Ini Cara Chelsea Membunuh Arsenal dalam 15 Menit

Liga Inggris: Chelsea 6-0 Arsenal

Ini Cara Chelsea Membunuh Arsenal dalam 15 Menit

- Sepakbola
Minggu, 23 Mar 2014 19:38 WIB
Ini Cara Chelsea Membunuh Arsenal dalam 15 Menit
Stuart MacFarlane/Arsenal FC via Getty Images
Jakarta -

Dalam setiap perayaan, biasanya ada senyum lebar dan tawa riang. Namun tidak untuk manajer Arsenal, Arsene Wenger. Pada perayaan laga ke-1.000-nya bersama Arsenal, sang Profesor malah tertunduk lesu, dan terlihat murung. Bahkan, pasca pertandingan, ia menolak untuk memberikan pernyataan untuk para wartawan.

Pasalnya pelatih asal Prancis itu justru diberondong dengan enam gol dan dihadiahi satu kartu merah. Yang memberi hadiah pun bukanlah tim sembarangan, yaitu sang tetangga, Chelsea. Ya, dalam Derby London semalam, Arsenal kalah telak 0-6 dari rival sekotanya.

Pertandingan sebenarnya efektif sudah berakhir untuk Arsenal pada menit ke-15. Pada titik ini, The Gunners telah ketinggalan tiga gol dan menerima satu kartu merah. Secara psikologis, memang sulit untuk mengejar ketertinggalan dari salah satu musuh besarnya dari posisi seperti ini, meski sebenarnya masih ada waktu 75 menit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

β€œSaya sangat bahagia dengan pendekatan yang dilakukan Chelsea. Kami datang untuk membunuh mereka, dan dalam 10 menit, kami menghancurkan mereka,” ujar manajer Chelsea Jose Mourinho seusai pertandingan.

Lalu apa yang terjadi pada lima belas menit awal ini sehingga Chelsea bisa mencetak tiga gol?

Formasi Terbaik

Sebenarnya tak banyak yang berubah dari kedua tim. Mereka sama-sama menurunkan skuat dan formasi terbaiknya. Arsenal turun dengan formasi 4-2-3-1, dengan komposisi serupa ketika mereka menggasak Spurs di White Hart Lane.

Sementara pada kubu tuan rumah, Nemanja Matic diturunkan sebagai starter poros ganda The Blues berduet dengan David Luiz. Pemain asal Serbia itu diplot sebagai pengganti Ramires yang tidak bisa tampil lantaran pada pekan lalu terkena kartu merah.

Sedikit perubahan dilakukan Mourinho di depan. Jika pada leg kedua babak 16 besar Liga Champions ia menurunkan trio Hazard-Oscar-Willian, pada laga kali ini The Special One tidak menyertakan Willian. Posisinya digantikan oleh Andre Schurrle. Selebihnya, dari belakang sampai depan, Mourinho memainkan pemain yang sama seperti saat melawan Galatasaray, tengah pekan lalu.Β 



Formasi awal kedua tim. Sumber: Whoscored.com

Blunder Tingginya Garis Pertahanan Arsenal

Salah satu kelemahan Arsenal yang bisa dieksploitasi Mourinho adalah tingginya garis pertahanan Arsenal. Ini juga diperparah dengan dua DM (defensive midfielder), yaitu Mikel Arteta dan Alex Oxlade-Chamberlain, yang terlampau tinggi dan mudah ditembus. Ini membuat bola lebih cepat sampai ke area back four Arsenal.

Chelsea pun mampu memanfaatkan hal ini dengan menggunakan skema serangan balik yang cepat dan mengirimkan umpan-umpan terobosan ke area tengah sepertiga lapangan akhir. Ini terlihat pada grafis passing Chelsea di 15 menit awal di bawah.



Passing Sepertiga Lapangan Akhir Chelsea di 15 Menit Awal (sumber: Statszone)

Sebenarnya pola counter-attack super cepat adalah pola favorit Mou. Tapi kali ini Schurrle dan Matic begitu cerdik memposisikan diri dan memanfaatkan channel kosong di engine room Arsenal yang diisi oleh Arteta dan Oxlade-Chamberlain. Tak heran serangan balik Chelsea pun begitu efektif.

Mengandalkan High-Pressing

Mourinho rupanya telah mengambil pelajaran penting dari pertemuan pertamanya dengan Arsenal musim ini pada 23 Desember lalu. Berbeda dengan pertemuan pertama, sejak awal, Mourinho sudah menginstruksikan anak didiknya untuk melakukan high-pressing.

Oleh karenanya pada pertandingan malam tadi, Mourinho lebih memilih membangkucadangkan Frank Lampard. Ini karena mengandalkan highpressing dan memasang Lampard akan menjadi sangat riskan. Lampard akan kalah beradu dengan pemain-pemain tengah Arsenal yang terkenal punya kecepatan. Maka dari itu, Mou lebih memilih Nemanja Matic ketimbang John Obi Mikel.

Terlihat dalam grafik di bawah bagaimana di 15 menit pertama Chelsea sudah menekan Arsenal dari garis tengah lapangan. Bahkan, Chelsea pun tak ragu untuk melakukan pelanggaran untuk merebut bola di area pertahanan Arsenal (ditandai oleh segitiga hitam).



Grafik Aksi Bertahan Chelsea di 15 Menit Awal

Strategi Mourinho terbukti jitu. Thomas Rosicky dan Oxlade-Chamberlain, tak pernah diberi kesempatan untuk berlama-lama memegang bola, karena poros ganda Chelsea langsung melakukan pressing sejak bola berada di daerah pertahanan Arsenal.

Ini juga diperparah dengan bek Arsenal yang terlambat untuk turun untuk menutup penyerang Chelsea. Dari gambar di bawah, terlihat bagaimana pada 15 menit awal pertandingan error leading to goal Arsenal terjadi di tengah lapangan. Hal ini berarti kurang cepatnya lini pertahanan Arsenal dalam mengantisipasi serangan Chelsea.








Terus ditekan sedari daerah pertahanannya sendiri memang membuat ketenangan para pemain Arsenal terganggu. Arteta dkk. acap kali salah dalam melepaskan umpan. Hal inilah yang kemudian dapat dimanfaatkan dengan baik oleh para pemain The Blues. Mereka beberapa kali melakukan intercept, lalu melancarkan serangan balik dengan cepat.

Pada gol pertama, Schurrle yang menerima bola karena kesalahan Oxlade-Chamberlain langsung melakukan one-two pass dengan Oscar. Umpan matang Schurle kemudian diselesaikan dengan cerdik oleh Samuel Eto'o ke sudut kanan atas gawang Wojciech Szczesny, setelah ia berhasil mengelabui Oxlade-Chamberlain.

Pada gol kedua, memasuki menit ke tujuh, baru dua langkah membawa bola, Oxlade-Chamberlain kembali mati kutu karena Matic. Umpan yang dilepaskan Chamberlain bisa di intercept Matic. Kali ini Matic dengan tepat menerapkan instruksi yang diinginkan Mourinho. Ia langsung menyodorkan bola kepada Schurrle yang kemudian sukses membawa Arsenal unggul 2-0.

Menurut Mourinho, dua gol pertama di bawah 10 menit ini adalah kunci dari kemenangan Chelsea. Diusirnya pemain Arsenal dan gol dari titik penalti hanya mempermudah Chelsea dalam menghancurkan Arsenal.

Pasca Ketinggalan Tiga Gol

Sadar lawannya menggunakan taktik highpressing, Wenger menginstruksikan anak didiknya untuk bermain lebih terbuka. Mereka kemudian lebih sering memanfaatkan lebar lapangan dengan mengandalkan Lukas Podolski di kiri dan juga Thomas Rosicky di kanan, untuk mengirimkan umpan silang.

Taktik ini cukup dimengerti. Pada awal babak pertama, hasilnya cukup baik. Lewat skema serangan tersebut, Giroud sempat mengancam gawang Chelsea yang di kawal Peter Cech. Arsenal memang mengandalkan taktik ini untuk memaksa bek Chelsea menutup Giroud. Sudah ketinggalan 3 gol juga membuat Arsenal tidak mengambil resiko tinggi dengan bermain lebih terbuka.



Grafik Umpan Silang Arsenal dan Chelsea

Tapi, karena hanya bermain dengan 10 orang, taktik menyerang lewat sayap ini membuat Arsenal lebih mudah terserang, karena naiknya fullback berarti memberikan ruang untuk Chelsea.

Apalagi sisi pertahanan sayap Arsenal memang sering gagal dalam melakukan double-cover untuk daerah luar kotak penalti. Ini terlihat dari dua gol pertama Chelsea, dan satu attempt dari Hazard yang membuat Oxlade-Chamberlain men-tip bola di depan gawang. Satu masalah lainnya dengan menyerang lewat lebar lapangan adalah karena Wenger tidak menyiapkan skema pergantian pemain yang mendukung hal ini.

Tak Mampu Memperkuat Pertahanan

Tiga pergantian yang dilakukan oleh Wenger adalah memasukkan Thomas Vermaelen untuk menggantikan peran Gibbs, memasukkan Mathieu Flamini dan mengganti Laurent Koscielny dengan Carl Jenkinson.

Masuknya Flamini telah membuat pemain-pemain Arsenal lebih sabar. Ketika terus di-pressing, mereka tak segan untuk menurunkan tempo. Berbeda dengan Oxlade-Chamberlain, Flamini memang lebih berani berduel dengan dua poros ganda Chelsea. Namun hal tersebut tak berlangsung lama. Pada pertengahan babak kedua, Arsenal kembali keteteran dan sering melakukan salah umpan di daerahnya sendiri.

Satu hal yang mesti disoroti adalah Wenger memang tidak memiliki banyak opsi di bangku cadangan untuk merubah skema permainan. Selain ketiga pemain yang telah dimasukkan, hanya ada Kim Kallstrom, Lukasz Fabianski, Sergei Gnabry, dan Yaya Sanogo di bangku cadangan.

Chelsea (Juga) Menyerang Dari Sayap

Seperti Arsenal, Chelsea juga mengandalkan serangan balik yang bertumpu pada sayap. Sejak awal, Mourinho memasang garis pertahanan tinggi. Hal ini dimaksudkan untuk menghambat agresifitas dua fullback Arsenal yang kerap naik membantu penyerangan.



Grafis passing Chelsea. Sumber: squawka.com

Taktik ini pun berjalan dengan baik. Duet Branislav Ivanovic dan Cesar Azpilcueta mampu menahan Bacary Sagna maupun Kieren Gibbs untuk naik. Pun ketika Kieran Gibbs keluar lantaran mendapat kartu merah yang keliru. Ivanovic begitu leluasa mengeksploitasi sisi kiri pertahanan Arsenal.

Masuknya Jenkinson pada babak kedua pun tak begitu signifikan. Sisi sayap Arsenal tetap menjadi daerah yang kerap dieksploitasi oleh para pemain Chelsea.

Taktik ini pun berjalan dengan baik. Terlebih Chelsea punya trio lini tengah Hazard-Schuerrle-Oscar yang bermain sangat cair dan punya kecepatan. Mereka kerap berganti posisi untuk mengeksploitasi sisi kanan pertahanan Arsenal.



Grafis Keypasses Chelsea. Sumber: squawka.com

Hasilnya, ketika menyerang dari sayap dengan mengandalkan umpan terobosan, semua umpan yang dilepaskan menjadi key-pass. Gol kedua, keempat, dan keenam menjadi bukti begitu berbahayanya trio lini tengah Chelsea di sepertiga akhir lapangan lawan.

Peran Poros Ganda Chelsea

Sedari awal, dua poros ganda Chelsea sudah mengambil peran penting. Dalam bertahan maupun menyerang David Luiz dan Nemanja sama baiknya. Ketika Chelsea kehilangan bola, mereka langsung sigap untuk turun mengamankan daerah lini pertahanan. Mereka juga tak segan untuk melakukan tekel untuk sekedar menunda jalannya pertandingan.



Grafis tekel David Luiz. Sumber: squawka.com



Grafis tekel Nemanja Matic. Sumber: squawka.com

Saat kehilangan bola, Matic dan Luiz dengan baik berbagi peran. Mereka saling bergantian untuk menjaga Santi Cazorla ataupun Oxlade-Chamberlaine. Kedisiplinan dua poros ganda Chelsea ini terbukti dapat mematikan kreativitas lini tengah Arsenal yang digalang oleh Santi Cazorla. Hal inilah yang menjadikan peran Cazorla tak begitu terlihat tadi malam.

Schuerrle pun patut diberikan pujian. Selain baik dalam mengover lini tengah, ia dan Matic bisa dengan cepat memulai skema counter attack Chelsea. Pola ini memang jadi satu kekhasan tim yang dilatih Mourinho.

Performa Buruk Oxlade-Chamberlain

Meski selamat dari drama kartu merah, yang malah diberikan kepada Kieran Gibbs, semalam seolah bukan hari miliknya. Ia tampak seperti pesakitan. Ia acap kali melakukan salah passsing. Terlebih ketika hendak masuk di sepertiga akhir lapangan Chelsea.



Grafis passing Alex Oxlade-Chamberlain. Sumber: squawka.com

Dua gol pada awal babak pertama pun merupakan buah kesalahan Chamberlain, yaitu passing yang tak menemui sasaran saat laga baru berjalan empat menit, juga passing yang diinterspsi pada menit ketujuh.

Kesimpulan

Terlepas dari kontroversi wasit Andre Marriner yang memberikan kartu pada orang yang salah, kekalahan telak Wenger dari Mourinho ini mencerminkan superioritas Mourinho dalam hal taktik. Perlu diingat bahwa Wenger memang belum pernah menang dari Mou, dan bahkan dalam tiga pertemuan terakhirnya Arsenal gagal mencetak gol ke gawang Chelsea.

Lima belas menit awal jadi kunci keunggulan Mourinho, yaitu dengan mengeksploitasi tingginya garis pertahanan Arsenal melalui umpan terobosan, dan memaksa pemain Arsenal melakukan kesalahan dengan melakukan high-pressing.
Sementara pada sisi lain, Wenger tak punya jawaban sama sekali untuk bombardir Mourinho di lima belas menit awal.

Meski sempat memperkuat lini tengah dan lini pertahanan, pemain Arsenal tetap keteteran. Begitu pula dengan skema menyerang dari sayap, yang justru memberikan ruang bagi pemain Chelsea untuk melakukan serangan balik. The Blues pun dengan mudah menambah pundi-pundi gol menjadi enam.

====

* Dianalis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini

(a2s/rin)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads