Tentang Gol, Serangan Sayap, dan Piala Dunia yang Kian Menarik

Tentang Gol, Serangan Sayap, dan Piala Dunia yang Kian Menarik

- Sepakbola
Sabtu, 28 Jun 2014 20:54 WIB
Tentang Gol, Serangan Sayap, dan Piala Dunia yang Kian Menarik
Getty Images/David Ramos
Jakarta - Piala Dunia 2014 telah memasuki babak 16 Besar. Total empat puluh pertandingan telah tersaji dengan suguhan beberapa kejutan dan kejadian menarik, mulai dari tarian Pablo Armero kala Kolombia mencetak gol pertama, tersingkirnya sang juara bertahan Spanyol, Aljazair lolos ke babak 16 besar untuk pertama kali sepanjang sejarah, hingga Luis Suarez yang lagi-lagi merebut perhatian dunia dengan aksi-aksinya.

Ya, jika bisa disimpulkan Piala Dunia Brasil memang sungguh menarik dan membuat kita tak ingin cepat-cepat kembali ke waktu tidur normal. Satu-satunya hal yang bisa diprediksi dengan mudah dari turnamen kali ini hanyalah si "Tiga Singa" yang pulang kandang lebih awal. Sisanya adalah rentetan demi rentetan laga atraktif yang menyandera perhatian.

Tapi bukan hanya menyodorkan peristiwa menarik dan berbagai kejutan, Brasil 2014 pun menghadirkan beberapa kecenderungan taktikal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gol, Gol, Gol!

Satu hal yang membuat mata kita tetap melekat pada layar televisi adalah frekuensi gol yang tercipta. Hingga Kamis (26/6) malam, atau putaran terakhir fase grup Piala Dunia 2014, telah tercipta 136 gol dari 48 laga.

Bahkan, jumlah ini jauh lebih banyak dari jumlah gol yang tercipta pada babak grup 4 Piala Dunia terakhir. Empat tahun lalu, 101 gol tercipta pada babak grup. Sementara itu, pada Piala Dunia 2006 di Jerman tercipta 111 gol, di Korea Selatan dan Jepang (2002) ada 130 gol, dan di Prancis 12 tahun lalu 126 kali gawang dijebol pada babak grup.

Pada turnamen ini, skor terbesar terjadi kala Prancis bertemu dengan Swiss, yaitu dengan hasil akhir 5-2 untuk kemenangan Karim Benzema dan kawan-kawan. Dua pertandingan lain juga menyumbangkan gol banyak, yaitu saat Spanyol dipermalukan Belanda 1-5 dan Australia ditundukkan Belanda 2-3.

Dari 48 pertandingan, adatotal tujuh pertandingan yang menghasilkan lebih dari empat gol dalam waktu 90 menit. Jumlah yang terbilang besar untuk sebuah kompetisi resmi.

Terdapat beberapa faktor yang jadi alasan terciptanya banyak gol di Piala Dunia. Salah satunya adalah banyak tim yang mengharamkan permainan bertahan. Akibatnya, kedua tim saling melakukan serangan dan menghasilkan sejumlah peluang untuk dikonversi menjadi gol.

Bermain Terbuka

Satu hal yang mesti digarisbawahi dalam turnamen ini: hanya beberapa pertandingan saja diisi dengan taktik "parkir bus". Bahkan, pertama kalinya skema ini menampakkan diri adalah ketika Argentina berhadapan dengan Iran di pertandingan kedua. Kala itu, sepanjang pertandingan Iran bermain dengan menempatkan nyaris 11 pemain di lini pertahanan sendiri dan hanya menyerang lewat serangan balik.

Taktik ini sebenarnya efektif, karena selama 90 menit Iran mampu meredam trisula penyerang "Tim Tango" yang diisi oleh Lionel Messi, Sergio Aguero, dan Gonzalo Higuain. Pola ultra-defensif ini pun hanya bisa ditembus oleh aksi brilian sang peraih gelar pemain terbaik dunia empat kali, yakni Messi.

Tapi, para penonton Piala Dunia 2014 beruntung karena mayoritas pertandingan lainnya diisi oleh jual beli serangan. Bahkan, pertandingan yang dianggap tidak menarik pun, seperti Honduras melawan Ekuador, bisa memproduksi tiga gol. Itu pun dengan catatan bahwa kedua kiper tim bermain cemerlang. Jika tidak, bisa jadi tiga gol lebih bersarang ke gawang masing-masing tim.

Kecenderungan menyerang pun bahkan terlihat pada tim yang terkenal dengan struktur pertahanan yang rapi dan terorganisasi seperti Yunani. Tim yang dianggap membosankan ini faktanya menyerang habis-habisan saat dikalahkan Kolombia 0-3. Mereka dengan berani bermain dengan 4-3-3 dengan dua fullback yang begitu aktif membantu serangan.

Belanda adalah contoh terbaik dari permainan menyerang. Dari 10 gol yang mereka buat (terbanyak di Piala Dunia), tidak ada yang berasal dari bola mati. Semua gol yang dicetak Robin van Persie dan kolega tercipta dari open play.

Sementara itu, Prancis keluar sebagai tim yang paling banyak melakukan attempts. Secara total mereka sudah membuat 62 attempts dan mencetak 8 gol.

Serangan Lewat Sayap

Salah satu faktor yang mendukung terciptanya banyak gol adalah skema serangan lewat sayap. Pada hampir setiap pertandingan, selalu tersaji pertempuran antar sisi sayap kedua tim.

Dari 32 tim, hanya 6 yang memiliki skema serangan yang cukup merata antar lini (kiri-tengah-kanan). Tim-tim tersebut adalah Argentina, Swiss, Prancis, Italia, Portugal, dan Bosnia. Tapi, dari keenamnya, hanya Argentina, Swiss dan Prancis yang berhasil lolos ke babak 16 besar.



Dari tabel di atas terlihat bahwa serangan lewat sayap telah menjadi tren bagi banyak tim yang berlaga di Piala Dunia. Ada kecenderungan serangan lewat flank telah menjadi skema serangan utama dalam upaya mencetak gol.

Ini terlihat dari presentase serangan lewat tengah lapangan yang umumnya hanya berkisar antara 20% hingga 30%, berbeda dengan serangan lewat sisi sayap yang bisa mencapai 45% per satu sisi. Bahkan, Aljazair memiliki tingkat dominasi serangan sayap tertinggi, yaitu menyentuh angka 49%.

Meski skema serangan memiliki dominasi di sisi sayap (di salah satu sisi atau bahkan keduanya), penyelesaian akhir tetap dipusatkan ke tengah (lihat tabel Wilayah Attempts di bawah). Hanya dua tim, Uruguay dan Inggris, yang kecenderungan melakukan percobaan mencetak gol dilakukan lewat salah satu sisi sayap.



Dengan dominasi serangan dari sayap dan dominasi attempts dari tengah seperti diungkap pada dua tabel di atas, maka tak aneh jika pada akhirnya kita akan sering melihat umpan silang berseliweran dalam satu pertandingan.

Rataan umpan silang tertinggi dihasilkan oleh Ghana dan Portugal dengan 27 umpan silang per game. Diikuti oleh Prancis (26), Bosnia (25), Kroasia (25), Rusia (24), dan Inggris (24). Namun, meski tim-tim ini rajin melakukan umpan silang, gol yang tercipta tak sedominan umpan silang tersebut.

Ghana hanya menghasilkan satu gol dari umpan silang, sementara Prancis hanya 3 yang merobek jala lawan. Bahkan Bosnia yang termasuk kategori tertinggi dalam melakukan skema umpan silang (25), tak sekalipun membuahkan gol. Dari 7 tim di atas, hanya tercipta 9 gol dari skema crossing. Uniknya, jumlah tersebut lebih sedikit dari 5 tim yang minim melakukan serangan dari sayap.

Kolombia yang hanya melakukan 10 umpan silang per-laga, mampu mencetak dua gol –sama dengan raihan gol umpan silang dengan yang dilakukan Kroasia dan Inggris. Bahkan, Belanda yang hanya melakukan 10 umpan silang per game, berhasil mencetak 3 gol lewat skema penyerangan umpan silang ini.

Pada akhirnya kemampuan individu pemain dalam melakukan dan menerima umpan silang jadi sebuah faktor penentu keberhasilan sebuah serangan melalui crossing.

Fullback di Piala Dunia

Pemain berposisi fullback memiliki dua tugas. Pertama, pemain ini harus berada di sisi luar kotak penalti untuk menetralisir serangan lawan, lalu untuk membantu serangan dengan rajin memberikan umpan-umpan silang.

Untuk menjalankan peran ini, fullback wajib memiliki atribut kecepatan dan stamina yang prima. Sang pemain harus tetap konsisten selama 90 menit untuk melakukan dua tugas sekaligus, menjaga lini pertahanan dan ikut memberi ancaman ketika menyerang.

Maka dari itu, pemain yang bisa memerankan posisi ini terbilang langka. Bahkan biasanya peran ini sering diberikan kepada pemain tengah yang bermain lebih mundur mendekati area kotak penalti sendiri.

Di Piala Dunia kali ini, banyak sekali pemain yang dialih-fungsikan untuk mengisi pos fullback. Kwadwo Asamoah (Ghana), Walter Ayovi (Ekuador), Miguel Layun, Paul Aguilar (Meksiko), Jose Diaz (Kostarika) adalah sedikit contoh para pemain yang memerankan fullback, meski posisi tersebut bukan posisi naturalnya.

Sedangkan fullback paling ideal adalah pemain-pemain seperti Daniel Alves, Marcelo (Brasil), Ricardo Rodriguez, Stephan Lichtsteiner (Swiss), Yuto Nagatomo, Atsuto Uchida (Jepang), Darijo Srna (Kroasia) dan masih banyak lagi. Nama-nama di atas tak hanya memiliki stamina dan kecepatan yang baik, tapi juga memiliki kemampuan untuk mengirimkan umpan-umpan silang yang matang untuk memudahkan lini penyerangan mencetak gol.

Para fullback ini sering diinstruksikan untuk melakukan overlap. Karena biasanya para pemain sayap di lini penyerangan akan lebih menjadi pembuka ruang dibanding sebagai pengirim bola ke dalam kotak penalti.

Seperti ketika laga Pantai Gading melawan Jepang. Kala itu, Pantai Gading yang sempat tertinggal lebih dulu berhasil mencetak dua gol melalui skema fullback yang naik hingga mendekati area kotak penalti lawan. Bek kanan Pantai Gading kala itu, Serge Aurier, mencetak dua assist.

Hal yang serupa terjadi ketika Swiss menghadapi Ekuador. Bek kiri Swiss, Ricardo Rodriguez, mencetak assist penting yang memberikan kemenangan bagi Swiss pada menit-menit akhir.

Dari 10 pemain dengan assist terbanyak pada Piala Dunia kali ini, 5 pemain nya merupakan pemain bertipikal fullback. Top assist pun ditorehkan oleh fullback Belanda, Daley Blind, dan Juan Cuadrado (Kolombia) dengan 3 assist. Cuadrado meski bermain sebagai sayap kanan di tim nasional Kolombia, di Fiorentina ia sering ditempatkan sebagai fullback.

Namun ini bukan berarti semua fullback yang ada saat ini bermain seperti itu. Karena tak jarang pula sebuah tim memasang seorang bek tengah untuk mengisi posisi fullback. Tujuannya satu, tim tersebut lebih ingin memiliki pertahanan yang kuat ketimbang memperkaya skema penyerangan.
Seperti Jerman yang selalu memasang Jerome Boateng dan Benedikt Hoewedes pada starting line up-nya. Keduanya adalah pemain centre-back di klub masing-masing, tapi ditempatkan melebar oleh pelatih Jerman, Joachim Loew. Dengan skema seperti itu, Jerman berhasil membuat para pemain fullback tak repot-repot mundur ketika mendapatkan serangan balik karena statis menjaga sisi lapangan sepanjang pertandingan.

Buruknya Organisasi Pertahanan

Jika ada tim yang berhasil mencetak banyak gol, bisa diambil dua simpulan: penyerang tajam dan pertahanan yang bobrok. Inilah juga yang ditunjukkan Swiss, Portugal, Korea Selatan, dan Jepang.

Kekalahan 2-5 atas Prancis sebenarnya tidak perlu terjadi jika Swiss bermain seperti 10 menit terakhir. Pertahanan mereka begitu rentan untuk diserang. Bukti sahihnya tentu saja saat Prancis menghancurkan mereka dengan lima gol.

Pun dengan Portugal yang memiliki masalah dengan lini belakang mereka. Pelatih Paulo Bento hanya mengajak empat pemain berpengalaman di lini pertahanan: Pepe Burno Alves, Coentrao, dan Pereira. Sisanya, macam Almeida, Neto, dan Costa hanya bermain tidak lebih dari 20 kali untuk timnas.

Ini yang membuat mereka dibombardir oleh tim sekelas Amerika Serikat. Meski berakhir 2-2, tapi Portugal rasanya layak kalah karena bek mereka yang begitu payah dalam menahan serangan lawan. Pun ketika menghadapi Jerman. Meski bermain lengkap 11 lawan 11, Portugal sudah dibobol dua kali oleh Jerman. Terlebih, ketika Pepe dikartu merah, Jerman menambah keunggulan dan mengubah skor akhir menjadi 4-0 untuk kekalahan memalukan Portugal.

Bobroknya lini pertahanan juga dialami dua tim asal Asia: Korea Selatan dan Jepang. Ditinggalkan Park Ji-Sung yang pensiun, praktis Korea Selatan hanya mengandalkan Koo Ja-Choel sebagai penghubung serangan.

Mereka sempat hampir menang atas Rusia. Namun, kesalahan elementer bek mereka, membuat Rusia mampu menyamakan kedudukan. Di pertandingan kedua, buruknya pertahanan Korea Selatan seperti tidak ada perubahan, malah terlihat bertambah buruk. Lawan mereka hanyalah Aljazair yang juga tidak memiliki skuat yang kompetitif. Nyatanya, gawang mereka bobol sebanyak empat kali!

Begitu pula dengan Jepang yang di pertandingan pertama kebobolan dua gol dari Pantai Gading. Kelemahan pertahanan Jepang begitu diumbar ketika mereka kalah 1-4 atas Kolombia. Padahal, saat itu Jepang tengah mengurung pertahanan Kolombia habis-habisan. Tapi, tiga serangan balik membuat Jepang mesti menanggung malu dengan kalah 1-4.

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini




(roz/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads