Malam ini, saat Piala Dunia juga digelar di tanah Amerika Selatan, Argentina siap mengulang kesuksesan mereka pada 1986, yaitu saat mereka jadi juara dunia di Meksiko dengan menundukkan Jerman Barat di partai final.
Kesamaan catatan sejarah tak berhenti sampai di sana. Jika menilik taktik dan kondisi skuat Argentina saat ini, tim yang berlaga pada 1986 tak berbeda jauh-jauh amat dengan skuat 2014. Ketergantungan pada sosok pemain bintang kentara benar. Jika skuat 1986 bergantung pada Maradona, maka skuat tahun ini pada Lionel Messi.
Tapi bukan berarti tim "Tango" mampu melaju ke final hanya dengan mengandalkan Messi semata. Salah satu rahasia kesuksesan mereka adalah karena sang pelatih, Alejandro Sabella, yang berkali-kali menyesuaikan susunan pemain dan pola bermain ketika menemui masalah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sabella datang ke Piala Dunia kali ini dengan formasi 5-3-2, mirip seperti tim-tim Amerika Selatan lain semisal Kosta Rika, Meksiko, dan Chile. Hanya saja, menumpuk banyak pemain di lini belakang itu bagi Argentina adalah sebuah tindakan terpaksa. Pasalnya, lini belakang Argentina terlihat sangat rapuh pada babak kualifikasi.
Di laga perdana menghadapi Bosnia Herzegovina, Sabella langsung menoba formasi ini. Bobroknya lini belakang membuat pelatih ini berhati-hati dan tidak gegabah dalam menginstruksikan pemainnya menyerang. Memainkan tiga bek tengah sekaligus --Ezequiel Garray, Hugo Campagnaro, dan Federico Fernandez-- serta Pablo Zabaleta dan Marcos Rojo sebagai wingback, adalah bukti kehati-hatian itu.
Di atas kertas, sebenarnya Argentina memainkan empat bek tengah dan satu orang bek sayap. Ini karena Marcos Rojo adalah seorang center back yang digeser ke sayap. Saat bertahan, pemain ini pun cenderung bergeser ke tengah merapat pada centerback/gelandang bertahan.
Tapi, penumpukan banyak pemain di belakang ini membuat Argentina amat rapuh area di tengah. Apalagi mereka tak memiliki gelandang serang bertipikal pengatur serangan seperti Juan Riquelme. Alhasil, saat menyerang, Sabella lebih mengandalkan serangan balik lewat umpan panjang. Masalah muncul karena Argentina mengandalkan Messi, Sergio Aguero, Angel Di Maria, yang tak memiliki kemampuan duel udara yang baik untuk memenangkan umpan panjang tersebut.
Semula, Maxi Rodriguez terlihat sebagai jawaban masalah ketiadaan pengatur bola di lini tengah. Tapi sosok ini nanggung, tak punya peran menyerang seperti Di Maria atau bertahan seperti Mascherano. Alhasil, pada babak kedua melawan Bosnia itu, Sabella merombak taktik 5-3-2 menggantinya jadi 4-3-3 dengan menarik Rodriguez dan Campagnaro untuk digantikan oleh Gonzalo Higuain dan Fernando Gago. Albiceleste pun kembali ke pakem lama 4-3-3, bermain dengan back-four dan memasang 3 striker sekaligus, Messi, Aguero dan Higuain.

Mulai Sadar arti Peran Metronom Lini Tengah
Melawan Iran di laga kedua, ketergantungan Argentina kepada Lionel Messi mulai terasa. Sabella mengubah formasi dari 5-3-2 ke 4-3-3 karena pola itu disukai oleh Messi.
Lawan yang dihadapi kala itu bermain ultra defensif. Argentina diberi penguasaan bola hingga 80%. Sayangnya hal itu tak sejalan dengan jumlah gol ke gawang Iran. Bahkan gol satu-satunya Argentina datang di menit ke-90 dan hanya terjadi karena kejeniusan Messi yang memanfaatkan ruang kosong di depan kotak penalti Iran.
Higuain, Aguero dan Di Maria sama sekali tak berkutik membongkar pertahanan Iran yang bermain rapat dan menunggu di dalam kotak penalti. Sikap Iran inilah yang bisa mendorong Fernando Gago dan Mascherano jauh naik ke depan. Tercatat mereka berdua mampu membuat 100 passing lebih yang dilakukan pada pertandingan itu.

Masalah muncul ketika dua gelandang ini bisa bebas berkreasi dan beraksi di depan kotak penalti lawan, tapi keduanya malah seolah bingung dan tak tahu ke mana bola harus dialirkan. Tak heran jika bola lalu lebih sering dialirkan ke arah samping ketimbang diberikan ke dalam kotak penalti lewat umpan terobosan pada Messi, Higuain atau Aguero.
Karena itu, di laga kedua tersebut Messi sering terlihat bermain agak lebih dalam sejajar dengan Mascherano dan Gago, meski entah karena taktik Sabella atau karena ia putus asa tak kunjung mendapatkan bola. Yang jelas, di laga ini peran Messi sebagai false nine mulai sedikit terlihat.
Perubahan peran Messi pun kembali terjadi. Jika di laga perdana menghadapi Bosnia ia bergerak lebih sering ke area sayap, maka di laga kedua Messi diplot bergerak di poros tengah, baik ketika turun ke area tengah atau bermain jauh di depan.
Menjadikan Messi sebagai False Nine
Melawan Nigeria di laga terakhir fase grup, Sabella terlihat masih ingin mengutak-atik cara memaksimalkan peran Messi. Padahal laga tersebut sebenarnya bukan laga penting, mengingat Argentina sudah memastikan lolos ke babak 16 besar.
Pada laga itu Sabella menempatkan Messi jadi seorang gelandang serang. Ia diplot sebagai playmaker di belakang dua striker, Higuain dan Aguero. Formasi yang dipakai Sabella kali ini adalah 4-3-1-2 yang cenderung berubah jadi 4-2-2-2 dengan menarik Di Maria disejajarkan dengan Messi.

Sejak sebelum Piala Dunia dimulai, Sabella memang terlihat ingin menjadikan Messi sebagai sentral permainan. Bahkan, ia sempat pergi ke Barcelona untuk mencari tahu apa yang sebenarnya Messi inginkan.
Menurut penyerang bernomor punggung 10 itu, ia lebih senang bermain dalam formasi yang membuatnya dikelilingi oleh pemain-pemain menyerang. Sabella kemudian mengubah formasi 5-3-2 andalannya ke formasi 4-3-3, yang kadang berubah juga menjadi 4-2-4.
Memainkan Messi sebagai false nine amat bermanfaat bagi Argentina. Hal ini terlihat dari dominasi mereka di babak pertama melawan Nigeria. Mereka tak hanya menguasai ball possesion, tapi juga mampu mencetak dua gol lewat Messi dan mencatatkan 18 attempts. Hal ini tak lain karena ada banyak ruang yang bisa dimanfaatkan Messi.
Taktik Sabella dalam memaksa Nigeria untuk menurunkan garis pertahanan βlewat Higuain dan Aguero yang bermain tinggiβcukup sukses mengalihkan penjagaan pada Messi. Akibatnya, pemain berusia 26 tahun ini bebas menusuk dari lini tengah untuk menyambut umpan silang, bola rebound, atau bola-bola cut-back.
Berbeda saat melawan Iran, peran Gago dan Mascherano mulai sedikit terlihat karena dua pemain ini tak diganggu oleh poros ganda Nigeria, Obi Mikel dan Onazi, yang harus mewanti-wanti Messi yang mundur ke tengah.
Taktik ini cukup sukses, hingga akhirnya Messi diganti di babak kedua. Pasca digantinya Messi oleh Ezequiel Lavezzi, permainan Argentina kembali ke pola lama, yakni bermain buruk dengan adanya kerenggangan antara lini belakang, gelandang, dan depan.
Kehilangan Aguero dan Transformasi 4-2-3-1
Absennya Aguero akibat cedera jadi kerugian tersendiri bagi Argentina. Sabella lalu coba mengantisipasi hal ini dengan memilih sosok Ezequiel Lavezzi sebagai pengganti. Dibanding Aguero, penyerang PSG tersebut sebenarnya lebih atletik dan memiliki kemampuak teknik dan dribbling yang cukup bagus. Hanya saja ia cenderung enggan bertahan.
Pada laga babak 16 besar menghadapi Swiss, Sabella menyiasatinya dengan membuat Argentina bertranformasi menjadi 4-4-2 dengan membiarkan Lavezzi turun ke tengah dan Messi naik ke depan. Atau sebalinya, Messi yang mundur ke tengah dan Di Maria dimainkan melebar tapi sejajar dengan Lavezzi dan Higuain.

Di satu sisi, Messi mulai mengalami kesulitan bermain sebagai false nine, karena rekan-rekannya terlalu bermain melebar. Tak ada lagi Aguero yang biasa merapat padanya meminta bola.
Karena itu di, babak kedua Sabella memasukan Rodrigo Palacio menggantikan Lavezzi. Masuknya Palacio membuat Di Maria bermain lebih rendah dan berpindah posisi ke sayap kanan. Sebelumnya, Di Maria lebih sering menggiring bola di sisi kiri, dan setelah Palacio masuk ia diberi kesempatan melakukan cutting inside. Secara keseluruhan Argentina bertransformasi menjadi 4-2-3-1. Dan dengan pola inilah Di Maria mampu mencetak gol tunggal kemenangan.
Mulai Mencoba Menambal Lini Tengah lewat Biglia
Usai merasa sukses dengan 4-2-3-1 saat melawan Swiss, Sabella pun memakai formasi itu saat menghadapi Belgia dan Belanda di babak perempatfinal dan semifinal.
Dua musuh yang dihadapi ini memiliki tipikal permainan yang sama, yakni memadatkan banyak pemain di tengah dan memancing lawan dengan menaruh satu atau dua striker jauh di depan. Untuk menghadapi pola tersebut, ada dua eksperimen baru yang dilakukan Sabella, yakni dengan memainkan Martin Demichelis dan Lucas Biglia.
Pola permainan pun diganti jadi lebih mengutamakan serangan langsung ke pertahanan lawan dan melupakan penguasaan bola. Jumlah rataan passing ketika melawan Belanda dan Belgia pun menurun drastis hingga 40%. Jika sebelumnya rataan passing mencapai 500 umpan, di dua laga terakhir hanya mencapai 300-an.
Tapi ini justru bisa menjadi solusi. Soalnya, Argentina memiliki masalah ketika mengalirkan bola secara vertikal dari lini ke lini. Namun Argentina sangat padu bermain secara horizontal saat menutup serangan lawan. Ini adalah ciri khas permainan tim Sabella, yaitu bermain sabar dan menahan diri untuk tidak terlalu ofensif.
Memasukan Biglia mungkin adalah salah satu cara Sabella mengatasi kelemahan itu. Ia adalah pemain yang bertipe beda dari Gago. Gelandang Lazio ini lebih bertipikal sebagai box to box miedfilder ketimbang deep lying midfielder seperti Gago.
Saat tak ada pemain yang mengisi posisi ujung tombak, Biglia selalu naik. Kehadiran Biglia dalam tim utama mau tak mau membuat membuat lini belakang Argentina bermain berbeda, yaitu sering menaikkan garis pertahanan dan melakukan pressing ketat. Tak ayal kondisi ini membuat banyak pemain menumpuk di lini tengah.
Masalah muncul saat performa Argentina tak stabil selama 90 menit. Wajar saja mengingat Argentina adalah skuat dengan rataan paling tua di Piala Dunia kali ini. Mereka tak memiliki stamina untuk melakukan pressing selama 90 menit.
Misalnya saja saat melawan Belgia. Mereka hanya mendominasi pada babak pertama saja, dan bertahan total saat babak dua. Melawan Belanda, Argentina pun telat panas dan baru menyerang total pada menit-menit akhir babak kedua.
Hal ini tentu jadi masalah bagi Sabella. Melawan Jerman nanti malam, entah taktik baru apalagi yang akan diterapkan Sabella.
Satu hal yang jelas adalah, berapa pun skor akhir final nanti, apresiasi patut diberikan pada Sabella. Ya, kendati masih bergantung pada Messi, adalah utak-atik dan inovasi Sabella yang bisa membuat Argentina melaju sejauh ini. Tugas terbesar dalam hidup Sabella menanti. Bisakah ia menemukan ramuan tepat yang membuat Argentina mengotori gereja suci rival mereka, yakni Brasil dan Maracana? Patut dinanti.

====
* Pandit Football Indonesia Mengkhususkan pada analisis sepakbola, baik Indonesia maupun dunia, meliputi analisis pertandingan, taktik dan strategi, statistik dan liga. Keragaman latar belakang dan disiplin ilmu para analis memungkinkan PFI untuk juga mengamati aspek kultur, sosial, ekonomi dan politik dari sepakbola. Twitter: @panditfootball Facebook: panditfootballΒ Website: www.panditfootball.com.
(a2s/fem)











































