Mengandalkan Counter Attack Sebagai Anti-Tiki Taka

Preview Spanyol vs Belanda

Mengandalkan Counter Attack Sebagai Anti-Tiki Taka

- Sepakbola
Jumat, 13 Jun 2014 09:42 WIB
Mengandalkan Counter Attack Sebagai Anti-Tiki Taka
Getty Images
Jakarta -

Bagi Belanda ini sebuah partai balas dendam. Sebuah laga untuk membalas sakit hati atas gol Andreas Iniesta, yang terjadi empat menit sebelum usainya babak perpanjangan waktu di final Piala Dunia 2010.

Kala itu, kesempatan Tim Oranye untuk pertama kali mengangkat trofi Piala Dunia memang dipupuskan oleh satu-satunya gol pada pertandingan tersebut.

Sungguh ironis, bahwa lawan terakhir yang Robin van Persie dkk temui di piala dunia adalah lawan pertama yang akan menghadang perjalanan mereka tahun ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tapi empat tahun adalah rentang waktu yang cukup lama. Satu periode yang sangat cukup untuk mempelajari kelemahan sang lawan, sekaligus juga untuk menyadari bahwa ada kalanya perlu mengutak-atik filosofi permainan demi kemenangan.

Ya, laga ini bukan sekadar laga balas dendam tapi juga akan pertandingan yang bertolak belakang. Pada satu sisi, Spanyol, akan tetap menjaga jati diri mereka sebagai sebuah tim yang mengutamakan penguasaan bola. Sedangkan di sisi lainnya, Belanda akan coba menurunkan egonya dan keluar dari khasanah gaya bermain yang sudah dianut selama puluhan tahun.

Menyerupai Atletico

Jikalau gaya permainan Spanyol diibaratkan sebagai gaya Barcelona, maka Belanda kemungkinan besar akan bertindak sebagai Atletico Madrid. Sang pelatih, Louis van Gaal, tampaknya akan lebih memilih untuk fokus bertahan, melakukan pressing ketat, dan sesekali menyerang lewat serangan balik.

Tapi, bukan hanya gaya permainan saja yang hendak diubah pelatih baru Manchester United itu, tetapi juga pola bermain. Sebelumnya, mereka kerap bermain dengan pola 3-4-3 ataupun 4-3-3. Menghadapi Spanyol, bisa jadi Belanda malah mengadopsi pola 5-3-2.

Memang, jalan yang dipilih oleh van Gaal bertentangan dengan apa yang kita kenal selama ini. Bahwasanya timnas Belanda adalah tim yang selalu tampil menyerang dan juga tampil atraktif.

Namun, apa daya. Tampaknya hanya taktik itu yang sudah teruji mampu meredam agresifitas tiki-taka. Atletico telah membuktikannya semusim ke belakang. Jose Mourinho juga sudah, saat Chelsea berhasil mengalahkan Liverpool di depan publiknya sendiri. Pun begitu dengan Real Madrid, yang mampu menyingkirkan Bayern Munich di pentas Liga Champions.

Jadi tak ada salahnya jika Van Gaal juga menerapkan taktik yang demikian. Toh, tahun ini mereka juga diisi oleh banyak nama-nama muda, yang memang kompeten untuk melakukan itu. Anak-anak muda yang punya kecepatan dan punya stamina prima.

Terlebih lagi Spanyol sampai hari ini adalah Spanyol yang dulu. Tim yang masih saja mengandalkan formasi 4-3-3. Mayoritas pemainnya adalah pemain-pemain yang berhasil membawa La Furia Roja menjadi jawara Eropa dua kali, dan sekali mengangkat trofi Piala Dunia. Pemain-pemain kini telah lamban lantaran dimakan usia dan mulai rentan terkena serangan balik.

Counter Attack Sebagai Anti Tiki Taka

Van Gaal sadar betul, bahwa tim yang akan dihadapinya di partai pembuka grup B adalah tim yang gemar memainkan bola-bola pendek dan merangsak ke sepertiga lapangan akhir dengan mengandalkan umpan terobosan. Karenanya, pada pertandingan malam nanti, ia akan menginstruksikan anak didiknya untuk memberi keleluasaan pemain-pemain Spanyol untuk memegang bola, sembari mencari momentum yang tepat untuk menyerang balik.

Duet wingback Belanda, Daryl Janmaat dan Daley Blind, juga bisa diminta untuk lebih turun, membuat garis pertahanan yang rendah, sekaligus mengantisipasi pergerakan duo fullback tim matador yang rajin melakukan overlap.

Di depan lima bek itu, akan berdiri Jonathan De Guzman dan juga Nigel De Jong. Jika empat tahun lalu De Jong bertugas untuk menjaga pergerakan Xabi Alonso, kali ini ia akan lebih difokuskan untuk menjaga kedalaman. Berduet dengan De Guzman, mantan pemain AC Milan itu mesti mengantisipasi umpan-umpan terobosan yang bisa dilepaskan sewaktu-waktu oleh Iniesta ataupun David Silva.

Jika skema pertahanan ini dapat berjalan dengan baik, berarti Diego Costa, atau siapapun yang diplotkan di lini depan Spanyol, akan terisolasi. Hal ini akan memudahkan kerja trio center back Belanda yang masih minim jam terbang internasional itu.

Pun begitu dengan duet lini depan Belanda, Arjen Robben dan Robin van Persie. Saat kehilangan bola, mereka dituntut untuk sedikit turun membantu pertahanan, sekaligus bersiap melakukan serangan balik.

Tugas tersebut bukan hal baru bagi keduanya. Robben melakukan hal yang sama ketika bermain untuk klubnya, Bayern Munich. Begitu juga dengan Van Persie, ia pernah melakukan skema ini saat masih berseragam Arsenal.


[Grafis prediksi pergerakan pemain kedua tim]

Yang sedikit agak berbeda hanyalah pergerakan Robben ketika melakukan serangan balik. Mengingat duet lini depan Belanda, baik Robben maupun Van Persie, sama-sama mengandalkan kekuatan kaki kiri, pemain Bayern itu tampaknya akan sedikit "dikorbankan".

Pada pertandingan malam nanti Robben tak akan bisa melakukan kebiasaannya, melakukan cutting inside lalu melepaskan tembakan, karena peran tersebut akan diemban oleh RvP. Robben akan diinstruksikan untuk mencari ruang kosong di flank kanan, dan lebih sering menyuplai bola kepada Van Persie. Dengan demikian, praktis ia akan lebih sering melakukan crossing --untuk memanfaatkan kelebihan Van Persie dalam duel udara-- ataupun mengirimkan umpan tarik, ketimbang melepaskan shooting.


[Grafis pola penyerangan Belanda]

Setia dengan Tiki-Taka

Bagi Spanyol tak ada pilihan lain. Mereka akan tetap memainkan ciri khas mereka dengan menguasai bola dengan mengandalkan umpan-umpan pendek dan jarak antarlini yang rapat. Bedanya, banyak dari skuat mereka yang pergerakannya sudah mulai lamban karena dimakan usia.

Hal inilah yang sebenarnya menjadi kekhawatiran terbesar Vicente del Bosque. Ketika mereka bermain terbuka dan mengandalkan penguasaan bola, mereka rentan terkena serangan balik cepat. Dan manakala lawan mereka di partai pembuka grup B nanti akan mengandalkan skema serangan balik cepat, Del Bosque harus sedikit memutar otak agar timnya mampu meredam kecepatan pemain-pemain Belanda.

Di lini belakang, Sergio Ramos tampaknya akan diduetkan dengan Javi Martinez untuk mengantisipasi pergerakan Arjen Robben. Selain lebih punya kecepatan, Martinez juga dianggap sudah hapal dengan gaya permainan Robben, rekan satu timnya.

Sementara itu, di lini tengah Sergio Busquets akan tetap diplot sebagai holding midfielder. Xabi Alonso akan membantu Xavi Hernandez untuk membuka ruang dan melepaskan diri dari penjagaan ketat pemain-pemain Belanda. Semua masih sama, karena memang Spanyol nyaris tidak mungkin keluar dari pragmatisme filosofi bermain yang mereka praktekkan selama 8 tahun terakhir.

Tak ada yang salah dengan pilihan itu. Jika Iniesta dkk memang sangat amat baik memainkan gaya yang memberikan mereka dua gelar Piala Eropa dan satu gelar Piala Dunia ini, mengapa harus pusing-pusing mengganti kulit?

Tapi bukan tak ada yang beda dengan Spanyol kali ini. Yang sedikit berbeda adalah lini depan, yaitu pada sosok Diego Costa. Pemain yang tampil mengesankan bersama Atletico Madrid ini akan diplot sebagai ujung tombak tim Matador. Ia akan ditugaskan untuk menjadi decoy. Sebagai pemantul bola untuk Iniesta dan Silva yang berada di sisi flank kanan dan kiri dan juga untuk menarik perhatian bek-bek Belanda.

Spanyol Menyerang Lewat Kanan

Kemungkinan besar Del Bosque akan menginstruksikan anak didiknya untuk lebih banyak menyerang lewat sisi kanan dan mengeksploitasi kelemahan sisi kiri pertahanan Belanda. Pasalnya, pos itu akan diisi oleh Daley Blind yang memang belum terlalu fasih bermain sebagai wing back. Pemain Ajax Amsterdam itu pun sering terlambat turun sehabis menyerang.

Memang, kelemahan tersebut sudah dibaca dengan baik oleh Van Gaal. Caranya adalah dengan menempatkan Martens Indi di posisi center back kiri sebagai bentuk antisipasi jika Blind terlambat turun. Ketika pemain Ajax itu telat mundur, maka Indi ditugaskan untuk menutup ruang yang ditinggal Blind.

Tapi ini bukan dengan tanpa konsekuensi.Dengan bergesernya Indi ke samping, berarti Belanda melonggarkan penjagaan Diego Costa. Kondisi itulah yang kemudian hendak dimanfaatkan Spanyol.

La Roja akan melepaskan umpan-umpan terobosan andalan untuk merangsak ke area penalti. Dan, jika hal itu terus menerus dilakukan, bukan tidak mungkin gol akan tercipta lewat kaki penyerang baru Chelsea tersebut. Apalagi trio lini belakang Belanda memang masih muda dan minim jam terbang internasional.

Kesabaran Adalah Kunci

Jika sudah demikian, berarti kedua tim sama-sama butuh kesabaran. Spanyol harus sabar dalam membongkar pertahanan Belanda, sementara De Jong dkk harus menunggu momentum tepat untuk melakukan serangan balik dan tetap disiplin menjaga pertahanan mereka.

Jika salah satu dari keduanya gagal melakukan hal itu, berarti mereka harus rela kehilangan tiga angka dan menerima risiko bahwa peluang untuk menjadi juara grup B semakin sulit.

Satu poin untuk masing-masing tim merupakan capaian realistis. Lebih baik mengantongi satu angka daripada harus bernafsu mencari tiga angka, namun berujung petaka.


===

* Dianalisis oleh Pandit Football Indonesia. Akun twitter: @panditfootball

(a2s/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads