Ya, dalam urusan sepakbola, Brasil memang negara adidaya. Lima trofi Piala Dunia yang mereka dapatkan tentu jadi bukti bagaimana kekuatan negara Amerika Latin ini tak tertandingi oleh negara-negara lain. Sebagai pemasok pemain-pemain sepakbola hebat, skuat timnas Brasil pun selalu dihuni pemain-pemain top Eropa yang punya skill mumpuni dan dibayar dengan rate gaji mahal.
Secara individu Brasil memang juara. Namun, sebagaimana dikatakan sebuah pameo terkenal, sepakbola bukanlah permainan individu. Sepakbola adalah soal kekompakan tim yang dipadukan dengan teknik dan taktik pelatih. Tentang bagaimana membuat satu tambah satu lebih dari dua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Filosofi 'Jeitinho' dalam Sepakbola Brasil
Dalam buku "O que faz o Brasil, Brasil?" Antropolog Brasil, Robert Da Matta menjelaskan sebuah kultur di Brasil bernama "jeitinho". Secara verbatim, artinya adalah "jalan lain".
Jeitinho ini yang selalu melekat dengan cara pikir masyarakat Brasil. Jeitinho memaksa orang untuk berfikir kreatif, penuh imajinasi, dan mengandalkan intuisi serta fleksibilitas saat menghadapi kondisi tak terduga, sulit, atau pelik.
Budaya ini sebenarnya lahir dari dominasi dan pengekangan yang dilakukan kaum proletar kulit putih lewat hukum dan aturan sepihak kepada kulit hitam. Karena itu, Jeintinho selalu identik dengan pembangkangan terhadap hukum, struktur, atau aturan.
"Cara hidup orang Brasil tidak sama dengan orang Eropa yang hidupnya sudah terjadwal selama satu tahun ke depan. Kami tidak tahu apa yang akan kami lakukan dalam 15 menit ke depan," adalah salah satu kutipan dari Socrates, sang kapten tim samba di Piala Dunia 1982.
Hukum adalah struktur eksternal dalam sebuah hubungan sosial di masyarakat. Ini berbeda dengan Brasil yang menjadikan kemampuan individu sebagai kunci hubungan sosial.
Tak heran jika kecenderungan masyarakat Brasil adalah individualistis. Dan sikap inilah yang membuat mereka menemukan jalan sendiri untuk menguasai situasi, serta memiliki kreativitas tinggi tapi juga sekaligus menimbulkan ketidakpercayaan pada kerja sama dengan orang lain.
Gilberto Freyre, seorang sosiolog tenar, dalam jurnalnya berjudul Futebol Brasileiro e DanΓ§a yang terbit pada tahun 1938 menjelaskan bahwa individualitas adalah sisi lain dalam sepakbola Brasil. Sifatnya yang spontan, penuh improvisasi, dan artistik amatlah kontras dengan gaya Eropa, terutama Inggris, yang lebih geometris, standar, dan seragam.
"Sepakbola kami lahir dari kombinasi kedengkian, kelicikan, kecerdasan dan kelincahan, yang dipadukan dengan spontanitas individual. Semua itu terlihat dari bagaimana pola kami bermain-main dan mengumpan bola. Sebuah sentuhan tarian dan pemberontakan yang menjadi ciri khas gaya Brasil," ucap Freyre.

Sebuah majalah olah raga Sao Paulo yang terbit tahun 1919 menerangkan cara pandang sepakbola Brasil terhadap perkembangan formasi 2-3-5 yang pada dekade itu sangat populer.
Dipaparkan bahwa dalam pendidikan di sekolah sepakbola Inggris, pemain akan cenderung membawa bola ke depan hingga sedekat mungkin dengan gawang lawan sebelum akhirnya mencetak gol. Di Brasil tidak demikian. Semua pemain berhak menembak dari manapun asal memiliki ketepatan yang akurat, karena buat apa jauh-jauh ke depan jika tak mencetak gol.
Hal inilah yang membuat kolektivitas barisan penyerangan, seperti yang lazim dilakukan di Inggris, tak betul-betul diperlukan. Dalam formasi klasik 2-3-5, penyerang yang berjumlah lima orang akan serempak menyerang. Dalam sistem di Brasil, hanya dua atau tiga pemain saja yang melepaskan diri untuk menyerang. Tapi, tentu saja duaβtiga orang ini memiliki kecepatan yang merusak, benar-benar tak terduga, dan mampu mengacaukan seluruh pertahanan lawan.
Perubahan yang (Selalu) Berawal Kekalahan
Jika dilihat dari jumlah gelar, sebelum Perang Dunia II Brasil hanya tim terbaik ketiga di Amerika Selatan. Berada di bawah Uruguay dan Argentina, tim samba selalu kalah bersaing dengan kedua tetangganya itu saat mentas di ajang Copa America ataupun Piala Dunia. Hanya ada dua gelar yang mampu didapatkan pada periode itu, yaitu Copa America 1919 dan 1922.
Jonathan Wilson dalam buku Inverting The Pyramid menuturkan gelar pertama Copa America ini didapatkan karena Dewi Fortuna memihak Brasil. Keberhasilan ini tak lain berkat modifikasi taktik yang mengintruksikan salah satu bek sayap bermain murni bertahan, sementara bek sayap satunya diberi izin untuk bergabung dengan serangan.
Hal itu adalah anomali, mengingat Brasil pada masa itu memainkan sepakbola ofensif. Dalam memakai pola 2-3-5, hanya 3 orang (dua senter bek dan satu gelandang) yang murni bertahan, sementara lima orang akan diplot menyerang dan dua gelandang sayap didorong naik ke depan. Memfokuskan diri pada penyerangan, tak heran jika pertahanan tim pun lemah saat lawan menyerang.
Taktik menempatkan salah seorang bek sayap untuk murni bertahan, menurut Jonathan Wilson, adalah pengakuan pertama timnas Brasil tentang perlunya membangun struktur pertahanan.
Pada awal dekade 1930-an, ketika tim-tim Eropa mulai menggunakan formasi WM. Brasil masih tetap keukeuh memakai formasi ortodok 2-3-5 dengan ciri khas mengeksploitasi kekuatan individunya. "Secara individual, Brasil amatlah pintar. Namun, secara kolektif, mereka amat bodoh," ucap kolomnis Guardian, Brian Glanville.
Apa yang diucapkan Glanville ada benarnya, selama fase itu sebenarnya Brasil banyak mendapatkan pelajaran, khususnya pada Piala Dunia 1930 dan 1934. Dua kali berturut-turut mereka tak mampu lolos dari babak pertama. Pada Piala Dunia 1930 mereka disingkirkan Yugoslavia, sementara pada 1934 ditekuk tim lemah Spanyol 3-1.
Kekalahan adalah pelajaran penting untuk melakukan perubahan. Pada dasarnya evolusi formasi lahir untuk menutupi kekurangan formasi sebelumnya. Keborokan formasi WM yang identik dengan Inggris mesti disadarkan Hungaria lewat Magic Magyars-nya pada tahun 1953. Hal serupa pun terjadi di Brasil. Untuk sadar bahwa sistem ortodok sudah tak lagi relevan dipakai oleh Brasil, maka perlu sebuah tim yang memakai WM untuk menekuk mereka. Tim yang memberikan pelajaran berharga itu adalah Yugoslavia.
Β
Ya, pada akhirnya individualitas Brasil memang tak mampu lagi menopang sebuah tim. Hal ini akhirnya terungkap setelah mereka ditekuk Yugoslavia 8-4 dalam laga ujicoba persahabatan beberapa minggu setelah tersingkir dari Piala Dunia 1934. Hal yang memalukan, mengingat Brasil tampil komplet lewat trisula andalan Domingos, Leonidas, dan Waldemar de Brito di lini depan.
Namun, ternyata taktik berbicara lain, pertahanan mereka amat rapuh. "Ada banyak ruang di antara garis pertahanan mereka. Hal inilah yang dimanfaatkan Yugoslavia. Sistem yang mereka pakai terlalu kuno," ucap seorang sejarawan sepakbola Yugoslavia, Ivan Soter. Kekalahan ini lalu membuat Brasil berpikir sejenak untuk mengikhlaskan diri terseret arus zaman dan mengenal struktur, sistem, dan pola bermain.
(bersambung)
====
*akun Twitter penulis: @aqfiazfan dari @panditfootball
(roz/a2s)











































