Rotasi Formasi Belanda yang Berbuah Hasil Manis

Grup B: Australia 2-3 Belanda

Rotasi Formasi Belanda yang Berbuah Hasil Manis

- Sepakbola
Kamis, 19 Jun 2014 16:29 WIB
Rotasi Formasi Belanda yang Berbuah Hasil Manis
Getty Images/Vinicius Costa
Jakarta - Australia berhasil memberi perlawanan sengit kepada Belanda, De Oranje yang tampil trengginas saat menghadapi Spanyol tak menciutkan nyali Socceroos untuk bermain terbuka. Babak pertama, malah mereka unggul possesion jauh atas Belanda 60:40.

Secara mengejutkan sejak menit-menit awal pelatih Belanda, Louis Van Gaal, sama sekali tak mengubah taktik Belanda. Semuanya mirip persis saat menghadapi Spanyol, entah itu formasi, pola permainan, atau susunan line-up.

Dengan memakai sistem 5-3-2, Belanda menurunkan pemain yang sama seperti saat mereka membantai Spanyol kendati Australia jelas sangat berbeda dengan Spanyol, baik dari sisi kualitas maupun cara bermain. Australia cenderung bermain bola-bola panjang yang dialirkan ke sayap kemudian diakhiri dengan crossing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Sementara itu di kubu Australia, penampilannya kali ini lebih baik ketimbang pertandingan sebelumnya. Tak ada banyak perubahan di starting XI, hanya fullback kiri, Ivan Franjic yang cedera dan mesti absen. Perannya digantikan olehRyan McGowan. Bedanya, Australia bermain lebih solid, berani melakukan pressing tinggi, terutama menekan trio center-back Belanda.

Pressing Australia yang Mematikan Belanda

Menarik mencermati Australia yang lebih memilih bermain terbuka dan langsung menyerang di menit-menit awal. Dua gol cepat yang dicetak Chile pada awal babak pertama pada game sebelumnya dijadikan pelajaran bahwa memainkan sepakbola defensif sejak menit-menit awal adalah suatu kesalahan.

Dan benar saja, memanfaatkan keuntungan Belanda yang bermain agak lambat dan menunggu, Australia bisa disebut sebagai penguasa babak pertama. Seolah belajar dari kekalahan Spanyol, Australia sejak menit-menit awal memberikan pressing yang ketat terhadap Belanda. Australia tak bermain umpan-umpan pendek Spanyol, yang dilakukan Australia adalah setelah mereka kehilangan Bola, mereka langsung bermain rapat, man to man marking dan menekan barisan pertahanan Belanda.



[Transisi Menyerang – Bertahan Belanda babak I]

Mereka tahu, bahwa titik lemah Belanda terletak pada lini tengah. Dengan formasi 5-3-2 maka otomatis pusat serangan Belanda terletak pada Sneijder, karena De Guzman dan De Jong lebih condong sebagai gelandang bertahan. Karenanya saat bertahan, Sneijder jarang sejajar dengan De Guzman dan De Jong, dia mundur sampai area garis tengah lapangan.



Kesenjangan inilah yang dimanfaatkan Australia untuk berani melakukan pressing di lini pertahanan Belanda. Tak tanggung-tanggung 4-5 pemain sekaligus melakukan pressing dan man to man marking pada pemain Belanda. Trio Cahill – Oar – Leckie akan menekan back three Belanda De Vrij – Vlaar – Marthens Indi. Sedangkan Bresciano akan menekan De Jong, dan Jedinak kepada Guzman [lihat grafik di atas].

Inilah yang membuat aliran bola dari belakang selalu mental kembali terhadap kiper. Terlihat ada kepanikan di lini belakang Belanda. Upaya mereka untuk memberikan bola kepada Sneijder – Robben – Van Persie selalu berbuah gagal. Alhasil bola selalu dioper lagi kepada kiper Belanda yakni Jasper Cillessen.Tercatat di babak pertama, ada 15 kali upaya backpasses yang dilakukan bek-bek Belanda kepada Cillessen.



[Passing Belanda Babak I]

Sekilas jika kita perhatikan grafis di atas, pressing yang dilakukan Australia terhadap De Jong dan De Guzman membuat lini serang tengah Belanda tak efektif. Lantas untuk mengalirkan bola ke depan hal itu mesti dilakukan oleh seorang kiper, mengingat bek-bek Belanda tak leluasa melakukannya. Pada babak pertama saja, Cillessen melakukan 16 kali passing yang didominasi bola-bola panjang. Dari enam kali percobaan memberi umpan kepada Van Persie, tak ada satupun yang menemui sasaran.



[Passing Cillessen babak I]

Cara Mematikan Sneijder dan Van Persie

Tidak berkembangnya Van Persie di babak pertama selain karena tersendatnya aliran bola, keberanian Australia memainkan garis pertahanan pun menjadi salah satu poinnya. Dengan naiknya backfour otomatis poros ganda di depan pun akan bergeser ke tengah, hal inilah yang leluasa mendorong Sneijder yang semula bermain rapat dengan Robben – Van Persie jadi lebih cenderung sejajar dengan Guzman dan De Jong. Dan hal itu sudah terlihat sejak menit 15.

Peran untuk mendorong Sneijder itu dilakukan oleh Jedinak. Tak hanya mendorong terkadang Jedinak pun terlihat melakukan man to man kepada Sneijder, dengan mengikutinya mundur ke area pertahanan Belanda sembari menganggunya untuk tak melakukan passing ke depan. Tugas Jedinak untuk menganggu Sneijder ini diemban pula oleh Leckie. Alhasil sepanjang babak pertama, peran Sneijder bagi tim tak begitu cukup efektif.



[Passing Sneijder babak I]

Skema ini menyulitkan Belanda di lini tengah, mengingat banyaknya pemain Australia yang menumpuk di sana. Segitiga-segitiga dan rotasi antara Bresciano – Mckay – Jedinak, plus ditambah Oar dan Leckie yang ikut bermain menyempit membuat De Jong –Sneijder - De Guzman lebih bermain melebar, karenanya wajar saja jika kita perhatikan grafik passing Belanda di babak pertama, khususnya di depan back three seolah terasa seperti ada kekosongan di area itu.

Imbasnya, backthree Belanda kadang harus one on one dengan trio lini serang Australia, Cahill – Oar – Leckie. Hal ini bisa jadi masalah karena membuka ruang Australia menghasilkan umpan-umpan tajam, entah itu troughball atau longball, yang mengkondisikan pemain Australia tinggal berhadap-hadapan one on one dengan bek sebelum dengan kiper. Proses gol indah yang dicetak Cahill berdasarkan skema ini.



Peran Ganda Fullback Australia

Meski minim suplai bola, untuk mewanti-wanti pergerakan Van Persie dan Robben plus dua wingback Janmaat dan Blind, Australia lebih memilih dua fullback Jason Davidson dan Mc Gowan untuk tak terlalu overlapping naik jauh ke depan. Saat Van Persie atau Robben bermain melebar maka penjagaan kepada dua striker ini mutlak diberikan pada fullback. Inilah yang menyebabkan area aksi penyerangan Davidson dan Mc Gowan hanya dibatasi sampai pintu masuk ke area final third Belanda. Setelah masuk area itu mereka harus cepat-cepat melepaskan bola, entah itu lewat crossing, troughball atau memberi passing ke tengah.



[Passing Fullback Australia Davidson β€œatas” dan McGowen β€œbawah” babak I]

Kesimpulan

Tahu taktiknya tak efektif dan membuat sang singa malah jadi bulan-bulanan kangguru, maka Van Gaal mengganti formasi 5-3-2 menjadi 4-3-3 di akhir penghujung babak pertama. Masuknya Depay menggantikan Martin Indi mengubah segalanya, terutama dalam hal pengalir bola ke depan.



Kehadiran Depay yang dipasang di depan Sneijder mampu membuat Jedinak terfokus melepas dirinya. Lantas terlihat beberapa kali Sneijder leluasa berlari tanpa bola ke garis depan mendekat pada Depay.

Kekhawatiran Australia akan bola-bola crossing sodoran dari sayap kanan membuat Van Persie mendapat penjagaan yang ketat, tak seperti babak pertama saat Belanda menyerang dari sayap maka otomatis backfour di belakang akan berkumpul di kotak penalti. Dan Van Persie akan dikawal dua orang sekaligus. Lantas untuk mengawal area sayap, maka posisi Jedinak didorong cenderung menyayap.

Kekosongan di tengah ini yang membuat Ange mengganti Cahill dengan seorang gelandang yakni Ben Halloran. Kendati Belanda bermain dengan memaksimalkan 3 pemain di lini serang (Robben-Persie-Sneijder), Australia sendiri sebenarnya mampu memberikan perlawanan yang cukup ketat.

Mereka masih berani untuk memainkan pressing ketat dan garis pertahanan yang tinggi. Masalah muncul ketika ditariknya Cahill membuat Australia memainkan pola 4-5-0.

Tak memakai striker ternyata membuat Australia kewalahan. Pertama, pressing ke lini pertahanan Belanda jadi berkurang. Kedua, tidak ada lagi pemain yang bisa diandalkan sebagai ujung serangan. Ini memudahkan pertahanan Belanda untuk bermain lebih nyaman. Sadar akan kelemahan ini, Ange memasukan striker muda yakni Adam Taggart. Alhasil skema Australia pun kembali seperti babak pertama.

Hasil ini membuat Belanda sudah pasti lolos ke fase berikutnya. Tapi laga ini juga menyisakan pekerjaan rumah bagi van Gaal. Dia akan menghadapi dilema apakah akan tetap menggunakan backthree yang rentan kedodoran jika ditekan secara konstan atau kembali pada pakem tradisional Belanda yang bertumpu pada 3 pemain di lini serang yang bermain nyaris sejajar dalam skema 4-3-3.

Laga melawan Chile memang tidak menentukan dalam hal lolos tidaknya bagi kedua tim, tapi bisa sangat menentukan nasib mereka selanjutnya: siapa yang kalah ada kemungkinan akan menghadapi tuan rumah Brasil.

Sementara bagi Socceroos, performa mereka di laga ini bisa dibilang luar biasa. Mereka memperlihatkan keberanian taktikal yang mengejutkan. Tidak mudah berani bermain terbuka menghadapi Belanda yang di laga sebelumnya bermain spektakuler dengan mengalahkan Spanyol. Hanya saja, mereka terlihat bermasalah dari sisi fisik. Daya tahan mereka menurun drastis sebelum laga usai, yang mengakibatkan pressing yang jadi kunci mereka di laga ini menurun di akhir pertandingan.

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.




(roz/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads