Pada tanggal 13 Juni 2014 genderang perang akan ditabuhkan. Bukan untuk memperebutkan kekuasaan atas sebuah wilayah, tetapi pertarungan awal untuk menjadi pemenang dalam sebuah kompetisi sepakbola paling bergengsi, yaitu Piala Dunia.
Setelah kemewahan upacara pembukaan dipersembahkan, laga antara Brasil melawan Kroasia akan mengawali pertunjukkan tim-tim sepakbola terbaik di dunia dalam memamerkan kekuatannya.
Kedua tim tentu ingin memulai turnamen dengan baik. Kemenangan pada pertandingan pertama akan menjadi modal penting untuk menjalani laga kedua. Sebaliknya, kekalahan akan membuat beban lolos fase grup jadi lebih berat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sempat kalah oleh Swiss pada pertandingan uji coba pertama, Brasil kembali menunjukkan kengeriannya dengan menyapu bersih sembilan laga uji coba berikutnya dengan kemenangan. Dari 10 pertandingan tersebut, total Brasil telah mencetak 30 gol dan hanya kemasukan tiga gol. Artinya, rataan gol mereka mencapai 3 gol pertandingan.
Sementara itu, Kroasia bukanlah tim yang asing di piala dunia. Sempat tampil gemilang pada turnamen debut dengan menjadi juara tiga, yaitu pada Piala Dunia 1998, pecahan negara Balkan ini tereliminasi sejak babak grup di dua edisi lainnya.
Pada Piala Dunia 2014, skuat asuhan Niko Kovac pun tak terlalu meyakinkan. Sepanjang babak kualifikasi mereka hanya memasukkan 12 gol. Tapi, meski kurang tajam di depan gawang, Kroasia cukup baik dalam bertahan. Tercatat hanya 9 gol yang bersarang ke gawang Kroasia saat babak kualifikasi.
Pertarungan di Lini Tengah
Salah satu kekuatan pertahanan Kroasia adalah pada lini tengah. Para pemain yang mengisi pos ini memiliki kemampuan menguasai bola dengan baik. Possession football pun diperagakan sangat baik sehingga Dario Srna dkk. jarang kehilangan bola.
Lini tersebut dihuni oleh dua jawara Eropa, Luka Modric (Real Madrid) dan Ivan Rakitic (Sevilla), serta gelandang muda berbakat Mateo Kovacic.
Ketiganya memiliki kemiripan gaya dalam mengolah si kulit bundar. Mereka merupakan tipikal pemain-pemain yang handal dalam penguasaan bola dan lihai dalam menempatkan bola pada ruang kosong lawan. Ini membuat permainan Kroasia berpusat di lini tengah. Kreativitas ketiganya akan memanjakan trio lini depan Ivan Perisic, Ivica Olic, dan Nikica Jelavic dengan umpan-umpan terobosan maupun direct ball-nya.
Modric dengan pengalamannya bermain sebagai box-to-box bersama Real Madrid dipastikan akan menemani Rakitic yang akan berperan sebagai deep-lying playmaker.
Hanya saja, ada permasalahan tentang posisi Kovacic. Memasang pemain Inter Milan ini pada posisi gelandang serang sebenarnya menimbulkan pertanyaan. Ini karena Kovacic merupakan playmaker yang pergerakannya hanya sekitar lingkaran lapangan tengah. Padahal, posisi itu telah dipercayakan pada Rakitic yang lebih senior. Kovacic pun terpaksa memainkan peran playmaker yang lebih mendekati kotak penalti lawan.
Tak seperti lini tengah Kroasia yang benar-benar mengandalkan kreatifitas, lini tengah Brasil terbilang lebih seimbang. Oscar, Luis Gustavo, Paulinho, Hernanes, atau Fernandinho akan menempati posisi yang benar-benar ideal dengan gaya bermain masing-masing.
Untuk memutus penguasaan bola dari lini tengah Kroasia, Scolari nampaknya akan menurunkan duet Gustavo dan Paulinho. Ketimbang gelandang-gelandang lain, kedua pemain ini memang fasih memainkan aksi-aksi bertahan.
Selain itu, Oscar juga bisa diinstruksikan untuk bergeser dan membantu pertahanan menemani Gustavo dan Paulinho. Ini untuk membuat pemain Kroasia kesulitan menembus pertahanan Brasil.
Skema ini persis yang dilakukan Brasil ketika melawan Spanyol pada Piala Konfederasi 2013. Tim matador yang kala itu mencatat 29 pertandingan tak terkalahkan berhasil dibuat tak berdaya oleh anak-anak asuh Scolari.
Pada pertandingan itu, Oscar, Gustavo dan Paulinho bermain kompak dan disiplin menggalang lini tengah Brasil. Ketika bertahan, Oscar bertugas sebagai pemberi tekanan pada lawan yang menguasai bola. Sedangkan Gustavo dan Paulinho konsenstrasi menjaga area depan backfour. Strategi yang tentunya bisa juga dipakai melawan Kroasia nanti.
Area Kunci
Ciri khas Brasil adalah pada skill individu. Dan generasi pemain yang jago dalam hal liuk-liukan βjogo bonitoβ seakan tak akan pernah selesai. Dari masa ke masa, silih berganti pesepakbola Brasil menjadi perbincangan khalayak dunia karena kemampuannya dalam mengolah si kulit bundar.
Ketika terakhir kalinya Brasil menjuarai piala dunia, yaitu pada 2002, ciri khas ini pun sukses diperlihatkan. Kala itu, dunia melihat bagaimana Selecao memiliki talenta-talenta hebat seperti Rivaldo, Ronaldinho, dan Ronaldo. Lalu bagaimana dengan saat ini? Tumpuan harapan brasil adalah tentu ada pada diri sang bintang, Neymar.
Secara konsisten pemain Barcelona itu mampu menjadi mesin gol bagi negaranya. Dribbling luar biasa dikombinasikan dengan trik-trik lihai ketika melewati lawan, kemudian diakhiri dengan tendangan keras terarah, menjadi senjata mematikan bagi kubu Brasil. Tercatat 31 gol telah ia lesakkan ke gawang lawan dalam 49 total pertandingannya bersama timnas.
Dalam skema Scolari, pemain berusia 22 tahun itu akan mengisi sisi kiri penyerangan. Biasanya, ia akan menggiring bola dari sektor tersebut lalu melakukan cutting inside. Jika ada ruang tembak, ia tak akan ragu untuk melakukan shooting keras dan terarah dari luar kotak penalti. Lalu, jika ruang lari nya tertutup, biasanya ia akan dibantu Marcelo untuk membongkar sisi kanan pertahanan lawan.
Dalam pertandingan nanti, Neymar sendiri akan berhadap-hadapan langsung dengan kapten sekaligus pemain paling berpengalaman di kubu Kroasia, Darijo Srna.
Srna tentunya siap bertarung melawan Neymar. Hanya saja pemain berusia 32 tahun itu bukanlah tipikal bek sayap yang hanya diam menunggu lawan datang menyerang. Ia merupakan tipe fullback modern yang rajin naik untuk mendobrak area pertahanan lawan.
Apalagi jika pergerakan lini tengah Kroasia berhasil dimatikan. Otomatis ia harus menjadi solusi agar penyerangan Kroasia menjadi lebih bervariasi.
Di area inilah Brasil bisa mencuri kesempatan dalam kesempitan, karena zona sayap pertahanan Kroasia akan lebih sering ditinggalkan "penghuninya". Jelas ini menjadi sebuah keuntungan bagi Neymar. Serangan balik cepat lewat sektor ini akan membuat pertahanan Kroasia kelimpungan.
Tak hanya untuk Neymar, Hulk yang berada di sisi lain pun akan mendapatkan sedikit βkemudahanβ. Danijel Pranjic, yang sejatinya pemain utama pada posisi bek kiri Kroasia, mengalami cedera pada pertandingan uji coba terakhir. Sialnya tidak ada lagi pemain lain yang dikhususkan sebagai backup posisi tersebut.
Jika saja Josip Simunic tak dihukum FIFA, mungkin Kovac akan kembali menerapkan formasi tiga bek seperti yang ia lakukan pada awal-awal babak kualifikasi. Namun, saat ini bukan waktu yang tepat bagi Kovac untuk berandai-andai. Pilihan akhir tentu harus ia ambil, yaitu memasang Sime Vrsaljko atau Domagoj Vida, yang aslinya merupakan bek kanan, sebagai bek kiri.
Prediksi Starting XI
Persiapan Brasil dalam menghadapi piala dunia tak menemui hambatan berarti. Tak ada pemain yang terpaksa hanya jadi penonton karena cedera. Neymar sebenarnya sempat dikabarkan menderita cedera. Namun, tim medis memastikan pemain yang lahir di Mogi das Cruzes itu bisa tampil pada laga pembuka nanti.
Ini berbanding terbalik dengan sang tamu. Selain Simunic yang dipastikan absen sepanjang kompetisi, Pranjic dan Mandzukic pun dipastikan absen pada laga pembuka. Penyerang Bayern Munich ini harus absen karena menerima kartu merah pada pertandingan play-off melawan Islandia. Posisinya kemungkinan akan diisi oleh penyerang Hull City, Nikica Jelavic.
Untuk sektor penjaga gawang, Kovac sempat merotasi Stipe Pletikosa dan Danijel Subasic. Namun, kemungkinan besar Pletikosa-lah yang jadi pilihan Kovac. Pada laga-laga play-off, kiper berusia 35 tahun ini berhasil menorehkan dua cleansheet.

Prediksi Skor
Kalaupun turun dengan kondisi full-team, Kroasia tetap akan kesulitan melawan sang tuan rumah di partai pembuka. Apalagi dengan tim yang pincang. Perjuangan Srna dan rekan-rekannya tentu jadi lebih berat.
Maka, satu-satunya cara untuk memberikan perlawanan pada Brasil adalah dengan memanfaatkan servis-servis bola mati. Rakitic, Modric, Kovacic, dan Srna harus bisa memaksimalkan setiap set-piece yang mereka dapatkan.
Di atas kertas, Brasil pasti lebih diunggulkan. Faktor cuaca, pendukung, skuat yang komplit di setiap lini, dan kubu lawan yang tidak komplet membuat mereka berada di atas angin. Dan dengan kondisi seperti ini, seharusnya Brasil tak akan kesulitan untuk mencetak dua atau tiga gol pada laga pembuka dan membuat pendukungnya bersorak-sorai.
Bersiaplah. Genderang perang akan segera dibunyikan.
====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(roz/krs)











































