Pergantian Skema Wenger dan Hull yang Antiklimaks

Final Piala FA: Arsenal 3-2 Hull

Pergantian Skema Wenger dan Hull yang Antiklimaks

- Sepakbola
Senin, 19 Mei 2014 16:54 WIB
Pergantian Skema Wenger dan Hull yang Antiklimaks
Getty Images/Clive Mason
Jakarta -

Setelah hampir 9 tahun, Arsenal berhasil mengakhiri puasa gelar dengan menjadi juara Piala FA. Gol Aaron Ramsey pada babak tambahan membuat The Gunners menang 3-2 atas Hull City. Kemenangan yang dramatis mengingat sebelumnya mereka tertinggal dua gol terlebih dahulu.



Lineup Arsenal-Hull City (whoScored)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gol Cepat Hull City

Tidak banyak pilihan gaya bermain untuk The Tigers, karena cukup berisiko untuk meladeni The Gunners sepanjang pertandingan dengan bermain terbuka. Mesti diakui bahwa para pemain mereka juga kalah kelas dibandingkan anak asuh Arsene Wenger. Dua pertemuan antar keduanya musim ini berhasil dimenangkan oleh Arsenal, dengan total lima gol tanpa balas.

Tapi, nyatanya hanya butuh 8 menit bagi Hull City untuk unggul dua gol pada awal pertandingan. Meski keduanya bersumber dari bola mati, namun memang terlihat ada upaya dari Steve Bruce untuk unggul lebih cepat. Salah satunya adalah dengan menempatkan enam orang sekaligus saat melakukan serangan balik.

Setelah mencetak dua gol, praktis Hull hanya bertahan sambil berharap melalui serangan balik. Bisa dimaklumi mengingat keunggulan dua gol dalam satu pertandingan final adalah satu modal berharga.

Mengunci Lini Tengah Arsenal dengan Menarik Quinn

Dengan formasi andalan 4-2-3-1, Arsenal sendiri memusatkan arah umpan ke tengah, area tempat Mesut Oezil berada. Tapi, pemain asal Jerman ini malah kesulitan untuk mendapatkan ruang kosong. Arsenal pun akhirnya hanya sering memainkan umpan-umpan pendek di area tengah lapangan untuk menunggu Oezil yang berada di depan kotak penalti Hull mendapatkan ruang bebas.

Ini adalah dampak dari pemain tengah Hull yang bermain disiplin menjaga sepertiga lapangan pertahanan. Tom Huddlestone, yang malam itu diposisikan agak lebih ke dalam, berkali-kali dapat melakukan tekel maupun intersepsi di tengah.

Ini merupakan taktik Bruce yang lebih memfokuskan ke pertahanan setelah unggul 2-0. Pemain-pemain tengah Hull, yang biasanya mengisi sepertiga tengah lapangan, pun diposisikan untuk berada di area depan kotak penalti.

Steve Bruce sadar betul jika 3 pemain tengah Hull akan kalah kualitas jika dibandingkan dengan 3 pemain tengah Arsenal. Maka dari itu, Quinn yang berposisi sebagai gelandang serang ditugaskan untuk ikut menjaga lini tengah ketika pertahanan Hull diserang.

Jika pada 10 menit pertama Hull berani memainkan umpan-umpan pendek di tengah, kali ini mereka lebih mengandalkan sisi sayap untuk menyerang. Setelah unggul, Hull selalu berusaha untuk mengirimkan ke sisi sayap, atau sisi Liam Rosenior dan Ahmed Elmohamady berada. Keduanya memang memiliki kecepatan lari yang cukup baik.

Hull yang bermain pressing ketat kala itu memiliki satu kelemahan, yaitu sering melakukan pelanggaran ketika mencoba merebut bola. Tak ayal gol pertama Arsenal pun terjadi lewat tendangan bebas Santi Cazorla.
Β 
Setelah gol itu Hull, Steve Bruce nampaknya tak mau mengambil resiko adanya pelanggaran lagi. Ia pun menginstruksikan para pemainnya untuk lebih bersabar dalam merebut bola.



Hull mengurangi pressing, tapi Huddlestone tetap jadi gelandang bertahan. Quinn pun turun ketika Hull bertahan

Penguasaan Bola Arsenal

Dengan Hull yang bertahan, otomatis penguasaan bola berada di tangan Arsenal. Hingga peluit akhir dibunyikan di babak pertambahan waktu, tercatat penguasaan bola The Gunners mencapai 65%. Tapi ini tidak berarti Oezil dkk. mampu dengan mudah menembus kotak penalti Hull.



Meski mendominasi bola, serangan Arsenal memang tak selalu menemui sasaran. Rapatnya pertahanan Hull di dalam kotak penalti membuat Arsenal harus melakukan tembakan dari jauh.

Para pemain bertahan Hull, yang sebenarnya melonggarkan penjagaan langsung, akan memberikan pressing ketika para pemain Arsenal memegang bola di depan kotak penalti. Ini membuat para pemain Arsenal terburu-buru untuk melakukan shooting. Alhasil tembakan yang mengarah ke gawang Hull hanya sedikit yang menemui sasaran.

Arteta Menjadi Playmaker

Strategi bertahan Hull sebenarnya cukup membuat Arsenal kesulitan menembus pertahanan rapat yang ditunjukkan para pemain The Tigers ini. Hanya saja, tim asuhan Steve Bruce ini tidak memiliki pola permainan yang baik dalam melakukan transisi dari bertahan ke menyerang. Akibatnya, pasca melesakkan dua gol, Hull hanya mampu bertahan sambil berharap melalui serangan balik.

Wenger akhirnya mencoba opsi lain. Ia memindahkan peran playmaker dari Oezil ke Arteta. Selain karena kualitas yang tak berbeda jauh dari Oezil, Arteta dibebani peran ini karena posisinya jauh dari para pemain tengah Hull yang menumpuk di depan kotak penalti sendiri.

Strategi ini cukup membuat perubahan berarti bagi kubu Arsenal. Karena lebih bebas bergerak, pemain asal Spanyol itu lebih dinamis dalam membuat alur serangan. Ketika bola tak bisa di kirim ke tengah, ia akan mengirim bola ke sisi sayap. Begitu pula sebaliknya. Bahkan, sesekali ia bisa memberikan umpan langsung ke kotak penalti dari tengah lapangan. Hal yang sebelumnya tak terlihat pada 20 menit pertama.

Perubahan Strategi Wenger

Wenger terus mencari berbagai upaya menjebol gawang Allan McGregor. Salah satunya adalah dengan mengganti Podolski dengan Sanogo pada menit 61. Masuknya Sanogo membuat formasi dasar Arsenal berubah menjadi 4-4-2. Namun, ketika menyerang, Ozil berperan sebagai penyerang kiri dan Sanogo menjadi penyerang kanan. Arsenal pun mulai memeragakan bola-bola direct pass ke kedua sisi, khususnya ke sisi kanan agar Sanogo bisa membuat repot pertahanan Hull dengan kecepatannya.



Tetapi, menumpuknya pemain Hull di kotak penalti membuat Arsenal masih kesulitan untuk mencetak gol. Serangan melalui lini kedua yang seharusnya menjadi opsi lain saat sedang kesulitan juga tidak dilakukan.

Kondisi yang menguntungkan sebenarnya bagi Hull City jika mereka berani melakukan serangan balik. Tetapi, anak-anak asuh Steve Bruce justru banyak melakukan delay dengan terus mengembalikan bola ke belakang.

Memanfaatkan Hull Yang Antiklimaks

Skor imbang 2-2 membuat Steve Bruce panik dan berusaha kembali mencuri gol dengan memasukan Aluko. Namun, dengan mengurangi gelandang dan memasukan striker, otomatis kekuatan lini tengah Hull menjadi berkurang. Tidak ada lagi tekanan yang dilakukan pada pemain Arsenal.

Pada babak perpanjangan waktu, Hull City semakin tak bisa menandingi dominasi permainan Arsenal. Ini terjadi karena pemain bertahan Hull tidak memberikan pressing yang ketat ketika para pemain Arsenal memegang bola. Mereka cenderung menunggu momen yang pas untuk melakukan tekel atau pun intersepsi.

Malah Wenger yang merespon strategi Steve Bruce tersebut dengan menerapkan pressing di seluruh lapangan. Ketika Arsenal kehilangan bola saat menyerang, para pemain yang terlibat dalam skema tersebut tidak langsung buru-buru kembali pertahanan, melainkan merebut kembali bola yang masih berada di area pertahan Hull.

Seperti yang terlihat pada gambar di bawah, ketika kiper Hull McGregor memberikan passing pendek pada Curties Davies di sebelah kiri, Sanogo dan Ramsey langsung memberikan pressing dan mampu merebut bola. Sanogo pun lantas mengirim umpan silang pada Olivier Giroud yang berada di kotak penalti. Sayang, sundulan striker asal Perancis ini hanya membentur mistar gawang.



Pressing yang dilakukan lini depan Arsenal

Praktis alur pertandingan dipegang oleh Arsenal. Hull hanya sesekali melakukan serangan balik dengan memanfaatkan kecepatan Aluko. Tapi, kedisiplinan lini pertahanan Arsenal membuat mereka unggul dalam jumlah pemain ketika pemain Nigeria tersebut mencoba merangsek ke dalam kotak penalti Arsenal.

Gol kemenangan Arsenal yang diciptakan oleh Ramsey sendiri adalah dampak dari ketidak-mampuan pemain Hull untuk menemukan momen yang pas merebut bola. Ini dimanfaatkan oleh para pemain Arsenal yang dengan bebas melakukan umpan-umpan pendek hingga ke dalam kotak penalti.

Ramsey pun dengan jeli melihat ruang kosong yang tercipta, karena 3 pemain bertahan dan 3 pemain tengah Hull yang bermain sejajar hanya mengikuti alur umpan para pemain Arsenal tanpa memberikan tekanan.



Umpan backheel Giroud ke Ramsey akibat ruang terbuka pertahanan Hull.

Kesimpulan

Pertandingan yang antiklimaks bagi Hull City. Meski berhasil unggul cepat dua gol dengan waktu 8 menit, serta menerapkan permainan bertahan dengan hanya menyisakan satu striker di depan, akhirnya mereka harus kalah.

Dua kecerobohan para pemain Hull, yaitu melakukan penjagaan ketat yang berbuah pelanggaran, dan kecerobohan dalam skema tendangan penjuru, berujung pada Arsenal yang bisa menyamakan kedudukan. Padahal, sepanjang babak pertama, Arsenal tidak mampu menjadikan dominasi penguasaan bola menjadi peluang yang mengancam gawang Hull City.

Namun, Wenger memang terlihat lebih unggul berkat pergantian skema yang ia lakukan. Menukar peran playmaker dari Oezil ke Arteta, mengganti Podolski dengan Sanogo, serta beberapa perubahan yang ia lakukan membuahkan hasil, yaitu Arsenal yang mengakhiri puasa gelar setelah 8 tahun.

Selamat!

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini

(roz/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads