Jose Mourinho, yang mulai banyak berkicau lagi, dibuat terdiam sejenak. Manuel Pellegrini berhasil membungkamnya di stadion Etihad dengan menaklukkan Chelsea 2-0.
Setidaknya selama 90 menit di lapangan, Mourinho sama sekali tidak bisa melakukan 'aksinya'. Melihat timnya benar-benar tidak bisa berkutik melawan Manchester City, Mourinho hanya dapat terdiam di pinggir lapangan.
Membawa kepercayaan diri tinggi setelah pada pertemuan sebelumnya berhasil membungkam City di tempat yang sama 0-1, Mourinho menurunkan starting line-up yang tidak jauh berbeda dari laga itu. Hanya David Luiz yang dikembalikan ke posisi asalnya sebagai bek tengah. Sementara posisi gelandang bertahan diisi oleh John Obi Mikel bersama Nemanja Matic. Di depan, Samuel Eto'o tetap didampingi oleh 3 gelandang serang: Eden Hazard, Willian, dan Ramires.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Duet gelandang di tengah juga tidak lagi diperankan Martin Demichelis dan Yaya Toure melainkan Javi Garcia dan Toure. Di bagian pertahanan, sayap kiri diisi Gael Clichy dan bek tengah ditempati oleh Lescott dan Vincent Kompany.

[Starting XI Manchester City (kiri) dan Chelsea (kanan). Sumber: Dailymail.co.uk]
Serangan Lapis Kedua
Awalnya Pellegrini menempatkan Jovetic sedikit lebih di belakang Dzeko yang berdiri paling dengan. David Silva, Toure dan Milner bergerak dari tengah untuk menyuplai bola ke daerah pertahanan Chelsea. Sedangkan Javi Garcia bertugas untuk menjaga dari tengah saat Toure mulai meninggalkan posisinya saat menyerang.
Kondisi ini berubah ketika City sudah mulai masuk pertahanan Chelsea. Dzeko yang awalnya seperti akan dijadikan targetman, justru berdiri menjauh dari gawang. Serangan City justru lebih banyak menggunakan pemain-pemain yang berlari menusuk dari lapis kedua: Jovetic, Silva, dan Milner selalu berlari masuk ke ruang yang telah dibuat Dzeko dengan cara menarik pemain bertahan Chelsea.
Strategi Pellegrini ini langsung membuahkan hasil pada menit ke-16. Melalui serangan balik, Dzeko yang menerima bola jauh dari kotak penalti berhasil sedikit menarik Luiz untuk membuka ruang di daerah pertahanan Chelsea. Milner, yang melihat ruang tersebut, lalu menusuk masuk dari sisi kanan dan berhasil menarik perhatian bek kiri Chelsea, Cesar Azpilicueta.
Azpilicueta yang tertarik oleh Milner menciptakan ruang kosong di sisi kiri pertahanan Chelsea. Umpan terukur Dzeko kepada Jovetic langsung berubah menjadi tendangan mendatar ke pojok gawang. Tendangan ini tidak dapat dihentikan Petr Cech.
Gambar berikut menggambarkan bagaimana pergerakan pergerakan pemain-pemain City yang membuka ruang untuk terciptanya gol pertama.

[Pergerakan James Milner dan Stevan Jovetic memanfaatkan ruang terbuka dalam mencetak gol pertama]
Variasi serangan City tidak terbatas pada pola itu. Dzeko atau Tore tidak selalu memberikan umpan terobosan untuk Jovetic, Silva, atau Milner. Keduanya juga melepaskan tembakan langsung ke gawang, sementara Jovetic-Silva-Milner siap menerima bola muntah. Tercatat, 5 kali City melepaskan tendangan dari luar kotak penalti sepanjang pertandingan.
Tidak lama dari gol pertama, cara City ini hampir kembali berbuah hasil. Tembakan Toure, yang gagal diamankan dengan sempurna oleh Petr Cech, siap disambar Jovetic yang sudah unggul beberapa langkah dari Luiz. Beruntung bagi City, tendangan Jovetic masih membentur mistar gawang.
Menaklukan Bola Lambung Chelsea dan Menyegel Lini Tengah
Tertinggal pada awal pertandingan, Chelsea mau tidak mau harus menyerang untuk membalikan keadaan. Namun Mourinho, yang semula lebih mengandalkan serangan balik, seperti tidak menyiapkan strategi untuk menembus pertahanan City yang berdiri sangat rapat.
Para pemain Chelsea sama sekali tidak merespons perubahan posisi garis pertahanan City yang sangat rendah. The Blues terus menggunakan bola-bola lambung dari belakang yang diarahkan langsung menuju jantung pertahanan City.
Padahal, pemain bertahan City sama sekali tidak menciptakan jarak dengan Pantillimon. Hal inilah yang kemudian membuat Pantilimon sangat mudah untuk memotong bola-bola lambung Chelsea tersebut.
Tercatat Chelsea melepaskan operan jauh hingga 12% dari total operan sepanjang pertandingan, atau sebanyak 49 kali. Hasilnya, catatan operan berhasil Chelsea di daerah lawan menjadi sangat buruk.
Persentase keberhasilan operan Chelsea di daerah lawan hanya 66,8%, jauh di bawah Manchester City yang berhasil melepaskan bola di daerah Chelsea hingga 75,9%. Grafik berikut menggambarkan statistik operan kedua tim sepanjang pertandingan.

[Statistik operan kedua tim sepanjang pertandingan. Sumber: Dailymail.co.uk]
Pemain-pemain Chelsea dibuat semakin frustasi setelah serangan melalui operan-operan pendek pun sama sekali tidak membuahkan hasil.
Hazard dan Willian yang biasanya mengancam gawang lawan dengan dribble dibuat sama sekali tidak berkutik. Ini karena pemain bertahan City sangat agresif dalam menghentikan bola di area pertahanan sendiri.
Bahkan Chelsea sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk melepaskan tendangan ke gawang. Tercatat Chelsea hanya melepaskan 3 attempt yang ketiganya dilepaskan dari area luar kotak penalti. Tiga attempt ini juga tidak berhasil mengarah ke gawang.
City bermain sangat agresif di daerah pertahanannya. Setiap pemain Chelsea yang masuk ke pertahanan City langsung ditekan oleh gelandang dan pemain bertahan City. Mereka pun tidak segan untuk melakukan permainan keras yang berujung pelanggaran.
Empat kartu kuning lalu diberikan wasit kepada pemain City sepanjang pertandingan, sebagai buah dari permainan agresif ketika menghentikan serangan Chelsea.
Keberhasilan pertahanan City ini tidak lepas dari peran gelandang bertahan mereka, Javi Garcia. Ia sukses mengamankan pertahanan City dari serangan balik Chelsea saat Yaya Toure belum kembali ke posisinya.
Dalam mematahkan serangan Chelsea, Garcia juga mencatatkan nilai yang cukup baik. Ia memenangkan 13 kali duel melawan pemain Chelsea. Empat tekel berhasilnya, 2 clearance, 1 blok, dan 1 intersep melengkapi poin positif Javi Garcia pada pertandingan semalam.
Hasilnya, situs Whoscored memberikan rating 7.8 bagi permainan cemerlang Garcia. Nilai ini tertinggi kedua di bawah David Silva yang menerima nilai 8.0 sebagai man of the match.
Mourinho Dibungkam
Tidak seperti biasanya, aksi di pinggir lapangan yang biasanya dilakukan Mou tidak terlihat pada pertandingan semalam. Melihat anak-anaknya dibuat tidak berdaya di hadapan pemain-pemain City, Mourinho hanya berdiri terdiam atau sekadar terlihat berpikir keras sambil duduk di bangku cadangan.
Entah apa maksud dari diamnya Mourinho selama 90 menit. Apakah dia memang mengakui kekalahannya tadi malam, atau sedang memikirkan kicaua-kicauan berikutnya. Namun, sepertinya sulit bagi Mourinho jika tidak ingin mengakui kekalahannya semalam.
Bagaimana tidak. Tim yang sedang berada di puncak klasemen dibuat tidak bisa sekalipun mengancam gawang lawannya selama 90 menit. Satu-satu alasan yang paling dapat diterima adalah pemain Chelsea kelelahan akibat pertandingan tengah minggu, sementara pemain City masih segar akibat pertandingan tengah minggunya ditunda.
Namun, tampaknya Mourinho tidak akan menggunakan alasan yang justru lebih membuat dirinya terlihat lemah ini.
Liga Inggris memang sedikit kehilangan gregetnya ketika Mourinho tidak banyak berkicau di awa-awal liga. Namun, memasuki pertengahan musim, kicauan Mourinho mulai terdengar lagi dan membuat bumbu di liga Inggris mulai terasa gurih.
Ucapan terimakasih bisa diberikan kepada Pellegrini yang semakin membuat sepakbola Inggris semakin sedap untuk dinantikan. Mungkin kita juga penasaran, kicauan apalagi yang akan dikeluarkan The Special One setelah ini.
====
* Dianalisis oleh Pandit Football Indonesia. Akun twitter: @panditfootball
(a2s/nds)











































