Demikian pula pada laga pertama babak 16 besar Europa Leaque dini hari tadi. Meski telah menurunkan taktik dan pemain yang berbeda dengan akhir minggu lalu, Juventus tetap kesulitan untuk menjebol lawannya itu.
Terlepas dari hasil akhirnya, patut diacungi jempol kedua pelatih nyatanya peka akan taktik satu sama lain. Ini terlihat dari formasi dan strategi yang tak sama seperti saat mereka bertemu di Serie A.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada lini belakang, Conte lebih memilih Caceres ketimbang Barzagli untuk bekerja sama dengan Ogbona dan Chielline. Sementara pada lini tengah, setelah absen saat melawan Fiorentina di Serie A, Pirlo hadir kembali. Marchisio yang semula berperan sebagai deep-lying midfielder digeser ke posisi awal sebagai gelandang serang bersama Vidal, dan menggeser Paul Pogba.

Pada sayap kanan, sosok Lichsteiner diistirahatkan Conte. Perannya digantikan oleh Mauro Isla. Sedangkan pada posisi striker, Juve merotasi Tevez dan Llorente. Tevez yang mengalami cedera lutut digantikan oleh Giovinco, sementara posisi lainnya diberikan pada Osvaldo.
Sementara itu di kubu lawan, Fiorentina pun ikut merombak skuatnya secara besar-besaran. Saat melawan Juventus di Serie A, kendati memakai pola 4 bek, Montella memasang 3 bek murni yaitu dengan memainkan Diakite, seorang bek murni, sebagai fullback kiri. Taktik ini digunakan untuk meredam serangan Juventus lewat Lichsteiner. Dan, hasilnya memang efektif.
Karena itu, saat Lichteiner absen, Montella pun memberikan slot fullback kiri ke pemain "sebenarnya" pada posisi itu, yaitu Facundo Roncaglia.
Pada sisi sayap kiri, Montella memasang Nenad Tomovic. Padahal posisi Tomovic sebenarnya adalah fullback kanan. Ini dilakukan Montella untuk mencegah cutting inside yang kerap dilakukan pemain Juve.
Pada lini tengah, tak ada perombakan yang berarti. Hanya sang eks pemain Manchester United, Anderson, yang tak bisa dimainkan. Beruntung Fiorentina punya pemain sekelas Borja Valero yang bisa menjadi playmaker pengatur serangan.
Tapi ini dengan catatan. Hadirnya Valero membuat 3 gelandang La Viola lebih cenderung bermain agak mundur. Hal ini tak lain karena Montella mengganti formasi menjadi 4-3-1-2 untuk mengakomodasi dua ujung tombak, Josep Illic dan Alessandro Matri.
Respons Conte untuk Pressing Fiorentina
Sama seperti saat melawan Fiorentina minggu lalu, Juventus langsung menggempur dari menit-menit awal. Hanya saja, saat membangun serangan, Juve memanfaatkan kerenggangan antar lini tengah dan belakang La Viola lewat umpan-umpan lambung.
Terlihat bagaimana Montella mengintruksikan 3 gelandang, Pizzaro-Aquilani-Fernandez, untuk melakukan pressing ketat kepada para gelandang Juve. Ini karena Montella memang tak memainkan gelandang bertahan murni, karena 3 pemain tadi berkarakter lebih menyerang.
Apa yang dilakukan Montella ini memang efektif karena mampu Andrea Pirlo pun akhirnya bisa tertahan sedalam mungkin. Tapi, Conte kemudian merespon taktik Montella dengan menaikkan Vidal sejajar dengan Giovinco dan Osvaldo.
Hasilnya memang cukup merepotkan Fiorentina. Gol yang dicetak Vidal di menit-menit awal pun lahir berdasakan skema ini.
Striker yang Jadi Pemantul
Satu catatan bisa diberikan untuk lini serang Juventus pada laga ini, terutama dilihat dari cara mereka menghadapi taktik bertahan Fiorentina.
Pertama, mari kita lihat La Viola dulu. Keputusan Montalla untuk tak menurunkan seorang gelandang bertahan murni membuat empat bek sejajar Fiorentina menerapkan garis bertahan sedalam mungkin.
Karenanya, otomatis para gelandang Fiorentina sering perlu overlapping, atau naik-turun dengan jarak yang lumayan jauh untuk menjembatani lini belakang dan depan. Dan hal inilah yang dinantikan oleh Conte. Dia menginstruksikan anak asuhnya untuk lebih bertahan menunggu celah itu.
Montella pun tahu akan konsekuensi titik kelemahan pada para gelandang. Maka dari itu, ia meminta empat bek di belakang untuk displin membentuk garis pertahanan yang amat dalam.
Apa yang dilakukan Montella ini disikapi Conte dengan melakukan perubahan peran striker, khususnya Giovinco dan Osvaldo. Mereka tak hanya ditugasi untuk mencetak gol atau melakukan attempts, tapi juga sebagai pemantul umpan bagi para gelandang seperti Marchisio dan Vidal serta dua wingback Asomoah dan Padoin yang menusuk kedalam.
Hal ini juga tercermin dari detail percobaan mencetak gol Juventus. Pada laga dini hari tadi, dua penyerang hanya mampu mencetak 3 kali attempts dari 13 kali kesempatan. Sementara 10 diantara 13 attempts itu dilakukan oleh gelandang lewat shooting di luar area pinalti. Untuk melancarkan taktik ini, bahkan Chiellini pun terkadang merangsek naik untuk memecah konsentrasi gelandang Fiorentina.
(sumber: Squawka.com)Juventus Kesulitan dari Sisi Sayap
Pada babak pertama, selain kesulitan menyerang dari tengah, Juventus pun sebenarnya kesulitan menyerang dari sayap. Montella tampaknya sudah membaca tipikal sayap Juventus yang tak lagi sering menyisir lapang kemudian memberi crossing. Peran wingback Juve kini mirip seperti peran inverted winger yang menusuk kedalam.
Ada dua opsi yang sering dilakukan Asamoah atau Padoin pada laga dini hari tadi. Keduanya akan memberikan umpan tarik atau shooting ke arah gawang, tapi tidak memberikan umpan silang.
(sumber: Squawka.com)Perubahan Taktik Montella
Pada babak pertama, Fiorentina sebenarnya hanya memakai striker tunggal yaitu pada sosok Matri seorang. Formasi yang dipakai menjadi seolah seperti 4-5-1 dengan peran gelandang yang bebas bertukar-tukar posisi.
Lalu bagaimana dengan salah satu penyerang lainnya, yaitu Josep Illic? Oleh Montella ia digeser agak lebih kanan. Illic diplot sebagai pengalir bola dari sayap kanan ke Matri, mengingat Roncaglia yang tak pernah naik.
Sementara itu, peran sayap kiri diserahkan kepada Matias Fernandez. Untuk memperkuat barisan tengah, Borja Valero yang semula ditugasi playmaker pun harus berubah menjadi box-to-box-midfielder.
Namun Montella mengganti taktiknya ini pada menit ke-51. Untuk memaksimalkan peran Borja Valero, Montella memasukan Massimo Ambrossini untuk menggantikan Fernandez dan membuat posisi Pizzaro dan Valero naik lebih tinggi.
Hanya saja, dengan mengorbankan Fernandez, otomatis serangan Fiorentina terpusat pada sisi sayap kanan saja. Hal ini menyebabkan adanya ketimpangan. Untuk menutupinya, fullback kiri Tomovic pun selalu naik overlapping ke depan.
Karena terlalu beresiko, Montella menarik Aquillani menggantinya dengan Juan Vargas. Alhasil taktik Fiorentina berubah menjadi 4-2-3-1, dan bermain lebih melebar dengan memanfaatkan Illic sebagai distributor bola.
Selain untuk memaksimalkan serangan, pergantian ini pun pada khakikatnya untuk membuat lini tengah aman lewat kehadiran dua poros ganda. Apalagi setelah Conte memasukkan Paul Pogba untuk menambah daya gedor.

Keputusan perubahan taktik Montella itu terbukti ampuh dengan berbuah gol penyama kedudukan. Illic yang bermain melebar terus memancing Chiellini, yang ditugaskan Conte untuk me-man mark, untuk mengikutinya. Akibatnya Chiellini pun sering meninggalkan lubang kosong di lini pertahanan.
Gol Fiorentina pun bermula dari Illic yang memberikan umpan panjang pada Mario Gomez, sementara Chiellini ketinggalan. Striker berkebangsaan Jerman itu pun lalu mampu menundukkan Buffon yang sudah terlanjur keluar dari gawangnya.
Kesimpulan
Pada laga ini tuan rumah memang cenderung bertahan dan pasif menghadapi taktik yang dilakukan oleh Fiorentina. Sudah jadi kebiasaan, saat menghadapi tim-tim besar semacam AC Milan, Lazio, AS Roma atau Inter Milan, Conte memang selalu memainkan serangan balik sebagai pilihan utama untuk mencetak gol. Hanya saja, Conte selalu peka menghadapi setiap taktik yang dilakukan oleh lawan.
Sayangnya pada laga dini hari tadi hal itu tak terjadi. Conte hanya merespon taktik Montela di awal babak pertama. Lepas dari titik itu, tak ada lagi perubahan taktik yang terlihat. Fiorentina pun akhirnya bisa pulang dari Turin dengan tabungan gol tandang.
Β
Hal ini tentu akan membuat pertarungan leg kedua nanti lebih menarik. Mau tau mau, Conte mesti mendapatkan gol jika tetap ingin lolos ke babak selanjutnya. Perang taktik seperti saat Juventus ditekuk 4-2 di Artemio Franchi pun semestinya kembali terjadi.
====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(roz/din)











































