Duet Mascherano-Biglia Jadi Kunci Pertahanan Argentina

Semifinal: Belanda 0-0 Argentina (Adu Penalti)

Duet Mascherano-Biglia Jadi Kunci Pertahanan Argentina

- Sepakbola
Kamis, 10 Jul 2014 17:16 WIB
Duet Mascherano-Biglia Jadi Kunci Pertahanan Argentina
REUTERS/Michael Dalder
- -

Mengandaskan perlawanan sengit Belanda dinihari tadi, Argentina berhasil lolos ke final Piala Dunia untuk bertemu dengan Jerman. Tim Tango memenangi pertandingan lewat adu penalti, setelah kedua tim bermain imbang 0-0 selama 90 menit waktu normal, dan 30 menit waktu tambahan.

Berbeda dengan semifinal hari pertama yang menyajikan drama tragis kekalahan Brasil, laga antara Argentina dan Belanda ini terlihat membosankan. Total raihan attempt kedua tim, yang hanya 9 selama 90 menit waktu normal, adalah angka terburuk sepanjang semifinal Piala Dunia yang tercatat oleh FIFA.

Lantas, lolosnya Argentina ke babak final tak lain berkat keberuntungan dan kejelian pelatih mereka, Alejandro Sabella, yang memaksa Belanda bermain hingga adu penalti karena tahu Louis Van Gaal telah menggunakan jatah 3 pergantian pemain. Akibatnya, Jasper Cillessen --sosok kiper yang memiliki catatan buruk yaitu tak pernah menggagalkan penalti dalam karier profesionalnya-- dipaksa jadi aktor utama tim Oranje dalam adu tos-tosan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ya, kali ini tak ada Tim Krul untuk menyelamatkan Belanda dari adu kekuatan dari titik putih.



Kekuatan Penuh di Lini Tengah Belanda

Van Gaal bisa sedikit bernafas lega karena Nigel de Jong bisa turun bermain. Pasalnya, absennya pemain AC Milan ini amat berpengaruh, sebagaimana terlihat seperti saat menghadapi Kosta Rika. Kala itu, tak adanya seorang gelandang bertahan murni, memaksa Van Gaal menurunkan Wesley Sneijder bermain lebih mundur ke belakang membantu Georginio Wijnaldum.

Kehadiran De Jong mengembalikan lagi Sneijder di belakang Arjen Robben dan Robbie Van Persie. Selain itu, De Jong juga yang jadi aktor penting dalam menutup pergerakan Lionel Messi di lini tengah. Sang gelandang bertahan De Oranye ini tak memberikan celah sedikit pun bagi Messi untuk mengeluarkan magisnya seperti yang ia tunjukkan saat melawan Belgia.

Pada laga ini Van Gaal meneruskan ekspresimen memasang Dirk Kuyt sebagai wingback. Sama seperti saat menghadapi Kosta Rika, Kuyt dipilih ketimbang Daryl Janmaat yang biasa mengisi posisi bek kanan.

Tapi, pada laga ini, khususnya babak pertama, Belanda cenderung bermain defensif. Belanda terlihat menggunakan 5-3-2 dengan menarik dua wingback bermain dalam, tak seperti laga perempat final dengan sistem 3-4-3 yang memaksa Kuyt serta Blind banyak bermain di tengah.

Sementara itu, ada perbedaan mencolok dalam sistem permainan Argentina, jika dibandingkan dengan dua pertandingan terakhir saat melawan Belgia dan Belanda. Sabella kembali menggunakan formasi 4-2-3-1, setelah sebelumnya bermain 4-3-1-2. Perbedaan itu terlihat dari pilihannya memainkan Lucas Biglia sebagai duet poros ganda Javier Mascherano, ketimbang menurunkan Fernando Gago.

Biglia sebenarnya seorang gelandang bertahan murni seperti Mascherano, sehingga Argentina cenderung kosong di lini tengah, dengan area aksi/umpan hanya dibagi dua: depan dan belakang. Tapi dengan skema bertahan seperti ini, ditambah dengan kedua fullback yang diminta untuk tidak terlampau sering naik untuk menyerang, Argentina bisa mematikan serangan Belanda.

Tak Efektifnya Serangan Argentina di Babak Pertama

Argentina mampu unggul penguasaan bola pada babak pertama. Hanya saja absennya Angel di Maria sangat berdampak besar. Serangan mereka cenderung tak terarah dan timpang [lihat grafis di bawah]



Peran Di Maria kali ini diambil alih oleh Ezequiel Lavezzi, yang sayangnya kurang mampu menjalankan tugas ini dengan baik. Serangan Argentina, yang terfokus ke area kanan tempat Lavezzi berada, selalu terhenti sebelum mendekati area kotak penalti.

Sepanjang babak pertama, Lavezzi tak sekali pun melakukan tendangan ke arah gawang. Begitu pula dengan upayanya mengirimkan bola ke kotak penalti lewat umpan silang. Dari 5 crossing yang dilepaskan pemain yang bermain di klub Paris Saint-German ini, tak ada yang mengenai sasaran.

Ini jelas menjadi masalah bagi lini penyerangan Argentina. Lavezzi seharusnya bisa memanfaatkan area kanan dengan baik. Terlebih karena Bruno Martins Indi dan Daley Blind yang mengawal area ini tak bermain terlalu gemilang.

Pada babak pertama, Blind, yang menjadi pemain pertama untuk menghambat serangan sayap Argentina, hanya sekali melakukan tackle dan clearance. Sedangkan Martins Indi yang menjaga kedalaman hanya melakukan 5x tackle dengan tingkat keberhasilan 40%, tanpa mencatatkan satu pun intercept.

Seharusnya ini menjadi santapan lezat bagi Lavezzi yang memiliki keunggulan lewat kemampuan dribbling-nya. Namun sepanjang babak pertama, Lavezzi jarang sekali melakukan cutting inside. Ia seakan kebingungan ketika menguasai bola di area ini.

Ini terjadi karena ada 3 sampai 4 pemain Argentina yang menumpuk di area ini gerak Lavezzi. Sering kali Enzo Perez dan Lionel Messi terlihat ikut "memenuhi" area sayap kanan. Namun skema tersebut malah membuat Lavezzi lebih sering memberikan umpan pendek ketimbang cutting inside. Ketiganya pun kurang bermain cair, sehingga serangan Argentina pun jadi sia-sia.

Jarak Antara Pemain Tengah dan Depan Argentina Terlalu Jauh

Sebenarnya kegagalan Argentina menembus pertahanan Belanda bukan sepenuhnya kesalahan Lavezzi. Taktik penyerangan yang diterapkan pelatih Alejandro Sabella memang tak berjalan sebagaimana mestinya.

Ini tak lepas dari penggunaan duo poros ganda, yaitu Lucas Biglia dan Javier Mascherano, yang sangat difokuskan untuk menjaga kedalaman di area pertahanan. Dengan jarak pemain yang terlalu jauh, Messi lebih sering bergerak ke area sisi kanan atau pun area lapangan tengah untuk mendapatkan bola. Padahal, pemain bernomor pungung 10 itu seharusnya jadi pembagi bola atau otak serangan dari area depan kotak penalti.

Enzo Perez yang bermain sebagai pemain sayap kiri juga sampai harus mengisi kekosongan di area depan kotak penalti.


[Grafik Passing Lavezzi dan Messi memperlihatkan keduanya kesulitan mendapatkan bola]

Meski begitu, skema pertahanan Argentina ini membuat serangan Belanda selalu mentok sebelum mendekati area kotak penalti. Ini bisa terjadi karena Biglia dan Mascherano diplot untuk selalu menjaga kerapatan dengan lini pertahanan yang bermain sejajar.

Mascherano sendiri bermain apik semalam dan menjadi pusat poros tengah Argentina. Tak hanya mencatatkan raihan tekel tertinggi (4 kali) dan 3 intersepsi, gelandang Barcelona ini juga menjadi pemain dengan jumlah umpan terbanyak, yaitu 88 kali.


[Grafik Passing Belanda pada babak pertama]

Van Gaal Ubah Taktik, Sabella Perdalam Lini Pertahanan

Van Gaal memang dikenal sering mengubah taktik dalam satu laga. Tak heran jika pada pertandingan semalam ia punkembali mengotak-atik pola permainan berdasarkan situasi yang terjadi di lapangan.

Martins Indi, yang babak pertama terus-terusan mendapat ancaman dari lini penyerangan, ditarik keluar untuk digantikan Janmaat pada babak kedua. Masuknya Janmaat ini adalah untuk memperkaya opsi pada lini penyerangan.

Pada babak pertama, Belanda menggunakan formasi 5-3-2. Sedangkan saat masuknya Janmaat, Van Gaal mengubah pakem menjadi 4-2-3-1. Ini berarti Belanda menggunakan pola backfour pada babak dua. Kuyt, yang sebelumnya mengisi pos wingback kanan, berpindah posisi menjadi winger di sisi sebelah kiri. Janmaat kemudian mengisi pos fullback kanan.



Perpindahan ini dilakukan sebagai upaya Belanda untuk memberikan variasi serangan Belanda yang selalu terhenti di area kanan lawan. Memang, Marcos Rojo dari kubu Argentina bermain fokus menjaga sisi kiri pertahanan sehingga sangat jarang sekali Rojo melakukan overlapping.

Sama halnya seperti Argentina, Belanda pun ternyata selalu mengandalkan sisi kanan sebagai skema serangan. Ini tak lepas dari tipikal dua penyerangnya, Robin van Persie dan Robben yang selalu menunggu bola di area tersebut, lalu berusaha melakukan cutting inside untuk melepaskan tembakan menggunakan kaki terkuatnya.

Perpindahan posisi Kuyt dari kanan ke kiri pun cukup membuat serangan Belanda menjadi lebih efektif dan lebih menguasai jalannya pertandingan. Setelah adanya Kuyt di sebelah kiri, Robben yang dibebaskan untuk mencari bola ke sisi mana pun akhirnya lebih hidup dan mendapatkan lebih banyak peluang.


[Grafik Perbandingan Passing Robben pada babak pertama (kiri) dan babak kedua (kanan)]

Sayangnya lini pertahanan Argentina yang tampil disiplin dan terorgarnisir membuat Belanda masih kesulitan untuk melakukan tembakan ke arah gawang.

Pola double pivot yang dipraktekkan Sabella memang berhasil menetralisir serangan Belanda lewat tengah. Apalagi pada babak kedua Sabella lebih menginstruksikan dua gelandang bertahannya untuk bermain lebih mendekati area kotak penalti pertahanan sendiri --salah satu alasan Van Gaal memasukkan Janmaat pada babak kedua.

Di babak kedua Messi pun seperti kelelahan dan seolah bermain ala kadarnya. Dia tak lagi ambisius untuk jauh-jauh turun ke tengah untuk mengambil bola. Pemain Barcelona ini lebih cenderung sejajar dengan Higuain dan memaksa Lavezzi bermain melebar.

Upaya menaikan Messi bermain tinggi ini sebenarnya mampu meredam hasrat lini belakang Belanda bermain menyerang. Patut diwaspadai, bek-bek Belanda yakni De Vrij, Blind dan Janmaat memiliki kemampuan umpan jauh yang cukup baik. Lewat Messi, hal itu bisa dimatikan oleh Sabella.

Taktik defensif Argentina sepanjang babak kedua membuat kedua tim kesulitan untuk mencetak gol. Belanda tak bisa mengakali lini pertahanan Argentina yang bermain rapat, pun begitu dengan Argentina yang lini tengah dan depannya terlalu memiliki jarak.


[Grafik passing Belanda dan Argentina pada babak kedua menunjukkan kedua tim kesulitan menyerang]

Pada babak perpanjangan waktu, Van Gaal mencoba menarik Van Persie dan memperkuat barisan tengah lewat Klaas Jan Huntelaar. Masuknya Huntelaar otomatis menghabiskan jatah slot pergantian pemain Belanda. Lalu, dengan cerdik, seolah memanfaatkan rekor buruk Cillessen saat menghadapi tendangan penalti, Argentina bermain ekstra bertahan untuk memaksa Belanda mengakhiri laga lewat adu penalti.

Masuknya Huntelaar disikapi dengan ditariknya Lavezzi diganti dengan Maxi Rodriguez. Skema ini sama seperti ketika melawan Bosnia, yaitu Argentina memakai 3 gelandang bertahan bertipikal petarung sekaligus. Albiceleste lalu memainkan pola menunggu dan sesekali melancarkan serangan balik.

Pada babak perpanjangan waktu, Sabella menumpu 11 pemain sekaligus di setengah lapang pertahanan sendiri. Kondisi ini membuat Robben, Kuyt, dan Huntelaar mundur jauh ke tengah merebut bola.



Kesimpulan

Tak seperti laga Brasil melawan Jerman, laga Belanda-Argentina berlangsung secara ketat. Kedua tim menunjukkan kelasnya sebagai semifinalis Piala Dunia dengan berhati-hati dalam bermain untuk meminimalisir kesalahan sekecil apapun.

Sayangnya pertandingan ini tak menghadirkan banyak gol tercipta. Kerapatan lini pertahanan kedua tim membuat pertandingan ini sangat minim usaha tembakan ke arah gawang. Tak ayal pertandingan pun harus berakhir dengan skor 0-0 hingga 120 menit, dan lalu ditentukan oleh adu penalti.

Argentina yang melaju ke babak final sebenarnya bermain tak lebih baik dari Belanda. Cederanya Di Maria dan underperform-nya Messi pada laga ini membuat Argentina sangat kesulitan untuk mencetak gol bahkan sekedar menciptakan peluang. Untungnya Sergio Romero bermain cukup gemilang dengan menahan dua tendangan penalti.

Maka dari itu, menjadi tugas besar tentunya bagi pelatih Argentina, Sabella, untuk sesegera mungkin menemukan strategi jitu di lini depan untuk menghadapi partai final. Apalagi Di Maria pun masih diragukan untuk bisa berlaga di babak final melawan Jerman nanti.

====

* Pandit Football Indonesia Mengkhususkan pada analisis sepakbola, baik Indonesia maupun dunia, meliputi analisis pertandingan, taktik dan strategi, statistik dan liga. Keragaman latar belakang dan disiplin ilmu para analis memungkinkan PFI untuk juga mengamati aspek kultur, sosial, ekonomi dan politik dari sepakbola. Twitter: @panditfootball Facebook: panditfootballΒ Website: www.panditfootball.com.

(a2s/din)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads