Kolombia berhasil masuk ke babak delapan besar Piala Dunia 2014 setelah berhasil mengalahkan Uruguay 2-0 melalui dua gol yang dicetak oleh James Rodriguez.
Dengan hasil ini, anak asuh Jose Pekerman akan berhadapan dengan tuan rumah Brasil yang sudah lebih dulu lolos setelah mengalahkan Chile melalui drama adu penalti.
Uruguay sendiri menjalani pertandingan ini tanpa kehadiran striker andalan, Luis Suarez. Ia harus dipulangkan ke negrinya setelah FIFA melarang Suarez untuk hadir atau sekedar mendekati stadion. Top skor EPL musim lalu ini dihukum karena gigitan yang dilakukannya kepada Giorgio Chiellini, saat Uruguay melawan Italia pada fase grup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tabarez menggunakan formasi 5-3-2 dengan Alvaro Gonzales, Arevalo Rios, dan Christian Rodriguez sebagai trio gelandang di tengah. Pemain yang terkena kartu merah saat pertandingan pembuka melawan Kosta Rika, Maxi Pereira, kembali menjadi starter dan mengisi posisi bek kanan.
Kolombia bermain dengan skuat terbaik yang dibawa ke Brasil. Pelatih Jose Pekerman pada pertandingan ini memilih untuk memainkan Jackson Martinez yang mencetak dua gol saat melawan Jepang.
Pemain FC Porto ini menggantikan posisi Viktor Ibarbo sebagai penyerang sayap kiri. Pekerman pun tetap mempertahankan formasi andalan 4-2-3-1 dengan menempatkan Theofile Guiterez di depan.

Permainan Bertahan Uruguay
Uruguay bermain lebih bertahan dan hanya mengandalkan serangan balik sejak permainan dimulai. Selain memasang lima pemain bertahan, Oscar Tabarez juga menempatkan ketiga gelandang dengan sangat rapat melapisi barisan pertahanan.
Tabarez tampaknya mengantisipasi bahwa enam dari sembilan gol yang dicetak Kolombia pada fase grup tercipta dengan melakukan terobosan melalui wilayah tengah pertahanan lawan.
Maka, Tabarez sama sekali tidak mengizinkan pemain Kolombia memegang bola di wilayah tengah pertahanan.
Barisan gelandang Uruguay berdiri sangat rapat dengan barisan pertahanan, sehingga tidak tercipta ruang antara kedua lini tersebut. Mereka akan langsung mengepung setiap pemain Kolombia yang mencoba masuk melalui tengah.
Sedangkan kedua striker Uruguay, Forlan dan Cavani, juga diberikan tugas ketika bertahan. Kedua striker ini menjadi lapisan pertama pertahanan La Celeste.
Dengan cara ini sebenarnya Diego Godin dkk. berhasil meredam bahaya dari serangan Kolombia. Mereka juga berhasil memaksa Kolombia terus mengoper ke sisi lapangan dan mengakhiri serangan dengan umpan silang.
Dalam 30 menit pertama, Kolombia sudah melepaskan tujuh kali umpan silang dengan hanya ada satu yang berhasil. Padahal, ketika melawan Yunani saja mereka hanya melepaskan 8 kali umpan silang sepanjang 90 menit.
Momen Brilian James Rodriguez
Kolombia benar-benar harus berterimakasih kepada pemain muda mereka, James Rodriguez. Sekitar menit ke 28, gelandang Uruguay memang sedikit terpancing naik sehingga tercipta sedikit ruang antara barisan gelandang dan barisan pertahanan. James Rodriguez yang melihat hal ini langsung masuk ke ruang tersebut.
Ketiga gelandang Uruguay sebenarnya tidak terlambat dalam menyadari kelalaian yang mereka lakukan. Mereka langsung menutup ruang tesebut dengan cepat.
Namun ternyata James Rodriguez mampu lebih dulu mengeksekusi tendangan jarak jauh yang langsung mengarah ke gawang Fernando Muslera. Kolombia unggul 1-0 melalui gol cantik dari pemain AS Monaco ini.
Di bawah ini adalah gambar chalkboard operan Kolombia pada babak pertama. Pada grafis tersebut terlihat bahwa assist Abel Aguilar kepada James Rodriguez adalah satu-satunya operan berhasil pemain Kolombia yang masuk ke wilayah tengah pertahanan Uruguay di sepanjang babak pertama.

Chalkboard operan pemain Kolombia pada babak pertama. Sumber: fourfourtwo.com
Serangan Tumpul Uruguay
Tidak hadirnya Luis Suarez sebagai striker Uruguay benar-benar membuat serangan mereka menjadi tumpul.
Serangan balik Uruguay –yang pada pertandingan fase grup menjadi senjata andalan Tabarez—pada pertandingan ini seperti sama sekali tidak terlihat membahayakan.
Cavani, yang kini menjadi ujung tombak menggantikan Suarez di depan, gagal memberikan ancaman berarti bagi pertahanan Kolombia.
Bahkan, sepanjang babak pertama, gawang David Ospina sama sekali tidak mendapatkan ancaman. Uruguay hanya melepaskan tiga usaha mencetak gol yang ketiganya tidak mengarah ke gawang. Namun Cavani juga tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya penyebab serangan Uruguay yang tumpul.
Keharusan ketiga gelandang Uruguay untuk rapat dengan barisan pertahanan, membuat mereka menjadi lebih lambat ketika harus membantu penyerangan. Alvaro Gonzalez dan Christian Rodriguez, gelandang Uruguay yang seharusnya ikut maju ketika Uruguay menyerang, sering terlambat akibat berada pada posisi yang terlalu dalam di daerah pertahanan.
Hal ini menyebabkan serangan Uruguay menjadi terlalu mudah untuk diarahkan ke jalan buntu. Praktis Uruguay hanya bisa mengandalkan serangan melalui kedua fullback mereka yang melakukan overlap.
Namun tidak adanya dukungan dari gelandang di tengah pun membuat kedua fullback Uruguay tidak bisa berbuat banyak.
Serangan mereka kemudian hanya berakhir pada bola panjang yang langsung mengarah ke kotak penalti Kolombia. Pola serangan seperti ini terlalu mudah untuk diantisipasi oleh Mario Yepes dan Christian Zapata sebagai bek tengah Kolombia.
Chalkboard operan Uruguay di babak pertama juga memperlihatkan bagaimana mereka tidak banyak melakukan aktivitas serangan melalui tengah. Hal ini disebabkan karena terlambatnya gelandang Uruguay saat menyerang.

Chalkboard operan pemain Uruguay pada babak pertama. Sumber: fourfourtwo.com
Perubahan Tabarez di Babak Kedua
Setelah tertinggal satu gol, para pemain Uruguay sebenarnya sudah merespons dengan cukup baik. Mereka mulai keluar untuk menyerang untuk membongkar pertahanan Kolombia.
Christian Rodriguez menjadi pemain tengah yang diberikan keleluasaan oleh Tabarez untuk lebih naik menyerang meninggalkan posnya.
Setelah Kolombia memperbesar keunggulan lewat satu serangan balik cepat, Tabarez mau tidak mau harus segera mengubah pola permainan jadi lebih menyerang. Tabarez kemudian melakukan dua pergantian pemain, Forlan digantikan oleh Cristian Stuani dan Alvaro Pereira digantikan oleh Gaston Ramirez.
Hanya berselang 10 menit setelah substitusi itu, Tabarez kembali melakukan pergantian pemain dengan memasukan Abel Hernandez menggantikan Alvaro Rodriguez.
Dengan komposisi pemain yang ada di lapangan, Tabarez lalu memainkan formasi 4-3-3. Tujuan Tabarez melakukan ini adalah untuk membuka opsi serangan melalui tengah.
Apa yang diinginkan oleh Tabarez bisa dikatakan berhasil. Ini tercermin dari permainan Uruguay. Ramirez dan Christian Rodriguez yang berperan sebagai gelandang serang menjalankan peran dengan baik untuk membongkar pertahanan Kolombia dari tengah dan mengalirkan bola ke depan.
Bantuan Caceres dan Maxi Pereira sebagai fullback pun membuat serangan Uruguay semakin bervariasi.
Chalkboard operan pemain Uruguay pada babak kedua menunjukan bagaimana aktivitas mereka tidak lagi hanya berjalan di sisi kanan dan kiri lapangan, namun juga di tengah. Hal ini terjadi akibat perubahan yang dilakukan oleh Tabarez.

Chalkboard operan pemain Uruguay pada babak kedua. Sumber: fourfourtwo.com
Respons dari Jose Pekerman
Namun sialnnya hal ini tidak cukup agar Uruguay bisa mencuri gol dari Kolombia. Pasalnya, Jose Pekerman merespons taktik Tabarez ini dengan juga melakukan perubahan strategi.
Pekerman menarik keluar salah satu penyerangnya, Theofile Guiterez, digantikan oleh seorang gelandang bertahan, Alexander Meija. Pekerman berhasil membaca maksud ini pergantian pemain Tabarez, sehingga ia memperkuat lini tengah.
Pekerman juga menjadi lebih bermain aman dengan tidak banyak melancarkan serangan. James Rodriguez, yang dipindahkan ke posisi sayap kiri setelah Guiterez ditarik keluar, lebih ditugaskan untk membantu Pablo Armero bertahan di sisi kiri.
Begitu juga dengan Juan Cuadrado yang ditugaskan membantu Juan Zuniga di sisi kanan. Uruguay memang memegang kendali permainan di babak kedua. Namun, rapatnya barisan pertahanan Kolombia membuat mereka tetap kesulitan untuk masuk ke kotak penalti.
Ketiga gelandang bertahan Kolombia menutup rapat jalur masuk dari tengah. Tercatat mereka melakukan tekel berhasil sebanyak 10 kali di wilayah tengah.
Empat tendangan jarak jauh Uruguay pun harus kembali mental sebelum sampai ke David Ospina akibat wilayah tengah pertahanan Kolombia yang rapat.
Hingga akhir pertandingan, Uruguay hanya sekali memiliki peluang bersih di dalam kotak penalti, yaitu ketika Yepes gagal mengantisipasi bola yang mengarah ke Maxi Pereira. Namun sayang Pereira gagal mengeksekusi peluang ini dengan baik.
Kesimpulan
Pertahanan Uruguay sudah menjalankan skema Tabarez dengan tidak membuka ruang di tengah. Hal ini berhasil membuat serangan berbahaya Kolombia menjadi lebih terkendali pada awal-awal babak pertama.
Namun, aksi brilian James Rodriguez merusak semua rencana Tabarez. Rodriguez mampu memanfaatkan ruang kecil untuk mengeksekusi bola dengan sangat baik dan membuat Kolombia Unggul.
Serangan Uruguay tanpa kehadiran Suarez memang menjadi sangat tumpul. Cavani tidak cukup fasih menggantikan peran Suarez di depan untuk berduel seorang diri menghadapi bek-bek Kolombia.
Di sisi lain, pilihan Tabarez untuk membuat ketiga gelandangnya berdiri rapat dengan barisan pertahanan juga membuat mereka sering terlambat dalam membantu penyerangan.
Pada babak kedua, perubahan taktik yang dilakukan Tabarez masih belum cukup untuk mencuri angka dari Kolombia, karena mampu dibaca Pekerman.
Bertambahnya jumlah gelandang bertahan di tengah membuat Kolombia menjadi lebih sulit ditembus. Akhirnya, Uruguay gagal mengejar ketertinggalan dan malah menyusul Luis Suarez pulang ke kampung halaman.
==================
*analisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(cas/cas)










































