Pertandingan terakhir fase pertama babak grup Piala Dunia 2014 berakhir dengan sepakan Dries Mertens dan kemenangan untuk sang kuda hitam, Belgia.
Namun, menyandang status kuda hitam yang diramalkan akan melaju tanpa hambatan, serta tim yang dipenuhi oleh pemain klub papan atas Eropa, tak serta-merta membuat The Red Devils menang dengan mudah. Berhadapan dengan wakil Benua Afrika, Aljazair, Eden Hazard dkk tampil kerepotan dan bahkan sempat tertinggal 0-1 terlebih dahulu lewat gol penalti Sofiane Feghouli.
Ya, pasukan Valid Halhodzic memang berhasil mengagetkan banyak pihak dengan menyulitkan Belgia. Bahkan, Belgia pun baru bisa menyamakan kedudukan pada menit ke-70, yaitu lewat tandukan Marouane Fellaini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satu keunikan, yang pada akhirnya menejadi kelemahan Belgia, adalah pada barisan pertahanan. Wilmots memilih untuk memainkan empat pemain yang memiliki posisi asli sebagai bek tengah.
Pasalnya, negara yang absen di dua Piala Dunia sebelumnya ini memang kekurangan bek sayap di dalam skuatnya. Jan Vertonghen dan Toby Alderweireld, yang memiliki posisi asli sebagai bek tengah, lalu dipercaya bermain sebagai bek kanan dan kiri.
Di pihak Aljazair, Valid Halihodzic memainkan formasi awal 4-3-2-1 dengan Soudani sebagai penyerang tunggal. Di belakang Soudani, berdiri pemain Valencia, Sofiane Feghouli, dan pemain Leicester City, Riyad Mahrez, sebagai gelandang serang.
Pada sektor gelandang, Halihodzic ternyata lebih memilih untuk memainkan seorang yang berposisi asli bek tengah sebagai gelandang bertahan, Carl Medjani. Pemain yang kini merumput di klub Ligue 1, Valenciennes, ini mendampingi dua pemain muda Aljazair, Nabil Bentaleb dan Saphir Taider, di tengah.

Susunan line up dan statistik pertandingan Belgia vs Aljazair
Permasalahan Tiga Gelandang Belgia
Diunggulkan, Belgia bermain dengan percaya diri. Chadli dkk pun mengambil alih permainan dengan menguasai bola sepanjang pertandingan. Tercatat, ball possession Belgia mencapai 68% sepanjang pertandingan sementara Aljazair hanya 32%.
Namun di babak pertama, Belgia tak bisa menjadikan penguasaan bola ini untuk mencetak gol, atau mencatatkan peluang emas. Masalah paling utama adalah pada ketiga gelandang tengah yang terlalu statis dan minim kreativitas.
Di lini tengah Wilmots sendiri memasang trio gelandang Axel Witsel yang berdiri agak dalam, serta Dembele dan Nacer Chadli yang berposisi lebih ke depan. Tapi, baik Dembele maupun Chadli minim bergerak sehingga sangat mudah bagi para pemain Aljazair untuk menutup pergerakan mereka.
Hal ini terlihat dari defensive action yang dilakukan oleh para pemain Bentaleb dkk di daerah tengah. Terjadi 7 kali intersepsi dan 3 kali tekel berhasil pada area Dembele dan Chadli bekerja. Chalkboard defensive action para pemain Aljazair di babak pertama menunjukan bagaimana mereka berhasil mematikan kedua gelandang Belgia tersebut.

Defensive action yang dilakukan Aljazair pada babak pertama
Kesulitan Belgia dalam mengalirkan bola melalui area tengah akhirnya membuat mereka hanya memainkan bola di daerah sendiri. Hal ini terlihat dari tingginya kombinasi operan yang dilakukan antar keempat pemain bertahan. Kombinasi umpan tertinggi pada pertandingan tersebut adalah antara Vertonghen ke Kompany (21), Kompany ke Van Buyten (20), Alderweireld ke Van Buyten (17), Van Buyten ke Kompany (16), serta Van Buyten ke Alderweireld (15).
Permasalahan di Sisi Sayap Belgia
Tapi, masalah pada babak pertama tak hanya terjadi pada ketiga gelandang, tapi juga pada sisi sayap Belgia, meski Wilmots memasang dua pemain yang memiliki kreativitas tinggi dengan skill individu yang sangat baik di sektor kanan dan kiri Belgia, yaitu Eden Hazard dan Kevin De Bruyne.
Satu hal yang harus diingat adalah Belgia tidak memasang pemain yang memiliki posisi asli sebagai fullback. Jan Vertonghen dan Toby Alderweireld, yang dipasang sebagai bek kanan dan kiri, adalah pemain yang biasanya berperan sebagai bek tengah. Hal ini menyebabkan baik Hazard dan De Bruyne jarang mendapatkan bantuan dari kedua bek sayap saat mereka menyerang.
Baik Vertonghen maupun Alderwireld memang sering terlambat melakukan overlap saat melakukan penyerangan. Berbeda dengan seorang fullback murni, kedua pemain ini pun hanya melakukan overlap hingga memasuki area 1/3 akhir lapangan.
Catatan heat map kedua bek sayap Belgia ini menunjukan bagaimana mereka tidak melakukan overlap hingga ke depan.

Heatmap Vertonghen (kiri) dan Alderweireld (kanan). Sumber: squawka.com
Minimnya bantuan dari kedua fullback ini kemudian menyebabkan Hazard dan De Bruyne kesulitan untuk membuka peluang dari sektor sayap.
Pertahanan Rapat Aljazair
Selain kedua permasalahan di atas, pertahanan rapat dan disiplin yang dibangun para pemain Aljazair juga menjadi penyebab mentoknya serangan Belgia. Sadar bahwa mereka dalam kondisi tidak diunggulkan, Aljazair bermain bertahan dengan menumpuk sebelas pemain di daerah sendiri.
Β
Formasi dasar 4-3-2-1 berubah menjadi 4-4-1-1 saat mereka bertahan. Kedua gelandang serang, yang awalnya berada di belakang striker, lalu berdiri melebar melapisi area sayap saat bertahan.
Kemudian, salah satu dari tiga gelandang bertahan Aljazair akan berdiri sedikit ke depan untuk mengganggu gelandang Belgia mengatur serangan. Bahkan satu striker Aljazair pun ikut mengambil peran untuk mengganggu pemain Belgia mengatur serangan.
Bahaya yang hadir dari striker Belgia, Romelu Lukaku, lalu dinetralisir oleh 2 bek tengah. Penjagaan ketat ini menyebabkan Lukaku harus ditarik keluar lapangan tanpa sempat melepaskan satu pun tendangan ke gawang.
Yang menarik dari cara pemain Aljazair bertahan adalah bagaimana mereka melakukannya dengan sangat disiplin dan rapih. Hal ini ditunjukan dari minimnya pelanggaran yang mereka lakukan. Sepanjang babak pertama, hanya tujuh pelanggaran Aljazair dengan hanya 3 diantaranya di area pertahanan sendiri.
Kerapatan barisan pertahanan Aljzair ini membuat Belgia hanya mampu melakukan tembakan dari luar kotak penalti. Tercatat, dari 8 kali attempts Belgia di babak pertama, hanya 1 kali yang terjadi di dalam kotak penalti.
Pergantian Pemain Cemerlang oleh Marc Wilmots
Melihat pemainnya kesulitan dalam menembus pertahanan lawan, Marc Wilmots langsung bereaksi pada babak kedua dengan mengganti beberapa pemain. Dan ternyata, ketiga pergantian ini menjawab permasalahan Belgia di babak pertama.
Substitusi pertama adalah dengan memasukan Dries Mertens menggantikan Nacer Chadli. Mertens masuk mengisi posisi penyerang sayap dan menggeser De Bruyne kembali ke posisi gelandang serang.
Kembalinya De Bruyne ke posisi gelandang serang ini yang menjawab masalah minimnya kreativitas yang terjadi pada 45 menit pertama.
Berbeda dengan Chadli, De Bruyne bermain dengan lebih aktif bergerak di tengah dan mengobrak-abrik pertahanan Aljazair. De Bruyne juga sering bertukar posisi dengan Hazard di sektor kiri yang sama-sama memiliki kreativitas luar biasa.
Dengan permainan ini, serangan Belgia jadi lebih cair dan sulit untuk ditahan. Pada babak kedua, Belgia pun mulai bisa melepaskan tendangan ke gawang dari dalam kotak penalti Aljazair. Pada chalkboard tendangan ke gawang Belgia di babak kedua, tercatat 5 dari 7 attempts terjadi di dalam kotak penalti.

Perbandingan tendangan ke gawang yang dilakukan oleh Belgia di Babak pertama (kanan) dan babak kedua (kiri)
Meski demikian, serangan Belgia masih belum membuahkan hasil. Wilmots yang sangat membutuhkan kemenangan kemudian melakukan dua pergantian lainnya. Romelu Lukaku digantikan penyerang muda, Divock Origi, serta Dembele digantikan oleh Marouane Fellaini.
Origi yang ditempatkan sebagai striker diberi tugas untuk lebih aktif bergerak mencari ruang. Berbeda dengan Lukaku yang lebih mengandalkan kekuatan untuk berduel dengan kedua bek tengah, Origi ditugaskan untuk terus bergerak dan mengacaukan posisi kedua bek tengah Aljazair. Fellaini sendiri memiliki tugas khusus.
Melihat kerapatan pertahanan Aljazair, Wilmots mencari alternatif lain untuk melakukan serangan. Dan jawabannya adalah dengan menyerang melalui udara. Inilah yang menjadi tugas spesial Fellaini pada pertandingan kali ini.
Pada awalnya, pemain Manchester United ini menunjukan peran sebagai seorang gelandang tengah yang menjadi posisi naturalnya. Namun ketika serangan Belgia mulai terbentuk, Fellaini mulai mengambil posisi di sebelah Origi sebagai striker.
Hadirnya Fellaini di posisi striker adalah sebagai sasaran umpan silang Belgia. Postur tubuh Fellaini yang tinggi menjadi keuntungan tersendiri dalam melakukan duel udara.
Belgia pun mulai banyak melakukan umpan silang setelah Fellaini memasuki lapangan. Tercatat 11 kali crossing dilakukan dalam selang waktu 35 menit terakhir pertandingan, yaitu saat Fellaini sudah berada di lapangan. Padahal, selama 65 pertama, Belgia hanya melakukan 5 kali umpan silang.
Gol pertama Belgia jadi buah dari siasat jitu Wilmots ini. Fellaini membayar kepercayaan dengan mencetak gol sundulan setelah memenangkan duelnya dengan bek tengah Aljazair.
Kesimpulan
Aljazair berhasil membangun pertahanan yang sangat rapat dan disiplin di daerah pertahanan mereka. Hal ini membuat para pemain Belgia mengalami kesulitan untuk menembus dan menciptakan peluang.
Bagi Belgia, hal ini diperparah dengan minimnya kreativitas para gelandang, dan dua fullback yang tidak bisa menopang Eden Hazard dan De Bryune dalam menyerang. Akibatnya serangan pun mudah dipatahkan.
Namun kemudian Marc Wilmots berhasil mencari solusi yaitu dengan melakukan pergantian pemain yang tepat. Selain itu, ketika serangan melalui bola-bola bawah gagal, Wilmots memilih untuk mencoba melakukan serangan udara. Masuknya Fellaini membuat opsi serangan udara Belgia menjadi terbuka. Kemampuan Fellaini yang baik dalam melakukan duel udara pun berhasil menyelamatkan Belgia dari kekalahan dari Aljazair.
====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(roz/a2s)










































