Kedua tim ini akan saling berjibaku di stadion yang sangat bersejarah, Maracana, Rio de Janeiro, Jumat malam (4/7).
Pada laga ini Jerman lebih diunggulkan karena dianggap lebih berpengalaman bermain di babak sistem gugur. Hal ini terbukti dengan pencapaian Die Mannschaft dalam beberapa Piala Dunia terakhir, yang selalu berhasil mencapai babak semifinal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Publik sepakbola Jerman tampaknya sudah mulai gerah dengan hal tersebut. Tak heran jika Toni Kroos baru-baru ini berujar bahwa satu-satunya target adalah jadi juara Piala Dunia. Selain dari hasil itu bisa dianggap kegagalan. Beban berat ini yang nampaknya akan ada di pundak Jerman kala menghadapi partai perempatfinal.
Prancis sendiri bukan tim gampangan. Di saat negara-negara unggulan lain tampil dengan performa turun naik, juara dunia 1998 ini mampu melaju dengan mulus dan menunjukkan taji lini serangnya. Sang pelatih, Didier Deschamps, mampu mengatasi persoalan tidak harmonisnya tim di masa Raymond Domenech dan meracik satu tim yang tampil stabil.
Siapa Pilihan Deschamps di Lini Depan?
Prancis tampaknya tak akan melakukan perubahan signifikan dari Starting XI yang turun kala melawan Nigeria. Pergantian yang mungkin terjadi adalah di lini pertahanan. Mamadou Sakho yang sebelumnya absen, dikabarkan telah pulih dari cedera hamstring dan akan kembali menjadi palang pintu pertahanan bersama Raphael Varane. Artinya, Laurent Koscielny akan memulai pertandingan dari bangku cadangan.
Di lini tengah, trio Yohan Cabaye, Blaise Matuidi, dan Paul Pogba akan kembali dipasang sejak menit awal, mengingat penampilan ketiganya cukup apik di laga terakhir. Pogba, yang pada pertandingan terakhir babak grup sempat ditukar dengan Moussa Sissoko, bermain gemilang bahkan ikut menyumbang gol ke gawang Nigeria.
Untuk barisan penyerangan, Deschamps sepertinya akan menghadapi dilema untuk menentukan siapa pemain yang akan turun lebih dulu, khususnya pemilihan antara Olivier Giroud dan Antoine Griezmann untuk menemani Mathieu Valbuena dan Karim Benzema.
Ketika menghadapi Nigeria, Deschamps memasang Giroud sebagai penyerang tengah pada formasi andalan 4-3-3. Namun, penyerang Arsenal ini kurang berkontribusi maksimal dan gagal berkolaborasi dengan Benzema yang ditempatkan di sisi sebelah kiri.
Ketika Griezmann masuk menggantikan Giroud dan Benzema digeser jadi penyerang tengah, permainan Prancis menjadi lebih hidup. Kolaborasi Griezmann-Benzema-Valbuena di sepertiga akhir terlihat lebih membahayakan dibanding trio Benzema-Giroud-Valbuena.
Namun bukan berarti Griezmann akan dengan mudah menggeser Giroud sebagai pemain inti. Kombinasi Giroud dan Benzema --tanpa mengesampingkan peran Valbuena di sisi kanan-- berhasil mengobrak-abrik pertahanan Swiss pada babak fase grup. Prancis bahkan mencetak 5 gol pada pertandingan itu.
Pilihan akhir tentunya ada di tangan Deschamps sepenuhnya. Tapi, jika menilik cara Jerman bertahan, tampaknya keputusan Deschamps bisa diambil dengan lebih mudah.
Jerman sendiri memiliki gaya bertahan dengan menaikkan garis pertahanan hingga mendekati garis tengah lapangan. Mesut Oezil dkk sepertinya sedikit banyak terbantu dengan gaya Manuel Neuer yang selalu siap keluar dari sarangnya dan menyapu bola, atau memberikan umpan panjang, yang melewati backfour Jerman.
Meski begitu, saat Jerman melawan Aljazair, lini pertahanan mereka cukup kerepotan menghadapi kecepatan para pemain lawan. Barisan depan Aljazair pun mampu menembus pertahanan Jerman dengan mengandalkan serangan cepat dari sayap lapangan.
Dengan skuat yang lebih berkualitas dibanding Aljazair, Prancis pun bisa meniru skema penyerangan Aljazair. Maka dari itu, menurunkan Griezmann sejak menit awal nampaknya akan menjadi solusi terbaik. Menilik kekuatan pemain sayap Real Sociedad ini, yaitu lebih aktif bergerak dan memiliki kecepatan lari, memasang kombinasi Griezmann-Benzema akan lebih baik ketimbang Benzema-Giroud.
Dengan kombinasi tersebut, Prancis pun akan memainkan dua winger murni, yaitu Griezmann dan Valbuena menjadi penyokong Benzema sebagai ujung tombak.
Mencari Solusi Buntunya Lini Depan Jerman
Pada babak 16 besar, 90 menit adalah waktu yang cukup bagi Prancis untuk mengalahkan Nigeria. Namun Jerman tak melaju semudah itu. Skuat asuhan Joachim Loew ini membutuhkan babak tambahan waktu untuk menaklukan Aljazair yang bermain dengan enerjik dan penuh semangat.
Lini depan Jerman yang dihuni Oezil, Mario Goetze dan Thomas Mueller pun menjadi sorotan. Daya dobrak ketiganya semakin menurun setelah menghancurkan Portugal 4-0 pada laga pembuka. Bahkan, kali ini ketiganya tak mampu menaklukkan kiper Aljazair, Rais M'Bolhi, yang bermain cukup gemilang. Padahal, ada beberapa momen di mana ketiganya memiliki kesempatan untuk memenangi pertandingan lebih cepat.
Dari 28 usaha tembakan yang dilakukan Jerman, 14 di antaranya mampu diamankan M'Bolhi. Namun 10 peluang on target dari 28 tersebut sebenarnya bisa dibilang peluang emas dan seharusnya bisa dikonversikan menjadi gol jika ketiganya dalam performa terbaik.
Untuk menghindari terulangnya ketumpulan tersebut, perubahan harus dilakukan oleh Loew. Yang paling mungkin dilakukan adalah melakukan pergantian pemain, karena akan sulit mengubah formasi 4-3-3 yang sudah fasih dimainkan oleh Jerman.
Andre Schuerrle yang menggantikan Goetze pada laga melawan Aljazair cukup memberikan dimensi berbeda pada skema penyerangan Jerman. Pemain Chelsea itu memiliki kecepatan yang tak dipunyai trio Goetze-Mueller-Oezil. Schuerrle bahkan menjadi inspirasi kemenangan Jerman atas Aljazair dengan mencetak gol pembuka.
Untuk memainkan Schuerrle, Loew tentunya harus mengorbankan salah satu di antara Goetze, Mueller dan Oezil. Namun Oezil dan Mueller masih merupakan figur penting terutama jika lawan bermain bertahan dan hanya meyisakan ruang sempit. Maka menggantikan Goetze untuk digantikan Schuerrle sejak menit awal sepertinya bukan strategi yang terlalu buruk.
Pertarungan 4-3-3 vs 4-3-3
Jawaban masalah di lini depan tentu harus segera ditemukan oleh kedua pelatih. Namun, pertarungan di lini tengah pun akan menjadi cerita tersendiri. Apalagi kedua tim yang sama-sama menggunakan 4-3-3 dengan tidak menempatkan seorang gelandang bertahan murni di posisi tersebut.
Di kubu Jerman, Philipp Lahm yang bertugas sebagai pemutus serangan lawan awalnya seorang fullback. Namun, ditempatkan sebagai gelandang bertahan bukan hal aneh mengingat di klubnya, Bayern Munich, ia juga sering bermain di posisi tersebut.
Sedangkan di kubu Prancis, Cabaye-lah yang dialih-fungsikan menjadi pelindung duo centre back Prancis. Saat bermain di Newcastle United musim lalu, pemain yang sudah pindah ke PSG ini lebih ditempatkan sebagai gelandang tengah. Cabaye akan sering naik hingga mendekati area kotak penalti lawan lalu kembali menjadi tembok awal lini pertahanan.
Karena kedua tim menggunakan formasi 4-3-3, Lahm dan Cabaye diwajibkan untuk bergerak mengikuti bola yang cenderung akan dialirkan ke kedua sayap. Itu artinya, selain mengamankan area tengah, keduanya mendapat tugas tambahan untuk bergerak ke kanan dan kiri dan menutup jalur cutting inside lini penyerangan lawan.
Kemampuan keduanya mengawal lini pertahanan sebenarnya tak perlu diragukan. Hal ini terlihat dari jumlah kebobolan kedua tim. Prancis hanya pernah kebobolan dua kali, sementara Jerman pun tergolong sedikit, yaitu tiga kali.
Namun, jika melihat para pemain yang dimiliki kedua tim, Prancis lebih unggul dalam variasi serangan. Ketika melakukan penyerangan. Dua fullback-nya, Patrice Evra dan Mathie Debuchy, bisa memberikan dukungan dari sisi sayap.
Ini berbeda dengan duo fullback Jerman yang sebenarnya tak terlalu nyaman dimainkan melebar. Seperti yang kita ketahui, Jerome Boateng dan Benedikt Hoewedes yang mengisi posisi itu tak seagresif fullback Prancis karena posisi natural dua pemain ini adalah bek tengah.
Keterbatasan yang dimiliki dua fullback Jerman ini sebenarnya bisa dimanfaatkan kubu Perancis, khususnya sisi di mana Hoewedes berada. Dari tiga gol yang bersarang ke gawang Neuer selama kompetisi Piala Dunia ini berlangsung, semuanya berasal dari kegagalan Hoewedes menjaga daerahnya.
Gol pertama Ghana ke gawang Neuer pada babak kualifikasi, berawal dari 'ulah' Hoewedes yang membiarkan bek kanan Ghana, Harrison Afful, melakukan umpan silang tanpa pengawalan. Gol kedua Ghana yang dicetak Asamoah Gyan pun memanfaatkan celah yang di area Hoewedes. Begitu pun gol yang diciptakan Aljazair, di mana zona Hoewedes menjadi sumber terciptanya gol.
Namun Loew tak memiliki banyak pilihan di lini pertahanan. Meski Mats Hummels dikabarkan sudah siap berlaga, bek lainnya, Shkodran Mustafi, mengalami cedera. Lalu, Loew pun baru-baru ini berkata pada media bahwa Lahm akan terus dipasang sebagai DM. Itu berarti pos bek kanan dan kiri sepertinya tak akan mengalami perubahan, yaitu tetap mengandalkan Boateng dan Hoewedes.
Maka kombinasi Valbuena-Debuchy bisa menjadi kunci pada pertandingan kali ini. Ia akan berhadapan dengan Lahm dan Hoewedes yang memiliki keterbatasan dalam memainkan peran. Dan, jika Valbuena berhasil menguasai area di sisi kanan, Prancis memiliki peluang yang lebih besar untuk melaju ke babak semifinal.
Prediksi

Baik Prancis maupun Jerman dapat dipastikan akan melakukan sepakbola menyerang. Jika salah satu dari keduanya cenderung bermain bertahan nanti malam, itu bisa terjadi karena sang lawan memiliki kekuatan lebih dalam melakukan penyerangan.
Jerman dengan skuatnya yang ada saat ini digadang-gadang mampu menjuarai Piala Dunia kali ini. Penampilan di awal perjalanan mereka pun semakin membuat banyak orang memprediksi Jerman bisa melangkah jauh.
Namun, kami memprediksi pertandingan ini tak akan mudah bagi Jerman. Apalagi jika menilik performa Mueller dkk. yang mengalami penurunan dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya. Maka, jangan kaget jika pada akhirnya Prancis-lah yang akan keluar sebagai pemenangnya.
====
* Pandit Football Indonesia Mengkhususkan pada analisis sepakbola, baik Indonesia maupun dunia, meliputi analisis pertandingan, taktik dan strategi, statistik dan liga. Keragaman latar belakang dan disiplin ilmu para analis memungkinkan PFI untuk juga mengamati aspek kultur, sosial, ekonomi dan politik dari sepakbola. Twitter: @panditfootball Facebook: panditfootballΒ Website: www.panditfootball.com.
(a2s/rin)











































