Dominasi Lini Tengah Korsel Paksa Rusia Menyerang dari Sayap

Grup H: Rusia 1-1 Korsel

Dominasi Lini Tengah Korsel Paksa Rusia Menyerang dari Sayap

- Sepakbola
Rabu, 18 Jun 2014 17:17 WIB
Dominasi Lini Tengah Korsel Paksa Rusia Menyerang dari Sayap
Getty Images/Adam Pretty
Jakarta -

Korea Selatan dan Rusia harus berbagi poin di laga perdana yang digelar di Stadion Pantanal Arena. Skor akhir 1-1 menggambarkan dengan cukup tepat jalannya pertandingan. Kedua gol juga sama-sama dicetak oleh pemain pengganti.

Hasil seri ini membuat Korea Selatan (Korsel) gagal meneruskan rekor selalu menang di laga perdana Piala Dunia. Pada tiga Piala Dunia sebelumnya, Korsel selalu meraih tiga poin di laga perdananya (vs Polandia pada 2002, vs Togo pada 2006, dan vs Yunani pada 2010).

Sementara bagi pelatih Rusia, Fabio Capello, hasil seri ini menegaskan kegagalannya memperbaiki rekor laga perdana di Piala Dunia. Dua kali tampil di Piala Dunia, Capello selalu gagal meraih 3 poin. Pada 2010, bersama Inggris, Capello juga ditahan 1-1 oleh Amerika Serikat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasil ini menguntungkan Belgia yang di laga sebelumnya sukses menangguk 3 poin usai mengalahkan Aljazair dengan skor tipis 2-1.

Rusia Menyerang Lewat Sayap Karena Korsel Kokoh di Tengah



Sesuai prediksi, Rusia hendak memanfaatkan kelemahan Korsel dalam antisipasi bola-bola udara. Namun, diluar dugaan, permainan Rusia dibuat tidak berkembang oleh anak asuh Hong Myung-Bo.

Saat Rusia membangun serangan, pasukan Taeguk Warriors selalu memberikan pressing ketat. Pressing inilah yang kemudian membuat anak asuh Don Fabio tidak nyaman. Mereka harus segera melepaskan bola ataupun mengembalikan bola ke belakang untuk menghindari pressing Korsel.

Apa yang dilakukan Rusia tersebut merupakan imbas dari dimatikannya Victor Fayzulin, sang pengatur serangan Beruang Merah. Saat Rusia membangun serangan, Fayzulin selalu dijaga dua orang, Lee Chung-Young dan Han Kook-Young. Rusia dipaksa untuk memanfaatkan lebar lapangan daripada mengirimkan bola kepada Fayzulin terlebih dahulu.

Tapi, setelah berhasil memanfaatkan lebar lapangan, Rusia tak serta merta dapat masuk ke sepertiga akhir lapangan lawan. Di sisi kiri, Lee Yong berhasil menutup ruang Zury Zhirkov. Sedangkan di sisi kanan penyerangan Rusia justru terjadi penumpukan pemain.



Grafik defensive action Lee Yong

Hal tersebut dikarenakan, Don Fabio lebih memilih menurunkan Oleg Satov di posisi winger kanan dan menempatkan Alexander Samedov di belakang striker tunggal, Alexander Kokorin. Samedov yang naturalnya sebagai winger, jelas tak nyaman memerankan peran classic no 10. Telebih dengan penjagaan ketat yang diberikan Ki Sung-Yeung terhadap dirinya.

Penjagaan ketat Ki, telah memaksa Samedov bergerak sedikit melebar flank untuk mencari ruang kosong. Akan tetapi, ketika Samedov sedang melebar mencari ruang, Oleg Shatov tak serta merta menutup ruang kosong di tengah. Inilah yang menyebabkan adanya penumpukan pemain di sisi kanan penyerangan Rusia pada babak pertama. Karena di area tersebut diisi oleh Samedov, Shatov dan juga Andrey Eschenko.Penumpukan inilah yang menyebabkan serangan Rusia dari sisi kanan tak begitu efektif, sebelum masuknya Alan Dzagoev.

Inilah yang menyebabkan sepanjang babak pertama Rusia sangat mengandalkan serangan dari sayap melalui umpan-umpan silang. Tercatat Rusia memproduksi 13 umpan silang sepanjanjang babak I. Artinya hampir 4 menit sekali mereka membuat umpan silang. Itu pun jauh dari efektif karena hanya 4 umpan silang yang menemui sasaran.



Grafik passing Rusia babak 1

Setelah Dzagoev masuk menggantikan Oleg Shativ, barulah Smedov bisa kembali bermain di posisinya, winger kanan. Selain membuat Smedov bisa mengeluarkan kelebihannya dalam melepaskan umpan crossing, perpindahan posisi tersebut juga telah memberi keleluasaan ruang gerak untuk Eschenko.

Gol yang dicetak Aleksandr Kerzhakov pada menit 74 adalah buktinya. Gol semata wayang Rusia tersebut bermula dari kombinasi Smedov dan Eschenko di sisi flank kanan. Kombinasi yang tak bisa terlihat di babak pertama lantaran adanya penumpukan pemain di area tersebut.



Proses gol Rusia yang dicetak Aleksandr Kherzakov

Korsel Menguasai bola

Meski terus menerus menyerang, duet centerback Rusia, Ingnasevitch-Berezutski, yang dibantu gelandang bertahan, Denis Glushakov, lebih memilih untuk menunggu pemain-pemain Korea di depan kotak penalti mereka. Hal ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi serangan balik cepat ala Korsel. Pasalnya, jika bek-bek Rusia memasang garis pertahanan yang tinggi, mereka rawan oleh kecepatan para pemain depan Korsel.

Tapi, walaupun mampu menguasai bola dan juga lapangan tengah, pemain-pemain Korsel tetap saja kesulitan masuk ke kotak penalti Rusia. Korsel memang mendominasi lapangan tengah, terutama berkat kinerja yang baik sekali dari Sung Yeung Ki. Gelandang yang sejak 2009 merantau di Eropa ini, terlihat enjoy memimpin lini tengah dengan umpan-umpan pendek yang didistribusikan ke berbagai arah.

Dia menjadi paling aktif membuat umpan dibandung semua pemain dari kedua tim. Tiga umpannya berhasil dikonversi menjadi percobaan mencetak gol. Dia juga pemain Korsel terbanyak yang membuat crossing. Dan mencatatkan 4 kali sukses melewati pemain lawan (take-ons). Hanya saja, partnernya yang bermain di belakang striker Park Chu Young, yaitu gelandang Koo Ja-Cheol, tak bisa mengkonversi penguasaan lini tengah Sung Yeung Ki dengan membuat umpan-umpan tajam di final-third.

Inilah yang memaksa pemain-pemain Korsel untuk lebih sering melakukan tembakan dari luar kotak penalti. Di babak pertama, dari tiga percobaan mencetak gol, semuanya dilakukan dari luar kotak penalti.



Grafik attempts Korsel babak 1 dan babak 2

Situasi ini juga berlanjut di babak II. Korsel tetap kesulitan menembus jantung pertahanan Rusia yang memasang garis pertahanan rendah sehingga memaksa Korsel terus berusaha mencetak gol dari tendangan-tendangan jarak jauh. Salah satu percobaan itu berbuah gol melalui Lee Keun-Hopada menit ke-68. Tembakan kerasnya dari luar kotak penalti, salah diantisipasi oleh kiper Rusia, Igor Akenfeev.

Ya, coincidence is logical. Gol yang dicetak Lee Keun-Ho tersebut merupakan akumulasi dari seringnya pemain-pemain Korsel melakukan tembakan dari luar kotak penalti.

Efek Pemain Pengganti

Dua gol yang tercipta pada pertandingan ini dicetak oleh para pemain pengganti. Buah kejelian dari dua pelatih beda generasi.

Saat pergerakan park Chu-Young dapat dimatikan oleh duet centerback Rusia, Ingnasevitch-Berezutski, Hong Myung-Bo memilih menarik keluar pemain asal Arsenal itu dan menggantikannya dengan Lee Keun-Ho yang lebih punya kecepatan dan lebih berani melepaskan tembakan spekulasi.

Di sisi lain, Capello memang sedikit terlambat melakukan pergantian pemain. Namun, atas kejeliannya dalam melakukan pergantian pemain, Rusia berhasil mengantongi satu angka.

Melihat sisi kanan penyerangannya tak berkembang, Don Fabio, lantas memasukan Alan Dzagoev dan menarik Igor Shatov. Seperti yang disebutkan di awal, pergantian tersebut dimaksudkan untuk mengembalikan Smedov ke kanan.

Setelah timnya tertinggal satu angka, Kerzhakov dan Igor Denisov pun dimasukkan. Dengan memasukkan Kherzakov, Capello jelas ingin menambah daya dobrak timnya. Mengingat, Kokorin yang seorang diri, kewalahan menghadapi penjagaan Yeong-Gwon dan Jeong-Ho.

Sedangkan dengan memasukkan Denisov, Don Fabio menginginkan ada pemain yang dapat mengatur tempo permainan dan membantu kerja Fayzulin yang memang selalu mendapat penjagaan ketat dari Lee Chung-Young dan Han Kook-Young. Tugas yang tak dapat ditunaikan dengan baik oleh Denis Glushakov.

Apiknya Duet Hong Jeong-Ho dan Kim Young-Gwon

Sebelum tiba di Brasil, pelatih Korsel, Hong Myung-Bo, mengeluhkan buruknya antisipasi umpan silanglini belakang mereka. Namun, diluar dugaan, duet centerback Korsel, Hong Jeong-Ho dan Kim Young-Gwon, dapat mematikan pergerakan striker Rusia, Alexander Kokorin.

Memang, pressing pemain-pemain Korsel telah membuat Kokorin terisolasi. Namun, ketika sayap Rusia berhasil meloloskan diri lalu melepaskan umpan silang, umpan-umpan itu dapat dipatahkan oleh Jeong Ho dan Young-Gwon.

Sepanjang pertandingan, Jeong Ho berhasil melakukan 12 clearance, dengan 6 kali dilakukan oleh pemain 24 tahun ini di area kotak penalti. Sedangkan Young-Gwon melakukan 10 clearance dengan 7 clearance di antaranya di jantung pertahanan mereka.



Grafik defensive action Hong Jeong-Ho



Grafik defensive action Kim Young-Gwon

Hal yang membuat Capello terkecoh. Mengingat sejak awal Don Fabio memang hendak memanfaatkan kelemahan Korsel dengan menginstruksikan anak didiknya untuk rajin melepaskan umpan crossing.

Kesimpulan

Dengan mengandalkan stamina untuk melakukan pressing dan kecepatan untuk melakukan serangan balik, Korsel berhasil meredam agresifitas Rusia.
Kunci keberhasilan Korsel adalah kemampuan mereka untuk menguasai lini tengah sehingga memaksa Russi bermain melebar. Problem tinggal mengatasi umpan silang, dan itu pun berhasil dilakukan dengan baik oleh duet bek tengah Korsel. Dari 26 umpan silang Rusia, hanya 30% yang sukses menemui sasaran.

Cuaca Brasil yang panas memang menjadi masalah tersendiri bagi anak asuh Don Fabio yang terbiasa beramain di cuaca dingin. Namun, terlepas dari permasalahan itu, pressing ketat Korsel ternyata membuat permainan Rusia menjadi tidak berkembang. Terlebih, Don Fabio sedikit terlambat dalam melakukan pergantian pemain. Rusia harus segera bisa memecahkan problem yang dihadapinya pada laga berikutnya. Bukan hal mudah menghadapi Belgia yang belakangan justru menjadi favorit di Grup H ini.

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

(roz/krs)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads