The Toffees Memanfaatkan Imbas dari Agresifnya Fullback The Gunners

Liga Inggris: Everton 3-0 Arsenal

The Toffees Memanfaatkan Imbas dari Agresifnya Fullback The Gunners

- Sepakbola
Senin, 07 Apr 2014 13:24 WIB
The Toffees Memanfaatkan Imbas dari Agresifnya Fullback The Gunners
REUTERS/Darren Staples
Jakarta -

Bertandang ke Goodison Park, Arsenal berencana memperlebar jarak dengan Everton untuk mengamankan tiket ke Liga Champios musim depan. Apa daya, upaya ini kandas setelah Everton melesakkan tiga gol tanpa sekali pun mampu dibalas oleh anak-anak asuhan Arsene Wenger.

Hasil laga ini membuat Arsenal tetap dengan 64 angka, sedangkan Everton 63 poin. Peluang Everton menyalip Arsenal pun kian lebar mengingat mereka masih menyisakan selisih satu pertandingan sisa.



SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arsenal masih tetap dilanda badai cedera. Akibatnya Arsene Wenger pun tak memiliki banyak pilihan dalam starling line-up-nya. Tak heran jika pemain yang diturunkan sama seperti saat The Gunners menahan Machester City pekan sebelumnya. Wenger hanya melakukan satu perubahan pada posisi bek kiri, yaitu mengganti Kieran Gibbs dengan Nacho Monreal.

Sementara itu, pada kubu tuan rumah pelatih Roberto Martinez sedikit pergantian taktik dengan menggeser-geser posisi pemain. Romelu Lukaku, yang biasa beroperasi sebagai target-man, ditukar dengan Steven Naismith dan dijadikan sayap kanan. Sejatinya posisi ini diisi oleh Kevin Mirallas. Namun, berhubung Everton kehilangan Steven Pienaar akibat cedera, maka posisi Mirallas digeser ke sayap kiri.

Hal menarik terjadi pada posisi Leon Osman. Sejak menit-menit awal, Martinez memilih membangkucadangkan gelandang serang mereka, Ross Barkley. Namun entah karena kesengajaan atau faktor lainnya, ketika laga baru berjalan sepuluh menit, Osman sudah ditarik keluar dan digantikan dengan Barkley. Masuknya Barkley inilah yang membuat Arsenal ketar-ketir.

Everton yang Tak Memakai Striker

Ada yang unik dengan bergesernya Lukaku ke sayap kiri. Pada pertandingan ini Everton sebenarnya tak memakai striker tunggal seperti laga biasanya. Kehadiran Naismith menggantikan Lukaku di depan membuat Everton seolah memakai striker bertipikal false nine.



Hal ini terlihat dari luasanya area aksi Naismith. Selain berlari ke sayap kanan dan mundur jauh membantu Mirallas, dia juga berlari ke sayap kiri bekerja sama dengan Lukaku membantu penyerangan. Terlihat bagaimana area aksi Naismith lebih banyak sejajar dengan para gelandang. Hal inilah yang membuat Arsenal terpancing untuk menerapkan high defensive line.

Everton memang memilih bermain sabar dan menunggu serangan balik. Saat diserang, 8-9 pemain mereka sudah mundur ke belakang dan menjaga kerapatan antara lini di area pertahanan mereka sendiri.

Saat Arsenal memainkan bola di tengah, Everton pun tak melakukan pressing yang ketat. Karenanya, jika ditinjau dari grafik passing Arsenal di bawah ini (sumber: squawka.com) , wajar saja The Gunners terlihat menguasai area tengah.



Meski demikian, penguasaan bola Arsenal ini dibarengi dengan kesulitan menembus barisan pertahanan Everton, karena tak adanya bantuan dari lini tengah mereka. Flamini dan Arteta diintruksikan Wenger untuk tak terlalu menyerang guna menutup Ross Barkley yang menyerang dari tengah.

Apa yang dilakukan dua pemain ini memang sukses, karena Everton hanya menyerang lewat sayap. Tapi sebagai konsekuensi adalah lini serang Arsenal yang menjadi tumpul. Saat memasuki daerah pertahanan Everton, Arsenal selalu kalah jumlah. Imbasnya The Toffees pun dengan mudah melakukan intersepsi. Tercatat, dari 16 kali intersepsi, 15 di antaranya dilakukan di area pertahanan Everton sendiri.

Lini awal pertahanan Everton digawangi oleh trio gelandang Ross Barkley – Gareth Barry – James McCarthy. Untuk membongkar tembok ini, Wenger terlihat mengintruksikan free role kepada Rosicky dan Cazorla. Namun, dari grafik passing keduanya di bawah, terlihat bahwa minim umpan yang bisa diarahkan ke dalam kotak penalti.


[Passing Cazorla dan Rosicky]

Memanfaatkan Lukaku di Sayap Kanan

Pada laga ini Everton cenderung bermain melebar. Taktik Martinez yang menempatkan Lukaku di sayap kanan amatlah tepat. Martinez tak mengintruksikan Lukaku untuk mundur seperti yang dilakukan pada Mirallas saat bertahan, karena inti serangan Everton terletak di sayap kanan.

Pasalnya, Arsenal hanya mengandalkan Montreal seorang untuk bertahan di area ini, karena Podolski jarang mundur untuk membantu pertahanan. Ini berbeda pada area kanan pertahanan Arsenal. Saat Everton melakukan serangan balik dari daerah ini, ada Sagna, Cazorla, atau Rosicky yang akan menghalangi.

Ada yang khas dari duet Lukaku dan Naismith. Saat menyerang, kedua pemain ini akan berlari diagonal ke arah satu sama lain untuk membuat bingung barisan pertahanan Arsenal. Gol pertama dan kedua Everton pun sukses dicetak berdasarkan skema ini.

Kelemahan Fullback yang Jadi Penyebab Kekalahan



Salah satu poin penyebab kekalahan Arsenal adalah kedua fullback-nya yang terlampau sering overlapping. Martinez mungkin belajar dari kelemahan Arsenal saat menghadapi Manchester City pada laga sebelumnya. Agresivitas Sagna dan Montreal, sehingga keduanya selalu telat mundur, lalu membuat Flamini dan Arteta kewalahan.

Ini terutama terlihat di sayap kanan pertahanan Arsenal. Penempatan Ross Barkley agak lebih ke kiri membuat segitiga-segitiga antara Mirallas-Barkley-Nasimith lancar berjalan dan mempermudah Everton mengeksploitasi sayap kanan Arsenal.

Flamini memang mampu meredam Barkley untuk merangsek ke lini tengah, tapi dirinya tak mampu menahan Barkley memberikan umpan-umpan bola daerah luar kepada Mirallas dan Leigton Baines.

Memasuki babak kedua Wenger mengubah taktik dengan menahan Nacho Montreal untuk tak terlalu naik. Tujuannya jelas yaitu guna mencegah Lukaku seperti pada babak pertama. Serangan Arsenal otomatis mengalami ketimpangan karena Wenger fokus menyerang dari kiri. Tapi, naiknya Sagna kadang jadi masalah, seperti yang terjadi pada gol ketiga Everton.

Kesimpulan

Kekalahan Arsenal terjadi karena kedua fullback yang terlampau agresif menyerang, sementara kedua poros ganda tidak mampu menutup ruang kosong yang ditinggalkan fullback. Imbasnya kedua bek tengahlah yang mesti mengisi kekosongan itu.

Masalah muncul saat Everton memanfaakan serangan lewan umpan-umpan satu dua. Para pemain bertahan Arsenal selalu kalah cepat menutup pergerakan pemain Everton ini.

Sementara itu, kemenangan yang didapat Everton tak lepas dari taktik Martinez yang mengintruksikan anak asuhnya sabar dan menunggu Arsenal melakukan kelengahan. Transisi bertahan dan menyerang yang cepat, khususnya pada 3 gelandang Ross Barkley – Gareth Barry – McCarty menjadi kunci.

Sementara itu, Naismith yang memerankan false nine sering membuat dua bek tengah Arsenal, Mertesacker dan Vermalen, terpancing. Lubang-lubang inilah yang biasanya dimasuki oleh Lukaku, Barkley atau Mirallas.

Hasil kemenangan Everton ini membuat persaingan di papan atas Liga Inggris semakin sengit, karena persaingan tak hanya melulu soal penentuan gelar juara. Naiknya Everton dan turunnya performa Arsenal membuat penentuan satu kursi untuk lolos ke Liga Champions akan tersaji hingga musim berakhir.


===

* Dianalisis oleh Pandit Football Indonesia. Akun twitter: @panditfootball


(a2s/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads