Capello Andalkan Empat Gelandang, Hazard yang Menentukan

Grup H: Belgia 1-0 Rusia

Capello Andalkan Empat Gelandang, Hazard yang Menentukan

- Sepakbola
Senin, 23 Jun 2014 16:29 WIB
Capello Andalkan Empat Gelandang, Hazard yang Menentukan
AFP/Christophe Simon
Jakarta - Kemenangan tipis 1-0 atas Rusia dalam pertandingan lanjutan grup H dini hari tadi memastikan Belgia lolos ke fase 16 besar. Gol tunggal penyerang muda Lille, Divock Origi, pada menit 88, mengakhiri perlawanan sengit yang diberikan Rusia sepanjang laga.

Bagi Rusia sendiri, kekalahan ini belum menutup peluang lolos ke babak 8 Besar. Syaratnya mereka bisa mengalahkan Aljazair di laga terakhir. Itu syarat mutlak karena hasil seri dengan sendirinya akan meloloskan Aljazair.

Saling Rotasi Pemain Guna Memaksimalkan Taktik

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Permainan yang tak begitu memuaskan saat menghadapi Aljazair membuat pelatih Belgia, Marc Wilmots, melakukan tiga perubahan mendasar dalam starting line up. Dia memutuskan untuk membangku cadangkan tiga pemain Tottenham yang mendapat posisi inti pada pertandingan sebelumnya, yaitu Nacer Chadli, Mousa Dembele, dan Jan Vertonghen. Posisi tiga pemain ini digantikan oleh Dries Mertens, Marouane Fellaini dan Thomas Vermaelen.

Ada hal unik di posisi fullback kiri dengan masuknya Vermaelen, menyusul cederanya Vertonghen di awal babak I. Banyak yang mengkritik tidak efektifknya Eden Hazard bermain di posisi sayap kiri karena fullback kiri Belgia cenderung defensif dan jarang naik membantu Hazard.

Saat menghadapi Aljazair, Wilmots memakai Jan Vertonghen, lantas pada laga tadi malam melawan Rusia dia memilih memakai Vermaelen. Dua pemain ini sebenarnya sama-sama bertipikal bek tengah yang bisa dipasang sebagai fullback kiri.



Pada press confrence Wilmots mengatakan kepada media Belgia RTBF dia memang ingin seorang bek tengah natural yang ditempatkan di sebelah kiri agar mereka menjaga kedalaman dan disiplin menutup ruang. Vertonghen, menurut Wilmots, terlalu agresif, karenanya mantan pemain timnas Belgia era 90-an ini memilih Vermaelen.

Sementara itu di kubu Rusia, bongkar pasang pun terjadi. Capello memilih mengganti 2 pemain yakni Yuri Zhirkovdan Andrey Eshchenko serta memasukan Maksim Kanunnikov dan Aleksei Kozlov. Pergantian ini bukan tanpa sebab, pada posisi fullback kanan, ditariknya Eshchenko tak lain pemain ini cenderung agresif, selalu overlapping dan meninggalkan banyak ruang yang rentan dieksploitasi lawan. Apalagi di sisi itu, Belgia justru punya pemain terbaiknya, Eden Hazard. Karenanya bagi Capello menempatan Kozlov yang seorang bek tengah di posisi sayap layak dicoba sebagai solusi.

Di lain sisi masuknya Kanunnikov menggantikan Zhirkov yang cenderung lambat. Dua pemain ini memiliki karakter berbeda. Zhirkov cenderung bertahan, lain hal dengan Kanunnikov yang bertipikal box-to-box. Selain masih mudah, Kanunnikov pun mempunyai kecepatan yang bagus untuk mengobrak-abrik sisi kanan pertahanan Belagia yang diisi Toby Alderweireld yang sering maju ke depan.

Kesulitan Belgia membongkar Pertahanan Rusia

Belgia memang mengusasai jalannya pertandingan sejak menit-menit awal, namun mereka kesulitan menembus barisan pertahanan Rusia. Jangankan untuk menyerang, mengalirkan bola ke area final third Rusia pun mereka tak mampu.



[Grafik passing Belgia sampai menit 15]

Keberanian Capello untuk bermain terbuka dan melakukan pressing ketat sejak menit-menit awal menjadi penyebab utama ini. Saat Belgia menguasai bola di belakang, maka skema pertahanan Rusia yang semula 4-2-3-1 akan berubah menjadi 4-1-4-1, dengan menarik Fayzulin/Glushakov untuk sejajar dengan 3 gelandang serang lainnya yaitu Sammedov, Shatov dan Kanunnikov.



Keempat pemain sejajar ini akan bermain melebar dan menutup celah barisan belakang Belgia yang ingin menginisiasi serangan. Posisi poros ganda Belgia, Witsel dan Fellaini, yang sering terlalu jauh naik ke depan membuat lini pertahanan Belgia rentan melakukan kesalahan karena pressing dini yang dilakukan Rusia.

Rapatnya gelandang di tengah yang berani merangsek ke depan membuat Rusia mencatatkan banyak intersep sepanjang babak I. Tercatat 12 kali mereka melakukan intersep di area tengah yang didominasi oleh para gelandang mereka, hampir semuanya terjadi di daerah Belgia sendiri.



[Intersepsi Rusia babak I]

Menariknya meskipun keberadaan 4 gelandang yang melakukan pressing, kadang tak diikuti backfour. Alih-alih ikut naik, backfour Rusia tetap mencoba konstan memasang garis pertahanan yang rendah. Capello mengintruksikan Rusia untuk memainkan garis pertahanan yang dalam ketika bertahan.

Underperform Hazard dan Lukaku

Otomatis ketika backfour mundur ke belakang dan gelandang naik ke depan guna melakukan pressing, maka akan terjadi gap luas di area tengah. Dan hal itulah yang coba diekploitasi habis-habisan oleh Belgia. Kesuksesan Rusia menghentikan aliran bola dari belakang, membuat Romelu Lukaku-Eden Hazard-Dries Martens mesti turun ke tengah untuk mengambil bola. [lihat grafik dari mana datangnya bola yang diterima tiga pemain ini di bawah]



Untuk mematikan permainan Hazard dan Martens, Capello tak hanya meminta dua fullback Kozlov [kanan] dan Kombarov [kiri] hanya bermain statis di belakang saja. Diapun meminta dua pemain ini untuk melakukan man to man marking kepada dua penyerang sayap Belgia itu. Sering kita lihat pergerakan Hazard/Martens yang bergeser ke tengah untuk mengisi ruang kosong dan mempermudah melakukan cutting inside, seringkali diikuti dua fullback ini.

Apa yang dilakukan Capello memang hal yang beresiko mengingat ruang kosong yang ditinggalkan fullback bisa saja dimanfaatkan oleh fullback lawan yang overlapping ke depan. Sayangnya hal itu tak terjadi. Taktik Capello yang mengganti 4-2-3-1 menjadi 4-1-4-1 saat pertandingan berlangsung membuat backfour Belgia, termasuk kedua fullback-nya, tetap statis di belakang.

Upaya Wilmots dengan Fellaini dan Perjudian Capello

Pada babak II, kurang memuaskannya barisan penyerang Belgia membuat Fellaini malah berperan sebagai seorang striker. Wilmots memang banyak menumpuk pemain di sayap kanan lawan, selain Hazard dan Bruyne yang diplot sejak menit awal di sana. Fellaini dan Origi pun digeser ke sisi itu. Kehadiran Kozlov yang seorang centerback di area itu cukup membuat pertahanan Rusia solid. Hanya saja untuk membantu Kozlov, terkadang Capello mesti mengorbankan Glushakov yang mesti lebih statis bermain untuk bertahan, tak seperti babak pertama yang sesekali naik membantu menyerang.

Perjudian Capello adalah dengan menarik Kozlov dan memainkan Eshchenko. Sosok ini adalah fullback yang gemar menyerang. Masuknya Eshchenko membuat terjadi perubahan skema Rusia yang tak sama seperti babak pertama. Skema serangan semuanya dicurahkan untuk mengekploitasi Vertonghen. Penyerang Kokorin pun lebih cenderung bermain ke kanan tak seperti babak pertama yang di kiri.



Lantas untuk menutup Eshchenko yang overlapping maka tugas itu diemban Glushakov. Paham bahwa lini tengah, khususnya di depan backfour akan kosong maka Capello mengintruksikan Samedov dan Shatov berlari diagonal saat bertahan. [lihat grafis di atas] skema bertahan seperti inilah yang membuat Belgia tetap kesulitan menembus barisan pertahanan tengah Rusia.

Dimainkannya Eshchenko adalah sebuah perjudian, di saat Belgia menumpuk banyak pemain di lini itu, lantas kenapa Capello malah memainkan seorang fullback yang ofensif?

Masuknya pemain ini memang mampu membuat Rusia menguasai jalannya pertandingan, lewat skema bertahan yang dipaparkan tadi pun Belgia kesulitan melakukan serangan balik yang cepat. Tapi insiden cederanya Glashakov yang tertinggal di depan, sebelum gol Belgia terjadi adalah sebuat petaka yang tak terduga. Dengan leluasa Hazard mengobrak-abrik lini area itu sesukanya.

Penampilan Apik Rusia saat Bertahan dan Menyerang

Kelebihan Rusia di babak pertama adalah kemampuan mereka mematikan lini tengah Belgia. Seperti dijelaskan di awal, saat Belgia memainkan bola di belakang, mereka akan memainkan pola 4-1-4-1. Lantas 1 orang di antara bek dan gelandang biasanya akan diberi kebebasan untuk man to man marking kepada pemain Belgia yang masuk ke area itu, entah Hazard atau Martens. Pemain yang biasanya memerankan ini adalah Glushakov.

Masalah muncul, seringkal Glushakov terpancing mundur jauh sejajar dengan bek hingga memberikan ruang kosong yang diekploitasi pemain Belgia dengan cara melakukan dribbling dari tengah hingga depan kotak penalti, eksesnya jika tidak di shoot maka bola akan diumpan ke area sayap. Dan biasanya, pemain Belgia yang melakukan ini adalah De Bruyne yang memang diintruksikan Wilmots bermain agak lebih dalam sembari menusuk secara tiba-tiba dari lini kedua.

Tentu saja hal ini efektif terjadi jika Belgia melakukan serangan balik, pasalnya semenjak bergesernya Fellaini menjadi agak lebih maju. Capello membuat 4 gelandang mereka lebih rapat dengan bek, hanya saja pressing yang dilakukan tetap terjadi dengan memodifikasi perubahan garis pertahanan yang dimainkan jadi lebih tinggi.

Upaya Belgia yang beberapa kali menyerang lewat bola longball dan crossing ketika melancarkan serangan balik memaksa barisan pertahanan Rusia gencar melakukan clearence. Tercatat sepanjang pertandingan 41 kali clearence dilakukan, dan 26 di antaranya dilakukan di luar kotak penalti.



[Clearence Rusia Sepanjang Pertandingan]

Saat menyerang, Rusia bermain sabar dan tak terburu-buru seperti menghadapi Korea Selatan. Aliran serangan lebih dimainkan dari lini ke lini dengan umpan-umpan pendek. Mereka tak segan untuk melakukan itu di area final third Belgia yang dimana disana sudah menumpuk 8-9 pemain.

Kesimpulan

Dengan kualitas mumpuni skuat yang ada, pelatih Belgia Marc Wilmots nyatanya belum mampu memanfaatkan skuat bintang itu seoptimal mungkin. Terbukti dengan permainan tak begitu baik di lini depan khususnya Lukaku dan Hazard.

Wilmots memang sadar akan hal itu, karenanya dia merotasi lini depan Belgia pada laga tadi malam, hanya saja tetap saja hasilnya tak begitu memuaskan. Dengan skuat seperti ini target Belgia di Piala Dunia tentu saja tak hanya lolos ke babak 16 besar, jika ingin terus melenggang ke babak selanjutnya Wilmots harus berpikir keras memaksimalkan lini depan mereka.

Beruntung, seburuk-buruknya Hazard, dia masih memberi sebuah asist yang sangat menentukan. Assist Hazard semalam jadi assist kedua yang dibuat Hazard di Piala Dunia 2014.

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini



(roz/krs)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads