Blunder dan Kecerobohan Gagalkan Rancangan Taktik yang Tepat dari Mou

Liga Champions: PSG 3-1 Chelsea

Blunder dan Kecerobohan Gagalkan Rancangan Taktik yang Tepat dari Mou

- Sepakbola
Kamis, 03 Apr 2014 15:15 WIB
Blunder dan Kecerobohan Gagalkan Rancangan Taktik yang Tepat dari Mou
REUTERS/Benoit Tessier
Jakarta -

Dua tim kaya raya, Chelsea dan Paris Saint Germain, bertemu di babak perempatfinal Liga Champions semalam. Menjadi tuan rumah, PSG berhasil menaklukkan tamunya dari Inggris itu dengan skor 3-1.

Mourinho Tanpa Striker

Cederanya Samuel Eto'o membuat Jose Mourinho memutuskan bermain tanpa striker. Forward Jerman Andrea Schuerrle lalu ditugaskan untuk memimpin serangan, dibantu oleh Eden Hazard, Willian, dan Oscar dari lini kedua.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam konfrensi pers seusai pertandingan, Mou mengatakan bahwa pemilihan Schuerrle dikarenakan ia tidak percaya pada kinerja lini depannya. Tapi, menurut Mou, dengan menempatkan Schurrle, setidaknya ia mempunyai satu pemain tambahan yang bisa menguasai bola meski Schuerrle tidak berbahaya.

Di kubu tuan rumah, PSG bermain dengan kekuatan penuh mereka. Hanya bek kanan Gregory van der Wiel yang tidak dapat diturunkan karena cedera. Sisanya, semua pemain kunci Laurent Blanc dapat bermain dalam kondisi prima.


[Starting Line-up. Sumber: whoscored.com]

Pressing Tinggi Chelsea

Mourinho memerintahkan para pemainnya untuk melakukan pressing tinggi sejak awal. Ia pun menginstruksikan empat pemain tipe di depan dan dua pemain poros ganda untuk melakukan man marking kepada setiap pemain PSG. Tujuannya adalah untuk menghentikan umpan-umpan pendek lawan, dengan menempel ketat setiap pemain PSG yang mungkin untuk dioper.

Pola permainan ini berbeda dengan lini pertahanan. Keempat bek Chelsea justru bermain rapat di daerah kotak penalti mereka sendiri. Tujuannya memang sangat jelas, yaitu mematikan pemain paling berbahaya dari PSG, Zlatan Ibrahimovic.

Peran Ramires dan Luiz

Dampak dari pressing tinggi dan garis pertahanan yang rendah adalah terciptanya ruang kosong di tengah lapangan. Namun, hal ini pun sudah diantisipasi oleh Mourinho dengan menempatkan dua poros ganda yang powerful, yaitu Ramires dan David Luiz.

Keduanya sukses menjalankan peran mereka untuk menutup ruang terbuka di zona tengah ini. Mereka tercatat membuat 10 tekel berhasil di area tengah lapangan sepanjang laga. Keduanya juga berkali-kali sukses mematikan Blaise Matuidi, sehingga PSG kesulitan membuka serangan. Apalagi porsi pengaturan serangan dibebankan pada Matuidi ketimbang dua gelandang lainnya.

Matuidi memang terkesan berdiri sendiri di area tengah. Marco Veratti dan Thiago Motta lebih berperan dalam menjemput bola di belakang dan membantu pemain bertahan yang langsung ditekan lini depan Chelsea.

Hal inilah yang kemudian menyebabkan alur bola PSG dari belakang ke depan menjadi terputus di daerah tengah. Dari chalkboard defensive action di bawah, terlihat bahwa para pemain Chelsea bahkan berhasil merebut bola semenjak area pertahanan PSG sendiri. [Sumber: fourfourtwo.com]



Pressing tinggi lini depan Chelsea dan kinerja apik Ramires dan Luiz ini sayangnya tidak diikuti oleh para bek Chelsea. Lini pertahanan The Blues malah melakukan blunder pada awal pertandingan, yaitu dengan melakukan clearance yang sangat buruk.

Akibatnya, Ezequiel Lavezzi pun bisa mendapatkan bola dan berdiri di ruang kosong, karena Luiz dan Ramires sudah terlanjur bergerak ke depan untuk menutup pergerakan Matuidi. Tendangan Lavezzi pun meluncur deras ke gawang Peter Cech.

Ibrahimovic Sebagai Playmaker

Melihat kondisi serangan tim yang tidak berjalan mulus, Blanc menarik Ibrahimovic sedikit lebih ke belakang. Ini dilakukan untuk dua hal: menghilangkan pengawalan ketat 4 bek Chelsea pada Zlatan, dan membantu Matuidi dalam menghubungkan bola dari belakang ke depan.

Namun dari sini timbul masalah berikutnya. Mundurnya Ibrahimovic dari posisi terdepan membuat daerah kotak penalti Chelsea menjadi minim dari pergerakan pemain PSG.

Apalagi Edinson Cavani dan Lavezzi lebih banyak beroperasi dari sayap, ketimbang berada di tengah. Ini karena Cavani dan Lavezzi bertugas untuk menerima umpan-umpan diagonal yang bisa merepotkan barisan pertahanan Chelsea. Terlihat pada chalkboard, setidaknya ada 10 umpan diagonal pada final third Chelsea berhasil sampai ke kaki pemain PSG. Namun, rapatnya keempat bek Chelsea di tengah menyebabkan serangan PSG kemudian juga mentah ketika masuk ke kotak penalti Chelsea.



Chelsea mendapat sedikit keberuntungan karena Thiago Silva juga melakukan kecerobohan dengan melanggar Oscar di daerah terlarang. Hadiah penalti yang diberikan wasit tidak disia-siakan oleh Hazard. Chelsea pun berhasil menyamakan kedudukan dan meraih sebuah gol tandang.

Menurunkan Pressing dan Melakukan Serangan Balik

Di babak kedua PSG kembali mendapat angin segar dengan gol bunuh diri yang dilakukan oleh Luiz. Chelsea pun kembali tertinggal 1-2.

Mou lalu mengganti cara bermain Chelsea dengan menurunkan pressing yang diperagakan para pemainnya di babak pertama. Para penyerang Chelsea tidak lagi menekan barisan pertahanan PSG. Pemain-mereka ebih berkonsentrasi membentuk zonal marking di daerahnya sendiri.

Mourinho juga memasukkan Torres menggantikan Schuerrle yang tampil tak efektif di depan. Harapannya, Torres dapat menyelesaikan masalah minimnya daya dobrak Chelsea akibat tidak adanya penyerang mematikan di depan. Mou juga ingin kembali mencuri gol dengan memanfaatkan kemampuan Torres dalam serangan balik yang cepat. Tak lupa, Mou juga memasukkan Frank Lampard yang pandai dalam mengirimkan umpan panjang.

Namun skenario Mourinho ini tidak menjadi kenyataan. Serangan balik Chelsea tidak berjalan cukup efektif. Bahkan, sepanjang babak kedua mereka tak berhasil melepaskan satu pun tendangan ke gawang PSG.

Terlihat pada chalkboard operan Chelsea berikut ini bagiamana umpan-umpan panjang Chelsea, ketika memulai serangan balik, harus mentah di kaki para pemain bertahan PSG.



Dengan Chelsea yang bertahan dan bermain zonal, Blanc pun menambah amunisi kreativitas pada babak kedua. Ia memainkan Pastore untuk menggantikan Lavezzi. Pergantian ini terbukti efektif. Pastore, yang memang mumpuni dalam bermain dalam ruang sempit, mampu men-dribble tiga orang pemain Chelsea dan melesakkan gol ketiga.

Kesimpulan

Mourinho datang ke Paris dengan tujuan menghentikan tiga senjata tajam PSG dalam diri Ibrahimovic, Cavani, dan Lavezzi. Ia pun telah menemukan cara yang tepat, yaitu menginstruksikan lini depan untuk pressing dan menahan pergerakan Veratti dan Motta, serta menempatkan Ramires dan Luiz untuk mematikan Matuidi, dan merapatkan barisan pertahanan demi mematikan Ibrahimovic.

Tapi rencana ini buyar karena kinerja buruk lini pertahanan yang memberikan satu blunder dan satu gol bunuh diri untuk PSG. Belum lagi jika bicara tentang gol injury time yang tercipta karena para pemain Chelsea membiarkan Pastore begitu saja melenggak-lenggok melewati tiga pemain. Tak heran jika Mou pun mengatakan bahwa gol ketiga PSG ini sebagai lelucon.

Kekalahan 3-1 ini membuat Mourinho dan anak asuhannya harus mendaki gunung yang terjal pada leg ke dua nanti di London. Sedangkan Blanc hanya tinggal bermain hati-hati dan mencari aman saja dengan permainan yang lebih defensif.

(a2s/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads