Liga Champions: Real Madrid 1-0 Bayern Munich

Serangan Balik Super Cepat Madrid dan Penjagaan Ganda pada Robben-Ribery

- Sepakbola
Kamis, 24 Apr 2014 12:57 WIB
Mike Hewitt/Getty Images
Jakarta - Real Madrid berhasil memenangi leg pertama semifinal Liga Champions melawan Bayern Munich. Tim asuhan Carlo Ancelotti ini unggul sementara melalui gol semata wayang yang dicetak oleh Karim Benzema. Dengan hasil ini, El Real tinggal berharap hasil imbang pada pertemuan kedua di Allianz Arena.

Sama-Sama Pincang

Kedua tim harus bertanding dengan beberapa pemain pilar dalam keadaan kurang fit. Real Madrid tetap memaksakan Cristiano Ronaldo untuk tampil, meski bintang asal Portugal ini belum sembuh 100% dari cederanya. Akhirnya Ronaldo pun harus ditarik pada menit ke-74 setelah kembali mengalami masalah hamstring.

Sementara itu, pemain termahal dunia saat ini, Gareth Bale, akhirnya tidak diturunkan langsung oleh Ancelotti. Pemain asal Wales ini hanya dimasukan ke dalam daftar pemain cadangan lalu tampil pada jelang penghujung laga untuk menggantikan Ronaldo.

Di kubu Bayern Munich, David Alaba yang diragukan tampil akhirnya bisa diturunkan. Berbeda dengan Ronaldo, Alaba dapat bermain penuh hingga akhir pertandingan. Sedangkan beberapa nama lain yang masih baru menyelesaikan perawatan cederanya, seperti Thomas Muller dan Javi Martinez, harus memulai pertandingan dari bangku cadangan.


Starting XI Real Madrid (kiri) dan Bayern Munich (kanan)

Counter Attack Real Madrid

Melihat statistik pertandingan, kita dapat membayangkan kira-kira seperti apa jalannya laga dinihari tadi. Ball possession 27,9% bagi Real Madrid berbanding 72,1% bagi Bayern Munich. Operan berhasil Bayern Munich pun mencapai 634, sementara Madrid hanya sekitar sepertiga dari itu, yaitu 220 operan berhasil. Bayern pun bisa mencatatkan attemp sebanyak 18 kali, dengan Madrid hanya 9 peluang.

Ya, tidak salah jika Anda langsung membayangkan pertandingan berlangsung setengah lapangan di wilayah permainan Real Madrid saja. Karena memang kenyataannya seperti itu. Bermain di depan publiknya sendiri, Real Madrid memilih untuk bermain lebih tertutup dan mengandalkan serangan balik.

Keputusan Ancelotti untuk menggandalkan counter attack memang beralasan. Ancelotti tentu tahu bahwa Pep Guardiola selalu memerintahkan anak asuhnya untuk menyerang dengan penguasaan bola tinggi, melalui operan pendek dari kaki ke kaki. Permainan menyerang Munich ini juga mengharuskan kedua fullback aktif ikut menyerang dan dengan kedua bek tengah yang berdiri sangat tinggi.

Hal inilah yang diincar Ancelotti untuk menembus pertahanan Munich. Kecepatan para penyerang Madrid, yang sama sekali tidak bisa diimbangi oleh dua bek tengah Munich, menjadi keuntungan yang tidak mau disia-siakan Ancelotti.

Pemain Real Madrid akan dengan sabar menunggu para pemain Munich mulai naik meninggalkan daerahnya. Setelah itu, pressing mulai dilakukan penggawa El Real untuk merebut penguasaan bola dan melancarkan serangan balik. Bola panjang dan umpan-umpan terobosan untuk mengincar ruang di belakang dua orang bek tengah merupakan cara Madrid dalam memulai serangan balasan.

Rencana Ancelotti ini langsung berbuah hasil pada menit ke-18 babak pertama. Umpan terobosan Cristiano Ronaldo sampai kepada Coentrao yang masuk ke ruang kosong di belakang Boateng. Sementara itu, Boateng maupun Dante sama sekali tidak bisa mengimbangi kecepatan Coentrao yang kemudian memberikan umpang ke tengah kepada Benzema. Pemain asal Perancis ini pun tinggal menceploskan bola ke dalam gawang.

Chalkboard di bawah ini menggambarkan bahwa 1 dari 5 operan yang dilakukan Madrid pada pertandingan semalam adalah bola-bola panjang ke daerah pertahanan Munich (55 dari total 276 operan).


Bola-bola panjang yang dilepaskan Real Madrid selama pertandingan

Buntunya Serangan Munich

Membicarakan serangan Bayern Munich pada pertandingan semalam, kita tidak boleh melewatkan aksi dua gelandang mereka, Toni Kroos dan Philipp Lahm. Kedua pemain inilah yang paling aktif berkontribusi menjaga daerah tengah lapangan sekaligus merancang semua serangan Bayern Munich. Terlepas dari tidak adanya serangan Munich yang menghasilkan gol, namun hasil penguasaan bola 72% adalah ulah 2 gelandang asal Jerman ini. Kroos melepaskan 128 operan dengan 119 di antaranya berhasil, sedangkan Lahm melepaskan 97 operan dengan 88 di antaranya berhasil.


Chalkboard aksi Philipp Lahm (kiri) dan Toni Kroos (kanan)

Namun masalahnya kemudian adalah Bayern tidak memiliki gelandang serang yang berada di tengah. Hal ini menyebabkan Kroos maupun Lahm tidak memiliki jalan untuk mengalirkan bola kepada Mandzukic. Satu gelandang Munich lainnya, Schweinsteiger, lebih berdiri melebar ketimbang mengisi ruang kosong di antara Kroos dan Mandzukic.

Aliran bola Munich akhirnya hanya bisa dialirkan kepada Robben dan Ribery yang berada di sayap kanan dan kiri. Namun ternyata hal ini sudah diperkirakan oleh Ancelotti. Memaksa aliran bola ke sayap adalah jebakan lain yang sudah disiapkan Ancelotti untuk meredam serangan Munich.

Mengarahkan Bola Bayern ke Zona Sayap

Madrid bertahan dengan menggunakan formasi 4-4-2 dan melakukan zonal marking dengan disiplin. Empat gelandang menjadi tembok lapisan pertama pertahanan Madrid yang mengganggu para pemain Munich dalam mempersiapkan serangan. Keempat gelandang ini pula yang menutup aliran bola Munich ke tengah dan mengarahkannya pinggir.

Setelah bola sudah berpindah ke pinggir, kali ini giliran dua pemain yang berada di sayap yang beraksi, Carvajal dan Di Maria di kanan serta Coentrao dan Isco di kiri. Kedua inverted winger Munich, Ribery dan Robben, dibuat tidak bisa menusuk ke tengah akibat jalur masuk ke kotak penalti ditutup oleh dua orang pemain Madrid tersebut.

Bola akhirnya hanya bisa dikembalikan sedikit ke belakang, yaitu pada dua fullback Munich yang naik membantu serangan. Namun Alaba dan Rafinha pun tidak dapat berbuat banyak dengan hanya melepaskan crossing ke tengah.

Kini giliran Pepe dan Ramos yang bertugas. Tidak sulit bagi kedua bek tengah Madrid ini untuk mementahkan crossing Munich mengingat hanya ada Mandzukic di dalam kotak penalti. Tercatat, sepanjang pertandingan, Munich melepaskan hingga 40 kali umpan silang dan hanya 10 di antaranya yang sampai ke pemain Munich lainnya.

Efek Thomas Muller

Serangan Munich baru mulai menemukan titik cerah ketika Schweinsteiger digantikan oleh Thomas Muller. Berbeda dengan Schweini, posisi natural Muller memang seorang gelandang serang yang beroperasi di area antara barisan gelandang dan pertahanan lawan. Dengan demikian, serangan Munich menjadi lebih bervariasi karena bisa masuk melalui tengah. Selain itu, Muller yang ikut menjadi penyerang tambahan pun memberikan opsi lain bagi crossing-crossing Munich. Apalagi pemain ini pun pintar mencari celah dalam ruang sempit. Terbukti, ia mampu membuat peluang terbaik bagi Munchen dengan pergerakannya.

Namun sepertinya Pep tidak mau bertaruh dengan kondisi Muller yang masih belum fit 100%. Pep hanya berani untuk menurunkan Muller pada 15 menit akhir pertandingan. Pada akhirnya tidak banyak yang bisa dilakukan Muller dalam waktu yang cukup singkat tersebut.

Kesimpulan

Kecerdikan Ancelotti dalam memilih taktik yang tepat membuat Madrid selangkah lagi sampai ke babak final Liga Champions tahun ini. Meski hal ini belum bisa membuat Madrid bersantai, mengingat mereka harus menjalani laga kedua di Allianz Arena. Bagaimanapun juga, Ancelotti mesti belajar dari kesalahan mantan klubnya, PSG, yang sudah unggul 2-0 di leg pertama namun akhirnya disingkirkan Chelsea di perempat final.
 
Pemilihan strategi yang tepat merupakan salah satu penyebab unggulnya Madrid pada pertandingan ini. Serangan balik merupakan cara yang cukup efektif melihat garis pertahanan Munich yang dipasang cukup tinggi. Ditambah lagi Madrid memiliki pemain-pemain yang mampu mengungguli kecepatan lini bertahan Munich. Tentu taktik ini sangat menguntungkan.

Dalam bertahan, Madrid pun berhasil menemukan strategi yang tepat. Robben dan Ribery memang dua pemain yang berbahaya dengan skill individu di atas rata-rata. Namun masing-masing pemain ini ternyata tidak cukup tangguh jika dihadapkan pada dua pemain Madrid sekaligus.

Zonal marking yang dilakukan para gelandang Madrid juga berhasil memisahkan jarak antara gelandang Munich dengan penyerang mereka. Dengan begitu aliran bola Munich ke tengah dapat dihentikan.
Namun Ancelotti harus memikirkan cara lain untuk bisa mempertahankan keunggulan pada leg kedua nanti. Muller yang sudah sembuh dari cedera, serta beberapa pemain Munich lainnya yang sudah lebih fit, tentu akan memberikan opsi serangan lebih banyak bagi Pep.

Maka dari itu, masih belum ada yang pasti dalam pertandingan ini. Keunggulan satu gol Real Madrid sama sekali tidak menjamin mereka dapat melaju ke final. Semuanya masih harus ditentukan dengan 2 kali 45 menit di Allianz Arena.




(din/cas)