Serangan Balik Chelsea yang Meredam Taktik Mancini

Liga Champions: Chelsea 2-0 Galatasaray

Serangan Balik Chelsea yang Meredam Taktik Mancini

- Sepakbola
Rabu, 19 Mar 2014 14:46 WIB
Serangan Balik Chelsea yang Meredam Taktik Mancini
Getty Images/Mike Hewitt
Jakarta -

Inggris akhirnya mampu sedikit bernafas lega setelah meloloskan satu wakilnya, Chelsea, ke perempatfinal Liga Champions. Tim asal kota London itu mengalahkan Galatasaray 2-0 di Stadion Stamford Bridge, dini hari tadi.

Dari sisi starting line up yang diturunkan, Chelsea ternyata tak banyak melakukan perubahan dari leg pertama.



SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hanya saja, semalam Mourinho sedikit diuntungkan dengan hadirnya Oscar, yang pada pertemuan pertama tak bisa diturunkan karena cedera. Kehadiran Oscar otomatis menggeser Andre Schuerrle jadi pemain cadangan dan membuat Willian kembali berperan di sayap kanan.

Sementara itu, pada kubu lawan, Mancini melakukan sedikit perubahan formasi di awal pertandingan. Jika sebelumnya ia memakai 4-2-2-2 dengan 2 pemain poros ganda, pada pertandingan dini hari tadi ia mendorong Selcuk Inan menjadi lebih tinggi. Mancini lalu membiarkan Felipe Mello bertugas sendirian di depan keempat bek.

Hal lain yang menarik dari susunan pemain Mancini adalah ia menggeser pemain bertipikal striker murni, Burak Yilmaz, ke sayap kanan, sehingga Didier Drogba beroperasi sendirian di depan. Jika di leg sebelumnya Wesley Sneijder ditempatkan jadi second striker di belakang duet Drogba-Yilmaz, pemain asa Belanda itu lalu dipasang sebagai pemain sayap kiri.

Taktik 4-1-4-1 yang diterapkan pelatih Roberto Mancini pada dasarnya bukanlah taktik yang statis. Dibandingkan dengan Mou, beberapa kali Mancini merotasi formasi dan pemain untuk membuat Galatasaray menguasai jalannya pertandingan.

Memanfaatkan Terpancingnya Bek Galatasaray

Pada awal-awal babak pertama, kedua tim bermain berhati-hati. Kedua tim juga memainkan garis pertahanan yang amat dalam. Chelsea melakukannya karena Mancini menyimpan Yilmaz-Drogba di depan.

Meski pada rencana awal Yilmaz dipasang di sayap kanan, nyatanya Yilmaz malah lebih sering berlari ke tengah mendekat kepada Drogba. Kondisi ini yang membuat Ivanovic bisa lebih fokus dalam bertahan. Ia juga bisa bergeser sedikit ke tengah dan merapat pada duet John Terry-Garry Cahill.
Ini berbeda dengan Chelsea yang menyimpan empat pemain di depan. Mereka mengkreasi serangan pada sayap kanan lewat Oscar-William-Hazard dan Eto’o. Hal ini membuat barisan belakan dan tengah Galatasaray menjadi sedikit tertekan.

Hanya saja, jika para bek-bek Chelsea disiplin melakukan zonal marking di belakang, lain hal dengan para bek-bek Galatasaray. Saat Galatasaray menyerang, terkadang lini pertahanannya ikut naik ke depan.



Gol yang dicetak Eto’o pada menit ketiga pun tercipta karena bisa memanfaatkan kelengahan ini, yaitu ketika 3 pemain Chelsea tinggal berhadapan dengan 2 bek Galatasaray. Apalagi serangan Chelsea biasa dilakukan lewat umpan-umpan through-pass.

Pada babak pertama, Chelsea juga bisa mengeksploitasi kelemahan ini dengan menyerang lewat sisi flank. [lihat grafik passing Chelsea babak pertama]


Grafik Passing Chelsea (credit: squawka.com)

Dari grafik passing di atas terlihat, bahwa Chelsea sebenarnya kesulitan menembus barisan tengah Galatasaray. Hal ini tak lain karena peran apik duet dua pemain tengah Galatasaray di depan Melo, yaitu Kartulus dan Inan. Keduanya memang bukan pemain yang berperan sebagai playmaker.

Inan adalah pemain gelandang bertahan murni, sedangkan Kartulus lebih kepada tipikal box-to-box. Hanya saja, oleh mancini kedua pemain ini digeser agak lebih depan tak sejajar dengan Mello. Taktik ini yang cukup membuat Chelsea kesulitan menembus barisan tengah. Tapi lain cerita jika hal itu dilakukan lewat serangan balik atau mengekploitasi lewat sisi flank.

Fokus Pada Serangan Balik

Usai gol cepat yang dicetak Eto’o, Chelsea lebih memfokuskan pada serangan balik. Mundurnya para gelandang di lini belakang, praktis hanya meninggalkan Eto’o menggantung di depan.

Saat mendapat bola, Eto’o cenderung menahan bola untuk menunggu lini kedua membantu serangan. Perannya hanya sebagai pemantul, karena itu dia cenderung lebih banyak terlihat melakukan backpass kepada para gelandang untuk diteruskan ke sayap.[lihat grafik passing Eto’o]


Grafik Passing Samuel Eto’o (credit: squawka.com)

Mengeksploitasi Sayap Galatasaray

Lantas mengapa Chelsea mengeksploitasi sayap Galatasaray? Ini karena Mou tau bahwa dua fullback Galatasaray, Alex Telles dan Emanuelle Eboue, akan diintruksikan oleh Mancini menyerang. Dari grafik passing Chelsea sebelumnya, ini juga akan terlihat.

Pada sayap kanan, misalnya. Eboue akan selalu naik kedepan untuk membantu serangan lewat sayap kanan karena Yilmaz bergeser ke tengah. Tapi, saat overlapping, tidak ada yang memberikan bantuan bertahan karena Galatasaray hanya memakai satu DM. Dan Mello pun lebih fokus bertahan di tengah.

Hal serupa terjadi di sayap kiri. Telles mau tak mau harus maju mengingat posisi Sneijder yang bergeser menjadi second striker di belakang Yilmaz dan Drogba.



Sadar akan kelengahan ini, pada pertengahan babak pertama Mancini merotasi taktik menjadi 4-2-3-1 dengan menarik Inan sejajar dengan Mello. Sementara itu, Sneijder dan Yilmaz dikembalikan ke posisi semula sebagai flank, dengan Sneijder yang mengambil peran ganda bertahan dan menyerang.

Mengimbangi Tempo Galatasaray

Tak hanya berganti formasi, Galatasaray pun coba menurunkan tempo. Mereka tak mau terburu-buru menyerang seperti pada awal babak pertama.
Namun, Chelsea tampaknya main lebih sabar. Melihat lawannya menurunkan tempo, Chelsea tak terpancing agresif melakukan high pressing. Mereka tetap disiplin menjaga zona, tak peduli para pemain Galatasaray berlama-lama memainkan bola di areanya sendiri.

Mengerti taktik ini tak begitu efektif membongkar barisan pertahanan Chelsea, Mancini mulai mengintruksikan Galatasaray memainkan umpan-umpan panjang.Tercatat pada babak kedua umpan jauh yang dilakukan Galatasaray mencapai 28 kali. Angka ini jauh berbeda dengan Chelsea yang hanya 9 kali melakukan long ball sepanjang pertandingan.


Grafik Passing Galatasaray (credit: squawka.com)

Kedisiplinan pemain tengah Chelsea-lah yang memaksa Galatasaray untuk memainkan bola-bola panjang. Adalah Ramires dan Lampard berhasil mematikan kreativitas Sneijder.

Peran Ramires sebagai Poros Lini Tengah

Ramires dan Lampard berbagi peran yang berbeda. Lampard bertugas untuk mengkoordinir pertahanan sehingga ia selalu berada di depan empat bek Chelsea. Sementara itu, Ramires lebih berperan sebagai poros penyerangan. Ia bertugas untuk mengalirkan bola ke depan.

Ramires memang tidak mencetak gol ataupun assist. Namun terlihat bahwa perannya untuk tim begitu vital. Berduet dengan Lampard sebagai poros ganda, ia juga mampu memerankan perannya dengan baik. Aktif membantu penyerangan, namun juga disiplin kala bertahan.

Saat timnya kehilangan bola, Ramires langsung sigap kembali ke posnya. Pemain ini begitu lugas. Perannya sebagai pemutus serangan di tengah, dilakoninya dengan baik.


Grafik Tekel Ramires (credit: squawka.com)

Dari enam kali tekel, memang hanya dua tekel Ramires yang berhasil. Tapi empat tekel dilakukannya di daerah lawan. Ini menggambarkan bahwa saat timnya kehilangan bola, Ramires tak segan untuk melakukan tekel untuk menunda jalannya pertandingan.

Hal ini dilakukan Ramires untuk menunggu barisan bertahan Chelsea kembali terorganisir setelah melakukan serangan balik.


Grafik Area Aksi Ramires (credit: squawka.com)

Ketika Chelsea hendak melakukan serangan, Ramires juga jadi pemain yang datang untuk menjemput bola, lalu mengirimkannya ke trio Hazard-Oscar-Willian. Pergerakan tanpa bolanya pun sangat baik. Ia memang tak banyak mengusai bola, namun ia rajin untuk menempel Inkan ataupun Sneijder

Kesimpulan

Sejak awal, Mourinho menginstruksikan anak asuhnya untuk sabar menunggu. Mereka lebih memilih untuk melakukan serangan balik dengan mengandalkan umpan terobosan. Taktik ini juga mampu memaksimalkan kecepatan yang dimiliki oleh Hazard dan Willian.

Aktifnya dua fullback Galatasaray dalam menyerang tak diimbangi oleh disiplinnya barisan belakang mereka. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan dengan baik oleh Chelsea, mereka dengan leluasa memanfaatkan celah tersebut.

Di kubu lawan, Mancini sebenarnya beberapa kali merotasi taktik. Tapi, tetap saja upaya yang dilakukannya gagal menembus barisan pertahanan Chelsea.

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini

(roz/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads