setiap manajer klub Liga Inggris jika ingin klubnya mendapatkan hasil yang diharapkan.











































