Semenjak "kemunculan" enam tahun lalu sebagai pemenang Piala Eropa 2008, Spanyol seolah tak dapat dibendung. Tiga kompetisi besar yang mereka ikuti selalu berakhir dengan Iker Casillas mengangkat trofi di podium juara (2008, 2010, 2012). Tapi, apakah mereka mampu berjaya di tanah Amerika Latin?
Jika ada satu negara benua biru yang bisa memecahkan rekor tak bisa jadi juara di Amerika, rasa-rasanya Spanyol adalah jawabannya. Bagaimanapun juga, dua gelar Eropa dan satu juara dunia secara berturut-turut adalah prestasi yang belum pernah ada dalam 30 tahun terakhir. Tapi, sebanyak apa bahan bakar yang masih tersisa pada tim matador ini?
Skuat Berlapis
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini karena baik pemain inti maupun pemain cadangan mempunyai kualitas yang sama baiknya.
Dari 23 pemain yang dibawa Del Bosque terdapat 16 pemain sudah masuk ke skuat timnas sejak Piala Dunia 2010. Selain itu, terdapat dua nama tambahan yang sudah bergabung sejak Piala Eropa 2012. Artinya, di piala dunia kali ini hanya ada lima nama pemain yang merupakan wajah baru, yaitu David De Gea, Juanfran, Cesar Azpilicueta, Koke, dan Diego Costa.
Lalu, dari ke-23 pemain tersebut, hampir seluruhnya adalah pemain-pemain penting di klub-klub besar Eropa.
Mari kita tilik kekuatan Andres Iniesta dkk lini per-lini.
Di bawah mistar gawang, ketiga kiper yang diajak oleh Del Bosque adalah penjaga gawang nomor satu dari tiga klub besar Eropa. Saint Iker Casillas dari Real Madrid, Pepe Reina jadi pilihan utama di Napoli, sementara David De Gea salah satu pemain bintang Manchester United. Dari ketiga nama tersebut, sang pelatih sebenarnya bisa saja memasang nama mana pun, karena kekuatan ketiganya nyaris sama. Hanya saja faktor kepemimpinan kemudian menjadikan Casillas menjadi pilihan utama.
Di barisan pemain belakang, Spanyol memiliki dua bek tengah yang tidak tergantikan dalam diri Sergio Ramos dan Gerard Pique. Sekalipun di antara keduanya harus diganti, Del Bosque masih memiliki Raul Albiol yang merupakan bek andalan Napoli.
Di sisi kanan, mantan pelatih Real Madrid itu akan dipusingkan persoalan memilih antara bek muda Chelsea, Cesar Azpilicueta, atau bek andalan Atletico Madrid, Juanfran. Keduanya adalah fullback yang sangat baik dalam bertahan maupun menyerang.
Sektor tengah menjadi sektor yang membuat Spanyol mungkin untuk mengirimkan dua tim ke kompetisi manapun. Sepuluh gelandang yang didaftarkan Del Bosque adalah pemain-pemain terbaik dunia.
Dari mulai gelandang langganan timnas Spanyol seperti Xavi Hernandez, Xabi Alonso, Andres Iniesta, Sergio Busquet, Davis Silva, Santi Cazorla, Cesc Fabregas, hingga pemain yang terhitung baru di tim nasional seperti Javi Martinez, Juan Mata, dan Koke.
Demikian pula di lini depan. Meski baru memiliki dua caps tim nasional, Diego Costa tak bisa dikatakan sebagai pemain yang tidak berpengalaman. Apalagi jika menilik prestasinya dalam membawa Atletico Madrid juara La Liga dan runner-up Liga Champions.
Selain Costa, tim ini pun masih memiliki dua striker berpengalaman seperti David Villa dan Fernando Torres, serta satu striker cepat Barcelona Pedro Rodriguez.
Sangat komplet, bukan?
Strategi Penghancur Tiki-Taka
Kedalaman skuat dan kualitas pemain adalah satu hal, sementara melawan strategi dan taktik lawan dalam kompetisi berformat turnamen adalah hal lain. Apalagi saat ini tiki-taka sudah tidak sama dengan saat beberapa kali dipopulerkan oleh Barcelona dan timnas Spanyol.
Kini, sudah banyak tim yang memiliki ramuan masing-masing untuk meredam gaya bermain yang mengandalkan penguasaan bola tersebut.
Cara bermain tiki-taka yang diperagakan Spanyol memang tidak bisa dikatakan sudah usang. Catatan impresif Xavi dkk di babak kualifikasi dengan tidak menderita satu pun kekalahan pun menunjukan bahwa gaya bermain ini masih layak dipertahankan.
Namun Del Bosque juga tidak bisa diam saja dan hanya mengandalkan catatan cemerlang tersebut. Ia juga tidak bisa mengabaikan kekalahan mereka atas Brasil di final Piala Konfederasi.
Pada turnamen satu tahun lalu itu, Brasil dengan sangat baik menunjukan cara membungkam tiki-taka Spanyol. Tim yang dibintangi Neymar itu pun menang telak 3-0 atas sang juara dunia dan keluar sebagai juara Piala Konfederasi.
Ketika itu, para pemain Selecao menutup setiap ruang yang ada di daerah pertahanan mereka sehingga tidak ada celah sedikit pun bagi pemain Spanyol untuk menusuk ke jantung pertahanan.
Scolari juga memerintahkan para pemainnya untuk terus memberikan tekanan kepada otak serangan Spanyol, yang ketika itu diperankan oleh Xavi dan Iniesta. Pada gambar di bawah, terlihat para pemain Brasil yang berdiri sangat rapat di depan area kotak penalti dan tidak melepaskan perhatian mereka dari kedua pemain andalan Barcelona itu.

*Brasil yang tidak memberikan ruang bagi pemain Spanyol saat pertandingan final Piala Konfederasi 2013
Kasus Bayern Munich dan Real Madrid di babak semi final Liga Champions pun bisa menjadi contoh bagaimana gaya umpan pendek dari kaki-ke-kaki itu berhasil diredam.
Bayern yang ditangani oleh salah satu pelatih ahli tiki-taka, Pep Guardiola, harus takluk dengan agregat 5-0 dari Real Madrid yang bermain serangan balik. Penguasaan bola tinggi Die Roten menjadi tak berarti setelah lightning counter-attack Madrid mampu mencuri gol demi gol ke gawang Bayern Munich.
Pressing ketat dan disiplin yang diperagakan Brasil di Piala Konfederasi 2013, atau serangan balik cepat yang diperagakan Real Madrid saat meredam Bayern Munich, memang tidak bisa diperagakan oleh semua tim. Permainan seperti ini membutuhkan daya konsentrasi yang tinggi sehingga akan sangat menguras tenaga. Tidak semua tim mampu memperagakannya sepanjang 90 menit pertandingan.
Namun tentu saja Brasil juga bukan satu-satunya tim yang dapat melakukan ini dengan sangat baik. Ada tim-tim lain yang memiliki kualitas setara Brasil yang bisa meniru skema yang diterapkan Luiz Felipe Scolari.
Negara-negara besar macam Argentina, Jerman, Prancis, Italia, Portugal, dan beberapa negara lain juga sangat mungkin untuk melakukan hal ini. Termasuk salah satu lawan Spanyol di fase grup nanti, Belanda.
Mau tidak mau Del Bosque harus dapat memecahkan persoalan ini jika ingin membawa Spanyol juara Piala Dunia 2 kali berturut-turut. Del Bosque harus dapat melawan strategi anti tiki-taka yang sudah dimiliki oleh lawan-lawan Spanyol.
Perkiraan Starting XI
Belum ada tanda-tanda Del Bosque akan menurunkan formasi baru. Pelatih berusia 63 tahun ini masih cukup percaya dengan para pemain veteran Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012 lalu. Pemain-pemain ini memang semakin matang seiring meningkatnya pengalaman bermain mereka.
Dengan begitu, starting line up yang akan diturunkan Del Bosque di Brasil nanti pun sepertinya akan mudah untuk ditebak. Formasi 4-3-3 tentu akan tetap dipertahankan untuk tetap memainkan tiki-taka.
Di belakang posisi Casillas, Pique, Ramos, dan Alba sepertinya sudah tidak tergantikan. Yang tersisa kemudian hanya posisi bek kanan yang bisa diisi oleh dua pemain muda berbakat, Juanfran, dan Azpilicueta.
Pada musim 2013/2014, keduanya memang sama-sama menunjukan performa yang baik di klub masing-masing. Namun, jika melihat dari dua pertandingan persahabatan terakhir Spanyol, nama Azpillicueta menjadi pilihan Del Bosque ketimbang Juanfran.
Di tengah, dua gelandang senior, Sergio Busquet dan Xabi Alonso, akan tetap menjadi pilihan utama. Dengan mennambahkan kehadiran gelandang serang Xavi Hernandez, maka formasi itu akan menjadi formasi andalan Del Bosque sejak Piala Eropa lalu. Perbedaan mungkin hanya terjadi di posisi ujung tombak yang kini diisi oleh Costa.

Perkiraan starting XI Spanyol
Prediksi
Meski berada di grup yang cukup berat bersama Belanda, Chile, dan Australia, sepertinya Spanyol akan dapat melalui fase awal dengan baik. Kekuatan personel tim matador ini cukup kuat untuk mengatasi tim asuhan Jorge Sampaoli dan 'Tim Kanguru'.
Tapi Spanyol tentu tidak boleh memulai pertandingan pertama dengan kekalahan seperti saat Piala Dunia 2010 lalu, karena artinya akan sulit untuk lolos sebagai juara grup.
Menjadi runner up memang cukup untuk mengantarkan mereka ke babak 16 besar, namun hal ini sepertinya tidak diharapkan pihak Spanyol mengingat mereka harus langsung menghadapi pemimpin Grup A. Diperkirakan, sang tuan rumah Brasil-lah yang akan menghadang runner-up Grup B, grup yang dihuni Casillas dan kawan-kawan.
Maka dari itu, menjadi peringkat satu di fase grup merupakan hal krusial bagi Spanyol. Dan, artinya, mereka harus mempersiapkan diri sesempurna mungkin untuk bertanding lawan Belanda di partai pembuka.
Masih akan sulit bagi Spanyol untuk mempertahankan gelar juara mereka. Tapi, jika bisa mengatasi Robin van Persie dkk di pertandingan pertama, babak empat besar sepertinya masih sangat mungkin untuk diraih pada Piala Dunia 2014 ini. Itu pun dengan catatan. Bahwa sang juara bertahan harus siap menghapi rentetan strategi anti tiki-taka.
====
*dianalisis oleh @aabimanyuu dari @panditfootball
(roz/krs)











































