Arsenal kehilangan kesempatan untuk memangkas jarak dengan tiga pesaingnya dalam perburuan gelar juara. Jika saja semalam Arsenal bisa menang, selisih poin dengan Chelsea sebagai pemimpin klasemen hanya tinggal 2 poin saja.
Hal yang sama berlaku bagi The Citizens. Kegagalan mempertahankan keunggulan 0-1 di babak pertama membuat City harus menunda keinginan menyamai poin dengan Chelsea.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Line Up
Dengan badai cedera yang menimpa anak asuhnya, Arsene Wenger sebenarnya tak memiliki banyak pilihan. Mau tak mau dia memaksimalkan potensi pemain yang ada.
Namun Wenger telah mengambil pelajaran besar dari kekalahan 0-6 saat berduel dengan Chelsea beberapa waktu lalu, dengan memilih tak bermain terbuka dengan menumpuk gelandang serang.
Alex Oxlade-Chamberlain yang tidak efektif ditempatkan sebagai central midfielder saat melawan Chelsea kali ini disimpan di bangku cadangan. Wenger lebih memilih Mathieu Flamini untuk menemani Mikel Arteta sebagai poros ganda dalam skema 4-2-3-1.

Wenger agaknya mencoba mengantisipasi bagaimana City yang juga fasih bermain dengan formasi serupa. Terutama dengan menempatkan Yaya Toure dan Fernandinho sebagai poros ganda.
Wenger tak mau timnya dihajar lagi oleh pressing ketat yang dilancarkan dua poros ganda Chelsea pada laga sebelumnya. Pilihan yang akhirnya terbukti cukup tepat untuk meredam City, kendati belum cukup mematikan untuk membunuh City.
Pertahanan City, Berlapis di Tengah Bolong di Sayap
Awalnya Wenger mencoba menginstruksikan anak asuhnya untuk menyerang dan mengalirkan bola dari tengah kepada Olivier Girourd. Namun pertahanan City di area ini cukup berlapis dan tangguh karena keberadaan Yaya Toure-Fernandinho yang melapisi duet Vincent Kompany–Martin Demichelis.
Celah di sisi sayap pertahanan City awalnya tak diperhatikan Arsenal. Meski mereka kemudian mencoba mengalihkan bola ke sayap dengan bantuan full back yang naik menyerang, tetap tak ada crossing yang dikirimkan untuk Giroud sebagai target man.
(Umpan sepertiga akhir Arsenal babak pertama – statszone)
Gambar di atas menjelaskan kala bola sudah berada di sayap, Arsenal tetap terpancang dengan instruksi Wenger untuk menusuk masuk dari tengah.
Alih-alih mengirimkan crossing, bola kembali dialirkan ke tengah. Dari tengah ke sayap, lalu dikembalikan ke tengah. Hasilnya: buntu. Terutama karena di depan center-back City ada Yaya Toure dan Fernandinho yang amat liat untuk ditembus.
Buntunya Arsenal ini dimanfaatkan dengan baik oleh City yang sudah siap dengan serangan balik. Majunya dua full back Arsenal, Bacary Sagna dan Keiran Gibbs, membuat David Silva leluasa membangun serangan balik.
Berkali-kali Silva mendapatkan momentum di mana dia memiliki sekian opsi mengalirkan bola ke jantung pertahanan Arsenal. Silva akhirnya lebih memilih mengalirkan bola ke sayap. Sebab Gibbs dan Sagna kerap terlambat kembali ke posnya.
Lihat gambar di bawah ini:


Meski gol yang dikemasnya berbau keberuntungan, Silva tetap layak diberikan kredit karena pilihan dan penempatan posisinya Umpannya ke Dzeko terhitung mematikan karena setidaknya pemilik nomor punggung 10 di City itu berhasil melakukan tendangan yang membentur tiang.
Silva dengan respons cepat menyambut bola rebound sepakan Dzeko itu, hingga berbuah gol yang membuat City unggul 1-0.
Wenger Membaca dan Mengubah Permainan
Permainan Arsenal terlihat berbeda usai turun minum. The Proffessor yang sadar dengan kegagalan strateginya di babak pertama langsung melakukan dua perubahan berarti.
Pertama, Wenger menginstruksikan anak asuhnya untuk mengoptimalkan crossing karena adanya celah di sayap pertahanan City.
Berbeda dengan babak pertama tadi, kini Wenger menginstruksikan jika bola sudah di sayap, maka aliran bola bisa dilanjutkan dengan umpan silang ke dalam kotak penalti.
Kedua, Wenger menginstruksikan Flamini untuk lebih aktif masuk ke dalam kotak penalti guna memecah perhatian dari pertahanan berlapis City. Selain itu kehadiran Flamini juga dapat menambah penerima umpan silang yang dikirimkan ke kotak penalti City.
Dua perubahan besar ini bisa menjelaskan bagaimana terjadinya gol balasan yang dicetak Arsenal. Umpan silang Lukas Podolski berhasil disambut oleh Flamini yang tiba-tiba saja merengsek ke dalam kotak penalti.
Gol itu dianulir wasit karena Flamini sudah berada dalam posisi offside. Tapi, gol yang dianulir itu setidaknya bisa menjelaskan bagaimana perubahan taktik Wenger membuahkan hasil dan akan diganjar dengan gol yang hanya tinggal menunggu waktu.

(Proses gol Flamini yang dianulir karena offside)
Gol yang ditunggu akhirnya datang dengan proses yang hampir sama dengan proses gol yang dianulir. Podolski mengirimkan umpan silang dari sisi kiri, disambut oleh Flamini yang lagi-lagi dengan tepat merengsek masuk ke dalam kotak penalti.
Cazorla dan Giroud, yang selalu menjadi perhatian lini pertahanan City ikut andil dalam proses gol ini. Keduanya membuat bek City terpecah konsentrasi dan Flamini memiliki ruang untuk mencetak gol memanfaatkan bola kiriman Podolski.

(Proses gol Arsenal melalui Flamini)
Flamini Jadi Kunci Redam Silva
Silva tetap menjadi motor serangan City di laga ini. Daya jelajahnya yang cukup tinggi di pertandingan ini tak lepas dari strategi Pellegrini yang ingin terus menguasai bola.
Penguasaan bola City dengan memanfaatkan lebar lapangan dan jarak antar pemain yang rapat itu membuat gelandang Spanyol berusia 28 tahun tersebut harus terus menghampiri setiap pemain City yang memegang bola. Silva cukup sukses dan City mampu menguasai bola di final third.
Wenger kali ini bisa membaca peran penting Silva ini. Dan untuk meredam dominasi Silva dalam mengatur arah serangan, Wenger tak meminta anak asuhnya untuk menjaga Silva, tapi mencegah agar Silva tak mendapatkan asupan bola di babak kedua.
Cara yang dilakukan Wenger adalah dengan memaksimalkan poros ganda yang dipasangnya, Arteta dan Flamini. Keduanya lebih difokuskan ke sayap antara kiri dan kanan saat bertahan.
Selain meminimalisir bola yang datang dari atau ke Silva, Wenger mencoba membatasi ruang gerak motor serangan City tersebut. Hal itu sebenarnya cukup beresiko bagi Arsenal. Sebab, saat menyerang Flamini juga diminta lebih aktif ke dalam kotak penalti lawan.
Posisi Flamini yang kerap berada di baris depan, memungkinkan Silva untuk bebas tanpa kawalan. Namun, Flamini tampil disiplin di laga ini. Ia menjalankan peran box to box midfielder dengan baik. Perannya sebenarnya mirip dengan apa yang dilakukan Yaya Toure.
Situasinya saja yang agak berbeda: Toure cenderung lebih aman dari resiko serangan balik. Sebabnya, meski cukup rajin ikut menyerang, namun ia masih dalam posisisi di lini kedua.
Tapi, setidaknya Flamini cukup sukses menjalankan instruksi Wenger. Meski dari segi statistik secara keseluruhan ia masih kalah dengan rekan setimnya, Cazorla, Flamini tetap layak dijadikan sebagai man of the match. Gol dan kinerjanya sudah menjadi bukti bahwa ia yang terbaik di pertandingan ini.
Kesimpulan
Wenger terhitung sukses di laga ini. Mulai penempatan dua DM di line up hingga perubahan
strateginya mampu meredam City yang akhir-akhir ini lebih superior ketimbang Arsenal. Meski sempat salah strategi dalam menyerang, namun manajer asal Prancis itu mampu mengubahnya dengan baik.
Flamini dan umpan silang menjadi kunci kesuksesan Wenger. Pellegrini sendiri tidak cukup jeli mengantisipasi perubahan taktikal yang dilakukan Wenger.
Beberapa perubahan kecil yang dilakukannya sudah terlambat untuk mengubah kembali keadaan. Arsenal sudah mendapatkan ritme dan kenyamanannya dalam bermain.
Di luar soal perburuan gelar, laga semalam sebenarnya cukup menarik secara taktikal. Perubahan taktik menyerang yang dilakukan Wenger terbukti bisa meredam agresivitas City.
Setidaknya Wenger berhasil rekor cleansheet enam laga berturut-turut yang dimiliki anak asuh Manuel Pellegrini.
(cas/a2s)










































