Arsene Wenger datang ke Jerman untuk memburu ketertinggalan dua gol. Lima gelandang bertipikal menyerang dipasang Arsene Wenger dalam skema 4-2-3-1 demi mewujudkan ambisi tersebut. Alex Oxlade-Chamberlain lebih digeser ke tengah menggantikan posisi Jack Wilshere yang cedera, sementara Mattheu Flamini dibangkucadangkan.
Ambisi Arsenal itu disambut Josep Guardiolla dengan melakukan perubahan strategi. Pep mengubah skema kegemarannya 4-1-4-1 menjadi 4-2-3-1. Ia kemudian menempatkan dua gelandang sejajar untuk bermain lebih defensif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hilangnya Tiki-Taka Pep
Β
Tuan rumah langsung menekan sejak menit awal. Tapi Wenger ternyata lebih siap. Lima gelandang bertipikal menyerangnya terlihat tidak diinstruksikan untuk secepat mungkin merebut bola di tengah. Wenger lebih memilih agar para gelandangnya melakukan zonal marking sambil menunggu Bayern masuk final third areanya.
Taktik Wenger ini terlihat jitu, terutama sepanjang babak pertama. Bayern secara keseluruhan terlihat unggul jauh dalam possession (67%-33%) ataupun attempts 14(6)-7(3). Namun, sebenarnya ada yang hilang dalam permainan Bayern, yaitu tiki-taka khas Pep.
Hilangnya umpan-umpan pendek satu dua sentuhan Bayern itu tak lepas taktik zonal marking Arsenal. Umpan-umpan pendek Bayern memang banyak tercipta, tapi hampir semuanya didahului dengan dribble dan berlari.
Cara bertahan The Gunners juga memaksa tuan rumah tak bermain tiki-taka dan harus melepaskan crossing. Sementara di kotak penalti Laurent Koscielny, Thomas Vermaelen, dan Per Mertesacker sudah siap membatasi pergerakan Mandzukic dalam menyambut duel udara.
Taktik bertahan Arsenal ini hanya sekali gagal. Yakni saat Mario Mandzukic menerima umpan silang dari Mario Goetze pada menit ke-39. Beruntung buat Arsenal, sundulan striker Bayern ini belum menemui sasaran.
Zonal marking sambil memaksa Bayern untuk umpan silang ini terhitung sukses. Berkali-kali crossing yang dikirimkan Bayern berhasil dihalau selama 20 kali melalui headed clearance. Sementara untuk duel udara, Arsenal sukses menang 10 kali di area pertahanannya.

(Aerial Duel Arsenal)
Perhatikan chalkboard crossing Bayern di bawah ini. Sangat buruk. Hanya satu saja yang sukses, empat diblok dan 27 gagal! Artinya, lahirnya crossing Bayern memang dipaksa taktik zonal marking Arsenal, bukan karena skema yang tertata atau disiapkan. Maklum, Pep terbiasa bermain dengan umpan-umpan pendek.

Zonal marking bukan hanya disiapkan Wenger untuk bertahan. Ini juga dimaksudkan agar barisan gelandangnya siap untuk melakukan counter attack cepat. Strategi ini cukup jitu ketika Oxlade-Chamberlain terpaksa dihentikan oleh Dante dengan tekel keras yang berujung kartu kuning untuk Bayern.
Ribery sebagai Kunci
Trik bertahan ala Wenger ini baru menemui kegagalannya di babak kedua. Terutama saat laga memasuki menit ke-54. Adalah pergerakan Franck Ribery di sisi kiri yang berhasil memecah konsentrasi pertahanan Arsenal. Bek The Gunners lengah dalam menjaga Schweinsteiger karena terlalu berkonsentrasi dengan Ribery dan Mandzukic.
Pemain terdekat dengan Schweinsteiger hanyalah Santi Cazorla dan Vermaelen. Duo center back Arsenal tidak berada di posisi seharusnya. Walhasil, Schweinsteiger pun dengan mudah menaklukkan Lukasz Fabianski dan membawa Bayern unggul terlebih dahulu.
Keunggulan Bayern tersebut hanya bertahan dua menit. Lukas Podolski mampu menyamakan kedudukan setelah menaklukkan Lahm dan Neuer.
Terlepas dari masih dipertanyakannya pelanggaran Podolski kepada Lahm, Pep ataupun pelatih Jerman, Joachim Loew, sebaiknya menjadikan momen ini sebagai catatan. Lahm masih sedikit kagok untuk bermain kembali di bek kanan.
Lahm sebelumnya sudah menguasai bola one-two pass Oliver Giroud dengan Podolski. Tapi sang kapten sempat bingung sepersekian detik sehingga bola sukses direbut Podolski. Kebingungan Lahm terlihat dari ia yang mencari teman terdekatnya di sisi kanan. Padahal Lahm-lah pengisi posisi paling kanan di area belakang Bayern.
Pelajaran Dari Duo Bek Tengah Bayern
Meski sempat kebobolan, dan malam tadi tak banyak ikut Tiki-Taka di area pertahanan Arsenal, instruksi Pep pada duo bek tengah (center back, CB) Bayern setidaknya dapat menjadi pelajaran bagi klub-klub Indonesia yang mulai gemar menggunakan 4-2-3-1.
Tatkala salah satu fullback overlap ke depan, Dante (4) ataupun Martinez (8) akan cenderung melebar.

(Average Position Bayern)
Saat David Alaba naik, maka Dante akan melebar ke kiri. Begitu juga saat Lahm overlap ke depan, Martinez akan siap-siap menutup sisi kanan. Lantas siapa yang menjadi bek tengah bila ada bola datang? Schweinsteiger sudah menunjukkannya di laga ini. Ya, DM lah yang turun ke belakang menjadi CB.
Fabianski Man Of The Match
Dengan kesuksesannya menggagalkan penalti Thomas Mueller, Fabianzki layak terpilih menjadi Man of The Match menyingkirkan Bastian Schweinsteiger. Namun bukan karena itu saja alasan ia terpilih. Kiper asal Polandia ini mencatatkan lima kali penyelamatan gemilang, meskipun laga malam tadi adalah penampilan perdananya di Liga Champions Eropa musim ini.
Andai ia tidak terpilih, Scweini lah yang layak maju menjadi man of the match. Ia tampil konstan di sepanjang pertandingan. Andalan timnas Jerman ini tak hanya mampu turun ke jantung pertahanan tapi juga bergerak ke kotak penalti lawan untuk mencetak gol Bayern.
Kesimpulan
Zonal marking seperti yang diterapkan Wenger ternyata bisa digunakan untuk meredam Tiki-Taka. Bukan hanya meredam, malah memaksa Tiki-Taka buyar karena harus melakukan crossing.
Di laga ini juga terlihat bahwa zonal marking tidak melulu soal bertahan dan negatif ala parkir bus. Sebab, penumpukan pemain tidak tidak semuanya berada di final third. Mereka tetap sejajar pada posisi aslinya walaupun digoda dengan umpan-umpan pendek.
=====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini
(roz/krs)











































