Kegagalan mengeksploitasi sisi sayap, membuat Brasil kesulitan mencetak gol ke gawang Meksiko. Oscar tak mampu menunjukkan performa apik di sisi kanan seperti yang ia lakukan kala menghadapi Kroasia di laga pembuka. Brasil pun mesti berbagi poin dengan Meksiko, setelah kedua tim meraih hasil imbang 0-0.
Hasil ini menunjukkan masalah serius di lini depan Brasil. Dari sepuluh pertandingan terakhir, Fred dan Jo, masing-masing hanya mampu mencetak satu gol. Keduanya kalah telak oleh Neymar yang telah mencetak delapan gol. Oscar bahkan mampu mencetak empat gol, dan Hulk tiga gol.
Lini depan Brasil belum siap untuk diuji ketangguhannya oleh lini belakang yang bermain solid, kompak dan rapat. Menghadapi lima bek Meksiko, Brasil seperti tak punya opsi lain untuk menyerang lewat sayap. Ini yang membuat peran Fred tidak terlalu maksimal. Fred lebih sering terperangkap offside (3 kali) ketimbang menendang bola ke arah gawang (1 kali).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara taktikal, hasil imbang ini sudah kami prediksi dalam ulasan preview pertandingan. Striker Brasil yang tidak tajam, berhadapan dengan cara bertahan Meksiko yang berlapis. Demikian dengan duet striker Meksiko yang harus berhadapan terlebih dahulu dengan Paulinho dan Luiz Gustavo sebagai poros ganda Brasil, sebelum mencapai kotak penalti.

Menyerang Lewat Sayap
Menyerang lewat sayap menjadi opsi paling mungkin digunakan bagi kedua tim. Meksiko sangat mengandalkan dua wingback mereka Miguel Layun di kiri dan Paul Aguilar di kanan. Di pertandingan pertama menghadapi Kamerun, peran Layun begitu besar untuk mengeksploitasi sisi kanan pertahanan Kamerun. Kombinasinya dengan dua striker Meksiko, membuat lini pertahanan Kamerun kesulitan untuk membendungnya.
Sementara bagi Brasil, serangan lewat sayap belakangan mulai menjadi ciri mereka di era kepemimpinan Scolari ini. Produksi crossing mereka selalu tinggi. Memiliki penyerang bertubuh tinggi besar seperti Fred (185 cm) dan Jo (191 cm) agaknya memungkinkan Brasil untuk bermain dengan umpan-umpan silang. Apalagi mereka punya dua fullback yang agresif menyerang pada diri Marcelo dan Dani Alves serta gelandang yang mahir membongkar pertahanan lewat pergerakan memanfaatkan lebar lapangan seperti Oscar dan Neymar.
Dalam dua laga awal Piala Dunia 2014, mereka tercatat sudah memproduksi 50 umpan silang. Bukan angka yang sedikit untuk tim yang dulunya masyhur dengan permainan umpan-umpan pendek dikombinasikan dengan dribling dan trik-trik individu. Dari 50 umpan silang, hanya 6 yang tepat sasaran. Rasio keberhasilnnya hanya sekitar 8%. Di laga melawan Meksiko, Brasil bahkan hanya sukses membuat 1 umpan silang yang tepat sasaran.
Laga ini memperlihatkan taktik dua tim yang punya kecenderungan mendistribusikan bola ke lebar lapangan tiap kali memasuki daerah pertahanan lawan. Tapi keduanya juga sama-sama kesulitan memaksimalkan distribusi bola yang banyak memanfaatkan lebar lapangan ini.
Brasil kesulitan mengeksploitasi sisi sayap Meksiko karena lawannya terlihat sudah siap menghadapi serangan dari sayap ini. Meksiko turun dengan 3 center back dan 2 wingback sehingga sebaran pemain di garis pertahanan mereka sangat rapat ketika menerima tekanan. Tiap kali wingback mereka menghadapi serangan, salah satu dari tiga center back sudah besiap melapis menjaga kemungkinkan lawan bisa lolos dari penjagaan.
Di sini serunya. Saat Oscar di kanan atau Ramires di kiri mencoba membongkar pertahanan sayap Meksiko yang berlapis, dua fullback mereka yang memang agresif menyerang (Alves-Marcelo) juga ikut naik memberi dukungan. Pertarungan alot memang terjadi di kedua sisi lapangan ini.
Sementara bagi Meksiko, serangan memang bermula dari dua wingback mereka yang melakukan akselerasi. Keduanya sering menyilangkan bola jika salah satu diantara mereka ditekan lawan. Ini sering telat disadari oleh lini pertahanan Brasil.
Ketika Brasil fokus mengurung Aguilar di kanan, ia dengan mudah mengumpan ke kiri yang diisi Layun. Hal ini berulang-ulang terjadi di pertandingan semalam. Beruntung, lini depan Meksiko tak mampu melanjutkannya untuk menjadi gol.

Figure Passing Brasil dan Meksiko
Chalkboard passing di atas menjelaskan dengan baik bagaimana kedua tim sukar menembus pertahanan lawan lewat tengah. Memasuki pertahanan, bola nyaris selalu didistribusikan ke sisi lapangan.
Mengincar Sisi Marcelo
Saat menghadapi Kamerun, Herrera menginstruksikan pemainnya untuk menyerang sisi kanan pertahanan Kamerun. Saat itu sisi kanan Kamerun diisi Cedric Djeugoue yang menjadi titik lemah Kamerun. Ini terlihat dari statistik Aguilar yang hanya melepaskan lima kali umpan silang, sementara Layun di sisi kiri melepaskan tujuh umpan silang.
Scolari sepertinya sudah mengantisipasi pergerakan Layun. Untuk menambal lubang yang kerap ditinggalkan Alves yang naik menyerang, Scolari menurunkan Ramires yang punya kemampuan bertahan yang baik. Penempatan Ramires juga diharapkan bisa membantu Alves ketika ia terlambat bertahan. Tapi, Herrera selangkah lebih maju. Mengetahui Neymar dipasang kembali di posisi asalnya, di sayap kiri, Herrera menginstruksikan pemainnya untuk memulai serangan lewat sisi kanan Meksiko.
Ketika Brasil memulai serangan lewat sayap kiri lini, secara otomatis Marcelo ikut naik membantu serangan. Ini membuat sisi kiri pertahanan Brasil yang diisi Marcelo menjadi terbuka dan dapat dieksploitasi ketika mereka melakukan serangan balik. Sementara tandem Marcello di kiri, yaitu Oscar, tak punya kemampuan bertahan sebaik Ramires yang bisa melapis agresivitas Alves.

Ancaman dari Guardado
Sisi pertahanan yang dijaga Marcello kemudian coba dieksploitasi oleh anak asuhan Miguel Herrera. Brasil mencoba menambalnya melalui Paulinho, gelandang bertahan, yang banyak bergerak ke kiri untuk membantu Marcello.
Tapi ini sebenarnya hanya pengalihan. Ketika Meksiko mulai serangan lewat sisi kanan, mereka sebenarnya memancing pemain Brasil untuk fokus pada Paul Aguilar, wingback kanan, yang aktif menyerang. Ketika Aguilar berhasil memecah konsentrasi pemain-pemain Brazil, wingback kiri Layun sudah bersiap di sisi kiri Meksiko untuk melepaskan umpan atau membuat peluang lainnya.
Di sini pula peran Guardado di lini tengah menjadi terlihat. Ia bertugas di area kiri mendampingi Layun. Perannya sungguh vital bagi Meksiko untuk menciptakan peluang. Ia melepaskan tiga sepakan dari luar kotak penalti. Meski tidak menjadi gol, namun peluang tersebut mampu menekan Brasil. Guardado juga memberikan satu key pass di penghujung laga, yang tidak mampu dimaksimalkan lini depan Meksiko.
Peran Guardado seolah menggantikan vitalnya peran Herrera di lini tengah saat menghadapi Kamerun di laga perdana. Ketika menghadapi Kamerun, kombinasi Herrera dan Layun begitu mengancam. Herrera bahkan menjadi kreator dari gol Meksiko yang dicetak Peralta. Di laga ini, kombinasi Guarardo dan Aguilar yang menjadi aktor utamanya. Keduanya begitu padu untuk mengirimkan umpan dan menciptakan peluang bagi Meksiko.
Kokohnya Poros Ganda Brasil
Meski bermain menyerang, Brasil menerapkan garis pertahanan rendah. Ini dilakukan untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu Meksiko melakukan serangan balik. Brasil juga menempatkan Luiz Gustavo untuk tetap siaga di depan empat bek Selecao.

Gustavo bukan hanya sebagai pengganggu lini serang Meksiko, ia juga menjadi penghubung antara lini belakang dan lini depan Brasil. Gustavo mengumpan bola sebanyak 36 kali. Ketika bertahan, ia melakukan tiga kali clearance, empat kali intercept, dan empat kali tekel.
Ia mengimbangi Paulinho yang sering membantu serangan. Kokohnya poros ganda Brasil, membuat Meksiko kesulitan untuk masuk ke dalam kotak penalti. Bahkan, dari sembilan attemps, delapan dilakukan di luar kotak penalti.
Menendang dari luar kotak penalti tentu menyulitkan. Ini akan mengakibatkan akurasi tendangan menjadi berkurang. Ini pula lah yang membuat Brasil terus menerapkan garis pertahanan rendah. Menyimpan Silva dan Luiz di depan area kotak penalti, membuat Dos Santos dan Peralta tak mampu bermain taktis. Mereka harus berhadapan dengan Gustavo terlebih dahulu, sebelum bertemu dengan dua bek jangkung tersebut.
Strategi Scolari berhasil. Duet Dos Santos dan Peralta menjadi tidak berguna. Padahal kombinasi Dos Santos dan Peralta ini yang menjadi kunci permainan Meksiko saat mengalahkan Kamerun. Pergerakan dan pertukaran posisi dan kombinasi umpan keduanya sangat mengganggu pertahanan Kamerun.
Di laga ini, duet ini mati kutu dan terpaksa digantikan Raul Jimenez dan Javier Hernandez. Perubahan ini sendiri tidak banyak berarti. Jimenez lebih beroperasi di sayap kiri sedangkan Hernandez sendirian di jantung pertahanan.
Peluang terbaik Jimenez ada di menit ke-90. Mendapatkan umpan dari Guardado, ia melepaskan tendangan yang masih mampu ditepis Cesar. Ini menjadi peluang pertama Meksiko yang membahayakan gawang Cesar.
Poros ganda Brasil menjadi rintangan terbesar Meksiko di pertandingan semalam.

Menjegal Neymar dan Menghentikan Oscar
Tanpa diinstruksikan pun, skuat Meksiko pasti akan mewaspadai pemain bernama lengkap Neymar da Silva Santos Junior ini. Dengan mengembalikan ke posisi aslinya di kiri, akan menambah beban lini belakang Meksiko. Secara taktikal, digesernya Neymar ke kiri menjelaskan pilihan Scolari yang ingin menambah daya gedor Brasil melalui serangan dari lebar lapangan.
Mereka harus mewaspadai gerakan pemain kelahiran 1992 ini. Neymar sering menerobos area tengah pertahanan lawan. Ini pula yang terjadi ketika ia berhasil melewati tiga pemain belakang Meksiko. Beruntung, Layun dapat membuang bola tersebut.
Dengan seringnya beroperasi ke tengah, ini membuat Oscar lebih leluasa untuk bergerak. Ia bisa memancing lawan dengan mengejarnya, dan memberikan Neymar ruang untuk menembak bola. Tapi, pertahanan Meksiko tak semudah itu.
Setiap pemain Brasil membawa bola di lini pertahanan Meksiko, para pemain El Tricolor ini langsung memberikan tekanan dan tekel untuk memberi bola. Selama pertandingan, total mereka melakukan 31 kali tekel dengan 18 yang berhasil.
Ini pula yang terjadi pada Nyemar. Agresinya ke pertahanan Meksiko membuatnya harus sering dilanggar. Bahkan, Neymar menjadi pemain yang paling sering dilanggar dengan lima kali pelanggaran dari total 13 pelanggaran yang dibuat oleh Meksiko.
Menghentikan Neymar berarti menghentikan Brasil. Ketika ia tidak mampu mengembangkan kreativitas, maka Brasil pun seperti bukan apa-apa. Apalagi kinerja Oscar bisa dibilang buruk jika dibandingkan performanya di laga perdana.
Komparasi statistik Oscar di dua laga begitu kontras. Saat menghadapi Kamerun, Oscar bergerak dengan cair dan sama banyaknya antara bergerak di kiri atau kanan sisi penyerangan. Dia melakukan 11 upaya menggiring bola, 7 di antaranya berhasil melewati lawan. Di laga ini, pemain Chelsea ini lebih statis di sisi kanan sehingga pergerakannya lebih mudah diantisipasi. Tak heran jika di laga ini dia hanya bisa melakukan 4 upaya melewati lawan, dan hanya 1 yang berhasil. Satu-satunya momen di mana Oscar bisa menggiring bola (take-ons) dan melewati lawan justru terjadi saat dia melakukannya di sisi kanan.
Penyelamatan Gemilang Ochoa
Faktor yang tak bisa dan tak mungkin dilewatkan saat menganalisis hasil seri di laga ini adalah kinerja kiper Meksiko, Ochoa. Sundulan Neymar pada menit ke-26, hampir membuat pendukung Brasil bersorak. Dengan satu sentuhan, sundulannya mampu ke pojok kiri gawang, masih mampu diselamatkan.
Pada menit ke-44, Ochoa lagi-lagi melakukan penyelamatan gemilang. Lepas dari jebakan off side, Thiago Silva mengirimkan bola kepada Paulinho. Lagi-lagi, Ochoa berhasil menahan peluang tersebut dan membuat Brasil tidak mampu mencetak gol di babak pertama.
Ochoa tampaknya menjadi mimpi buruk bagi Neymar. Pada menit ke-69, sepakan kaki kirinya masih bisa ditahan bekas kiper Ajaccio tersebut. Mimpi buruk tersebut mencapai puncaknya pada menit ke-86. Silva berpeluang untuk membawa Brasil unggul atas Meksiko. Sundulannya hanya berjarak tiga meter dari gawang Meksiko. Tapi lagi-lagi, bola mengarah pada Ochoa, dan Brasil tak mampu mencetak gol.
Ochoa sanggup mementahkan 6 percobaan mencetak gol Brasil, 5 di antaranya bahkan saat percobaan mencetak gol itu dilakukan di dalam kotak penalti. Kinerja yang membuatnya sangat amat layak dan tanpa diragukan lagi layak disebut sebagai pemain terbaik di laga ini.
Kesimpulan
Brasil sulit menyerang lewat kedua sayap. Meksiko menyimpan tiga bek tengah dan dua wingback untuk mengawal lini belakang mereka. Tiga gelandang El Tricolor juga diinstruksikan untuk membantu lini pertahanan mereka. Kapan pun pemain Brasil mencoba menembus pertahanan Meksiko lewat sayap, selalu ada seorang bek tengah atau gelandang yang siap membantu wingback mereka yang diserang.
Sama halnya dengan Brasil, Meksiko juga sulit menyerang Brasil yang menerapkan garis pertahanan rendah. Umpan-umpan silang menjadi percuma karena Meksiko selalu kalah duel perebutan bola udara.
Demikian halnya ketika mereka ingin menyerang lewat tengah. Poros ganda Brasil, Gustavo dan Paulinho begitu disiplin menggalang pertahanan. Meksiko tak bisa berbuat banyak selain melepaskan tendangan dari luar kotak penalti.
Hasil seri ini tidak dapat dihindari. Secara teknis, mandulnya lini depan Brasil yang bertemu dengan pertahanan kuat ala Meksiko, tentu akan menghasilkan jawaban pasti. Tidak akan ada gol yang terjadi. Pun dengan Meksiko. Duet penyerang mereka tak cukup tangguh untuk bermain di gelaran sekelas Piala Dunia. Tidak adanya pengatur ritme permainan, membuat Meksiko bermain sekenanya.
Hasil seri 0-0 adalah hasil yang adil bagi kedua tim.

====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(roz/a2s)











































