Tak ada kejutan dari skuat Brasil di Piala Dunia 2014. Pelatih A Selecao, Luiz Felipe "Big Phil" Scolari, mendaftarkan 23 nama yang mayoritas anggota skuat Brasil kala menjuarai Piala Konfederasi 2013. Dengan slogan "Brace yourselves, The 6th is coming", Brasil begitu percaya diri untuk merebut gelar juara dunia keenamnya.
Setelah merebut juara Piala Dunia kelimanya pada 2002 silam, Canarinho mengalami penurunan prestasi di Piala Dunia. Pada dua ajang selanjutnya, Brasil tidak pernah melangkah lebih jauh dari babak perempatfinal.
Kegagalan ini dipercaya karena penurunan performa pemain inti mereka selepas Piala Dunia 2002. Brasil belum memiliki skuat yang benar-benar padu untuk diturunkan dalam sebuah kompetisi. Tapi kini Brasil punya skuat dengan kemampuan relatif merata di semua posisi. Akankah Brasil menjuarai Piala Dunia di rumah sendiri untuk pertama kalinya?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepanjang 2013, Felipao kerap menguji formasi mulai dari 4-2-3-1, 4-3-3, 4-2-2-2, hingga 4-4-2. Perubahan formasi ini selalu dilakukan pada pertandingan persahabatan. Kelihatannya Felipao mencoba formasi yang cocok bagi skuatnya. Ia juga sering merombak starting line up, terutama di lini tengah. Akibatnya, penghuni di zona tengah A Selecao belum dapat diprediksi.
Formasi 4-2-3-1 terbukti ampuh melihat keberhasilan Brasil ketika menjuarai Piala Konfederasi 2013. Pada ajang tersebut, pelatih kelahiran 1948 ini selalu menggunakan pakem yang sama. Hasilnya dari lima pertandingan, Pentacampeones hanya kebobolan dua gol dari Italia dan satu gol dari Uruguay. Mereka juga sukses menjaringkan 14 gol, termasuk tiga gol ke gawang Spanyol -- juara Piala Dunia 2010 dan Juara Piala Eropa 2012 β di partai final.
Sejumlah pemain memungkinkan dikombinasikan di lini tengah. Ada nama Luiz Gustavo, Hernanes, dan Bernard. Tapi masing-masing punya peran dan cara bermain yang berbeda.
Menilik posisi Fernandinho dan Paulinho di klub, Felipao jelas ingin tampil menyerang dengan menduetkan keduanya. Pelatih yang pernah menangani Chelsea ini selalu menempatkan Paulinho di lini tengah.
Sementara itu, Fernandinho baru diturunkan ketika menghadapi Afsel dalam pertandingan persahabatan Maret lalu. Pemain berusia 29 tahun ini menjadi satu dari lima pemain yang bermain penuh 90 menit.
Ini sinyal positif bagi Fernandinho untuk menjadi andalan di lini tengah A Selecao. Jika pertandingan menghadapi Afsel tersebut merupakan kerangka utama A Selecao untuk piala dunia, maka Fernandinho akan menggantikan peran Luis Gustavo.
Gustavo dan Fernandinho memang berbeda. Bekas pemain Bayern Muenchen ini lebih senang menjadi penahan bola di depan bek Brasil. Pertahanan Canarinho akan jauh lebih aman jika satu tempat di lini tengah diisi oleh pemain berpostur 186 cm ini, karena ia jarang naik membantu serangan.
Selain Gustavo, Hernanes juga dapat diandalkan di lini tengah. Melihat formasi A Selecao di Piala Konfederasi lalu, bekas pemain Lazio ini biasa dipasang di lini tengah menggantikan Gustavo. Peran pemain yang direkrut Inter Milan awal 2014 lalu ini akan bertambah jika Felipao memasang tiga gelandang pada formasi 4-3-3 -- seperti yang terjadi pada pertandingan menghadapi Meksiko dan Jepang di Piala Konfederasi 2013.
Kelincahan dribbling Hernanes akan diandalkan lini tengah Brasil. Jika menggunakan formasi 4-3-3 dengan bangunan serangan dari sayap, Felipao sepertinya akan memasang pemain kelahiran 1985 tersebut ketimbang menurunkan Oscar. Hernanes akan bermain lebih ke dalam sebagai pengatur serangan dan pembagi bola.
Selain itu, pemain bernama lengkap Anderson Hernandes de Carvalho Viana Lima ini mampu menahan bola saat melakukan body charge dengan pemain lawan.
Terlepas dari segala kelebihan tersebut, Hernanes yang merintis karir profesionalnya dari Sao Paulo FC ini memiliki kelemahan yang bisa berakibat buruk pada tim Brasil. Di Inter Milan, Hernanes kerap menggiring bola tanpa mengumpan kepada rekan-rekannya. Inilah yang menjadi kekhawatiran. Ketika Hernanes menggiring bola di daerah pertahanan sendiri, bisa saja bola direbut lawan. Ini bisa mengancam pertahanan Brasil.
Selain Hernanes, Felipao juga memiliki Bernard yang berkarir di Shakhtar Donetsk. Pemain yang dibeli pada 2013 dari Atletico Mineiro seharga 22 juta poundsterling ini bisa ditempatkan di poros ganda Brasil menggantikan Paulinho. Kelebihannya, Bernard sering bergerak ke sayap dan dapat menyokong Neymar maupun Hulk.
Kelihatan formasi 4-2-3-1 ala Felipao begitu cair dan memungkinkan adanya modifikasi, terutama di lini tengah. Tidak jarang ia memasang tiga gelandang, dengan mendorong Neymar dan Hulk bergerak lebih ke depan. Namun penggunaan dua poros ganda merupakan kunci Felipao. Ini juga bisa dijadikan solusi bagi kelemahan pertahanan Brasil ketika menghadapi serangan balik.
Garansi Trio Neymar-Fred-Hulk
Dalam sepuluh pertandingan terakhir, Felipao mengandalkan kecepatan Hulk di lini depan untuk menyisir wilayah pertahanan lawan. Jika Neymar bermain lebih ke tengah, maka Hulk akan beroperasi di sisi kiri. Jika pemain Barcelona yang telah mencetak 31 gol untuk Brasil itu kembali ke posisinya di kiri, maka Hulk akan dikembalikan ke sayap kanan.
Dengan 4-2-3-1, pakem yang ditetapkan Felipao bisa lebih cair. Jika lawan mengandalkan serangan dari sayap, maka Hulk ditempatkan di kiri dan Oscar di kanan. Keduanya bertugas menahan serangan sayap lawan pada kesempatan pertama. Dalam situasi seperti ini, Hulk dan Oscar tak dibebankan tugas mengacaukan pertahanan lawan lewat akselerasi mereka.
Sebagai gantinya, posisi Neymar yang telah mengecap 49 pertandingan bersama Brasil dipindahkan ke tengah untuk menyokong Fred di depan. Sehingga ketika pertandingan berjalan, formasi terlihat seperti 4-4-2 dengan dua sayap sejajar gelandang tengah. Sementara Neymar berada di tengah dan merapatkan jarak dengan Fred.
Felipao melakukannya beberapa kali dalam pertandingan persahabatan. Salah satunya ketika menghadapi Inggris setahun silam. Ia ingin meredam kecepatan Theo Wallcot yang mengisi sektor sayap Inggris ketika itu dengan memindahkan Hulk ke sisi kiri.
Di babak ke dua, formasi diubah dan mengganti Hulk dengan Fernando Martins yang berposisi sebagai gelandang bertahan. Hasilnya, Brasil mampu mengejar ketinggalan dan menyamakan kedudukan menjadi 2-2.
Hulk punya kaki kiri yang kuat, namun dia justru jarang bermain di sisi tersebut layaknya pemain sayap tradisional. Baik di klubnya, Zenit St. Petersburg, maupun di Brasil, Hulk selalu diplot di sisi kanan. Dengan cara seperti ini pemain yang bernama lengkap Givanildo Vieira de Souza ini akan lebih mudah melakukan tusukan dan tendangan langsung ke kotak penalti lawan.
Hal senada juga dialami Neymar. Felipao menempatkannya di sisi kiri sehingga ia bisa langsung masuk ke kotak penalti dan menendang bola. Penempatan ini memang bukan hal baru. Ketika bermain di Santos pun Neymar biasa ditempatkan di sisi kiri.
Ketika pertandingan menghadapi Panama, Rabu (4/6), Neymar dan Hulk diberikan keleluasaan bergerak. Neymar tidak melulu menyisir lewat sayap. Ia seringkali menjemput bola ke lini tengah untuk mendistribusikan ke Hulk yang ada di kiri.
Sementara Fred bertugas sebagai pemantul bola. Pemain yang mendapatkan penghargaan silver shoe di ajang Piala Konfederasi 2013 ini jarang mengontrol bola dan mengolahnya langsung menjadi gol. Ketika menerima bola, Fred justru mengembalikan bola tersebut ke Hulk dan Neymar. Atau pemain berusia 30 tahun ini sengaja menarik perhatian bek lawan agar leluasa mengoper kepada Oscar di posisi gelandang serang.
Peran Neymar sendiri sangat nyata. Dari 16 pertandingan terakhir yang dijalani A Selecao, Neymar telah mencetak 11 gol. Selain itu, pemain termahal Brasil ini kerap memberi assist dan key passes bagi rekan-rekannya. Ini yang membuat peran Neymar akan sulit tergantikan oleh siapapun.
Meskipun hampir semua pemain Brasil memiliki kemampuan menggiring bola yang baik, namun tidak ada yang memiliki visi secemerlang dan sekreatif Neymar.
Ketika menghadapi Panama, contohnya, Neymar bahkan meneruskan bola yang datang ke arahnya dengan tumit kepada Hulk. Padahal dia jarang melakukan aksi teatrikal seperti ini. Pemain belakang Panama yang tidak siap, kalah langkah dari Hulk yang menyongsong bola dan menendang ke pojok kiri gawang Panama.
Serbuan Dua Fullback
Ketika dua pemain sayap menusuk ke kotak penalti lawan, dua fullback Brasil turut aktif maju ke depan. Alves di kanan dan Marcelo di kiri. Melihat kebiasaan keduanya di klub masing-masing, baik Alves maupun Marcelo merupakan tipe bek yang rajin membantu serangan. Ini tentu akan membahayakan lawan karena beban serangan dari Brasil akan berlipat ganda.
Kita bisa lihat peran Marcelo kala Real Madrid menundukkan Atletico Madrid di final Liga Champions 2014. Sebelum ia masuk, pergerakan Angel Di Maria sama sekali tidak berkembang. Pemain Argentina ini selalu gagal mengirimkan umpan silang karena dijaga oleh dua pemain Atletico. Namun ketika Marcelo masuk, Di Maria menjadi lebih leluasa karena fokus perhatian bek tidak 100 persen tertuju padanya.
Tapi, pergerakan pemain berusia 26 tahun ini tidak melulu menyisir sayap. Terkadang dia menguasai bola di tengah lapangan. Melihat hal ini, Felipao kemungkinan hanya akan meninggalkan dua bek di jantung pertahanan dan meminta dua fullback membantu maju ketika tim menyerang.
Sedangkan Luiz juga kerap membuka serangan dari sayap. Pertandingan persahabatan Brasil menghadapi Portugal tahun lalu adalah buktinya. Akselerasinya dari sisi kiri serangan A Selecao tidak diduga bek Portugal. Hasilnya, Luiz yang baru dijual Chelsea ke PSG dapat mengirimkan umpan silang ke jantung pertahanan Portugal.
Lemahnya Pertahanan
Kecuali Gustavo yang sering menahan diri di lini pertahanan, semua pemain Pentacampeones memiliki kemampuan menggiring bola yang sangat baik. Kelebihan ini ditunjang dengan kecepatan yang mumpuni.
Namun ketika menyerang, A Selecao kerap dikejutkan oleh serangan balik lawan. Contohnya ketika pertandingan menghadapi Spanyol di final Piala Konfederasi 2013.
Saat Spanyol melakukan serangan balik, lini pertahanan Brasil hanya diisi Luiz. Ia sudah mati langkah karena Pedro mengusai bola dengan bebas. Bahkan tendangan pemain Barcelona ini mampu mengecoh kiper Julio Cesar. Beruntung, Luiz melakukan sliding dan mampu membuang bola ke luar.
Inilah yang perlu dibenahi Scolari. Bukan tidak mungkin, ketika mereka tengah bernafsu menyerang, lini belakang malah mudah ditembus lewat serangan balik. Kelemahan ini tentu menjadi celah bagi kokohnya dua bek Brasil.
Ketika kalah 1-0 dari Swiss tahun lalu, pertahanan Brasil sering terancam lantaran fullback terlambat turun. Lini pertahanan Brasil hanya menyisakan dua bek tengah yang kesulitan untuk menutup pergerakan tiga pemain Swiss sekaligus.
A Selecao bisa saja menahan tim yang mengutamakan ball possesion, tapi ketika menghadapi klub yang mengandalkan serangan balik bukan tidak mungkin akan kecolongan.
Prediksi Line-Up

Kesimpulan
Kemenangan atas Afsel dalam partai pemanasan akan menghadirkan kepercayaan diri Brasil sekaligus membuktikan kepaduan skuatnya. Kekuatan dan kemampuan merata dalam mengolah bola juga harus diwaspadai lawan.
Namun Brasil bukannya tanpa kesulitan mencetak gol. Melawan tim asal Afrika, Gabon, Brasil hanya mampu menjaringkan dua gol. Minimnya kreativitas serangan akan semakin bertambah jika Neymar atau Oscar ditempel ketat lawan. Praktis, A Selecao mesti berharap gelandang mereka rajin melakukan tusukan ke jantung pertahanan lawan.
Tapi, ketika asyik menyerang, Brasil bisa dipusingkan oleh serangan balik lawan. Ketika menyerang, lini pertahanan Brasil hanya menyisakan dua bek karena dua fullback ikut maju ke depan. Melihat dari kompetensi para pemainnya, A Selecao sepertinya bakal melaju mudah hingga perempatfinal.
====
*dianalisis oleh @panditfootball
Neymar Sebagai Tumpuan (roz/krs)











































