sepakbola
Coppa Italia: Fiorentina 1-3 Napoli

Bagaimana Napoli Mengalahkan Fiorentina dalam 10 Menit

Terpopuler Jadwal Pertandingan Klasemen Liga Hasil Pertandingan Man of The Match Gila Bola Foto Video Infografis
Coppa Italia: Fiorentina 1-3 Napoli

Bagaimana Napoli Mengalahkan Fiorentina dalam 10 Menit


- detikSepakbola

Reuters/Giampiero Sposito
Reuters/Giampiero Sposito
Roma -

Rafael Benitez mendapatkan trofi pertamanya sebagai pelatih Napoli. Pada musim pertamanya di Naples, dia sukses menggondol Coppa Italia. Napoli sukses menundukkan Fiorentina 3-1 di babak final, Minggu (4/5/2014) dinihari WIB. Lorenzo Insigne menjadi bintang lewat dua gol yang dicetaknya.

Pelatih Fiorentina, Vincenzo Montella, menerapkan taktik yang lain dari biasanya saat melawan Napoli. Ini terlihat dari starting line-up dan formasi yang diterapkan. Tak biasanya, Montella memakai 4-3-1-2.

Sekilas, formasi ini sebenarnya sama saja seperti 4-3-3 yang sering dipakai Montella. Tapi, menggeser Borja Valero menjadi seorang second striker di belakang Josip Ilicic dan Joaquin tentu sebuah anomali. Dengan formasi tersebut, La Viola tak memainkan satu pun striker murni.

Biasanya, saat memakai 4-3-3, ujung tombak akan diserahkan kepada Ryder Matos. Tapi, pada laga ini Montella memilih mencadangkan Matos demi taktik. Ilicic, Joaquin, dan Borja pun diberikan peran yang berbeda-beda. Pada laga ini, fungsi Borja seperti seorang suffaco alias defensive forward.



Selain tidak menggunakan striker, perubahan taktik Montella terlihat dari Juan Vargas yang mengisi pos yang biasa ditempati Borja. Ini dilakukan untuk menggalang lini pertahanan kokoh, dimulai dari barisan penyerangan. Terutama karena Fiorentina sendiri harus kehilangan Juan Cuadrado.

Saat ditempatkan sebagai gelandang bertahan, biasanya Vargas beroperasi di tengah lapangan. Namun, pada pertandingan ini area geraknya dibatasi di sayap kanan karena tugasnya adalah untuk mematikan Jose Callejon. Taktik ini terbukti sukses.

Sementara itu, tak ada perubahan taktik yang signifikan di kubu Napoli. Apa yang dimainkan Benitez adalah skuat yang mengalahkan Juventus pada akhir Maret lalu.

Usai timnya mengalahkan Juve, Benitez memang kerap mengutak-ngatik starting line-up, khususnya di area tengah. Hanya saja, hasilnya tak memuaskan. Napoli sendiri bertanding di final Coppa Italia dengan sedikit tak percaya diri karena dua laga terakhir mereka di Serie A melawan Inter Milan dan Udinese berujung seri.

Perbedaan Menyerang Napoli dan Fiorentina

Pada babak pertama, Fiorentina cenderung bermain bertahan. Mereka memainkan garis pertahanan yang dalam. Posisi 3 gelandang mereka (Vargas - David Pizarro - Alberto Aquilani) cenderung bermain merapat dengan keempat bek. Hal ini terjadi lantaran Napoli memasang 4 pemain di depan sekaligus (Insigne – Marek Hamsik – Callejon - Gonzalo Higuain).

Tak hanya itu, saat diserang, para gelandang Fiorentina jarang melakukan pressing di area tengah dan lebih memilih untuk menunggu. Tekanan dilakukan jika Napoli sudah berusaha masuk ke area final third.



Kondisi ini berbeda dengan 3 penyerang di depan. Trio Borja, Ilicic, dan Joaquin selalu melakukan pressing hingga lini belakang Napoli. Ya, beban untuk melakukan pressing di lini tengah memang malah dibebankan kepada 3 pemain ini. Untuk melakukan skema tersebut, ketiganya tak melebar ke samping, namun menjaga kerapatan.

Imbasnya, saat menyerang, Fiorentina tak bisa melakukan serangan balik yang cepat mengingat tak ada siapa-siapa di depan. Serangan balik mereka tersusun bertahap dari lini ke lini, melalui umpan dari kaki ke kaki, sembari menunggu dua fullback mereka, yaitu Manuel Pasqual dan Nenad Tomovic, naik.

Perubahan Pola Main

Memasuki menit ke-10, Fiorentina mulai berani menyerang secara frontal. Giliran Napoli yang memanfaatkan skema serangan balik.

Dalam skema serangan Fiorentina itu, Montella menarik Borja agak lebih dalam merapat dengan 3 gelandang. Hanya saja, ketiga gelandang itu dibuat lebih merenggang dengan back four.



Vargas diinstruksikan oleh Montella untuk mengeksploitasi sayap kanan Napoli dan posisinya diubah menjadi winger. Untuk menutup ruang yang ditinggalkannya, Pizarro lalu bergeser ke kiri.

Namun, naiknya Vargas sendiri tak diikuti oleh fullback kiri, Pasqual. Dia cenderung bertahan guna mengawal ketat Callejon.

Skema lain yang digunakan Fiorentina untuk menyerang adalah dengan Aquilani yang berlari diagonal ke tengah. Dia akan memberi ruang kosong kepada fullback kanan, Tomovic, untuk naik ke depan. Karenanya, Tomovic sering terlihat overlapping.

Dan skema naiknya bek kanan Fiorentina ini yang nyatanya jadi kelemahan. Dalam rentan waktu 7 menit, anak-anak asuh Montella harus kebobolan lewat skema serangan yang sama, orang yang sama, dan kesalahan yang sama.



Gol pertama yang dicetak Insigne pada menit ke-11 tak lepas dari kejelian Benitez memanfaatkan kelemahan lini kanan dan tengah Fiorentina.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat menyerang, Montella biasanya mendorong seluruh gelandang mereka, yaitu Aquilani, Pizarro, dan Vargas, ke depan. Lalu, tembok pertama Fiorentina sebelum musuh berhadapan dengan back four mestinya adalah Pizarro. Tapi, perhatikan grafis di atas. Lihat bagaimana Pizarro tak berada di posisinya dan malah tertinggal jauh di belakang.

Masalah lain muncul akibat Tomovic yang terlalu overlapping. Saat menerima serangan balik Napoli, dia pun tertinggal jauh dari Insigne.

Kerapuhan ini sempat membuat bek tengah Gonzalo Rodriguez kebingungan. Dia ingin menutup Insigne dan Hamsik sekaligus. Tapi, Rodriguez ternyata memilih menutup Hamsik. Dia mungkin mengira bahwa andaikan mendapat bola, Insgne tak akan menusuk ke tengah dan melancarkan shooting. Apalagi kekuatan Insigne berada di kaki kiri bukan kanan.

Lagipula, toh lazimnya Insigne dipasang di kanan bukan kiri. Montella menyangka bahwa karena dipasang di kiri, maka tugas Insigne hanya memberi umpan silang pada Higuain. Karenanya, wajar saja Higuain mendapat pengawalan dua orang sekaligus seperti capture di atas.



Tapi, ternyata Montella salah besar. Insigne malah bergerak cutting inside dan menyepak bola lewat kaki terlemahnya. Gol 1-0 untuk Napoli.

Merespons Ketertinggalan

Usai tertinggal satu gol, Fiorentina menjadi lebih menyerang, dengan kedua fullback yang cenderung didorong secara bersamaan. Semestinya, ketika kedua fullback ini merangsek ke depan, idealnya dua orang centre back akan bergerak melebar untuk menutup area yang ditinggalkan bek kiri dan bek kanan.

Namun, La Viola tak melakukan demikian. Rodriguez akan cenderung mendekat kepada Stefan Savic guna menutup Higuain.



Lantas, untuk mengisi kekosongan sisi kiri, semestinya Pizarro akan mendekat turun. Tapi, ini yang tidak dilakukan oleh gelandang asal Chile tersebut. Garis pertahanan Fiorentina akan terlihat timpang, dengan sisi kanan dan kiri yang tidak simetris akibat Pizarro yang terlalu maju. Kelemahan ini yang menjadi penyebab gol kedua Insigne yang dicetak menit ke-16.

Usai gol pertama, Napoli sendiri lebih cenderung bertahan dengan Insigne dan Callejon ditarik agak lebih dalam. Pada barisan penyerangan, mereka hanya menyisakan Hamsik dan Higuain.



Gol kedua yang dicetak Insigne tak lepas dari kesalahan Tomovic dan Pizarro yang tak mengantisipasi pergerakannya.

Terlihat, saat berlari diagonal ke dalam kotak pinalti, Tomovic tak menoleh untuk memerhatikan Insigne. Keempat pemain bertahan Fiorentina pun terfokus pada Hamsik seorang yang berlari diagonal ke dalam kotak pinati.

Pada babak kedua, Montella sempat memasukkan Giuseppe Rossi untuk mengubah jalannya pertandingan. Benitez pun jeli. Pada babak kedua, dia bermain bertahan total dengan memainkan Goran Pandev dan menarik Higuain. Lalu, lewat serangan balik, Napoli mampu menambah keunggulan menjadi 3-1.

Kesimpulan

Pada laga ini, Fiorentina memang menguasai jalannya pertandingan. Dari segi penguasaan bola, mereka unggul 60:40. Jumlah umpan pun mereka lebih banyak, yaitu 568 operan berbanding 385 umpan Napoli. Sayangnya, Fiorentina telat panas, meski sebenarnya mereka mampu memperkecil kedudukan menjadi 2-1 lewat Vargas pada menit ke-28.

Taktik yang dipilih Montella memang memiliki banyak kelemahan, terlebih saat menghadapi serangan balik Napoli. Dengan kejeliannya, Benitez pun mengeksploitasi kelemahan tersebut selama 10 menit, yaitu pada sektor bek kanan. Tomovic yang overlapping tanpa di-back-up oleh Pizarro berulang kali ditembus oleh Insigne.

Pada akhirnya, Napoli pun pulang dengan membawa satu trofi di tangan, mengulangi raihan yang sama pada tahun 2012.

Complimenti!


(mfi/rin)











Hide Ads