Gelandang-gelandang AS Roma punya peran amat penting dalam laga melawan AC Milan, Sabtu (26/4/2014) dinihari WIB. Kreativitas mereka sangat membantu Roma meraih kemenangan.
Bertandang ke Stadion Olimpico Roma, Milan membawa rasa percaya diri yang amat kuat. Pelan tapi pasti, pelatih Clarence Seedorf bisa meracik dan memperbaiki skuat Milan. Terbukti, dalam lima laga terakhir di Serie A, Milan mampu menyapu bersih kemenangan.
Salah satu faktor pendukung kebangkitan Milan ini adalah semakin jarangnya rotasi yang dilakukan Seedorf di lini depan dan lini tangah. Tampaknya dia telah menemukan formula yang pas bagi lini serang untuk menjalani sisa kompetisi.
Trio Kaka, Adel Taarabt, dan Keisuke Honda belakangan jadi pilihan Seedorf. Tak lupa, penampilan stabil Mario Balotelli juga ikut berperan atas mengalir derasnya gol-gol Milan. Dalam 5 pertandingan terakhir sebelum melawan Roma, Milan telah mencetak 11 gol β raihan statistik tertinggi di musim ini.

Melawan Roma, Seedorf sendiri membuat sedikit perubahan taktik. Untuk pertama kalinya dia memakai 4-4-2 sejak menit-menit awal.
Kaka, yang biasa dioperasikan di lini tengah, digeser naik sedikit dan berposisi sejajar dengan Balotelli. Sedangkan duet poros ganda yang merapat di lini belakang, yaitu Riccardo Montolivo dan Sulley Ali Muntari, dibuat agak maju ke tengah sejajar dengan Taarabt dan Honda.
Taktik yang dilakukan Seedorf ini tentu saja untuk memperkuat lini tengah, sektor yang juga merupakan kekuatan AS Roma. Sayangnya ujicoba ini berbuah kegagalan. Rekor kemenangan Milan dihentikan oleh Roma -β tim yang menang beruntun dalam 8 pertandingan sebelum melawan Milan.
Sementara itu, Roma harus bermain tanpa bek Mehdi Benatia yang mengalami cedera. Sementara di lini tengah, absennya Kevin Strootman akibat cedera mampu ditutupi dengan baik oleh Radja Nainggolan. Pada laga dini hari tadi, bersama Miralem Pjanic dan Daniele De Rossi, Nainggolan jadi salah satu faktor penentu kemenangan Giallorossi.
Milan yang Bermain Sabar
Roma yang bermain tanpa striker dan mengandalkan Francesco Totti sebagai false nine membuat Milan menerapkan garis pertahanan amat tinggi. Ini karena lini pertahanan Milan terpancing oleh para penyerang Roma yang mundur ke tengah. Hanya saja, naiknya lini belakang Milan tak dibarengi dengan para gelandang yang maju ke depan.
Gelandang mereka lebih berperan defensif. Jarak antara Montolivo dan Muntari dengan back four tak lebih dari 15 meter. Peran Honda dan Taarabt pun lebih bertahan di area Milan sendiri.
Otomatis Milan menumpuk banyak pemain di lini tengah. Ada dua lapis lini pertahanan yang saling bertumpuk di area tengah Milan.
Kondisi ini membuat Roma kesulitan masuk ke area final third. Sepanjang 15 menit pertama, Roma hanya mampu membuat 1 attempt. Dari grafis passing pun terlihat bahwa Roma kesulitan menembus barikade Milan.

Passing Roma menit 1-15
Cara Garcia Mematikan Balotelli
Penampilan apik Balotelli, yang mencetak empat gol dalam delapan laga terakhir, membuatnya menjadi poros utama serangan Milan. Pada laga ini, Seedorf memang menginstruksikan anak asuhnya untuk bermain bertahan dan memanfaatkan serangan balik. Dan pola itu diarahkan kepada Balotelli.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya pada laga ini Balotelli tampil kurang baik. Dibandingkan dengan laga-laga sebelumnya, Seedorf memang memberikan peran yang berbeda kepada Balotelli.
Posisi Balotelli oleh Seedorf digeser ke sayap kanan untuk menyisir garis tepi lapangan. Taktik itu dilakukan jelas untuk mengeksploitasi fullback kiri Roma, Dodo, yang sering overlapping. Biasanya, saat melakukan serangan balik, Balotelli akan berlari diagonal dan langsung melakukan tembakan.

Untuk menghambat Balotelli, pelatih Roma Rudi Garcia menginstruksikan bek tengah Leandro Castan mencegah Balotelli berlari diagonal. Castan terlihat beberapa kali menggiring Balotelli menyisir bola di garis lapangan. Alhasil, dengan sudut ruang tembak yang sempit, Balotelli pun selalu kesulitan menerobos barisan pertahanan Roma.
Terlebih Balotelli tak mendapatkan bantuan dari rekan di belakangnya. Fullback kanan, Daniele Bonera, tak diinstruksikan Seedorf untuk naik. Sosok Honda pun telat datang membantu karena pergerakannya memang dihalangi oleh Nainggolan.

[Rataan Posisi Pemain babak 1. Sumber espnsfc.net]
Peran Pjanic, Ljajic, Nainggolan, dan Gervinho dalam Membongkar Pertahanan Milan
Sebenarnya Roma menyerang hanya dengan lima orang pemain. Di sisi lain, saat bertahan, Milan hampir menumpuk seluruh pemainnya kecuali Balotelli dan Kaka yang disimpan di depan.
Kesuksesan Garcia dalam mengatasi taktik Seedorf itu tak lepas dari tiga gelandang Pjanic β Nainggolan β De Rossi yang memiliki peran berbeda. Garcia menginstruksikan Pjanic dan Nainggolan bermain melebar, sementara De Rossi ditarik mundur ke belakang. Taktik ini menyisakan kekosongan di tengah yang lalu dikuasai oleh Milan lewat Montolivo-Muntari.
Untuk menyiasatinya, Garcia meminta Nainggolan, Pjanic, Gervinho, dan Adem Ljajic untuk bergerak bebas membongkar barisan pertahanan Milan. Taktik ini sering membuat Nainggolan terlihat menjadi seorang striker, atau Gervinho menjadi seorang gelandang di tengah.
Lantas ke mana peran Totti? Totti bertugas menjadi pemantul bola.

[Grafis passing Nainggolan, Pjanic, Ljajic dan Gervinho]
Skema ini membuat Roma mengeksploitasi pertahanan Milan lewat umpan-umpan pendek dan dribbling. Gol yang dicetak oleh Roma lewat Pjanic pada menit 45 pun berasal dari taktik ini.
Ada faktor lain yang membuat Roma mampu mencetak gol dengan skema ini. Hal itu tak lain adalah minimnya pressing yang dilakukan oleh Milan.
Β
Lini belakang Milan seolah membiarkan Roma berlama-lama memegang bola di depan kotak penaltii. Saat Pjanic mencetak gol, pemain Milan menyangka dia akan memberikan passing ke arah sayap, mengingat Roma memang tak menempatkan striker.
Tapi, nyatanya Pjanic berani menggiring bola hingga ke kotak pinalti. Terlihat dengan jelas adanya kekagetan dari lini belakang Milan menghadapi serangan ini. Apa yang dilakukan Pjanic sempat juga dilakukan oleh Gervinho, Nainggolan, dan Ljajic. Dari 14 attempt yang dicetak Roma, 8 di antaranya terjadi di kotak penalti dan semua peluang itu berawal dari skema ini.
Kesimpulan
Kalahnya Milan tak lain disebabkan ketergantungan Seedorf kepada Balotelli. Lantas, saat Balotelli dimatikan, Milan pun kelabakan. Seedorf memang sempat mengganti Balotelli dan memasukan Giampaolo Pazzini. Namun upaya itu datang terlambat, karena Milan sudah tertinggal dua gol oleh Roma.
Eksperimen Seedorf dengan menggeser Balotelli ke sayap memang membuat barisan pertahanan Milan cukup tangguh dan sulit ditembus Roma. Terbukti butuh waktu 45 menit bagi Roma untuk membobol gawang Christian Abbiati.
Di lain kubu, kemenangan atas Milan ini menegaskan bahwa Roma memang memiliki para gelandang terbaik di Serie A. Dari raihan catatat 71 gol yang dicetak Roma, 43 gol di antaranya dicetak oleh gelandang. Tak ayal pantas dikatakan bahwa kemenangan yang didapat ketika melawan Milan ini pun berkat kreativitas para gelandang mereka.











































