sepakbola
Liga Champions: Atletico 4-1 Milan

Lini Tengah yang Membuat Il Diavolo Menanggung Malu

Terpopuler Jadwal Pertandingan Klasemen Liga Hasil Pertandingan Man of The Match Gila Bola Foto Video
Liga Champions: Atletico 4-1 Milan

Lini Tengah yang Membuat Il Diavolo Menanggung Malu


- detikSepakbola

AFP/Javier Soriano
AFP/Javier Soriano
Jakarta - Italia menanggung malu. Satu-satunya perwakilan Serie A di kompetisi UCL musim ini mesti mengangkat koper setelah AC Milan didepak Atletico Madrid pada babak 16 besar.

Kekalahan Milan ini sebenarnya sudah diprediksi banyak orang jika melihat penampilan AC Milan pada dua laga terakhir saat menderita kekalahan dari Juventus dan Udinese. Tampil di Liga Champions pun Milan tampil pincang, dengan lini tengah mereka yang amat rapuh. Hasil akhirnya Atletico Madrid mampu mengandaskan Milan di Vicente Calderon. Tak tanggung-tanggung dengan skor 4-1.



SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melawan Milan, tim tuan rumah tampil komplet. Hanya ada satu pergantian yaitu pada posisi fullback kiri. Jika di leg pertama Diego Simeone memilih Emilliano Insua, kini dia memilih Felipe Luis yang sudah pulih dari cedera. Hal ini otomatis membuat Atletico tampil dengan kekuatan penuh dengan formasi andalan 4-4-1-1 --yang jadi pola Atletico pada musim ini.

Ini berbeda dengan sang tamu yang datang dengan kondisi agak linglung. Dalam empat pertandingan terakhir, tiga diantaranya berujung dengan kekalahan. Transisi pergantian taktik dari Massimiliano Allegri kepada Clarence Seedorf masih belum diserap oleh para pemain Milan.

Hal itu terlihat dari gonta-gantinya starting line-up Milan, terutama di posisi tengah. Rotasi masih sering dilakukan khususnya pada posisi double-pivot. Riccardo Montolivo, Keisuke Honda, Andrea Poli, Sulley Muntari, Adel Taarabt, Nigel De Jong, dan Michael Essien selalu silih bergantian mengisi dua tempat tersebut.

Pada laga tadi pagi, pemain pada posisi ini yang menuai sorotan adalah dua poros ganda Essien dan De Jong.

Serupa dengan tim tuan rumah, Milan bertandang ke Stadion Vicente Calderon dengan starting line-up yang sama seperti leg pertama. Hanya saja Seedorf sedikit merotasi formasi, dia kembali memakai 4-2-3-1 setelah pada leg sebelumnya memakai 4-3-2-1.

Dengan formasi 4-2-3-1 ini otomatis posisi Adel Taarabt, yang semula sejajar dengan De Jong dan Essien, digeser agak lebih naik ke depan. Taarabt sejajar dengan Kaka dan Andrea Poli.

Memainkan De Jong dan Essien di tengah sebenarnya jadi pilihat terakhir bagi Seedorf mengingat stok pemain di area ini memang habis. Montolivo tak bisa turun akibat hukuman kartu merah, sementara Honda tak bisa turun karena karena sudah bermain untuk CSKA Moskow pada fase grup. Lantas stok pemain cadangan hanya menyisakan Muntari seorang. Hanya itu andalan amunisi Seedorf di lini tengah.

Pressing Ketat yang Berbuah Gol

Apa yang dilakukan Atletico hampir sama apa yang mereka lakukan pada leg pertama. Mereka memutuskan menyerang dari menit-menit awal. Salah satu yang dilakukan adalah dengan melakukan pressing ketat. Terlihat sejak menit-menit awal, saat Milan memainkan bola di area pertahanan mereka sendiri setidaknya ada 2-3 pemain Atletico yang mendekat guna melakukan pressing.

Kondisi ini tak lain terjadi karena Milan memang menjaga kerapatan antar para pemainnya, terutama di lini belakang. Dua poros ganda De Jong-Essien bahkan tak pernah berjauhan. Jika pada leg pertama De Jong dintruksikan sebagai box to box mieldfider, kali ini dia main sebagai gelandang bertahan murni.

Masalah muncul saat dua poros ganda ini menjaga kerapatan dengan empat bek di belakang. Maka ada ruang kosong di lini tengah terutama karena Seedorf juga menyimpan Balotelli–Kaka-Poli untuk stand by di depan dan tak melakukan aksi bertahan. Ruang kosong ini yang kadang dengan mudah dieskploitasi oleh para gelandang Atletico untuk melepaskan crossing ke dalam kotak penalti.
 
Gol kung fu kick yang dilakukan Diego Costa pada menit kedua pun terjadi karena Atletico mampu memanfaatkan lemahnya barisan gelandang Milan ini. Bagaimana dengan bebasnya Koke menggiring bola ke area tengah depan box area.



Mengkritisi Peran Michael Essien

Mencermati tugas dan peran para gelandang Milan, kehadiran Essien nyatanya jadi titik lemah. Atletico sering kali mengeksploitasinya untuk membuka awal mula alur serangan. Jika De Jong lebih cenderung ditugasi man-to-man marking kepada Garcia dan Gabi yang mengacak, maka peran Essien di laga ini tak jelas.

Andaikan dia dibebani menjaga zona, hal itu tak dilakukannya karena Essien sering overlapping dan membiarkan pemain Atletico bermain-main di areanya. Gol pertama Atletico adalah buktinya.
 
Lantas, jika Essien diintruksikan sebagai pengatur serangan dari belakang, grafik passing-nya selama pertandingan memperlihatkan bahwa ia tak berperan seperti itu.

(Grafik: Squawka.com)

Baik De Jong maupun Essien sendiri cenderung statis di belakang. Hal itulah yang membuat Milan selalu kalah di lini tengah dan tak bisa membangun serangan dari lini itu. Ada jarak begitu besar antara lini belakang dan depan.

Tugas Essien sejatinya adalah memberikan cover untuk sayap kiri Milan, karena fullback kiri Milan, Emanuelson, selalu overlapping ke depan.
Patut diakui, kelebihan dari Atletico Madrid adalah transisi para gelandangnya saat bertahan dan menyerang. Saat diserang, Atletico tak langsung mundur serempak, tetapi mulai mundur secara bertahap dari depan ke tengah, dan dari tengah ke belakang. Step by step.

Celah di Pertahanan Kiri Atletico

Pada babak pertama, Seedorf sempat mencoba taktik dengan memasang dua fullback setinggi mungkin. Salah satu diantaranya adalah dengan penempatan Emanuelson yang hampir sejajar dengan Balotelli atau Kaka.

Keberanian ini tak lepas dari posisi penyerang Atletico, Koke, yang cenderung ke tengah, dan Simeone yag mengintruksikan menyerang lewat mengerucut ke dalam. Terlihat bagaimana Milan ingin memanfaatkan area flank untuk menundukkan Atletico.

Apa yang dilakukan Seedorf ini cukup efektif, tapi bukan di sayap kiri. Melainkan sayap kanan lewat sosok Ignazio Abate yang bekerja sama dengan Andrea Poli. Lain hal dengan Emanuelson, Abate diintruksikan naik tapi hanya sampai garis final third. Tugas selanjutnya diberikan ke Andrea Poli. [lihat grafik]


Grafis posisi Menyerang Milan sebelum Gol Kaka

Gol yang dicetak oleh Kaka tak lepas dari skema ini. Adalah Mario Balotelli yang sebenarnya menjadi kreator terciptanya gol. Ia mundur ke tengah mendekat kepada Abate, sebelum akhirnya memberikan through-pass kepada Andrea Poli yang dikonversi menjadi crossing dan disundul oleh Kaka menjadi gol.

Perubahan Taktik Simeone

Lewat sayap, Milan mampu menyerang dan mencetak gol. Tapi lewat sayap juga Milan harus keteteran dan kebobolan. Pasca gol penyama kedudukan yang dicetak Milan, Simeone langsung mengintruksikan anak asuhnya bermain melebar. Terutama dengan menggeser Koke ke arah sayap kanan.
 
Simeone memanfaatkan kelengahan Essien dan Emanuelson yang overlapping. Hasilnya cukup memuaskan, dari lini itu Atletico mampu membuat 3 key passes yang 2 diantaranya dikonversi menjadi gol pada babak kedua.

(Grafik: Squawka.com)

Penyebab Milan begitu rapuh pada babak dua tak lepas dari intruksi baru Seedorf untuk memajukan Essien agak lebih depan sehingga membuat Koke lebih leluasa bergerak. Terlebih lagi peran Raul Garcia sebagai false nine yang mengacak kesana kemari terkadang membuat barisan pertahanan Milan sedikiti ketar-ketir. Duet Koke-Garcia membuat sisi sayap kanan Milan rapuh.

Mengerti kelemahan ada di poros ganda, Seedorf kemudian menarik Essien diganti dengan Pazzini, dan De Jong dengan Muntari. Dari skema ini Milan berubah formasi menjadi 4-2-1-3 dengan memasang 3 penyerang sejajar sekaligus Balotelli-Pazzini-Robinho, dengan Kaka berada pada 3 pemain belakang tersebut. Andrea Poli kemudian jadi doble pivot berduet dengan Muntari. Apa yang dilakukan Seedorf ini tentunya untuk membuat serangan Milan menjadi efektif.

Tapi hasilnya malah jadi blunder. Lewat serangan balik Atletico mampu mencetak dua gol. Milan pun harus angkat kaki dari Liga Champions.

====

*dianalis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini


(roz/krs)











Hide Ads