Keberanian Sabella Melakukan Perjudian Taktik

Grup F: Nigeria 2-3 Argentina

Keberanian Sabella Melakukan Perjudian Taktik

- Sepakbola
Kamis, 26 Jun 2014 17:08 WIB
Keberanian Sabella Melakukan Perjudian Taktik
Getty Images/Paul Gilham
Jakarta - Argentina memeragakan permainan terbaiknya sepanjang Piala Dunia 2014 ini. Semalam, La Albiceleste menundukkan Nigeria 3-2 dengan dua gol yang disumbangkan oleh Lionel Messi dan satu lain oleh Marcos Rojo tercipta karena proses serangan yang apik.

Tapi, bukan berarti tim mereka tidak akan mendapatkan masalah di babak 16 besar.

Dua gol yang bersarang di gawang Sergio Romero pada menit-menit awal adalah penegas bahwa pemain belakang mereka belum dapat diandalkan, terutama saat mendapatkan serangan balik. Lantas di lini serang, ketergantungan Argentina terhadap Lionel Messi mutlak tak bisa disangkal.

Sosok peraih Ballon’d Or empat kali ini dibutuhkan Argentina baik itu di lini depan maupun tengah, mengingat peran kedua gelandang, yaitu Fernando Gago dan Javier Mascherano, lebih defensif.

Belajar dari Pengalaman Pertandingan Sebelumnya

Meski laga ini sebenarnya tak penting-penting amat, mengingat Argentina sudah memastikan lolos ke babak 16 besar, nyatanya pelatih Alejandro Sabella tetap memainkan pemain-pemain inti layaknya pertandingan pertama dan kedua. Ini mungkin karena Sabella masih kebingungan dan mencari-cari pola yang cocok dipakai.

Jika di pertandingan pertama menghadapi Bosnia dia memakai formasi 5-3-2 dengan menumpuk banyak bek di belakang, maka pada laga kedua melawan Iran dia memainkan 4-3-3 dengan trisula Gonzalo Higuain, Sergio Aguero dan Lionel Messi.

Pada laga tadi malam, Sabella menarik Messi lebih dalam dan sejajar dengan Angel Di Maria. Dengan Mascherano serta Gago sebagai poros ganda, sekilas formasi Argentina terlihat mirip 4-2-2-2.



Sabella nampaknya sedang mencari posisi yang pas untuk memaksimalkan peran Messi, khususnya di lini tengah. Pasalnya, Argentina kehilangan sosok metronom di lini ini. Selalu saja ada jarak renggang antara lini belakang, tengah, dan depan, satu kelemahan yang terlihat pada dua laga sebelumnya.

Di kubu lawan, pelatih Nigeria, Stephen Keshi, sediki demi sedikit menambal lini tengah mereka. Sama seperti Argentina, di skuat Nigeria juga tak ada sama sekali pemain yang bertipikal sebagai playmaker di posisi gelandang.

Pada laga melawan Iran, Keshi menjadikan Jon Obi Mikel sebagai gelandang serang. Padahal ia adalah seorang gelandang bertahan. Tapi, Keshi nampaknya sudah menemukan formula yang tepat saat melawan Argentina, yakni dengan menarik Babatunda bermain agak lebih dalam, dan memasang Emerike sebagai seorang second striker. Kondisi ini tak perlu membuat Mikel jauh-jauh naik ke depan.

Sebenarnya hal ini sempat dicoba Keshi saat menghadapi Bosnia dengan hasil tak begitu mengecewakan. Lini depan Nigeria lebih sedikit tajam ketimbang saat seperti menghadapi Iran.

Hanya saja, dengan ditariknya Obi Mikel lebih mundur pada laga semalam, inti serangan Nigeria kemudian beralih pada dua sayap, yakni Ahmad Musa dan Odemwingie. Dan benar saja, 2 gol yang dicetak Nigeria adalah karena serangan balik yang dilakukan lewat flank bukan?

Adu Sengit pada Menit-menit Awal

Panen gol antara kedua tim di menit-menit awal adalah karena keberanian Nigeria memainkan permainan terbuka. Tahu akan kecenderungan backfour dan dua gelandang Argentina yang cenderung bermain rapat serta defensif, Nigeria tak segan untuk mendorong lini belakang dan tengah untuk naik.

Bahkan mereka berani melakukan pressing saat Argentina masih membangun serangan dari belakang. Caranya adalah menaikkan empat gelandang sekaligus untuk bermain melebar. Onazi akan menahan di poros tengah, sedangkan Obi Mikel diplot man to man marking kepada Messi.







Sebelum terjadinya gol, skema ini memang menyulitkan Argentina di menit-menit awal, mengingat bola umpan datar dengan mudah diintersepsi Nigeria. Untuk menyerang, bek tengah Federico Fernandez mesti mengirim bola-bola atas kepada Higuain di depan, seperti yang dia lakukan beberapa detik sebelum terjadinya gol.

Keberanian Nigeria bermain terbuka memang harus dibayar mahal. Gol yang Messi cetak tak ayal berkat Angel Di Maria yang tiba-tiba menusuk dari

Pemain Real Madrid ini mula-mula lebih banyak bergerak di tengah merapat dengan Messi. Hal ini tak lain karena Gago yang tertahan di belakang. Lantas, saat Gago berhasil merangsek ke depan, Di Maria kembali bermain melebar di sayap.



Pergerakan Di Maria ini terbantu oleh skema lini pertahanan Nigeria.

Kenshi mendorong dua poros ganda ke depan, sehingga ada ruang antara lini tengah dan lini belakang Nigeria. Akibatnya, meski memasang empat orang untuk berjaga di belakang, lini pertahanan Nigeria terlihat kesulitan menjaga dua orang striker sekaligus, yaitu Sergio Aguero dan Gonzalo Higuain.

Lantas, terpancingnya fullback ke tengah saat Higuain dan Aguero berlari bersamaan otomatis menyisakan ruang bagi Di Maria yang tiba-tiba menusuk masuk. Tanggung jawab gol cepat yang dicetak Messi mesti ditimpakan kepada Odemwingie yang tak melihat pergerakan Di Maria. Juga pada Obi Mikel yang gagal menjaga Messi, membiarkan si kutu ini berlari bebas menyambut bola rebound.



Kesalahan Lini Belakang Argentina Mengantisipasi Musa

Mari berbicara gol balasan cepat Nigeria. Unggul 1-0 membuat Argentina lebih bermain ofensif dengan menaikan Gago dan Mascherano lebih depan dan menaikkan garis pertahanan. Inilah yang diinginkan Kenshi. Ia ingin memanfaatkan kelebihan para penyerang Nigeria yakni kecepatan dan juga menyiapkan satu senjata tajam: Ahmen Mussa.



Sejak melawan Bosnia, Pelatih Nigeria, Kenshi menempatkan posisi baru kepada Musa. Sosok pemain muda CSKA Moskow ini diplot sebagai inverted winger, yang semula bermain di kanan kini dipindah ke kiri.

Tak lagi ditugasi untuk menyisir bola dan melakukan crossing, Musa kini diplot untuk berlari diagonal dan memanfaatkan kekuatan shooting kaki kanannya yang tergolong cukup keras. Hal inilah yang tak diantisipasi oleh bek kanan Argentina, Pablo Zabaleta. Sebelum Musa melepas tendangan, terlihat Zabaleta terkecoh dan malah memberi ruang tembak cukup luas pada Musa.

Gerakan Zabaleta tersebut cukup dimengerti. Ia bergerak ke dalam karena tak ingin membiarkan dua bek tengah menghadapi Babatunda dan Emerike dalam posisi dua lawan dua.

Hal serupa terjadi pada gol kedua Nigeria pada babak kedua. Tak ada yang menyangka Musa akan berlari diagonal ke tengah. Terlihat Gago dan Mascherano bahkan tak mengantisipasi Musa yang tiba-tiba menusuk.



Kerjasama Mascherano – Gago di lini Tengah

Skema serangan Argentina pada babak pertama adalah yang terbaik sepanjang Piala Dunia kali ini. Tercatat 18 attempts mereka dapat, Lebih baik ketimbang saat laga melawan Iran dan Bosnia yang hanya membuat 6 attempts sepanjang babak pertama. Apalagi 10 di antara attempts tersebut adalah shot on target.

Salah satu penyebabnya adalah dengan memanfaatkan peran Gago dan Mascherano di lini tengah.

Pasca skor 1-1, Argentina mampu lolos dari tekanan yang dilancarkan Nigeria di awal babak pertama. Gago dan Mascherano bisa bermain agak lebih naik untuk membantu Messi dan Di Maria. Nigeria yang cenderung bermain bertahan dan mengendurkan pressing, menunggu serta menunggu di final third, memudahkan dua pemain ini menjadi pengalir bola ke Messi – Higuain – Aguero dan Di Maria.

Ya, menarik Messi lebih ke tengah untuk memerankan playmaker ternyata bukan sebuah solusi. Pemecahan masalah berada di tangan Gago dan Mascherano. Kedua pemain inilah yang lalu lebih banyak aktif di lini tengah. Sementara itu, empat penyerang di depan akan lebih cenderung berotasi melakukan pergerakan tanpa bola, membingungkan barisan belakang Nigeria.



Sayangnya, meski menguasai lini tengah, variasi penyerangan Argentina boleh dikata tak banyak pilihan. Serangan didominasi oleh kemampuan dribling individu pemain plus umpan-umpan pendek.

Menaikkan Gago dan Mascherano, yang otomatis juga mendorong garis pertahanan, sebenarnya Sabella sendiri sedang melakukan sebuah perjudian. Pasalnya penyerang-penyerang Nigeria memang memiliki kecepatan.

Tapi perjudian ini memang harus diambil mengingat minimnya suplai bola ke depan. Untuk mengakali serangan balik Nigeria khususnya dari sayap, Sabella mengintruksikan Zaballeta dan Rojo tak terlalu ofensif. Mereka dilarang masuk ke area final third lawan. Apa yang dilakukan Sabella ini mampu cukup meredam sisi sayap Nigeria, dan mendorong Musa dan Odemwingie tak bermain melebar.







Kelemahan Lini Pertahanan Nigeria

Kelemahan Nigeria sendiri terletak pada antisipasi di daerah sayap dan depan kotak pinalti. Banyaknya attempts yang dibuat Argentina tak ayal dari kegagalan mengantisipasi umpan terobosan yang di arahkan ke sisi flank, entah umpan itu disambut Di Maria, Higuain atau Aguero.

Hal ini wajar mengingat fullback Nigeria, Oshaniwa dan Ambrose, cenderung bergerak ke tengah. Apalagi Musa dan Odemwingie pun jarang menutup ruang kosong tersebut.



Lantas shot on target yang sering dilakukan Argentina dari luar kotak penalti terjadi karena Onazi dan Obi Mikel yang terlalu fokus menjaga Messi, sehingga serangan dari tengah lewat dribling Argentina selalu dibiarkan tanpa penjagaan.

Kesimpulan

Meski menunjukkan performa terbaiknya dalam Piala Dunia kali ini, Argentina masih memiliki dua masalah: pertama adalah tentang lini pertahanan yang belum juga padu, sementara selanjutnya tentang ketergantungan pada sosok Lionel Messi. Terbukti, pada pertandingan ini Nigeria dapat beberapa kali mengancam gawang Sergio Romero dengan memainkan pemain-pemain dengan kecepatan tinggi.

Kebergantungan kepada sosok Lionel Messi pun sedikit demi sedikit mesti dihilangkan. Pasca ditariknya Messi dan dimainkannya Lavezzi, permainan Argentina kembali pola lama yakni bermain buruk dan adanya jarak senggang antara lini belakang, gelandang dan depan.

Jika ingin juara, segeralah berbenah, Sabella!

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini


(roz/krs)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads