Inter yang Tak Efektif dan Pjanic yang Terlambat Masuk

Liga Italia: Roma 0-0 Inter

Inter yang Tak Efektif dan Pjanic yang Terlambat Masuk

- Sepakbola
Minggu, 02 Mar 2014 15:53 WIB
Inter yang Tak Efektif dan Pjanic yang Terlambat Masuk
Getty Images/Giuseppe Bellini
Jakarta -

Tidak ada gol yang tercipta di Stadion Olimpico. AS Roma dan Inter Milan harus puas berbagi angka 0-0. Ini hasil yang pantas mengingat permainan memang seimbang sepanjang pertandingan. Giallorossi dan Nerazzurri berbagai penguasaan bola 50-50, dengan angka tembakan ke gawang yang juga tidak berebda jauh, 10 berbanding 11.

Sebenarnya baik Roma dan Inter bukannya tanpa peluang untuk meraup tiga poin. Kedua tim secara bergantian mengusai permainan. Inter pada babak pertama, sedangkan tuan rumah justru baru panas setelah turun minum.

Tetapi buruknya penyerang kedua tim dan tidak ada perubahan taktik signifikan dari kedua pelatih membuat kedua tim justru terkesan bermain aman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Line Up kedua tim [whoscored.com]

Membendung Gelandang Roma

Pada babak pertama permainan menjadi milik Inter Milan. Bertindak sebagai tim tamu, Inter sendiri mampu mempersempit pergerakan trio lini tengah Kevin Strootman, Daniele De Rossi, dan Radja Nainggolan pada formasi 4-3-3 dari Rudi Garcia. Dengan tidak memberi ruang untuk gelandang Roma melakukan banyak kreasi, maka penguasaan bola dan peluang menjadi milik Inter.

Esteban Cambiasso juga fasih dalam memimpin barisan tengah Inter, terutama saat transisi bertahan ke menyerang atau sebaliknya. Pemain Argentina tersebut sering kali berposisi sejajar dengan gelandang tuan rumah, sehingga pada saat Roma membawa bola jumlah pemain Inter bisa lebih unggul dari Roma.

Inter juga menjadi lebih mudah dalam mengalirkan bola antar pemain. Saat memegang penguasaan bola, para pemain Inter memiliki banyak opsi untuk melakukan umpan mulai dari pemain belakang hingga pemain tengah. Akibatnya, Inter memiliki variasi serangan yang lebih kaya ketimbang tuan rumah.

Jarak Lebar Antarlini Roma

Isolir yang dilakukan gelandang Inter tidak hanya membuat terhambatnya aliran bola Roma, tetapi juga berpengaruh pada saat melakukan pertahanan. Ketiga gelandang terpaksa "dipukul" mundur sehingga tak bisa melakukan pressing.

Empat bek dan tiga gelandang Roma menjadi rapat di belakang. Kondisi ini diperparah dengan kurangnya kontribusi penyerang serigala Roma dalam bertahan. Praktis Inter menjadi lebih leluasa dan santai saat menguasai bola karena striker Roma jarang ikut mengawal untuk paling tidak membentuk pertahanan lapis pertama.

Lebarnya jarak antar lini Roma ini juga berpengaruh pada pola transisi yang dilakukan dari bertahan ke menyerang. Bola memang tidak terlalu sulit untuk mencapai ke depan melalui skema umpan panjang, namun tiga penyerang Roma mesti bersusah payah karena tidak mendapat bantuan dari gelandang.

Akibatnya, sepanjang babak pertama, area sepertiga lapangan akhir Roma terlihat lebih sepi dengan aksi menyerang. Sayangnya lagi adalah buruknya kinerja lini depan Roma. Gervinho terlihat kurang cepat saat membawa bola ataupun dalam mencari ruang.


Umpan sepertiga akhir Roma babak pertama

Menyerang Melalui Jonathan

Meski tampil dominan pada babak pertama, Inter sebenarnya lebih banyak menyerang melalui sayap. Formasi 4-3-3 yang dipakai oleh Rudi Garcia memang sedikit meninggalkan celah di sektor sayap saat bertahan.

Namun sektor sayap Inter sebenarnya sedikit timpang. Kedua sayap memiliki perbedaan gaya bermain. Jika Jonathan di kanan banyak berada di area sepertiga akhir, tidak demikian dengan Yuto Nagatomo.

Fungsinya memang untuk memberikan keseimbangan pada permainan Inter Milan. Jonathan menjadi tumpuan dalam menyerang sedangkan Nagatomo bertugas untuk melindungi bek dari serangan sayap Roma. Saat bertahan, Nagatomo bahkan dapat berdiri sejajar dengan dua bek belakang.

Salah satu kelemahan dari AS Roma adalah tidak dapat memanfaatkan lebar lapangan. Bola yang sudah masuk ke area sepertiga akhir melalui sayap seringkali harus kembali ke belakang.

Apalagi Roma juga kalah jumlah di lini tengah dan tidak berani memberikan pressing. Roma memang seharusnya memilih opsi lain untuk menyerang, yaitu skema sayap. Apalagi jika melihat sisi kanan Inter yang acap kali ditinggalkan oleh Jonathan.


Aksi Jonathan – Banyak Berada di Area Roma

Kunci Penguasaan Bola AS Roma

Meski terbilang terlambat dalam mengganti taktik, Rudi Garcia akhirnya menyadari kelemahan timnya pada babak pertama. Sepuluh menit setelah peluit babak kedua dibunyikan, tuan rumah melakukan penyegaran dengan memasukan Pjanic.

Hasilnya penyerang Roma lebih berani melakukan tekanan kepada bek Inter, sehingga Inter tidak memiliki banyak kesempatan untuk menguasai bola berlama-lama. Aksi ini juga membuat gelandang Roma lebih berani naik ke depan untuk menekan atau membantu serangan. Dengan begitu, garis pertahanan AS Roma bermain jauh lebih tinggi jika dibandingkan babak pertama.

Bahkan, sampai akhir pertandingan, Roma terus berusaha menekan dengan mengganti seluruh penyerangnya. Harapannya sudah pasti untuk menambah tenaga lini depan, selain karena mengantisipasi buruknya performa mereka.

Dengan kehadiran Miralem Pjanic peran Nainggolan, juga dapat terbantu. Sebelumnya, gelandang Roma yang berani berduel tanpa ada bantuan dari penyerang atau gelandang lain hanyalah pemain berdarah Indonesia itu saja.

Namun sayang pergantian semua penyerang tetap tidak membuat papan skor berubah, Giallorossi masih sulit menjebol gawang Samir Handanovic.

Inter Tak Efektif

Catatan statistik menunjukan bahwa Inter sedikit lebih unggul dalam hal jumlah tembakan ke gawang. Namun, banyak dari peluang-peluang tersebut tercipta karena Inter terlihat sedikit memaksakan untuk melakukan tendangan. Apalagi jika melihat babak pertama Inter lebih banyak memiliki kesempatan karena menguasai pertandingan.

Para pemain Inter khususnya gelandang amat jarang masuk ke kotak penalti. Padahal, formasi dengan dua striker yang dipilih oleh Walter Mazzarri seharusnya sudah cukup untuk mengonversi peluang menjadi attempts. Akibatnya banyak tembakan ke gawang dilakukan di luar kotak penalti Roma.

Memasuki area sepertiga akhir, Inter juga lebih memilih melakukan umpan terobosan daripada membawa bola. Apalagi sejak ditariknya Ricky Alvarez yang digantikan oleh Hernanes. Tenaga lini tengah Inter menjadi seakan meredup.


Grafik Attempts Inter Milan

Kesimpulan

Harus diakui bahwa kedua tim memang tidak bermain baik pada pertandingan kali ini, terutama kinerja lini depan masing-masing tim. Banyaknya peluang emas yang gagal dikonversi menjadi gol membuktikan bahwa sektor penyerang seharusnya paling banyak mendapat sorotan.

Selain itu, tidak beraninya kedua pelatih untuk mengubah permainan dan taktik secara signifikan membuat kedua tim terkesan bermain aman. Perubahan taktik secara drastis memang menimbulkan risiko yang besar. Tapi paling tidak dapat memperbanyak peluang terjadinya gol bagi kedua tim, atau mungkin menghibur penonton yang begadang hingga subuh.



(krs/krs)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads