Mourinho Menembus Area Tengah PSG dengan 3 Striker

Liga Champions: Chelsea 2-0 PSG

Mourinho Menembus Area Tengah PSG dengan 3 Striker

- Sepakbola
Rabu, 09 Apr 2014 15:37 WIB
Mourinho Menembus Area Tengah PSG dengan 3 Striker
AFP/Glyn Kirk
Jakarta - Liga Champions kembali menyuguhkan drama nan menarik. Kali ini terjadi di Stadion Stamford Bridge, London. Chelsea, yang tertinggal 3-1 di pertandingan pertama, akhirnya berhasil lolos setelah menang 2-0 pada leg kedua. Gol penentu pun hadir pada menit ke-89, setelah Demba Ba berhasil menyambar bola liar di depan gawang Sirigu.

Susunan Pemain

Tidak mau kehilangan tiketnya ke semifinal, Jose Mourinho langsung memainkan pemain-pemain terbaiknya. Samuel Eto’o, yang belum dalam kondisi prima, dipaksakan bermain untuk mengisi posisi penyerang. Sementara di belakang Eto’o, pelatih asal Portugal itu menempatkan tiga gelandang penyerang andalannya, Eden Hazard, Oscar, dan Willian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedangkan pada kubu tim tamu, Laurent Blanc tidak banyak merubah pemainnya dari pertemuan pertama minggu lalu. Hanya saja Zlatan Ibrahimovic sedang cedera, sehingga harus digantikan oleh Lucas Moura. Posisi ujung tombak pun diisi oleh Edinson Cavani, yang minggu lalu ditempatkan sebagai penyerang kanan. Sementara slot Cavani pada leg pertama ditempati oleh Moura. Trio Gelandang masih dipercayakan kepada Thiago Motta, Marco Verratti, dan Blaise Matuidi.


Starting line up Chelsea (kiri) dan PSG (kanan). Sumber: whoscored.com

Aksi Motta Menutup Wilayah Tengah

Unggul dua gol pada leg pertama, Laurent Blanc memerintahkan para pemainnya untuk bermain lebih aman. Ketiga gelandang PSG bermain rapat di tengah untuk mengawal para barisan pertahanan dari serangan gelandang-gelandang Chelsea.

Defensive line PSG juga dipasang cukup rendah. Para pemain PSG baru melakukan pressing ketika Chelsea sudah masuk ke daerah pertahanan mereka. Kesebelas pemain PSG, bahkan termasuk Edinson Cavani, pun ikut turun ke daerah pertahanan untuk menutup serangan Chelsea.

Mourinho sendiri memang memerintahkan para pemainnya untuk bermain lebih terbuka. Kedua fullback Chelsea diberikan tugas untuk aktif maju menyerang dengan Frank Lampard dan David Luiz yang mengatur aliran bola di tengah.

Pada prakteknya, Chelsea kemudian lebih banyak memainkan seranganannya dari sisi sayap. Hal ini disebabkan oleh Thiago Motta yang dengan sangat baik menjaga wilayah tengah PSG untuk menutup pergerakan para pemain Chelsea yang masuk ke tengah.

Motta memiliki tugas untuk melakukan man marking kepada pemain Chelsea yang masuk ke daerahnya. Pada awal pertandingan, Oscar lah yang berada pada posisi ini. Hasilnya, sulit bagi Oscar untuk dapat beraksi karena tidak ada ruang baginya untuk bergerak. Tak heran jika serangan Chelsea kemudian lebih banyak dilakukan dari sisi sayap, karena Oscar pun akhirnya lebih sering bermain melebar untuk mencari ruang (lihat grafik aksi Oscar hingga menit ke-30 di bawah)



Dengan Oscar yang bermain melebar, Chelsea akan unggul dalam jumlah pemain di sisi sayap. Tapi Laurent Blanc tentu tidak mau melihat anak asuhnya diobrak-abrik dari sisi sayap.

Hal ini membuat Blanc menggeser Verratti, atau Matuidi, untuk membantu fullback mereka menahan serangan Chelsea di sisi sayap. Dengan begitu, sulit bagi para pemain Chelsea untuk melakukan cutting inside masuk ke kotak penalti PSG.

Akhirnya, umpan sialng menjadi satu-satunya pilihan Chelsea untuk membuka peluang. Namun, lagi-lagi barisan pertahanan PSG yang sudah berdiri rapat di tengah membuat crossing Chelsea selalu dapat dimentahkan.

Terlihat pada chalkboard di bawah ini bagaimana serangan Chelsea yang lebih banyak dari sayap karena tidak memiliki ruang di tengah.


Chalkboard operan Chelsea di babak pertama. Sumber: fourfourtwo.com

Blanc Tak Mau Ambil Risiko di Tengah

PSG sebenarnya tidak bermain 100% bertahan karena gol tandang tentu akan semakin membuat jalan ke semifinal terbuka lebar. Tapi Blanc juga tidak mau mengambil resiko terlalu besar. Ketika menyerang, dia tetap tidak mau membuka wilayah tengahnya. Ketiga gelandang PSG tetap diperintahkan berjaga di belakang dan tidak ikut naik terlalu jauh.

Blanc mempercayakan semua serangannya pada trio penyerang yang dibantu kedua fullback dari kanan dan kiri. Blanc ingin memanfaatkan lubang yang ditinggalkan fullback Chelsea saat menyerang dengan cara melepaskan bola ke daerah kanan dan kiri pertahanan Chelsea.

Namun kemudian, serangan PSG pun tidak cukup efektif. Pemain PSG memang berhasil memasukan bola ke sisi sayap pertahanan Chelsea, tapi minimnya opsi pemain yang dapat menjadi sasaran operan menyebabkan serangan PSG mengalami kebuntuan.

Chalkboard operan PSG di bawah ini menunjukan bagaimana PSG kandas sebelum memasuki kotak penalti Chelsea.


Chalkboard operan PSG di babak pertama. Sumber: fourfourtwo.com

Sangat membutuhkan gol, Mourinho kemudian memanfaatkan sekecil apapun peluang untuk dapat mencetak gol. Termasuk dari throw in. Pemain Chelsea dengan kemampuan duel udara terbaik diperintahkan maju, ketika Chelsea mendapatkan lemparan ke dalam di daerah pertahanan PSG.

Hasilnya, pada menit ke-32, lemparan ke dalam Ivanovic, yang langsung diarahkan ke kotak penalti PSG, berhasil disambut oleh David Luiz yang berujung pada tendangan terarah Schurrle ke gawang Sirigu. Chelsea pun kemudian menutup babak pertama dengan skor 1-0.

Babak Kedua, Permainan Terbuka Kedua Tim

Pada babak kedua, kedua tim semakin banyak melakukan jual beli serangan. Chelsea, yang masih membutuhkan gol, memasukkan 2 striker tambahan, yaitu Demba Ba dan Fernando Torres. Ini membuat formasi Chelsea berubah menjadi 4-3-3. Sementara itu, PSG coba menambah kreativitas serangan dengan memasukan Cabaye dan Pastore menggantikan Verratti dan Lavezzi.

Berkurangnya jumlah gelandang Chelsea menyebabkan garis pertahanan Chelsea harus lebih naik untuk mengisi wilayah tengah. Ditariknya Frank Lampard otomatis membuat David Luiz hanya tinggal seorang diri di tengah. Untuk itu, John Terry dan Gary Cahill pun harus menyesuaikan diri dengan tidak berdiri terlalu jauh dengan Luiz agar tetap dapat menutup ruang di tengah.

Dampaknya, pertahanan Chelsea akan menjadi rentan diserang dengan bola panjang yang langsung menuju gawang. Benar saja, PSG yang melihat celah ini langsung banyak melakukan bola-bola panjang yang langsung ditujukan kepada Cavani dan Moura di depan.


Grafik Serangan PSG di Babak Kedua – Mengandalkan Umpan-Umpan Panjang

Hasilnya pun dapat dikatakan cukup efektif, PSG hampir saja dapat mencetak 3 gol kalau saja 2 tendangan Cavani dan 1 tendangan Maxwell tidak melenceng dari gawang.

Chelsea dengan Tiga Striker

Kehadiran dua penyerang tambahan berhasil membuat serangan Chelsea menjadi lebih bervariatif. Kali ini, Chelsea tidak hanya dapat masuk ke kotak penalti PSG hanya melalui bola-bola crossing.
Β 
Aksi Motta, yang menutup serangan Chelsea dari tengah dengan melakukan man marking ketat pun sudah tidak efektif lagi. Selain karena Oscar, Hazard, dan Lampard telah ditarik keluar, tumpuan serangan Chelsea pun jadi berpindah pada tiga striker yang berada di depan.

Tapi tiga striker yang bertipikal hampir sama, dan bisa menjadi target man, ini tidak ditempatkan pada area yang sama. Eto’o tetap di tengah, sementara Torres dipasang di kanan sementara Ba di kiri. Ini membuat barisan pertahanan PSG dipaksa untuk melebarkan permainan, dan merenggangkan barisan. Dengan adanya tiga striker yang bisa memerankan ujung tombak, Mou pun tak ragu untuk mengirimkan umpan panjang seperti halnya PSG (lihat chalkboard di bawah)


Chalkboard Operan Chelsea di Attacking Third Pada Babak 2. Sumber: fourfourtwo.com

Ancaman ini direspons oleh Blanc dengan memasukkan satu bek tengah tambahan menggantikan penyerang sayap mereka. Lucas Moura ditarik keluar dan digantikan oleh Marquinhos. Harapannya adalah PSG dapat mempertahankan kondisi keunggulan mereka.

Namun ternyata, usaha Blanc kali ini tetap gagal. Pada menit ke-87, tendangan Azpilicueta yang sempat diblok ternyata masih dapat dilanjutkan oleh Demba Ba yang lepas dari pengawalan Maxwell, sementara bek PSG yang lain juga tertarik ke arah kanan oleh Torres dan Eto’o. Chelsea pun berhasil meraih gol kedua sekaligus tiket ke babak semifinal Liga Champions tahun ini.

Pada sisa 3 menit pertandingan ditambah perpanjangan waktu, Mourinho langsung memerintahkan pemainnya untuk bermain rapat di belakang, termasuk 3 penyerangnya yang sebelumnya bermain jauh di depan. Torres dan Demba Ba ikut membantu kedua fullback di kanan dan kiri menahan serangan PSG. Keunggulan 2-0 ini pun berhasil dipertahankan Chelsea hingga peluit panjang berbunyi.

Kesimpulan

Kedua pelatih telah mengerahkan kemampuan terbaiknya dan mengeluarkan semua amunisi yang mereka punya. Kalah bukan berarti Blanc melakukan banyak kesalahan strategi, Blanc telah berhasil menahan serangan-serangan Chelsea sepanjang pertandingan. Ini terutama dilakukan dengan menjaga ketat lini tengah, dengan gelandang tengah yang rapat dengan barisan pertahanan.

Bahkan, sebenarnya Blanc juga berhasil memanfaatkan lubang pada pertahanan Chelsea setelah pada babak kedua Cavani berhasil lolos 2 kali. Sayangnya penyerang asal Uruguay ini tidak dapat mengeksekusi bola dengan baik sehingga PSG gagal meraih gol tandang.

Sedangkan Mourinho memang berhasil memilih strategi dan para pemainnya dengan baik. Terutama pada pergantian pemain yang dilakukan. Masuknya Demba Ba dan Torres pada babak kedua berhasil memecah kebuntuan serangan Chelsea. Mourinho pun berhasil memberikan tiket Chelsea ke babak semifinal Liga Champions tahun ini.

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini


(roz/mfi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads