sepakbola
Liga Inggris: Everton 2-3 Manchester City

Taktik Sempurna Martinez Dirusak Kelalaian Tiga Bek Tengah Everton

Terpopuler Jadwal Pertandingan Klasemen Liga Hasil Pertandingan Man of The Match Gila Bola Foto Video Infografis
Liga Inggris: Everton 2-3 Manchester City

Taktik Sempurna Martinez Dirusak Kelalaian Tiga Bek Tengah Everton


- detikSepakbola

Laurence Griffiths/Getty Images
Laurence Griffiths/Getty Images
Liverpool - Manchester City kembali ke puncak klasemen sementara Premier League setelah berhasil mengalahkan Everton 3-2 di Goodison Park. Anak-anak asuhan Manuel Pellegrini ini menggeser Liverpool yang kalah selisih gol. Kedua tim kini sama-sama menyisakkan 2 pertandingan sisa dalam perebutan gelar juara.

Roberto Martinez sedikit memberikan kejutan dengan menurunkan pola yang tidak biasanya. Everton bermain dengan menggunakan formasi dasar 3-5-2 dengan Phil Jagielka, John Stones, dan Antolin Alcaraz berperan sebagai tiga bek di tengah.

Pada posisi gelandang, Martinez memercayakan pada James McCarthy dan Leon Osman sebagai gelandang bertahan serta Ross Barkley sebagai gelandang serang, sementara Steven Naismith dan Romelu Lukaku dipercaya untuk membongkar pertahanan City.

Pellegrini sendiri memainkan formasi 4-4-2 yang biasa digunakan. Namun, kurang fitnya David Silva membuat City hanya bisa mengandalkan Yaya Toure sebagai gelandang serang.

Memancing City Untuk Rebut Bola

Martinez bukan sekadar memainkan formasi kejutan pada pertandingan ini, tapi juga cara bermain yang berbeda.

Sekilas, Everton terlihat bermain mengandalkan possession dan memperlambat tempo. Bahkan terlihat pada babak pertama bahwa Everton bisa memegang ball possession hampir 55 persen-nya.

Hasil chalkboard operan pada babak pertama pun menunjukkan bagaimana Everton banyak melakukan operan-operan pendek untuk menjaga ball possession. Jumlah operan Everton pada babak pertama mencapai 358 kali, jauh lebih banyak dari City yang hanya melepaskan 292 operan.

Namun, operan-operan yang dilakukan Everton hanya dilakukan di daerah sendiri dan cenderung monoton tanpa adanya penetrasi ke daerah pertahanan City. Dari keseluruhan operan yang dilakukan Everton, hanya 40 yang dilakukan di daerah final third.



Chalkboard Operan Everton Pada Babak Pertama

Apa yang dilakukan Everton dengan memainkan bola-bola pendek bukanlah mencoba bermain tiki taka ala Barcelona, melainkan menunggu para pemain City mulai terpancing naik untuk merebut bola. Ketika itulah serangan mereka akan dimulai.

City memainkan pola 4-4-2 dengan seorang gelandang serang dan seorang gelandang bertahan di tengah. Meski tidak membentuk pola 4-4-2 diamond, namun Toure memiliki tugas lebih menyerang ketimbang Javi Garcia. Ini membuat Garcia sering dalam keadaan seorang diri menjaga daerah tengah, karena Toure akan meninggalkan daerahnya saat menyerang ataupun saat melakukan pressing.

Faktor inilah yang diincar Martinez untuk menembus pertahanan lawannya. Ketika hanya Garcia seorang diri yang menjadi pelapis dua centre back City, Everton langsung melancarkan serangan cepat ke jantung pertahanan.

Caranya adalah dengan menggunakan Barkley yang diposisikan di belakang dua striker, atau mendorong kedua fullback untuk naik. Dengan solo run Barkley, maupun bola panjang yang diarahkan kepada dua fullback yang berlari cepat, Everton mencoba membongkar pertahanan City dalam waktu singkat.

Rencana cerdik Martinez ini langsung membuahkan hasil pada menit ke-11. Dalam kondisi seorang diri, Javi Garcia tidak cukup kuat untuk menutup pergerakan semua pemain Everton yang menyerang dengan cepat.

Maka, Barkley dengan tenang dan tanpa pengawalan mampu melepaskan tendangan melengkung dari luar kotak penalti yang tidak dapat dijangkau Joe Hart.

Pola Pertahanan Sempurna Everton

Dengan cara bermain seperti ini, sebenarnya Everton sebenarnya memiliki risiko sangat besar untuk kecolongan gol. Ini bisa dianalisis pada dua kondisi.

Kondisi yang pertama adalah ketika para pemain belakang Everton gagal memainkan ball possession di daerah pertahanan mereka. Ketika City melakukan pressing dan pemain belakang Everton melakukan blunder seperti salah oper atau gagal menguasai bola dengan baik, maka gawang Everton akan langsung terancam.

Untungnya peristiwa ini tidak terjadi. Oper-operan Everton berjalan lancar tanpa blunder. Meski seringkali operan-operan berisiko dilakukan di daerah pertahanan sendiri, tidak ada satu pun yang kemudian berhasil dipotong pemain City.

Kondisi ancaman yang kedua adalah jika serangan cepat Everton terpotong di tengah jalan. Kedua fullback yang sudah terlanjur naik akan meninggalkan lubang besar di daerah pertahanan.

Sebagai antisipasi, Martinez menempatkan dua gelandang bertahan; Osman dan McCarthy, untuk melapisi tiga centre back mereka. Hal ini membuat pertahanan Everton tetap rapat meski mereka sedang menyerang.

Everton juga membentuk pertahanan yang kokoh ketika City memiliki penguasaan bola. Kedua fullback ditarik mundur menjaga daerah sayap, sementara tiga centre back akan berdiri rapat di dalam kotak penalti.

Demikian juga dengan Lukaku dan Naismith yang ditugaskan untuk membantu pertahanan. Kedua striker ini bergerak melebar untuk melapisi daerah sayap di depan kedua fullback.

Kondisi pertahanan seperti ini sempat membuat motor serangan City kewalahan. Toure, yang jadi pengatur serangan City, harus selalu berhadapan dengan 2 orang pemain di tengah. Sulit bagi Toure untuk merancang serangan City ketika daerah kerjanya dipenuhi para pemain Everton.

Sampai sini, apa yang direncanakan Martinez sebenarnya sudah sangat sempurna. Ia berhasil menemukan pola serangan dan pola bertahan yang sempurna untuk menghadapi Pellegrini.

Kelalaian Centre Back Everton

Tapi, semua rencana Martinez ini akhirnya tidak berarti apa-apa ketika tiga centre back mereka gagal menjalankan tugas dengan baik saat bertahan.

Martinez sendiri memasang tiga orang sebagai bek tengah dengan tujuan mengawasi dua striker City di depan. Stones dan Alcaraz masing-masing bertugas menjaga Edin Dzeko dan Sergio Aguero, sedangkan Jagielka lebih berperan memberikan bantuan di tengah.

Ketiga gol City terjadi justru ketika Alcaraz dan Stones lupa akan tugasnya.

Pada gol pertama, Alcaraz terpancing untuk menutup pergerakan Toure dan melepas penjagaannya terhadap Aguero. Padahal, Toure sendiri masih dalam pengawasan Osman dan McCarthy. Hasilnya Aguero yang bebas dapat menceploskan bola dengan mudah ke gawang Tim Howard.



Kondisi pertahanan Everton saat gol pertama City

Pada gol kedua dan ketiga, bek Everton melakukan kelengahan saat menghadapi umpan silang City. Mereka melakukan kesalahan paling dasar dalam menghadapi bola crossing, yaitu hanya fokus pada bola tanpa memperhatikan pemain-pemain yang berada di dalam kotak penalti.

Terlihat dari potongan gambar di bawah, sesaat sebelum terjadinya gol kedua, Edin Dzeko berdiri bebas tanpa pengawalan. Padahal di sekitarnya terdapat tiga bek Everton yang seharusnya dapat menjaga Dzeko. Namun ketiga bek tersebut hanya memperhatikan pemain yang akan melepaskan umpan silang.

Hasilnya, Dzeko dengan mudah menceploskan bola ke gawang setelah menerima umpan silang tersebut.



Kelengahan pertahanan Everton pada gol kedua (atas) dan ketiga (bawah) City

Respons Everton

Martinez bukannya tidak merespons sama sekali. Strateginya memang berhasil, meski kecerobohan pemainnya sendiri yang kemudian merusak semuanya. Tapi, setelah tertinggal dua gol, Everton tidak lagi bisa bermain menunggu. Everton harus bermain lebih terbuka untuk mengejar ketertinggalan.

Martinez kemudian mengembalikan permainan Everton seperti biasanya. Jagielka ditarik dan digantikan oleh Gerard Deulofeu, sementara Osman digantikan Aiden McGeady.

Everton bermain dengan formasi 4-4-1-1 dengan McCharthy dan Ross Barkley sebagai gelandang di tengah. Naismith berada sedikit lebih belakang dari Lukaku untuk memainkan peran second striker.

Seperti biasanya, Everton kemudian bermain dengan mengandalkan serangan sayap. Dua orang winger yang baru masuk ini terus mendapatkan dukungan dari kedua fullback yang selalu rajin membantu serangan.

Chalkboard operan Everton pada babak kedua memperlihatkan permainan Everton yang sudah berbeda dari babak pertama. Everton sudah tidak memainkan bola di daerah sendiri untuk menunggu pemain City naik.



Chalkboard Operan Everton Pada Babak Kedua

Everton sempat mendapatkan gol tambahan dengan menggunakan metode permainan ini. Crossing cantik Leighton Baines mengarah tepat ke Lukaku yang berhasil mengarahkan bola ke pojok gawang Hart. Namun sayang, Everton tidak lagi dapat menambah gol dan kedudukan 3-2 bertahan hingga akhir permainan.

Kesimpulan

Dengan menunggu pemain City naik dan melakukan serangan cepat, sebenarnya Martinez sudah memainkan cara yang tepat untuk membongkar pertahanan City. Terbukti beberapa kali gawang City terancam akibat hal ini.

Pertahanan Everton juga sudah dibangun dengan baik dengan melibatkan seluruh pemain Everton untuk bertahan. Bahkan Lukaku, yang biasanya hanya berdiri menunggu bola di depan, kini ikut melapisi sisi kanan pertahanan dan membantu Seamus Coleman menutup serangan sayap City.

Namun kemudian semua itu gagal ketika bek tengah mereka melakukan kecerobohan dalam menjaga penyerang-penyerang City. Hasilnya, Everton gagal masuk ke zona Liga Champions dan City berpeluang besar menjuarai Premier League.
(rin/rin)











Hide Ads