City Gagal Menghadapi Adaptasi Taktik Barcelona

Liga Champions: Barcelona 2-1 Man City

City Gagal Menghadapi Adaptasi Taktik Barcelona

- Sepakbola
Kamis, 13 Mar 2014 14:34 WIB
City Gagal Menghadapi Adaptasi Taktik Barcelona
David Ramos/Getty Images
Jakarta -

Barcelona kembali unggul atas Manchester City. Setelah mengalahkan The Citizens di leg pertama dengan skor 2-0, pasukan Blaugrana menambah agregat kemenangan menjadi 4-1. Semalam mereka menaklukan City 2-1 di Camp Nou.

Hasil ini membuat Barcelona lolos ke babak delapan besar Liga Champions. Sementara City menyusul wakil Inggris lainnya, Arsenal, yang harus pulang ke rumah tanpa hasil.

Tidak dalam Performa Terbaik

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kedua tim bermain dengan kondisi performa yang menurun. Baik Barcelona maupun City, sama-sama dikalahkan oleh tim underdog pada pertandingan sebelumnya. Barca kalah dengan tim papan bawah La Liga, Real Valadolid, sedangkan City takluk dari tim divisi Championship di ajang Piala FA.

Beban lebih berat harus dipikul tim tamu. Manajer mereka, Manuel Pellegrini, tidak dapat mendampingi tim secara langsung di pinggir lapangan. Ia terkena hukuman yang dijatuhkan oleh UEFA, terkait komentarnya terhadap wasit pada pertemuan pertama.

Ketidakhadiran Pellegrini ternyata memang berpengaruh banyak pada permainan anak asuhnya. Terutama pada adaptasi taktik sepanjang pertandingan. City terlihat kewalahan menghadapi perubahan yang dilakukan Gerardo Martino.

Sebenarnya permainan Barcelona terlihat menurun, jika dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya di Etihad. Namun, sekali lagi, ketidakmampuan City mengikuti taktik membuat Barca masih mampu unggul.


[Sumber: whoscored.com]

Permainan dengan Pressing Ketat Kedua Tim

Lima menit pertama City melakukan pressing ketat terhadap pemain Barca. Tidak hanya itu, mereka juga menyerang habis-habisan Pique dkk. Tujuannya jelas, yaitu berusaha mencuri gol cepat pada awal pertandingan.

Pemain tuan rumah juga dipaksa bermain melebar karena penjagaan dari City tersebut. Efeknya, City mampu memenangi penguasaan bola sehingga umpan-umpan pendek Barcelona juga tidak terlihat.

Tetapi taktik ini bertahan tidak lama. Formasi 4-2-3-1 yang diperagakan oleh City membutuhkan dua poros ganda yang ikut menekan, sehingga garis pertahanan mau tidak mau dituntut untuk ikut naik, agar tidak ada ruang kosong bagi penyerang Barca.

Celakanya, pertahanan City tampil buruk. Dengan mudah Iniesta, Xavi, maupun Fabregas mengirimkan umpan-umpan terobosan yang sering tembus.

Bahkan, pada babak pertama baik Neymar maupun Messi memiliki peluang emas hasil sodoran bola terobosan. Itu termasuk gol Neymar yang dianulir wasit karena pemain sebelumnya dianggap offside. Karena hal itu lah City tidak bisa terlalu sering melakukan pressing.

Sesekali memang tetap ada penjagaan ketat untuk para pemain Barca. Salah satu indikasinya adalah menurunnya standar possesion yang "hanya" 57%, karena rataan penguasaan bola Barca dapat mencapai 65%.

Pada fase ini, tim yang melakukan perubahan cepat seharusnya memang akan lebih unggul. Hal tersebut yang dilakukan oleh Barcelona.

Ketika ditekan, Barcelona akan mengajak "adu kuat" City dengan ikut melakukan tekanan, melalui penjagaan ketat pada area lawan. Untuk urusan ini Barcelona memang jagonya. Bermain pada area sempit dengan banyak pemain di sekitar adalah santapan sehari-hari pasukan Blaugrana.

Ini berbeda dengan City. Ketika ditekan, pasukan Pellegrini justru menurunkan pertahanan dengan bermain dalam. Dua poros ganda, Toure dan Fernandinho, akan berdiri rapat dengan barisan empat bek di belakang. Akibatnya permainan City menjadi sedikit tersendat, karena kebanyakan awal mula serangan melalui dua pemain ini.

Variatif dalam Menyerang, tapi Tak Ada Eksekutor

Kedua poros ganda memang terkunci oleh taktik Barca. Namun keduanya menjadi sangat berbahaya apabila terlepas dari kerangkeng tersebut. Hal ini karena City mempunyai opsi serangan yang banyak.

Apalagi ketika Toure maupun Fernandinho sedang menguasai bola di area yang dekat dengan sepertiga akhir. Keduanya tinggal memilih apakah melempar bola ke arah sayap, Millner dan Nasri, ataupun melakukan umpan ke tengah, ke area Silva yang sudah siap mencari ruang untuk menghasilkan peluang. Situasi ini didukung dengan pergerakan dinamis dari Nasri.

Sedangkan Millner tidak banyak bergerak. Ia sepertinya diberikan instruksi khusus, untuk mencegah Alves melakukan overlap. Namun, sayangnya pada babak pertama Aguero bermain buruk. City terlihat tidak memiliki eksekutor meski mampu menciptakan peluang.

Aguero akhirnya ditarik pada babak kedua. Kemudian baru diketahui bahwa ia menderita cedera hamstring. Dzeko yang menggantikannya kemudian membuktikan bahwa City memang lemah pada posisi ini pada babak pertama. Baru 10 menit bermain, Dzeko sudah mampu menciptakan dua peluang berbahaya, berkat posisinya yang selalu tepat.

Faktor Iniesta dan Dua Striker

Formasi 4-3-3 yang dipakai oleh Barca menempatkan Iniesta di sisi kiri lini depan. Namun pada prakteknya, Iniesta lebih banyak melayani Messi dan Neymar, meski daerah operasinya memang masih berada di area kiri.

Iniesta juga tetap melakukan kontribusi dalam bertahan dengan aksi intersepsi terhadap bola yang dikirimkan ke sayap City.



Barcelona juga mengandalkan serangan dengan bertumpu pada dua striker mereka, Messi dan Neymar. Caranya adalah dengan menggantung Messi sedikit mundur, sedangkan Neymar terus berada diantara garis pertahanan bek City.

Strategi ini menciptakan ruang antara Neymar dan Messi. Apalagi jika Toure maupun Fernandinho terlambat untuk turun. Ruang tersebut tidak hanya berguna untuk Messi bermain lama-lama dengan bola, tetapi juga memberi kesempatan bagi Neymar mencari ruang untuk menciptakan peluang.

Barca juga tidak ikut terpancing dengan gaya permainan City yang memanfaatkan lebar lapangan. Martino tetap menginstruksikan anak asuhnya untuk bermain rapat ke tengah.

Skema ini yang melahirkan gol Messi. Karena memang tidak sulit bagi Barcelona bermain satu lawan satu maupun keroyokan jika dekat dengan bola. Mudah bagi tuan rumah untuk memilih menyerang lewat tengah dan menghindari sayap.


[Grafik umpan silang Barcelona, hanya tiga kali sepanjang pertandingan]


Bandingkan dengan City, yang banyak mengandalkan umpan silang. Sumber: Four Four Two-statszone]

Setelah kebobolan, taktik City semakin tidak berpola. Tidak adanya Pellegrini juga membuat asistennya Ruben Cousillas, atau mungkin pelatih kepala Brian Kidd, memilih cara yang sama dengan pertandingan pertama lalu.

Taktik itu adalah mengubah pola menjadi dua striker dengan formasi 4-4-2. Keputusan ini juga tidak berpengaruh banyak pada permainan City. Justru Barcelona lebih nyaman bermain lewat tengah. Apalagi ditambah dengan terusirnya Zabaleta akibat kartu kuning kedua.

Kiamat bagi City. Pada tambahan waktu, Dani Alves yang sebelumnya jarang naik karena dijaga Millner, menjadi lebih bebas. Apa yang terjadi pada pertandingan pertama pun berulang, yaitu Alves mencetak gol berkat pergerakannya di area sepertiga akhir.

Kesimpulan

Pertandingan yang menarik ditonton meski sebenarnya kedua tim bermain dengan taktik yang terbilang sederhana. Namun keduanya tetap memberikan tekanan dan saling bergantian menyerang.

Terlepas dari beberapa keputusan wasit yang kontroversial karena merugikan kedua tim, baik bagi City maupun Barcelona pertandingan kali ini memberikan pelajaran berharga. Khususnya bagi The Citizens, Pellegrini semestinya sadar bahwa ada lubang besar menganga pada sistem pertahanan mereka.

====

*dianalis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini

(a2s/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads