Memaksimalkan Gelandang Bertahan Untuk Menahan Milan

Liga Italia: Lazio 1-1 Milan

Memaksimalkan Gelandang Bertahan Untuk Menahan Milan

- Sepakbola
Senin, 24 Mar 2014 14:05 WIB
Memaksimalkan Gelandang Bertahan Untuk Menahan Milan
Paolo Bruno/Getty Images
Roma -

Setelah mengalami 4 kekalahan beruntun, akhirnya AC Milan mendapat poin juga. Pada laga dinihari tadi mereka memetik satu angka ketika melawan SS Lazio di Stadion Olimpico.

Pada laga tersebut Milan mencetak gol terlebih dahulu lewat gol bunuh diri pemain Lazio Abdoulay Konko pada menit 41. Sayang, keunggulan itu tak dapat dimaksimalkan. Rossoneri malah kebobolan oleh Alvaro Gonzales pada menit 61.



SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Memanfaatkan Absennya para Striker

Sejak kembali Lazio bulan Januari lalu, pelatih Eduardo Reja tampaknya sudah menemukan formasi dan taktik yang pantas untuk timnya. Setelah teramat sering mengganti taktik dan starting line-up, dalam lima laga terakhir Lazio selalu memakai formasi dan pemain inti yang sama. Juga, pada skema 4-3-3 yang ia terapkan, Reja sudah cocok untuk memainkan tiga DM bersamaan: Lucas Briglia, Christian Ledesma, dan Alvaro Gonzales.

Lazio sedikit pincang karena striker gaek Miroslav Klose absen karena cedera. Di kubu Milan, Ignazio Abate dan Ricardo Montolivo tidak main karena cedera, sedangkan kiper Christian Abbiati menjalani skorsing kartu merah.

Milan hanya sedikit melakukan rotasi, yaitu di posisi fullback kiri. Kali ini Pelatih Clarence Seedorf lebih mempercayakan peran itu kepada Kevin Constant ketimbang Ulby Emanuelson. Sementara pada lini depan, Seedorf memilih membangkucadangkan Mario Balotelli dan memasang Giampaolo Pazzini.


[Grafis Posisi Pemain Hingga Menit 20]

Pada awal-awal babak pertama, Milan lebih terfokus bertahan dan melakukan serangan balik. Mereka menaruh dua ujung tombaknya, yaitu Honda dan Pazzini, jauh di depan. Hal ini cukup efektif untuk menekan garis pertahanan Lazio dan membuat serangan tuan rumah mengalami ketimpangan.

Lazio Menyerang Lewat Sayap Kanan

Dalam hal serangan, Lazio hanya mengandalkan serangan dari sayap kanan lewan Antonio Candreva. Hal ini terjadi karena Reja tidak menempatkan seorang bertipikal sayap di kiri, tapi seorang striker murni dalam diri Baldo Keita. Maka, saat mendapat bola Keita akan berlari diagonal ke tengah, bukan menyisir di area sayap seperti apa yang dilakukan Candreva.

Lazio hanya mengandalkan crossing semata dengan mengharapkan dua ujung tombak mereka, Bryan Perea dan Keita, mampu unggul lewat duel-duel udara. Dari grafis di atas kita dapat melihat bahwa penempatan Honda yang jauh di depan membuat fullback kanan Lazio, yaitu Stefan Radu, urung membantu serangan. Akibatnya, sayap kanan Milan pun relatif aman dari serangan.

Ini berbeda dengan sayap kiri yang selalu jadi bulan-bulanan Lazio. Dengan berani Reja menaikkan fullback kiri, Abdoulay Konko, setinggi mungkin untuk menemani Antonio Candreva dan Alvaro Gonzales. Naiknya Konko tak lepas dari posisi Kaka yang bergeser agak lebih tengah untuk menemani Pazzini.

Efek Hilangnya Montolivo



Sampai menit ke-20, Milan fokus bertahan dan melakukan serangan balik lewat umpan-umpan panjang. Tapi taktik itu tak efektif dan mudah dipatahkan. Tak adanya Montolivo juga membuat Milan kewalahan. Ada yang hilang pada lini tengah Milan. Jarak antara dua poros ganda Michael Essien dan Nigel De Jong, serta barisan depan terlalu amat jauh, sehingga umpan panjang adalah pilihan terbaik.

Untuk lepas dari tekanan Lazio, Seedorf membuat posisi Essien dan De Jong tidak sejajar. Essien dinaikkan agak lebih tinggi untuk menutupi bolong di tengah. Keberanian Seedorf melakukan hal ini tak lepas dari tak adanya serangan Lazio dari tengah dan sayap kiri. Tapi taktik oni membuat Andrea Poli agak lebih mundur. Ia berperan untuk mem-back-up Essien saat dia terlalu overlapping.

Memancing Bek Lazio

Usai menit 20, giliran Milan yang menguasai jalannya pertandingan. Lazio pun memilih bertahan, Formasi Lazio seolah terlihat menjadi 4-4-2, dengan menarik posisi Candreva menjadi pemain sayap dan Konko kembali mundur ke belakang.

Jika sebelumnya serangan terpusat pada sayap kanan lewat Honda, di akhir babak pertama Kaka kembali digeser ke posisi sayap kanan. Hanya saja, saat menyerang, Poli, Honda, dan Pazzini sudah menunggu di dalam kotak penalti.

Terlihat jelas, posisi ketiga pemain ini di akhir babak pertama sangat rapat. Kondisi ini membuat Konko terpancing untuk merapat ke tengah bersama 3 bek lainnya. Lantas untuk menutup Kaka, tugas itu diperankan Alvaro Gonzales. Gol yang dicetak Kaka pada menit 41, akibat kesalahan Gonzales yang tak dapat menutup Kaka.

Memanfaatkan Dua Gelandang Bertahan jadi Poros Serangan

Tertinggal satu gol membuat Reja mengganti taktik di babak kedua. Tapi, dengan hengkangnya Hernanes ke Inter, Lazio otomatis tak memiliki seorang pemain bertipikal gelandang menyerang murni. Di bangku cadangan sebenarnya Reja memiliki Anderson dan Stefano Mauri. Tapi Reja ternyata tak memilih itu.

Seperti dijelaskan di atas, 3 gelandang Lazio yang kerap jadi pilihan Reja adalah gelandang-gelandang bertipikal bertahan yakni Gonzales, Biglia dan Ledesma. Kendati demikian, Reja mampu membuat 3 gelandang ini memiliki peran berbeda.

Ini tercermin dari yang dilakukan Reja pada Biglia di babak kedua. Pada babak pertama, peran Biglia adalah menjadi double pivot dengan Ledesma. Sementara di babak kedua, Reja menjadikannya sebagai pemain box-to-box. Posisinya agak lebih didorong naik ke depan sejajar dengan Gonzales. Biglia naik membantu serangan, namun juga bertahan ke belakang hingga garis akhir pertahanan. Perannya sebagai pemecah poros tengah Milan, yaitu De Jong dan Essien.



Lantas saat Senad Lulic masuk menggantikan Bryan Perea pada menit 53, Lazio berganti formasi menjadi 4-2-3-1. Tapi Lazio tetap melakukan serangan dari sayap.

Masuknya Balotelli pada menit bersamaan dengan masuknya Lulic membuat Biglia kembali ke posisinya sebagai poros ganda dengan Ledesma. Hal ini terjadi karena Milan tak lagi menyerang lewat sayap, dengan Kaka, Balotelli dan Pazzini yang menumpuk di tengah. Kendati begitu, peran Biglia tak murni bertahan seperti yang diintruksikan pada babak pertama. Ia masih mengemban peran sebagai box-to-box.

Masuknya Lulic membuat Gonzales memiliki peran yang sama sebagai box-to-box. Meski posisinya berada di belakang striker, passing yang ia lakukan hanya mencapai 13 kali. Angka itu tentu teramat kecil sebagai seorang attacking mielfider. Meski berada di belakang striker, Gonzales memang tak memerankan sebagai AM.

Saat menyerang, peran Biglia dan Gonzales hanyalah memanfaatkan bola mentah atau bola pantul yang diberikan oleh Baldo Keita. Proses gol yang dicetak Lazio pada menit 61 adalah karena taktik ini.


[Proses gol Lazio]

Kesimpulan

Inti kekuatan dari Lazio adalah pada 3 gelandang mereka yang naik dan bertahan secara serempak. Masalah muncul karena Lazio kadang terlalu mengandalkan serangan dari sayap saja. Dan serangan itu biasanya hanya dikonversi menjadi crossing.

Dalam match ini Lazio mencatatkan 33 umpan silang, dan dari sekian banyak percobaan itu hanya empat yang menemui sasaran.



Sebuah catatan menarik adalah jika ditilik dari 5 laga terakhirnya, Lazio selalu mencatatkan 25 umpan silang/laga. Dan mayoritas crossing berasal dari sayap kanan.

Sementara itu, di kubu tim tamu, untuk membongkar barisan pertahanan Lazio, Seedorf memang sempat mengubah-ubah taktik dan formasi Milan mulai dari 4-3-2-1, 4-4-2 hingga 4-3-3 seperti di akhir babak kedua, saat ia memasukkan Muntari dan menarik Andrea Poli. Sayang, rotasi yang Seedorf lakukan ternyata tak mampu membuahkan gol tambahan bagi Milan.

(a2s/cas)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads