Pertahanan Solid Swiss Sulitkan Argentina

Babak 16 Besar: Argentina 1-0 Swiss

Pertahanan Solid Swiss Sulitkan Argentina

- Sepakbola
Rabu, 02 Jul 2014 16:09 WIB
Pertahanan Solid Swiss Sulitkan Argentina
Getty Images/Ian MacNicol
Jakarta -

Lionel Messi kembali mengeluarkan magisnya. Setelah mencetak gol penentu kemenangan melawan Bosnia dan Hergozovina, Iran serta Nigeria pada fase grup, penggawa Barcelona ini menunjukkan kemampuan individunya untuk membawa Argentina melaju ke perempat final Piala Dunia 2014.

Memanfaatkan ruang di lini pertahanan dan lini tengah Swiss, Messi mengirimkan assist pada Angel Di Maria untuk memecah kebuntuan Tim Tango di menit ke-118.

Hingga gol ini terjadi, pertandingan sendiri tampak akan berakhir dengan skor 0-0 untuk berlanjut ke babak adu penalti. Argentina, yang berulang kali menghujami kotak penalti Swiss umpan silang, seolah tak memiliki ide lain untuk menerobos lini pertahanan lawan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, Swiss pun seolah cukup puas dengan bertahan dan hanya sesekali melakukan serangan balik. Pada akhirnya, laga yang berlangsung alot ini harus ditentukan oleh kemampuan individu.

Assist brilian Messi dan tendangan terukur Di Maria –perlu dicatatkan bahwa kedua aksi ini adalah kelas duniaβ€”menjadi pembeda antara Argentina dan Swiss.



Menutup Jalur Cutting Inside Di Maria dan Lavezzi

Pelatih Swiss, Ottmar Hitzfield, sepertinya sadar betul akan kekuatan lini penyerangan Albiceleste yang diisi oleh penyerang papan atas klub Eropa. Maka, sejak awal pertandingan, ia menerapkan defensive football sambil sesekali melakukan serangan balik.

Untuk meredam serangan Argentina, Hitzfield coba menghindari pergerakan dua pemain andalan Argentina, Di Maria dan Messi, di area depan kotak penalti. Oleh karena itu, ia membuat tembok pertahanan yang memaksa lini penyerangan Argentina bermain melebar, atau memaksa lawan mengandalkan tembakan-tembakan spekulasi dari luar kotak penalti.

Ketika bertahan, Swiss menggunakan formasi 4-4-2 dengan backfour yang dilindungi empat pemain lini tengah. Maka, ketika bertahan, kedua pemain sayap, yaitu Admir Mehmedi dan Granit Xhaka, ikut turun hingga sejajar dengan poros ganda Verlon Behrami dan Gokhan Inler (lihat grafis di bawah).



Mehmedi dan Xhaka pun diinstruksikan untuk ikut melakukan penjagaan yang diberikan kepada lini serang Argentina, yang terpaksa bermain melebar untuk menghindari kerapatan pertahanan Swiss di poros tengah.

Dengan adanya Xhaka dan Mehmedi, baik Di Maria ataupun Lavezzi pun akhirnya terpaksa melakukan umpan silang karena jalur cutting inside-nya ditutupi Xhaka atau Mehmedi.

Kemudian backfour Swiss yang dihuni Stephan Lichtsteiner, Johan Djourou, Fabian Schar dan Ricardo Rodriguez, diinstruksikan untuk menjaga kedalaman di area kotak penalti. Fungsinya adalah untuk menambah jumlah orang di dalam kotak penalti untuk menghalau serangan umpan silang dari Argentina.

Strategi ini terbukti ampuh dan membuat Argentina cukup kesulitan untuk menciptakan peluang mencetak gol. Hampir setiap usahanya membongkar pertahanan Swiss selalu bisa dipatahkan.

Postur para pemain Argentina yang cenderung lebih pendek dibandingkan dengan postur para pemain bertahan Swiss pun sedikit banyak membuat pertahanan Swiss cukup dominan dalam duel udara.




Total 59 Clearance Berhasil Ditorehkan Swiss

Sepanjang laga ini, pelatih Argentina, Alejandro Sabella, memang harus memutar otaknya untuk menghadapi strategi Swiss yang fokus bertahan.
Β 
Menggunakan pola 4-3-3 sejak menit pertama, Sabella kemudian mengubahnya menjadi 4-2-3-1 ketika pertandingan memasuki menit ke-25. Di Maria dan Lavezzi diinstruksikan bermain lebih melebar mengisi kedua sisi.

Pergerakan keduanya didukung oleh fullback Pablo Zabaleta dan Marcos Rojo yang sering naik untuk menekan pertahanan lawan. Cara lain dari skema serangan Argentina untuk membongkar pertahanan lawan adalah dengan sering bertukarnya posisi Di Maria dan Lavezzi yang mengisi flank.

Pertukaran ini cukup membuat sisi pertahanan Swiss kerepotan. Apalagi jika kedua fullback Swiss terlambat melakukan transisi dari penyerangan ke bertahan.

Dengan menggunakan pola 4-2-3-1, Messi berperan sebagai pemain yang berada di belakang penyerang tunggal, Gonzalo Higuain. Ia mendapatkan keleluasaan untuk mencari bola, bergerak ataupun melakukan tembakan.

Upaya Swiss Mencuri Gol

Dengan delapan pemain fokus membantu lini pertahanan, maka serangan balik menjadi opsi terbaik bagi Swiss untuk mencetak gol. Swiss sangat mengandalkan kombinasi apik dari Josip Drmic dan Xherdan Shaqiri dalam melakukan serangan balik cepat.

Keduanya diharapkan mampu menunjukan performa yang sama seperti saat Swiss menghantam Honduras dengan skor 3-0 pada laga terakhir babak fase grup.

Pemain winger –Mehmedi dan Xhakaβ€” yang ikut membantu pertahanan ketika Swiss mendapatkan serangan pun bisa menjadi titik awal dalam melakukan serangan balik. Dengan adanya Mehmedi dan Xhaka, aliran dari lini pertahanan ke lini penyerangan ataupun aliran dari hasil intercept pun bisa lebih cair untuk menembus pertahanan Argentina.

Itu terlihat pada menit-menit awal babak pertama. Serangan balik Swiss kerap kali mampu memasuki area kotak penalti Argentina. Namun lini pertahanan Argentina yang digalang duo centre back Ezequiel Garay dan Federico Fernandez, serta Javier Mascherano yang ikut turun, cukup bisa mengamankan gawang Sergio Romero dari serangan para pemain Swiss.

Tapi, sadar serangan balik Swiss cukup berbahaya, Sabella menginstruksikan para pemain bertahannya untuk menaikkan garis pertahanan. Pressing ketat pun diberikan agar para pemain Swiss bergerak lebih leluasa.

Skema ini pun terbilang cukup berhasil karena hanya empat tembakan yang berhasil dilakukan Swiss ke gawang Argentina pada babak pertama.



Empat bek Argentina menaikan garis pertahanan hingga tengah lapangan

Hilangnya Konsenstrasi Para Pemain Swiss

Strategi bertahan dan memaksa Argentina melebar yang diperagakan Swiss bisa membuat pertandingan dilanjutkan ke babak tambahan waktu. Lini penyerangan Argentina benar-benar berhasil dibuat tak berdaya tak berdaya selama 90 menit.

Hasi 0-0 sepertinya jadi incaran Hitzfield yang kesulitan mencuri gol. Ini terlihat ketika ia menarik satu per satu para pemain sayap-nya dan memasukkan dengan pemain bertipikal gelandang bertahan. Xhaka digantikan Gelson Fernandes sementara Mehmedi digantikan Blerim Dzemailli.

Dengan empat petarung bertipikal perebut bola, Hitzfield nampaknya berharap bisa mengamankan skor 0-0. Empat pemain ini bertugas untuk menghambat setiap pergerakan Messi atau menutup jalur umpan yang hendak diberikan pada Messi di area tengah –sehingga membuat Argentina tetap menyerang melalui sayap.



Grafik passing attacking third Argentina yang terpaksa mengalirkan bola ke kedua sayap

Namun, konsentrasi pemain Swiss semakin berkurang seiring dengan waktu. Ini terlihat dari presentase duel udara yang semakin berkurang. Pada babak pertama, Swiss berhasil memenangi 67% duel udara. Sedangkan pada babak kedua hingga akhir babak tambahan waktu, presentase tersebut menurun drastis hingga hanya 31%.

Menurunnya konsenstrasi para pemain Swiss ini berakibat fatal pada menit ke-118. Berawal dari kalah duel udara, lalu kegagalan Lichtsteiner mengontrol bola dengan sempurna, bola berhasil dicuri Rodrigo Palacio, yang kemudian mengumpan pada Messi.

Padahal ketika itu bola sedang berada di penguasaan pemain Swiss yang hendak melakukan penyerangan.

Kelengahan ini pun kemudian dimanfaatkan oleh Messi. Peraih gelar pemain terbaik dunia empat kali itu menggiring bola melewati beberapa pemain lalu mengopernya pada Di Maria yang berdiri bebas di sisi sebelah kanan.

Tanpa pengawalan berarti, Di Maria pun melakukan sepakan terukur yang tak mampu dijangkau kiper Swiss, David Benaglio.



Inilah yang ditakutkan Hitzfield sejak awal. Jika para pemain Argentina dibiarkan berkreasi di depan kotak penalti, terutama melalui tengah, maka potensi Argentina mencetak gol pun semakin besar.

Dan satu kelengahan ini menjadi bukti bahwa serangan tengah Argentina memang benar-benar berbahaya.

Tiga Sosok Penting

Keberhasilan Argentina menekuk Swiss tak lepas dari peranan tiga pemain yang kontribusinya sangat berarti bagi tim. Tanpa adanya tiga pemain ini, Argentina mungkin akan kewalahan menghadapi Swiss yang memiliki lini pertahanan yang cukup baik.

Pemain pertama adalah Messi. Tak dapat dipungkiri, kehebatannya dalam mengobrak-abrik pertahanan lawan membuat pertahanan Swiss diwajibkan tampil sempurna dan tanpa celah. Hasilnya, satu kelengahan mampu dimanfaatkan Messi sehingga menjadi gol.

Pemain kedua adalah Di Maria. Sebelum mencetak gol, Di Maria berkali-kali memberikan ancaman melalui gocekan maut dan tendangan jarak jauh yang akurat. Apalagi ketika Messi tak bisa berbuat banyak, Di Maria muncul memberikan solusi bagi lini penyerangan Argentina. Gol yang ia ciptakan adalah buah dari kegigihannya selama 120 menit di lapangan.

Lalu, pemain terakhir yang menjadi kunci kemenangan Argentina adalah Mascherano. Tugasnya terbilang berat karena menjalani dua fungsi sekaligus, yaitu sebagai pemutus serangan dan pembagi bola bagi lini penyerangan.
Β 
Namun Mascherano mampu menjalankan dua peran itu dengan baik. Ia berhasil melakukan 88 persen umpan akurat, 80 persen keberhasilan tackle, dan tiga blocked shot. Dan, yang paling penting, Mascherano mampu meredam Shaqiri yang menjadi tulang punggung serangan yang dilancarkan Swiss.
Β 
Kesimpulan

Taktik Hitzfield berjalan sesuai rencana. Bahkan, bisa dibilang strateginya nyaris sempurna jika saja pemainnya tidak lengah di menit-menit akhir. Sepanjang pertandingan, pertahanan Swiss mampu menyulitkan lini penyerangan Argentina.

Belum lagi jika berbicara tentang penampilan Benaglio, sang penjaga gawang Swiss yang melakukan setidaknya dua penyelamatan gemilang.
Β 
Di sisi lain, meski Sabella telah mengubah formasi menjadi 4-2-3-1 pada pertengahan babak pertama, tak ada perubahan pola permainan yang begitu signifikan sebagai upaya menembus pertahanan solid Swiss.

Masih terpaksa menggunakan umpan-umpan silang, meski Argentina tak memiliki sosok penyerang yang mampu memenangi duel-duel udara.

Argentina akhirnya meraih kemenangan dengan cara sama yang mereka lakukan pada fase grup: mengandalkan kemampuan individu Messi.

Ini tentunya semakin menguatkan bahwa Argentina benar-benar memiliki ketergantungan pada Messi –meski memiliki barisan penyerang bertalenta. Namun, selama Messi masih bisa menciptakan magis ketika mendapatkan ruang dan waktu, gol dan kemenangan sepertinya hanya tinggal menunggu waktu.



====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

(cas/din)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads