Yunani Mematikan Didier Drogba dan Kembali pada Gaya Bermain 'Alami'

Grup C: Yunani 2-1 Pantai Gading

Yunani Mematikan Didier Drogba dan Kembali pada Gaya Bermain 'Alami'

- Sepakbola
Rabu, 25 Jun 2014 17:32 WIB
Yunani Mematikan Didier Drogba dan Kembali pada Gaya Bermain Alami
Getty Images/Alex Livesey
Jakarta - Yunani berhasil menembus babak 16 besar Piala Dunia setelah menang 2-1 atas Pantai Gading. Gol Georgios Samaras di babak tambahan membuyarkan asa Pantai Gading yang bertekad meraih hasil seri.

Penampilan Yunani begitu berbeda dibanding dengan seminggu lalu, saat mereka melakoni laga pertama menghadapi Kolombia. Ethniki tampil lebih tenang dan tidak terburu-buru dalam melakukan serangan. Lini pertahanan mereka pun begitu kokoh dalam menghalau serangan yang dibangun Didier Drogba cs.



Perubahan Formasi Yunani

Pelatih Yunani, Fernando Santos, menggunakan formasi 4-5-1 atau 4-3-3. Ketidakhadiran Kostas Katsouranis di lini tengah, karena diusir wasit saat pertandingan kedua menghadapi Jepang, membuat Giorgis Karagounis turun sejak menit awal. Di lini tengah, ia berperan sebagai poros ganda bersama Giannis Maniatis.

Penggunaan dua poros ganda ini menjadi penting setelah lini tengah Yunani terlalu mudah untuk ditembus lawan. Ini terlihat dari dua pertandingan kala mereka menghadapi Kolombia dan Jepang. Di dua pertandingan tersebut, dua fullback Yunani sering naik membantu serangan sehingga membuka celah di lini pertahanan. Terlebih lagi, dua fullback Yunani ini, yang diisi Jose Holebas dan Vasilis Torosidis, sering terlambat membantu pertahanan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, dua poros ganda Yunani berkewajiban untuk menutup sisi yang ditinggalkan fullback ketika menyerang. Keduanya akan dibantu Dimitrios Salpingidis dan Lazaros Christodoulopoulos yang bermain lebih bertahan.

Hasilnya cukup signifikan. Pantai Gading kesulitan untuk membongkar lini pertahanan Yunani. Didier Drogba dimatikan oleh Kostas Manolas. Sementara Gervinho, yang kerap bertukar posisi dari kiri ke kanan, masih bisa dibendung Salpingidis ataupun Christodoulopoulos.

Tidak seperti dua partai sebelumnya, Santos tidak bertumpu pada serangan lewat sayap. Ia mengembalikan pola serangan Yunani seperti 10 tahun lalu, yakni dengan memaksimalkan serangan balik.

Ini yang membuat Salpingidis dan Christodoulopoulos lebih banyak beroperasi di lini pertahanan Yunani. Dampaknya adalah dua fullback Yunani lebih fokus untuk bertahan, ketimbang ikut naik menyerang.

Mengubah Pola Permainan

Di awal pertandingan, kedua tim bermain dalam tempo lambat. Tidak ada ancaman serius ke lini pertahanan kedua tim. Yunani maupun Pantai Gading masih mencari-cari celah di lini pertahanan lawan.

Yunani lebih dahulu mengancam gawang Pantai Gading pada menit ke-32. Tendangan Jose Holebas masih membentur mistar gawang. Dari sini, pola serangan Yunani mulai terbentuk. Mereka lebih memilih untuk bertahan dan mencoba untuk mencuri kesempatan lewat serangan balik.

Perubahan pola ini diperkuat dengan cederanya Panagiotis Kone. Ia harus ditarik pada menit ke-12 karena cedera. Posisinya digantikan oleh Andreas Samaris.

Sebelas menit berselang, giliran kiper Orestis Karnezis yang ditarik keluar karena cedera. Sadar tidak dalam kekuatan penuh, Santos menginstruksikan pemainnya untuk bertahan dan hanya sesekali melakukan serangan.

Yunani pun terlihat mengubah cara bermainnya. Mereka bermain lebih agresif dan menerapkan pressing ketat hingga lini pertahanan Pantai Gading. Ini membuat para pemain Pantai Gading menjadi tidak tenang kala melakukan umpan pendek.

Hasilnya, pada menit ke-42, Cek Tiote salah memberikan umpan. Bola berhasil direbut Samaris yang berada di depannya. Lalu, ia melakukan umpan satu-dua dengan Samaras. Hanya dengan satu sentuhan, Samaris melesakkan bola ke gawang Pantai Gading yang dijaga Boubacar Barry.

Pola permainan seperti ini berlangsung sepanjang permainan. Tidak terlihat penguasaan bola Yunani seperti yang mereka lakukan kala menghadapi Kolombia di pertandingan pertama.

Pantai Gading dibiarkan untuk menyerang dan membombardir lini pertahanan mereka. Namun, sekeras apapun Pantai Gading mencoba untuk menerobos masuk, mereka begitu kesulitan karena padunya lini pertahanan Yunani.

Keasyikan menyerang, membuat Pantai Gading meninggalkan celah di lini belakang mereka. Sesekali, Yunani berhasil mengeksploitasi kelemahan ini lewat umpan terobosan langsung ke lini serang.

Mematikan Didier Drogba

Di pertandingan malam tadi, ada peran spesial yang mesti dijalankan Manolas. Ia mesti menjaga ketat Didier Drogba yang semalam didapuk menjadi ujung tombak Pantai Gading. Jika Drogba bergerak ke kiri atau ke kanan, maka Maniatis akan mengisi pos bek tengah yang ditinggalkan Manolas.

Dijaga ketatnya Drogba membuat Pantai Gading menggunakan kedua pemain sayap mereka, Salomon Kalou dan Gervinho, untuk melakukan tusukan. Keduanya memang kerap merepotkan karena sering bertukar posisi. Posisi Gervinho tak menentu, kadang di kiri, tidak jarang juga di kanan.

Namun, hal ini seolah tak berarti. Dua fullback Yunani, Holebas dan Torosidis, setia menjaga wilayahnya. Belum lagi kedua gelandang ikut membantu pertahanan, membuat serangan sayap Pantai Gading seringkali dapat dipatahkan. Dari 16 umpan silang yang dilepaskan, hanya tiga yang menemui sasaran.



[grafik umpan Pantai Gading]

Pantai Gading lebih banyak melakukan umpan di daerah pertahanannya sendiri. Karena pressing ketat yang diterapkan Yunani membuat Pantai Gading juga lebih sering mengumpan ke sayap kiri, tempat Gervinho berada.

Tapi, arah umpan mereka selalu mentok beberapa saat setelah lewat garis tengah. Pertahanan Yunani benar-benar apik pada malam itu.

Ketika menyerang, Pantai Gading seolah kehabisan ide untuk mengumpan. Saat Drogba dimatikan, lini kedua mereka tidak cepat merespons ancaman tersebut. Drogba bahkan tidak sekali pun melakukan tendangan ke arah gawang. Manolas masih terlalu tangguh bagi bekas pemain Chelsea tersebut untuk ditembus.

Ini seolah menjadi pembuktian bagi lini pertahanan Yunani yang dikritik habis-habisan di pertandingan pertama menghadapi Kolombia. Ketidakmampuan gelandang Yunani untuk bertahan, membuat Manolas dan Sokratis mesti berjuang keras untuk menjaga pertahanan mereka agar tetap aman.

Buruknya Poros Ganda Pantai Gading Ketika Bertahan

Secara teknis, Pantai Gading harusnya mampu menutup setiap serangan Yunani. Pasalnya mereka hanya berhadapan dengan Samaras yang bertugas untuk menunggu bola di lini depan.

Tapi, Tiote dan Serey Die tidak sedang dalam kondisi terbaik. Mereka lebih sering ikut menyerang ketimbang membantu pertahanan. Akibatnya, beberapa kali umpan terobosan ke lini depan Yunani, tidak bisa dibendung.



[grafik umpan terobosan Samaras-Holebas]

Kesalahan terbesar Tiote tentu saja terciptanya gol pertama Yunani. Kesalahan umpannya membuat Samaris bisa merebut bola dan mencetak gol.

Ketika bertahan, Tiote dan Die juga sering membiarkan bek Pantai Gading untuk berhadapan langsung dengan para pemain Yunani ketika bertahan. Bahkan, serangan balik Yunani berbuah kartu kuning bagi Salomon Kalou yang menghadang. Padahal, posisi Kalou sebenarnya sejajar dengan Yaya Toure dan Gervinho di lini depan.

Tapi, hal ini tidak sepenuhnya dimanfaatkan Yunani. Meski lini pertahanan Pantai Gading terbuka lebar, mereka masih terburu-buru dalam menyelesaikan peluang.



[grafik tendangan Yunani]

Yunani terlalu sering menendang bola dari luar kotak penalti. Dari 13 tendangan, hanya empat yang dilakukan di dalam kotak penalti. Akibatnya, arah bola bisa ditebak dan power serta akurasi menjadi tidak maksimal.

Seandainya Samaras dan kolega bisa memanfaatkan peluang ini, setidaknya dua sampai tiga gol lagi bisa tercipta.

Mengembalikan Ciri Bertahan ala Yunani

Di pertandingan pertama, Fernando Santos dikritik karena menginstruksikan para pemainnya untuk all out menyerang, termasuk kedua fullback. Akibatnya, kala itu Kolombia mampu mengeksploitasi sisi pertahanan Yunani dan menundukkan mereka 3-0.

Santos lantas berbenah. Di pertandingan semalam, Santos menggunakan formasi 4-2-3-1 dengan Karagounis dan Maniatis sebagai poros ganda. Santos juga meminta para pemainnya untuk bertahan dan melakukan serangan lewat serangan balik.

Ketika bertahan, Yunani menekan pemain Pantai Gading dengan dua pemain sekaligus. Selain menutup ruang gerak, ini juga dilakukan agar pemain Pantai Gading salah memberikan umpan.



[grafik cara menekan Yunani]

Dengan cara menekan seperti ini, Yunani melakukan 30 tekel dengan 18 yang berhasil. Bermain bersih, Yunani pun hanya membuat 12 pelanggaran. Berbeda jauh dengan Pantai Gading yang mencatatkan 23 pelanggaran.

Tekel-tekel ini pula yang membuat skema serangan Pantai Gading menjadi tidak efektif. Baru memulai serangan hingga tengah lapangan, aliran bola sudah terputus karena tekel para pemain Yunani. Ini yang menjadi salah satu faktor gagalnya serangan Pantai Gading ke lini pertahanan Yunani.



[grafik tekel Yunani]

Pergerakan Dinamis Samaras

Meski diplot sebagai penyerang tunggal, Samaras tidak berdiam diri di lini depan. Ia kerap menjemput bola hingga tengah lapangan. Samaras pun tak segan untuk bermain lebih melebar untuk membuka ruang bagi rekan-rekannya.

Dilihat dari jumlah umpan, Samaras memang tidak begitu menonjol. Ia melakukan 28 umpan dan 20 kali yang mencapai sasaran. Umpannya pun lebih banyak mengarah ke sisi lapangan.

Tapi, berkat pergerakannya itu, sejumlah peluang pun tercipta. Gol pertama Yunani tak bisa dilepaskan berkat jasanya. Umpan 1-2-nya dengan Samaris membuka keunggulan Yunani atas Kolombia.

Demikian pula dengan gol kedua. Samaras yang hendak menerima bola dijatuhkan oleh pemain Kamerun. Wasit akhirnya menghadiahkan tendangan penalti atas pelanggaran tersebut. Sebagai eksekutor ia berhasil menjalankan tugas tersebut. Ia membawa Yunani unggul 2-1 dan membawa Negeri Para Dewa tersebut lolos ke babak 16 besar.



[grafik dashboard Samaras]


Kesimpulan

Fernando Santos membawa Yunani ke pola asli mereka. Ia tidak memaksa para pemainnya untuk keluar menyerang karena hal ini hanya mengakibatkan terbukanya celah di lini pertahanan Yunani.

Dengan bermain bertahan, permainan Yunani menjadi lebih efektif. Mereka bisa menahan serangan sayap Pantai Gading, pun bisa menghasilkan peluang lewat serangan balik. Yunani juga menerapkan pressing ketat untuk menghalau serangan lawan. Hasilnya adalah keteledoran Tiote yang berhasil dimanfaatkan Samaris menjadi gol.

Di kubu Pantai Gading, kedua poros ganda mereka tidak bermain dengan baik. Peran Gervinho dan Kalou menjadi tidak maksimal karena keduanya sering bertukar posisi. Beberapa kali Kalou bahkan mesti turun dan membantu pertahanan karena buruknya performa Tiote dan Die dalam menghalau serangan Yunani.

Lini serang Pantai Gading seolah menemui hasil buntu setelah Didier Drogba dimatikan Manolas. Mereka sempat mendapat angin segar saat Bony masuk dan mampu mengecoh perhatian bek Yunani. Tapi pergantian tersebut sudah terlambat. Yunani sudah terlanjur nyaman dengan skema yang mereka gunakan.

Melihat penampilan Pantai Gading dan Jepang malam tadi, Yunani lah yang paling pantas mendampingi Kolombia ke babak 16 besar.

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini





(roz/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads