Baru laga berjalan 2 menit Argentina mampu unggul 1-0 setelah Sead Kolasinac mencetak gol bunuh diri. Tapi setelah itu, di sisa babak I, Lionel Messi cs begitu sulit menembus barisan pertahanan Bosnia yang boleh dibilang bermain tanpa rasa takut. Baru di babak kedua Argentina mulai bisa lepas dari tekanan terutama setelah mengubah pola lewat pergantian pemain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelatih Argentina, Alejandro Sabella, memilih menghadapi laga perdana ini dengan pendekatan hati-hati dan tidak gegabah dalam menyerang. Ini tercermin dari pilihannya untuk menurunkan 3 bek tengah dan 2 wingback dalam skema dasar 5-3-2.
Selain memakai back-three Ezequiel Garray, Hugo Campagnaro dan Federico Fernandez, Sabella memasang Paolo Zabaleta dan Marcos Rojo sebagai wingback. Ini pilihan yang bisa menggambarkan kehati-hatian Sabella karena saat bermain di klubnya Sporting Lisbon, Rojo bahkan seorang centerback. Di atas kertas, Argentina memainkan empat bek tengah dan satu orang wingback pada sosok Zabaleta.
5-3-2 sempat tiga kali dipakai Sabella dalam babak kualifikasi. Hasilnya: tiga kali itu juga dia mengalami kegagalan. Mereka hanya bisa bermain imbang melawan tim-tim kecil seperti Ekuador dan Bolivia, serta kalah dari Venezuela. Pada laga ujicoba baru-baru ini, Sabella mencoba kembali 5-3-2 dan hasilnya menang 2-0 atas Slovenia. Kemenangan itu yang mungkin membuatnya yakin.
Sementara dikubu lawan, pelatih Safet Susic datang ke Brasil dengan 4-2-3-1 yang bertranformasi menjadi 4-5-1 sama sekali tak pernah dipakai oleh Bosnia selama babak kualifikasi. Di bawah Susic, Bosnia biasanya bermain dengan 2 striker sekaligus yaitu Edin Dzeko dan Idad Ibisevic. Di laga ini, Ibisevic disimpan di bangku cadangan guna menambah kekuatan di lini tengah dengan memasukkan Muhammed Besic.
Pola 4-5-1 sendiri baru diujicoba Susic dua minggu sebelum Piala Dunia dimulai. Eksperimen itu cukup sukses karena mereka mampu mengalahkan Mexico dan Pantai Gading. Sama seperti Argentina, sistem baru ini nyatanya malah membuat Bosnia kesulitan untuk menyerang.
Memanfaatkan Gelandang Sayap untuk Bertahan dan Menyerang
Seperti yang dijelaskan di awal pernyataan Susic yang akan menjaga mengorbankan satu pemain untuk menjaga Lionel Messi, hal itu memang dilakukannya. Ketika Messi mengeksploitasi sisi kiri Bosnia, di sana sudah siap menghadang Emir Spahic dan Sead Kolasinac. Di awal babak pertama, Messi bahkan mendapat penjagaan lebih yakni dengan mundurnya Senad Lulic β pemain ini adalah pemain serba bisa, di klub asalnya Lazio, selain bisa diplot sebagai penyerang sayap, Lulic pun kerap dimainkan fullback oleh Eduardo Reja, Pelatih Lazio.
Selain Messi, Susic pun mengintruksikan dua pemain untuk menjaga Sergio Aguero. Saat Bosnia diserang, otomatis dua pemain akan menjaga Aguero. Yakni centerback Emin Bicakcik dan fullback kanan Mensur Munjdza yang akan bergeser sedikit ke tengah.
Sebenarnya ini meninggalkan sedikit lubang di sisi kanan pertahanan Bosnia karena saat Munjdza bergeser ke tengah, gelandang sayap kanan, Izet Hadrovic, tak pernah turun ke bawah untuk menutup lubang yang ditinggalkan Mujidza. Hajrovic hanya mundur sampai area tengah. Hanya saja lubang itu tak dimanfaatkan Argentina karena Di Maria dengan amat baik sanggup dijaga oleh Miralem Pjanic atau Besic. Selain itu, Di Maria sendiri memang cukup rajin bergerak ke tengah dan tidak statis di sisi kiri.

[heatmap Pjanic dan Besic]
Statisnya Hadrovic di lini depan ini secara taktikal juga berhasil menahan wingback kanan Argentina, Michel Rojo, untuk tidak banyak naik ke atas. Rojo hanya berani naik hingga batas area final third Bosnia.
Munjdza lebih baik ketimbang Rojo. Kendati saat bertahan Mundza mesti menjaga Aguero, namun Munjdza berani naik ke depan memberi bantuan kepada Hajrovcic. Tercatat dua crossing mampu dia buat, satu diantaranya berbuah menjadi attempt bagi Bosnia.
Peran Rodriguez yang Tak Optimal
Lantas bagaimana peran Di Maria di lini tengah? Mencemati 3 gelandang Argentina. Hanya Di Maria saja yang boleh dikata memberikan pengaruh saat Argentina menyerang. Posisinya amat cair, dia sering bergerak ke tengah dan kanan membantu Messi. Area aksinya luas.
Berbeda dengan Di Maria, Mascherano cenderung bertahan karena dia memang diplot untuk itu, namun bagaimana Maxi Rodriguez? Di sini problem Argentina. Cara dan era gerak Maxi cenderung statis. Dia jarang naik sampai final third untuk memastikan Messi-Aguero mendapatkan bantuan dari sisi kanan. Dia lebih sering berada di tengah lapangan dan bahkan tak pernah membuat satu pun umpan di final third.
Ketidakmampuan Maxi di tengah membuat hanya Di Maria saja yang bekerja keras di lini itu. Coba lihat grafik passing Maxi Rodriguez pada babak pertama, pemain ini lebih banyak melakukan backpass ketimbang mengalirkan bola ke depan. [lihat grafik]

Ketidakoptimalan Maxi di lini tengah membuat ada kesenjangan antara lini tengah dan lini depan Argentina. Tim berjuluk Abiceleste ini kadang hanya menyerang dengan tiga pemain saja (Di Maria-Aguero-Messi).
Cara Mematikan Lionel Messi
Di babak pertama, Bosnia lebih bermain sabar dan menunggu Argentina masuk ke area final third mereka. Saat diserang, 5 gelandang Bosnia akan langsung merapat dengan 4 bek. Kondisi ini yang membuat Argentina kesulitan menembus lini pertahanan Bosnia karena selalu kalah jumlah. 3-4 pemain Argentina versus 8 pemain Bosnia.
Untuk mengantisipasi penjagaan bek dan mengoptimalkan Messi, Sabella mengintruksikan Messi bergerak lebih bebas ke tengah, sekaligus untuk membantu Di Maria jadi penghubung ke Aguero.
Ada satu hal menarik bagaimana upaya pelatih Bosnia untuk mematikan Messi. Susic menukar posisi dua centerback Emir Bicakcik dan Emir Spahic. Bicakcic yang beroperasi sebagai centerbek kiri ditukar menjadi kanan, begitupun sebaliknya. Hal ini untuk mencegah Messi melakukan dribbling dan cut inside. Jika kita perhatikan, saat Messi mendrible bola di sayap kiri Bosnia, Spahic akan menutup bada pada sisi kanan hingga memaksa Messi menggiring ke sayap kiri dan memaksanya melakukan crossing atau mengumpan pada Zabaleta yang selalu telat datang.
Jangan heran jika kombinasi Aguero dan Messi hanya sanggup membuat dua percobaan mencetak gol sepanjang babak pertama dan tidak ada satu pun yang tepat sasaran.
Pergantian Pemain yang Mengubah Pertandingan
Sabella melakukan perubahan di awal babak II dengan menarik Rodriguez dan Campagnaro untuk digantikan oleh Gonzalo Higuain dan Fernando Gago. Masuknya dua pemain ini membuat Argentina kembali ke pakem lama 4-3-3. Keluarnya Campagnaro memuat Argentina bermain dengan back-four dan secara skema mereka bermain menjadi 4-3-3.
Jika Gago mengisi posisi Maxi dan memastikan Argentina tetap bermain dengan tiga gelandang, masuknya Higuain membuat anak asuh Sabella bermain dengan tiga pemain di lini serang. Sabella menginstruksikan tiga pemain di lini serang ini, Higuain-Aguero-Messi, untuk bermain cair dan tidak statis di area tertentu.
Masuknya Higuain membuat pertahanan Bosnia lebih kesulitan karena harus menjaga tiga pemain sekaligus dan tiga-tiganya bergerak dengan cair dan saling bertukar posisi. Situasi ini direspons Susic dengan meminta dua fullback Bosnia, Mujdza dan Kolasinac, untuk mengurangi intensitas naik ke atas dan lebih bermain merapat ke tengah mendekati dua centerback.

Gol kedua Argentina yang dicetak Messi lahir dari situasi ini. Saat itu Messi yang mundur ke tengah dan membiarkan pemain bertahan Bosnia sibuk mengawal Higuain dan Aguero. Inilah yang memungkinkan Messi bisa leluasa memasuki pertahanan Bosnia lewat aksi dribling yang diakhiri dengan tendangan keras nan akurat ke pojok gawang yang dijaga kiper Asmir Begovic.

Respons Susic
Setelah tertinggal 2-0, Susic mencoba lebih agresif menyerang dengan melakukan beberapa perubahan. Dia memasukan Ibisevic untuk menggantikan Mujdza dan memasukkan Edin Visca menggantikan Izet Hajrovic. Pergantian ini membuat Bosnia bermain dengan 3 penyerang sekaligus.

Argentina kemudian meresponsnya dengan menggeser Gago lebih ke dalam sehingga sejajar dengan Mascherano. Jalannya pertandingan kemudian mulai dikuasai oleh Bosnia, terlebih setelah Bosnia memasukan gelandang bertipikal box to box, Haris Medunjanin. Masuknya Medunjanin berhasil mendesak menggeser Di Maria lebih dalam, sehingga area bergeraknya semakin rapat pada Mascherano dan Gago.
Tidak mengherankan jika Bosnia bisa lebih leluasa area pertahanan Argentina. Gambaran efektivitas pergantian pemain yang dilakukan Bosnia terlihat dari grafis umpan Argentina di bawah ini, yang membuktikan bahwa Bosnia lebih banyak melakukan passing di area pertahanan Argentina.

Dalam situasi seperti inilah gol Ibisevic lahir. Menerima umpan terobosan dari sisi kiri, Ibisevic yang baru masuk terlihat jauh lebih unggul dalam power dan kecepatan dengan para pemain bertahan Argentina yang sudah mulai kelelahan.
Kesimpulan
Kredit pantas diberikan pada Saffet Susic yang pilihan taktikalnya untuk mengubah skema bermain dengan 2 penyerang guna memperbanyak pemain gelandang. Kesalahan fatal gol bunuh diri Kolasinac tak membuat mereka panik atau terpancing mengubah skema dan taktik secara dini. Susic pantas untuk berandai-andai: andai saja tak ada gol bunuh diri...
Sementara bagi Allejandro Sabella, dia patut mendapat kritik untuk performa timnya sepanjang babak I. Jika skema awal 3-5-2 diniatkan untuk memberi ruang yang leluasa kepada Messi untuk berkreasi, itu terbukti meleset di laga ini. Messi kesulitan melepaskan diri dari cara bertahan Bosnia yang rela mengorbankan 2-3 pemain untuk mengawalnya. Bosnia bisa melakukan itu karena jumlah pemain di pertahanan mereka selalu lebih unggul dari pemain lini serang Argentina yang gagal mendapat dukungan dari lini tengah.
Setelah kembali bermain dengan 3 pemain di lini depan, Messi bisa lebih leluasa bermain karena konsentrasi pemain bertahan Bosnia semakin terpecah dengan masuknya Higuain. Dia jadi lebih bebas bergerak, baik ke kanan, ke kiri dan tentu saja sedikit turun ke dalam. Berkat inilah Messi bisa mencetak gol.
====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(roz/a2s)











































