Kemenangan Taktik Djanur atas Suharno

ISL: Persib 3-2 Arema

Kemenangan Taktik Djanur atas Suharno

- Sepakbola
Senin, 14 Apr 2014 14:22 WIB
Kemenangan Taktik Djanur atas Suharno
ANTARA FOTO/Agus Bebeng
Jakarta -

Persib Bandung mampu menghentikan rentetan kemenangan Arema Cronus di ISL 2014 melalui laga yang seru, dramatis dan diwarnai adu taktik di Stadion Si Jalak Harupat, Sorang, Kabupaten Bandung, Minggu (13/4/2014).

Tertinggal dua gol di babak pertama, tuan rumah "Pangeran Biru" mampu membalikkan keadaan di babak kedua dengan tiga gol balasan. Skor akhir 3-2.

Kemenangan tersebut juga membuat Persib mampu merebut puncak klasemen sementara ISL yang sebelumnya dipegang Arema. Kedua tim hanya berjarak satu poin saja, namun Arema masih menyisakan satu pertandingan lebih banyak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Bagaimana Kedua Tim Melakukan Pressing

Pada awal pertandingan kedua tim sama-sama memberikan tekanan dengan merebut bola sesegera mungkin, bahkan hingga daerah lawan. Meski menggunakan formasi yang berbeda, namun Persib dan Arema memiliki cara yang hampir sama dalam memberikan tekanan.

Arema memanfaatkan tiga penyerang mereka untuk mencegah aliran bola mengalir dari belakang. Gonzales, Samsul, dan Dendi membentuk barisan pertahanan pertama mereka di depan. Bahkan beberapa kali Gustavo Lopes juga ikut naik ke depan. Keadaan ini membuat Arema lebih terbuka di belakang, karena hanya Bustomi dan Juan Revi yang melindungi empat bek Arema saat terjadi serangan balik.

Sedangkan Persib, meski sama-sama menggunakan tiga pemain di depan dalam menekan, namun melakukan pembagian peran yang lebih baik. Komposisinya Djibril, Firman, dan salah satu sayap (Atep/Ridwan) secara bergantian. Atep/Ridwan jarang sekali secara bersamaan menggantung di final-third saat Arema sedang menguasai bola. Salah satu dari kedua flank Persib pasti turun jika di areanya menjadi awal serangan Arema.

Selain itu, transisi dari bertahan ke menyerang Arema terlalu berganting pada Gustavo sehingga lebih statis dan mudah untuk digagalkan. Praktis selama 15 menit pertama pertandingan berjalan, Persib mampu menguasai jalannya pertandingan. Persib bahkan berani melakukan pressing di sepertiga lapangan akhir Arema.

Dua peluang Persib pada 15 menit pertama melalui Konate dan Vujovic, yang bermula dari pergerakan Ridwan di kanan, lahir karena pressing yang dilakukan pemain Persib terhadap back-four Arema. Igbonefo dan Gathuessi berkali-kali tertekan sehingga sering asal membuang bola ke depan.

Djajang Nurjaman juga menerapkan garis pertahanan yang tinggi kepada empat beknya, yang membuat Gonzales juga harus ikut turun membantu menjemput bola karena minim asupan. Arema menjadi tidak dapat memainkan bola dengan bebas di area sepertiga akhir melalui umpan 1-2. Satu pola yang menjadi andalan mereka saat dua kali mengalahkan Maziya di ajang Piala AFC.

Taktik Jitu dari Suharno

Menariknya, kendati Persib mendominasi penciptaan peluang lewat pressing sejak area pertahanan Arema, justru Persib yang kebobolan lebih dulu dengan taktik yang hampir sama: Arema melakukan pressing pada center-back Persib yang berujung blunder dan kemudian berhasil dikonversi menjadi gol.

Menerima back-pass dari Hariono, Vujovic yang berada di depan kotak penalti langsung ditekan oleh Syamsul Arif yang masuk dari sisi kiri. Syamsul berhasil memenangkan duel dan bisa langsung berhadapan dengan kiper Made Wirawan. Gol. 1-0 untuk "Singo Edan".

Taktik Suharno bisa diacungi jempol. Dia dengan pas sekali mengatur pembagian peran, cara dan area bermain Gonzales, Gustavo dan Syamsul Arif. Beberapa hal bisa dicatat untuk menjelaskan taktik Suharno ini.

Pertama, dia memerintahkan Syamsul untuk melakukan cutting inside ke jantung pertahanan. Tapi Syamsul melakukannya dengan efektif dan berulang kali justru ketika dia tak sedang membawa bola. Saat bola dikuasai center-back Persib, Syamsul akan masuk dan memberikan tekanan. Persib agak kerepotan menghadapi cara bermain Syamsul ini. Gol pertama pun lahir dari skema ini.


[Syamsul menekan Vujovic pada gol pertama Arema]

Kedua, Gonzales banyak turun sedikit ke bawah sehingga posisinya kadang agak sejajar dengan Gustavo. Ini memancing garis pertahanan Persib untuk naik ke atas dan meninggalkan lubang yang sering dieksploitasi oleh Syamsul dengan kecepatan larinya.

Kombinasi dua hal itu membuat pertahanan Persib, khususnya setelah blunder Vujovic, menjadi goyah dan mudah panik. Vujovic yang dikontrak dengan alasan punya kemampuan memainkan dan mengalirkan bola dari belakang (ball-playing defender) berkali-kali membuat umpan-umpan panjang yang lebih sering sia-sia.

Untuk meredam ketajaman sisi kanan Persib yang mengandalkan kombinasi Ridwan-Supardi, Suharno juga membuat perubahan kecil. Sadar bahwa Alfarizi sebagai full-back kiri selalu mudah dilewati Ridwan-Supardi, Arema lantas membagi peran antara Juan Revi-Bustomi sebagai poros ganda (double-pivot) dengan salah satunya secara konstan bergerak mendekati Alfarizi. Tujuannya jelas untuk meredam duet Supardi-Ridwan di sisi kanan.

Kondisi ini diperparah dengan gagalnya Firman Utina menjadi penghubung antarlini Persib. Firman kesulitan melepaskan diri dan membantu Coulibally. Dua peluang Persib di 15 menit pertama melalui skema coming from behind, justru dilakukan oleh Konate dan Vujovic, bukan Firman yang secara posisi mestinya berada di belakang Coulibally untuk menyambut bola-bola muntah atau crossing dari sayap.

Pada situasi inilah Arema kembali mencetak gol melalui sepak pojok Gustavo Lopez. Pertahanan Persib kembali terkoyak oleh situasi yang mestinya bisa diatasi dengan mudah. Bola tendangan Gustavo jatuh di depan Made tanpa ada yang bisa menghalau. Bola melaju dengan cepat dan arah yang tak terduga. 2-0.

Jawaban Taktik Djanur untuk Suharno

Tetinggal 0-2 membuat Persib mau tak mau harus melakukan perubahan taktikal. Dan di babak II ini, Djanur dengan baik sekali merespons dominasi taktik Suharno di babak I.

Pertama, Djanur memasukkan Tantan untuk menggantikan Atep yang tak berperan maksimal. Tantan adalah jawaban sempurna dari Djanur untuk merespons cara Arema mengganggu pertahanan Persib melalui Syamsul Arif.

Tantan memang punya tipikal yang sama Syamsul, sama-sama cepat, eksplosif, dan bisa berperan melalui sektor sayap. Seperti halnya Syamsul, Tantan juga banyak melakukan cutting inside. Gol kedua dan ketiga Persib yang dicetak oleh Firman dan Konate menjelaskan dengan baik bagaimana Tantan mengubah alur pertandingan. Dua gol itu semuanya berasal dari assist Tantan.

Gol Firman menjelaskan perubahan taktik Persib dengan masuknya Tantan. Coulibally mulai agak sering turun sedikit ke bawah dan memberi kesempatan Tantan untuk banyak masuk ke area center-back Arema.

Gol itu bermula dari Coulibally yang turun ke bawah, dia menerima bola, lalu memberikan umpan terobosan pada Tantan yang sudah berada di kotak penalti. Tantan yang masuk ke kotak penalti dari sisi kanan, memaksa fullback kiri Arema, Benny Wahyudi, ikut bergerak ke dalam. Ketika Tantan mengirimkan bola ke tiang jauh, tidak ada yang mengawal Firman yang tiba-tiba saja muncul dari area yang biasanya ditempati Tantan. Gol.


[Tantan cutting inside, Benny Wahyudi terpancing masuk ke kotak, Firman bebas di kiri]

Gol penentu kemenangan Persib lagi-lagi melalui umpan Tantan yang berhasil memancing Igbonefo bergerak ke luar posnya melapis Benny Wahyudi. Saat Tantan melepas bola ke tengah kotak penalti, hanya tinggal Ghatuessi di jantung pertahanan, sehingga Konate dengan leluasa menyambut bola dan melesakkan gol.

Sementara gol pertama Persib yang dicetak oleh Coulibally menjelaskan kemampuan Djanur mengantisipasi taktik Suharno yang meminta Juan Revi banyak bergerak ke kanan untuk melapis Alfarizi yang kedodoran menghadapi serbuan Ridwan-Supardi. Saat Revi banyak ke kanan, Djanur itu justru memerintahkan Ridwan lebih banyak main agak ke tengah di babak II. Ini counter-tactic yang berhasil.


[Proses gol pertama Persib. Revi justru mengisi sisi kanan pertahanan.]

Gol Coulibally lahir dari Ridwan yang menguasai bola bukan di sisi kanan, tapi lebih di tengah, dan itu membuatnya lebih leluasa. Ketika Ridwan mengirim umpan terobosan pada Supardi, justru Juan Revi dan bukan Alfarizi yang justru mengejar Supardi yang masuk dari sisi kanan. Supardi dengan mudah mengirim umpan mendatang yang berhasil dikonversi Coulibally menjadi gol.

Perubahan Berikutnya Setelah Taufiq Masuk

Setelah memperkecil ketinggalan lewat Coulibally, Djanur mengganti Hariono dengan Taufiq pada menit 75 untuk memastikan dominasi penguasaan bola. Djanur ingin terus menggempur Arema lewat serangan-serangan dari sayap dengan lebih dulu menguasai posession. Taufik berhasil melewati sekitar 20 menit bermain dengan memberi kontribusi yang berarti.


[Statistik Taufiq, menit 75-90]

Masuknya Taufiq ini dilanjutkan dengan mendorong Konate lebih aktif ke depan. Maka ada empat pemain yang kini berada di sekitar Coulibally yaitu Konate yang naik ke depan, Firman yang kini banyak bergerak ke kiri membantu Tantan, Tantan di sisi kiri dan Ridwan yang tidak lagi ajeg di di sisi kanan.


[Skema menyerang Persib di babak II]

Perubahan inilah yang berhasil dikonversi menjadi gol kedua (Firman yang muncul dari sisi kiri) dan gol ketiga (Konate masuk ke kotak penalti dari lini kedua). Dalam situasi ini, Persib bermain dengan formasi 4-1-4-1. Hanya Taufik seorang yang melindungi center-back. Itu pun Taufik diminta untuk berani lebih banyak memainkan bola untuk mengendalikan possession.

Ini perubahan yang berisiko sebenarnya. Tapi Djanur tak punya pilihan karena saat Taufiq masuk Persib masih ketinggalan 1-2. Tapi Djanur memenangkan perjudian lewat perubahan-perubahan taktik yang berani.

Situasi terlihat menjadi lebih memungkinkan bagi perjudian Djanur karena Suharno praktis tak membuat perubahan taktik atau adaptasi untuk mengantisipasi cara main Persib yang berbeda. Ada sedikit perubahan memang dengan melihat posisi Syamsul yang lebih sering berada di sisi kanan pertahanan Persib ketimbang babak I yang dominan bergerak dari sisi kiri Persib.

Agaknya perubahan ini dilakukan untuk membantu Benny Wahyudi yang kini keteteran menghadapi Tantan yang banyak dibantu Firman. Akan tetapi, perubahan ini justru membuat Arema tak punya daya ledak di depan. Tanpa Syamsul yang rajin melakukan cutting inside untuk melakukan pressing pada Vujovic-Jufriyantio, lini pertahanan Persib menjadi jauh lebih nyaman.

Suharno baru memasukkan Hendro Siswanto untuk menggantikan Bustomi pada menit 86. Waktu yang terlalu pendek bagi Hendro untuk memberikan kesegaran bagi Arema. Apalagi Gonzales sudah dikunci dengan terus dipaksa main lebih ke bawah.

Kesimpulan

Agak mengherankan sebenarnya melihat bagaimana Suharno membiarkan begitu saja perubahan-perubahan taktik Djanur tanpa memberikan respons taktikal yang berarti. Suharno bahkan baru membuat 3 pergantian pemain sekaligus setelah Persib berbalik unggul. Sunarto, Aris Suyono dan Hendro Siswanto masuk untuk memberikan daya gedor penyerangan. Tapi terlalu terlambat. Perubahan yang dilakukan Suharno terlihat reaksioner dan bukannya antisipatif.

Arema, misalnya, tetap bertahan dengan cara yang sama yaitu dengan melebarkan gelandang mereka untuk memperkuat kedua sayap. Tentu hal ini membuat tekanan gelandang Persib menjadi lebih kecil. Inilah yang membuat Konate dan Firman bisa leluasa di final third. Keunggulan 2-0 di babak I membuat Suharno lengah. Dia alpa mengingat kalau dua gol Arema di babak I sebenarnya terbantu oleh blunder dan kesalahan lini pertahanan Persib sendiri.

Laga ini berlangsung dengan dramatis, seru dan diwarnai perubahan-perubahan taktik yang mengubah banyak hal. Suharno unggul di babak I, Djanur membalikkan keadaan di babak II.


===

* Dianalisis oleh Pandit Football Indonesia. Akun twitter: @panditfootball

(a2s/rin)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads