Utak-Atik Scolari Memanfaatkan Kelemahan Lawan

Grup A: Brasil 3-1 Kroasia

Utak-Atik Scolari Memanfaatkan Kelemahan Lawan

- Sepakbola
Jumat, 13 Jun 2014 21:19 WIB
Utak-Atik Scolari Memanfaatkan Kelemahan Lawan
REUTERS/Paulo Whitaker
Jakarta -

Terlepas dari keputusan kontroversi wasit ketika memberikan penalti pembalik kedudukan Brasil, tim tuan rumah memulai turnamen dengan sempurna setelah mengalahkan Kroasia pada laga pembuka Piala Dunia 2014.

Sempat tertinggal lebih dulu lewat gol bunuh diri Marcelo, skuat asuhan Felipe Scolari ini berhasil membalikkan keadaan via dua gol Neymar dan satu gol Oscar pada penghujung laga. Tiga poin krusial pun sukses diraih.

Tapi kemenangan ini tidak diraih dengan mudah. Skema yang diterapkan oleh pelatih Kroasia, Niko Kovac, dengan memasang tiga gelandang yang fasih menguasai bola cukup merepotkan anak-anak asuhan Scolari. Opsi serangan Brasil melalui umpan silang pun sukses dimentahkan oleh barisan pertahanan Kroasia. Hingga menit ke-70, skor pun masih imbang satu sama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Titik Lemah Kroasia

Di kubu tuan rumah, Scolari melakukan pertukaran posisi trisula penyerangnya, yaitu Neymar, Oscar dan Hulk.

Neymar yang biasanya dipasang di sebelah kiri, malam tadi bermain sebagai gelandang serang. Sementara itu, Oscar yang biasanya memegang peran penghubung ke lini depan ditempatkan di sebelah kanan. Hulk kemudian dipindahkan ke area kiri.



Dengan skema tersebut Scolari terlihat ingin memanfaatkan kelemahan Kroasia yang ditinggalkan bek andalannya, Danijel Pranjic, karena cedera. Pemain Panathinaikos ini terpaksa digantikan Sime Vrsaljko yang naturalnya bermain sebagai bek kanan.

Cara yang dilakukan Scolari adalah dengan menempatkan Oscar di sisi kanan. Selain untuk mengeksploitasi Vrsaljko, sisi ini juga agar Oscar menghindari Darijo Srna, bek andalan sekaligus kapten Kroasia, yang beroperasi sebagai bek kanan. Adalah Hulk yang lalu dikorbankan untuk menghadapi Srna.

Pelatih Kroasia, Niko Kovac, menyadari sisi kiri ini adalah titik terlemah pertahanan timnya. Maka dari itu, Kovac menginstruksikan Ivica Olic (sayap kiri) untuk bergeser hingga sepertiga area pertahanan. Tujuannya jelas. Ia bertugas sebagai pemain pertama yang menghambat serangan-serangan Brasil dari sayap. (lihat grafis di bawah)


[Defensive action Kroasia yang menggeser Perisic dan Olic sejajar dengan Modric-Rakitic]

Tak hanya sampai di situ. Untuk memperkuat pertahanan, sang ujung tombak, Nikica Jelavic, dan Mateo Kovacic (gelandang serang) pun ditempatkan lebih dalam mendekati Modric dan Rakitic. Keduanya diinstruksikan menjadi perebut bola di lini tengah. Artinya, seluruh pemain Kroasia berada di areanya sendiri ketika mendapatkan serangan dari Brasil.

Strategi pertahanan ini ternyata sukses membuat skema penyerangan Brasil tak berkembang. Brasil lebih sering memainkan umpan-umpan pendek di tengah lapangan untuk memancing keluar pemain-pemain Kroasia yang sibuk menata pertahanan.

Antisipasi Scolari

Scolari sendiri tampaknya sudah mengantisipasi kekuatan gelandang-gelandang Kroasia. Karena itu anak-anak asuhnya lebih sering mengirimkan bola diagonal ke arah sayap. Selain untuk memanfaatkan kekuatan Neymar yaitu melakukan cutting inside, Brasil juga coba untuk mengirimkan umpan silang ke kotak penalti ke arah Fred.

Skema ini terbantu dengan kedua fullback Brasil, yaitu Daniel Alves dan Marcello, yang memang mumpuni dalam naik menyerang.

Namun, solidnya pertahanan Kroasia, baik dalam melakukan duel-duel udara, maupun memotong bola untuk Neymar membuat skema Scolari menemui jalan buntu.

Menyerang Sayap Brasil

Kovac sepertinya tak mau ambil risiko dengan memainkan sepakbola terbuka. Ia sadar bahwa menerapkan sepakbola menyerang melawan tim sekelas Brasil adalah tindakan bunuh diri. Oleh karena itu ia lebih memilih fokus merapatkan pertahanan ketimbang berusaha habis-habisan menciptakan gol.

Strategi serangan balik cepat jadi opsi yang dipilih untuk mencetak gol, terutama lewat sayap. Kovac tampaknya paham bahwa duo fullback Brasil akan sering meninggalkan posnya ketika Brasil melakukan penyerangan.

Tak ayal, Kroasia menyerang lewat kedua sisi sayap. Setiap para pemain Kroasia menguasai bola, pemain tersebut diharuskan dengan cepat mengirimkan umpan through ball maupun umpan langsung ke sisi kosong area kanan/kiri pertahanan Brasil.

Pemain sayap yang tidak menerima bola diinstruksikan masuk ke kotak penalti untuk menemani Jelavic. Sementara itu, Kovacic bertugas menjaga area depan kotak penalti sebaga antisipasi adanya bola rebound.


[Stastik passing Kroasia yang melakukan penyerangan lewat kedua sayap pada babak pertama]

Hasilnya terbukti jitu. Bola hasil tekel di tengah lapangan dikirim ke sebelah sisi kanan pertahanan Brasil yang ditinggalkan Daniel Alves. Lalu, Olic yang berada di area tersebut tanpa penjagaan berhasil mengirimkan umpan silang datar ke dalam kotak penalti. Jelavic pun sukses menyontek bola ke tiang jauh yang kemudian berbuah gol bunuh diri dari Marcello.



Kesulitan Neymar

Tertinggal satu gol, Brasil pun menaikkan intensitas serangan. Namun, rapatnya jarak antarlini Kroasia membuat Brasil kesulitan menembus pertahanan. Arah passing mereka sering terhenti sebelum mendekati kotak penalti.

Adanya Modric-Rakitic yang setia melindungi backfour di area depan kotak penalti juga menjadi penyebab kesulitan Brasil menembus lini tengah musuh. Bahkan, empat pemain di lini penyerangan sangat kesulitan untuk mendapatkan bola.

Tak jarang pula Neymar terpaksa turun hingga ke sepertiga area pertahanan sendiri untuk menjemput bola.

Bermain di depan area kotak penalti Kroasia memang membuat Neymar kesulitan untuk berkreasi. Kerapatan antara Kovaci-Modric-Rakitic berhasil membuat Neymar cukup terisolir di area tersebut.

Kroasia sendiri sering kali melakukan serangan balik ketika lini pertahanan berhasil merebut bola. Namun, pada menit ke-29, ketika counter-attack ini berhasil dipatahkan, justru pertahanan Kroasia yang panik mendapatkan serangan balik dari Brasil.

Kepanikan yang membuat lengah, karena Modric-Rakitic terpancing untuk merebut bola dari penguasaan Oscar. Pemain klub Chelsea ini pun dengan jeli memberikan umpan pendek pada Neymar. Mendapat ruang bebas, sang bintang Barcelona pun bisa melakukan tembakan yang membuahkan gol penyama kedudukan.

Memancing dengan Melonggarkan Pressing

Kunci keberhasilan Brasil mencetak dua gol pada babak kedua adalah dengan cara mengubah gaya pertahanan Brasil.

Lho, kok bisa?

Sepanjang babak pertama, Brasil sangat bernafsu untuk mencetak gol. Neymar dkk pun sering kali melakukan pressing hingga area pertahanan Kroasia, agar lawannya cepat kehilangan bola. Selecao seolah tak sabar untuk melakukan serangan demi serangan.

Namun di babak kedua skema seperti itu mulai ditinggalkan. Pada sisa 45 menit terakhir ini Brasil bermain lebih bersabar. Bahkan pressing pun terbilang longgar. Para pemain Kroasia dibiarkan menguasai bola sebelum mendekati area kotak penalti.

Skema pertahanan Brasil tersebut ternyata berhasil membuat gaya bermain Kroasia berubah. Jika pada babak pertama Ollic dkk langsung mengirim umpan-umpan langsung ke area pertahanan Brasil, maka pada babak dua Kroasia lebih bersabar dalam menguasai bola. Umpan-umpan pendek di tengah pun mulai terlihat dilakukan oleh trio Modric-Rakitic-Kovacic.


[Grafik Perubahan Pola Umpan Kroasia di Babak 1 (kiri) dan Babak 2 (kanan)]

Mendapatkan sedikit keluasaan dalam menguasai bola membuat pelatih Kroasia memikirkan cara untuk bisa mencuri gol. Salah satunya adalah menarik keluar Kovacic dan menggantikan Brozovic pada menit ke-60.

Kovac terlihat tak puas dengan hasil 1-1. Alih-alih memperkuat pertahanan dengan memasukkan gelandang bertahan seperti Vukojevic, Kovac lebih memilih memasukkan Brozovic yang juga seorang pembagi bola.

Tapi, inilah yang sebenarnya diincar Scolari. Mantan pelatih Chelsea itu coba memancing Kroasia untuk bermain lebih terbuka dan meninggalkan sarangnya.

Ternyata strategi ini cukup berhasil. Sisi kiri pertahanan Kroasia, yang sejak awal diincar Scolari, mulai bisa ditembus. Olic mulai "melupakan" tugasnya sebagai pelindung Vrsaljko karena sibuk membantu penyerangan.

Dari skema itulah kemudian Alves-Oscar-Paulinho (Hernanes) mengobrak-abrik area Vrsaljko. (lihat grafis di bawah)


[Grafik Umpan di Sepertiga Lapangan Akhir Brasil. Menit 0-45 (kiri) dan menit 46-70 (kanan)]

Grafik di atas memperlihatkan bahwa pada babak pertama Brasil sangat kesulitan untuk mendekati area kotak penalti. Ini berbeda dengan babak kedua. Meski jumlah serangan berkurang, Brasil berhasil membuat Vrsaljko kewalahan. Area ini juga yang menjadi awal terjadinya penalti.

Ini tak lepas karena Oscar mulai mendapatkan ruang bebas di area tersebut. Oscar, yang biasanya menghadapi Olic-Vrsaljko pada babak pertama, mendapati kemudahan setelah konsentrasi Olic terbagi karena dibutuhkan saat Kroasia melakukan penyerangan.

Di sinilah titik cerah Brasil mulai terlihat. Oscar dengan skill individunya pun berkali-kali mampu melewati hadangan Vrsaljko dan memasuki final third.

Oscar pada babak pertama hanya melakukan 74% umpan sukses. Sedangkan pada babak kedua umpan sukses Oscar meningkat menjadi 94%.



Kesimpulan

Niko Kovac mengawali pertandingan dengan taktik sempurna. Memasang tiga gelandang yang fasih memegang bola, serta menginstruksikan kedua sayap untuk bermain di area pertahanan sendiri, membuat Brasil kesulitan untuk memasuki area penalti Kroasia dari tengah. Tim asuhan Scolari itu pun lebih memilih untuk menyerang lewat sisi sayap lewat umpan silang atau cutting inside yang dilakukan Neymar, yang nyatanya tidak efektif.

Sebaliknya, serangan balik cepat Kroasia yang diarahkan ke arah kedua fullback Brasil cukup berhasil. Sayangnya sang ujung tombak, Nikica Jelavic, kurang baik membaca permainan dan tidak mampu merespon umpan-umpan silang yang dikirimkan oleh Ollic atau Perisic.

Di babak kedua, Scolari mengganti cara bermain timnya. Ia melonggarkan pressing untuk memancing para pemain Kroasia keluar dari sarangnya. Terbukti, taktik ini cukup berhasil sehingga para pemain Brasil mampu mengeksploitasi kelemahan Kroasia, yaitu pada bek kiri. Awal mula penalti pun berasal dari sisi ini.

Pada akhirnya, pengalamanlah yang berbicara. Cukup wajar sebenarnya jika Kovac terpancing oleh pelatih sekaliber Scolari. Tapi, dengan kekalahan ini, setidaknya banyak yang bisa dipetik oleh Kovac untuk menghadapi dua laga sisa nanti.

Brasil sendiri bukannya tanpa pekerjaan rumah. Dengan skema yang tepat, Kovac telah menunjukkan kelemahan sang tuan rumah, yaitu pada ruang kosong yang sering ditinggalkan dua fullback-nya.


===

* Dianalisis oleh Pandit Football Indonesia. Akun twitter: @panditfootball

(a2s/mfi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads