Steven Gerrard harus tertunduk lesu di akhir pertandingan setelah memberikan "assist" untuk gol kemenangan Uruguay. Ironisnya, gol itu dibuat oleh Luis Suarez, striker yang biasanya dimanjakan oleh Gerrard di Liverpool lewat umpan-umpannya.
Peran kedua pemain ini juga yang jadi gambaran bagaimana Uruguay bisa memenangi pertandingan, dan bagaimana Inggris kalah. Sepanjang pertandingan, lini tengah Uruguay bisa mematikan gerak Gerrard yang memegang peran sentral dalam aliran bola Inggris. Sedangkan Inggris tak mampu menghalangi Suarez menciptakan momen brilian dan mencetak dua gol.
Tabarez Mengutak-Atik, Hodgson Tak Berubah
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tabarez juga melakukan beberapa pergantian pada skuatnya. Di barisan pertahanan, Martin Caceres pindah ke posisi bek kanan. Sedangkan bek kiri karena Maxi Pereira menjalani skorsing kartu merah. Posisi Caceres lalu ditempat oleh Alvaro Pereira. Begitu pula dengan posisi bek tengah. Diego Lugano yang cedera digantikan oleh pemian muda Atletico Madrid, Jose Maria Gimenez.
Di barisan gelandang pun Tabarez melakukan pergantian. Ia tidak lagi menggunakan dua gelandang bertahan di tengah, namun lebih memilih memainkan Nicolas Lodeiro yang lebih menyerang serang, menggantikan Walter Gargano. Dengan begini Tabarez menggunakan formasi 4-3-1-2 atau yang biasa disebut 4-4-2 berlian.
Di kubu Inggris, pelatih Roy Hodgson tidak melakukan perubahan pada starting XI, kecuali mengembalikan Wayne Rooney kembali ke tengah, di belakang Daniel Sturridge, pada formasi 4-4-1-1.

[Starting XI kedua tim dan data statistik pertandingan]
Mengisolasi Gerrard
Belajar dari pertandingan pertama, Tabarez tidak lagi mau lapangan tengah dikuasai oleh lawan begitu saja. Apalagi Inggris punya Gerrard yang mampu mengalirkan bola ke depan dengan sangat baik. Untuk itu, hal pertama yang dilakukan Tabarez adalah mematikan permainan kapten Inggris itu, dan menugaskan Edinson Cavani. Ke manapun Gerrard bergerak, ia selalu mengikuti, terutama jika sang musuh membangun serangan.
Jika melihat pada rataan posisi pemain Inggris di babak pertama, Gerrard memang terlihat sebagai sentral permainan Inggris. Dengan mematikan Gerrard, maka otomatis aliran bola Inggris akan menjadi terhambat.

[Rataan posisi pemain Inggris pada babak pertama (Gerrard Nomor Punggung 4)]
Dari hasil rataan posisi di babak pertama terlihat Hodgson benar-benar mempercayakan lapangan tengah kepada Gerrard. Sedangkan para pemain Inggris lainnya lebih berkonsentrasi pada sisi sayap kanan dan kiri. Bahkan, Inggris melakukan 43% serangan dari sisi kanan, 39% dari sisi kiri, dan hanya 18% dari tengah.
Masalah muncul ketika Gerrard sama sekali tidak bisa menguasai lapangan tengah karena ditempel sangat ketat oleh Cavani. Terisolasinya dia menyebabkan Inggris tidak memiliki penghubung antara sektor kanan dan sektor kiri. Akibatnya, ketika Inggris sudah mengarahkan serangan ke salah satu sisi, sangat sulit untuk memindahkan ke sisi seberangnya.
Tabarez kemudian memerintahkan keempat gelandangnya di tengah untuk bermain sangat rapat. Empat gelandang yang membentuk formasi berlian di tengah akan langsung mengepung setiap pemain Inggris yang mulai memasuki area pertahanan Uruguay.
Para gelandang ini bahkan terkadang melakukan pressing tinggi, untuk mencegah Inggris membawa bola keluar dari area pertahanan sendiri. Maka, pemain Inggris yang tengah menggiring bola sering kali akan dikepung oleh 3 atau 4 pemain Uruguay.
Ditambah serangan Inggris yang banyak dilakukan melalui sayap, maka sangat mudah bagi para pemain Uruguay untuk mengarahkan serangan Gerrard dkk ke jalan buntu.
Dari hasil catatan defensive action Uruguay, terlihat bagaimana banyaknya tekel para pemain Uruguay di area sisi kanan dan kiri lapangan. Tercatat 19 kali tekel berhasil dilakukan para pemain Uruguay sepanjang pertandingan di area sayap lapangan.

[Defensive action Uruguay. Sumber: fourfourtwo.com]
Dengan kondisi ini, meski memegang 56% penguasaan bola di sepanjang babak pertama, Inggris sama sekali tidak bisa menembus pertahanan Uruguay. Pada babak pertama pun Inggris hanya berhasil melakukan 4 kali tendangan ke gawang, dengan hanya 2 yang dilakukan dari dalam kotak penalti Uruguay.
Bantuan Henderson di Tengah
Melihat serangan anak asuhannya buntu, Hodgson kemudian memerintahkan Henderson untuk bermain lebih ke tengah mendampingi Gerrard. Maka, ketika Cavani melakukan penjagaan ketat terhadap Gerrard, masih ada Henderson yang dapat menguhubungkan kedua sisi Inggris dari tengah. Hadirnya Henderson di tengah ini terlihat dari rataan posisi pemain Inggris pada babak kedua.

[Rataan posisi pemain Inggris di babak kedua]
Kehadiran gelandang berusia 24 tahun itu memang membuat aliran serangan Inggris di babak kedua menjadi lebih lancar. Ditambah lagi, Tabarez juga sedikit melakukan kesalahan dengan menarik Nicolas Lodeiro digantikan Christian Stuani. Dengan masuknya Stuani, Uruguay kembali ke formasi 4-4-2 datar.
Dengan formasi ini Uruguay tidak lagi dapat mengepung para pemain Inggris dengan keempat gelandangnya. Inggris pun mulai berhasil menembus pertahanan Uruguay. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya jumlah tendangan ke gawang yang dilakukan oleh Inggris di babak kedua. Tujuh tendangan dilakukan, 4 di antaranya dilakukan di dalam kotak penalti. Salah satu dari tendangan itu berhasil berbuah gol yang dicetak oleh Rooney.
Serangan Cepat Uruguay
Seperti terjadi pada pertandingan pertama, Uruguay tidak memiliki seorang gelandang yang pandai memainkan bola dan mengatur tempo permainan. Dengan kondisi ini Tabarez sadar bahwa sulit bagi timnya untuk bermain menguasai bola.
Tapi, pada akhirnya Tabarez sama sekali tidak memaksakan timnya untuk mendominasi ball possession. Mereka menguasai lapangan tanpa menguasai bola. Yang diincar untuk menyerang hanyalah sebuah serangan balik cepat saat para pemain Inggris mulai naik menyerang.
Hal ini terlihat dari distribusi bola yang dilakukan kiper Fernando Muslera di sepanjang pertandingan. Semua adalah tendangan jauh langsung menuju pertahanan Inggris.

Jika dilihat dari persentase keberhasilannya, sekilas Muslera terkesan hanya membuang-buang kesempatan menyerang Uruguay. Dari 24 kali bola panjang yang dilepaskan sang kiper, hanya 7 berhasil sampai ke pemain Uruguay lain.
Namun hal ini tidak menjadi masalah bagi Tabarez karena dia memang tidak menginginkan timnya memainkan possession. Tabarez hanya ingin timnya melakukan satu serangan cepat dan kembali fokus pada pertahanan setelah serangannya gagal. Dengan begitu Uruguay dapat mencari celah untuk melakukan serangan cepat berikutnya.
Serangan balik Uruguay memang gagal total pada pertandingan melawan Kosta Rika karena lawannya merupakan tim yang juga mengandalkan serangan balik. Namun hal ini tidak lagi terjadi pada pertandingan melawan Inggris. Sejak awal Gerrard dkk sudah mengambil inisiatif untuk menyerang dan memegang ball possession. Kondisi ini yang justru menguntungkan Uruguay.
Tabarez mengincar lubang yang sering ditinggalkan kedua fullback Inggris saat menyerang. Baik Glen Johnson maupun Leighton Baines memang diberikan tugas untuk ikut naik membantu penyerangan. Hal ini menyebabkan kedua sisi sayap pertahanan Inggris sering kosong.
Hal ini yang terjadi pada gol pertama. Ketika melakukan serangan balik cepat, Cavani mendapatkan ruang di sisi kanan pertahanan Inggris. Pemain PSG ini kemudian mengirimkan umpan silang kepada Suarez yang langsung menceploskan bola ke gawang Joe Hart.
Bahkan, umpan panjang Muslera yang dari awal pertandingan terkesan hanya membuang peluang pun membuahkan hasil di pengujung laga. Tendangan jauh itulah yang "dibuang" Gerrard ke arah Suarez, yang sudah terlepas dari penjagaan Phil Jagielka. Top skorer Liga Inggris ini kemudian tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membawa negaranya kembali unggul.


[Proses gol pertama (atas) dan kedua (bawah) Uruguay]
Kesimpulan
Inggris gagal menembus tembok pertahanan Uruguay setelah serangan mereka selalu berujung pada jalan buntu di kedua sisi sayap pertahanan Uruguay. Para gelandang Uruguay juga melakukan tugasnya dengan sangat baik. Keempat pemain tengah yang dipasang dalam formasi berlian ini selalu mengepung para pemain Inggris yang masuk ke daerah pertahanan Uruguay.
Di sisi lain, Tabarez juga berhasil menyelesaikan masalah skuat Uruguay yang tidak memiliki seorang gelandang yang mampu memainkan bola. Berbeda dengan ketika menghadapi Kosta Rika, kali ini Uruguay mampu melaksanakan serangan cepat setelah memancing para pemain Inggris keluar dari sarangnya.
Namun di balik itu semua, tidak bisa dipungkiri bahwa penyelesaian akhir Suarez memberikan pengaruh besar bagi kemenangan Uruguay. Kehadiran striker Liverpool ini membuat serangan Uruguay menjadi lebih mematikan. Terbukti dengan hanya catatan 2 shot on target-nya, bisa tercipta dua gol bagi Uruguay.
====
* Pandit Football Indonesia Mengkhususkan pada analisis sepakbola, baik Indonesia maupun dunia, meliputi analisis pertandingan, taktik dan strategi, statistik dan liga. Keragaman latar belakang dan disiplin ilmu para analis memungkinkan PFI untuk juga mengamati aspek kultur, sosial, ekonomi dan politik dari sepakbola. Twitter: @panditfootball Facebook: panditfootballΒ Website: www.panditfootball.com.
(a2s/krs)











































