Real Madrid belum bisa bangkit dari kekalahan di El Clasico. Mereka harus menyerah 1-2 di kandang Sevilla FC, stadion Ramon Sanchez Pijuan. Kekalahan Madrid kali ini tak lepas dari terlalu tingginya defensive-line mereka yang mampu dimanfaatkan dengan baik oleh counter attack Sevilla.
Hasil ini membuat Madrid turun ke peringkat tia klasemen. Madrid tertinggal tiga poin dari Atletico Madrid dan dua angka dari Barcelona. Sementara bagi Sevilla, hasil ini membuat mereka tetap menjaga jarak dengan Atletico Bilbao yang duduk di peringkat empat. Selisih 5 poin antara keduanya, dengan masih menyisakan 8 laga, membuka peluang bagi Sevilla untuk tetap menjaga asa lolos ke zona Liga Champions.
Line Up
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di kubu Sevilla, Unai Emrey sudah siap menahan gempuran Madrid dengan menumpuk lima gelandangnya di tengah. Strategi 4-2-3-1 yang ia terapkan kali ini lebih dikhususkan untuk bertahan dengan dua deffensive midfielder (DM) sejajar, yakni Stephane Mbia dan Vicente de la Fuente.
Crossing Buruk Madrid Tanpa Target Man
Seperti biasa, Madrid tampil menyerang dan terbuka melalui trio BBC: Bale, Benzema dan Cristiano Ronaldo. Masih dengan skema yang sama seperti laga-laga sebelumnya, Cristiano dan Bale diisntruksikan untuk sering-sering melakukan penetrasi ke tengah dan posisi sayap diisi oleh full back yang overlap.
Serangan bertubi-tubi Los Blancos sejak menit awal ini berbuah hasil di menit ke-14 ketika Coke Andujar terpaksa melanggar Ronaldo yang mencoba menusuk ke tengah. Ronaldo yang mengeksekusi sendiri tendangan bebas tersebut mampu membawa Real memimpin setelah bola tendangannya berubah arah karena membentur pagar hidup Sevilla.
Gol itu membuat Real makin percaya diri untuk tetap melancarkan skema melalui cutting inside dari CR dan Bale. Sayangnya, pola ini sudah bisa diantisipasi oleh Sevilla. Padahal sebelum gol tercipta, Luka Modric atau Illarramendi sempat mengkreasikan sebuah peluang dengan terobosan-terobosan mereka ke tengah. Tapi setelah gol, mereka cenderung mengalirkan bola ke full back yang sudah siap dengan overlap-nya untuk mengirimkan crossing. Sementara di tengah, trio BBC siap menanti kiriman umpan. Di sinilah letak kesalahan Ancelotti.
Walaupun terlihat pemain di dalam kotak kini menjadi tiga , Marcello dan Carvajal yang rajin mengirimkan umpan sebenarnya sering kesulitan menentukan siapa sebenarnya yang benar-benar menjadi target man. Walhasil mereka terlihat asal crossing dan akurasinya sangat buruk seerti gambar di bawah ini.

Hal itu berbeda dengan saat El Clasico lalu, di mana Bale dan CR7 lebih bersifat menjadi pengganggu dari bek lawan yang mengover Benzema. Kali ini Bale dan CR7 ikut menjadi target man dan membuat Benzema mengalah dan ke luar dari kotak penalti.
Striker asal Prancis ini lebih banyak bergerak di luar kotak penalti dan menjadi pemantul karena kedatangan dua wingernya tersebut. Daerah kekuasaan Benzema menyempit, ia tak leluasa untuk bergerak dan ini terjadi sepanjang pertandingan.

Di sini strategi bertahan Emrey patut diacungi jempol. Dua center back Sevilla, Nicolas Pareja dan Federico Fazio, tidak diinstruksikan menempel ketat Benzema. Meski striker Madrid itu keluar dari areanya, keduanya tak terpancing untuk mengejarnya. Fazio dan Pareja tetap disiplin di tempatnya untuk menutup ruang Gareth Bale dan CR7.
Possession Menjadi Bumerang
Ancelotti dengan ball possession-nya memang mampu memaksa Sevilla bertahan total meski mereka di depan pendukungnya sendiri. Namun, penguasaan bola ini justru menjadi bumerang bagi El Real.
Alih-alih ikut membantu penyerangan dengan possession, duo Pepe dan Varane malah jauh meninggalkan posnya. Mereka sangat keteteran menghadapi serangan balik cepat dari Sevilla yang mengandalkan striker pelari macam Carlos Bacca.

(Gambar Average Position kedua tim saat Real Madrid mengendalikan Possession)
Dua gol Sevilla terjadi karena bek-bek Real terlalu jauh meninggalkan garis pertahanan. Dari gambar di atas terlihat, bukan hanya jauh dari posnya, jarak Pepe dan Varane terlalu lebar. Malah sudah dibayangi tiga pemain Sevilla. Yaitu, Bacca, Ivan Rakitic dan Jose Antonio Reyes.
Counter Attack yang Dirancang Sevilla dengan Rapi
Saat terciptanya gol pertama seperti gambar di bawah ini, Carvajal sampai harus bergeser ke kiri, posisi di mana seharusnya Marcello berada. Sementara Illarramendi ikut mundur menemani Carvajal dalam mengejar Bacca. Illarramendi mengisi posisi yang seharusnya ditempati duo bek El Real atau paling tidak Xabi Alonso selaku DM.

(Proses Gol pertama Sevilla)
Dari gambar di atas juga terlihat Varane malah kalah beberapa langkah dengan Bacca dan Rakitic. Reyes pun punya dua opsi untuk mengirimkan bola ke Bacca atau Rakitic yang juga tak terjaga.
Begitu juga dengan gol kedua yang juga tercipta karena serangan balik dan terlalu majunya bek Real. Rakitic dengan skill memukaunya mampu memperdaya Pepe yang menjaganya di sisi kanan tengah lapangan. Rakitic kemudian melewati Varane sebelum mengirim assist kepada Bacca. Umpan terukur yang mengunci kemenangan Sevilla atas Real.

(Proses gol kedua Sevilla)
Pergantian Tak Efektif Ancelotti
Ancelotti sedikit blunder dengan pergantian pemain yang dilakukannya dini hari tadi. Isco dimasukkan untuk menggantikan Illarramendi pada menit ke-68, atau saat kedudukan masih 1-1. Padahal Illaramendi bermain cukup baik dan lumayan mampu memainkan peran sebagai box to box midfielder.
Β
Setelah tertinggal, Don Carlo kemudian memasukan Morata untuk menggantikan Modric yang sebenarnya bermain sama baiknya dengan Illarramendi. Jika memang memburu gol, akan lebih efektif jika Carlo menarik keluar Bale atau Benzema yang sepanjang laga terlihat kesulitan memposisikan dirinya dalam skema serangan saat memasuki final-third.
Andai salah satu trio BBC ditarik keluar, mungkin kebuntuan di depan bisa di atasi. Tapi dengan catatan, alur bola dari Illarramendi dan Modric lebih langsung diarahkan ke depan melalui umpan-umpan terobosan, karena umpan silang Madrid di laga ini terhitung buruk akurasinya.
Β
Rakitic dan Otak Serangan Balik
Bacca boleh jadi mencetak dua gol dan menjadi penentu kemenangan. Namun kunci kesuksesan Sevilla kali ini adalah dua gelandang Sevilla, Stephane Mbia dan, terutama, Rakitic. Dari dashboard kedua pemain ini terlihat skema serangan balik memang sudah diinstruksikan Emrey untuk dirancang oleh dua gelandang andalannya ini.
Mbia sangat dominan dengan umpan-umpan ke depan. Dari gambar di bawah ini juga terlihat chance created (garis panah biru muda) tergambar pendek di tengah lapangan. Umpan-umpan pendek itulah yang diteruskan menjadi peluang melalui solo run dan serangan balik.

Sementara Rakitic berperan besar terutama lewat dribling-dribling yang dilakukan dalam skema-skema serangan balik. Rakitic banyak menentukan ke titik mana serangan balik Sevilla ini akan diarahkan. Dengan satu drible cantik nan sukses berlanjut solo run yang diahkiri assist, Rakitic rasanya cukup layak menjadi pemain terbaik. Statistik juga menyebutkan bahwa dari 32 umpan yang ia buat, empat di antaranya menghasilkan peluang, dan hanya 9 umpan yang gagal menemui sasaran.
Kesimpulan
Ball possession memang lebih kuat dan akan membuat frustasi lawan jika center back ikut mengurung sampai ke garis tengah lapangan. Namun dengan catatan, dua bek tengah tersebut mempunyai kecepatan yang cukup mumpuni untuk kembali ke posnya. Jika tidak, malah akan menjadi bumerang jika lawan mampu dengan efektif menggelar serangan balik.
Garis pertahanan yang tinggi ala Madrid vs serangan balik yang efektif ala Sevilla, untuk kali ini, dimenangkan oleh Sevilla. Catatan sangat berharga bagi Ancelotti mengingat Madrid β dengan kualitas pemain yang dimilikinya-- selalu punya kemampuan untuk mendominasi penguasaan bola. Ancelotti tentu tak sudi jika di laga-laga berikutnya dia akan dihancurkan kembali oleh skema serangan balik.
(din/mrp)











































